Desa Minangkabau di Hutan Kalimantan

Carito atau laporan tantang “Desa Minangkabau di Hutan Kalimantan” iko adolah artikel nan dimuek dalam “Harian Neraca” tanggal 13 Februari 1988, labiah 21 tahun nan lalu. Isi langkok artikelnyo adolah cando nan di bawah ko :

———————————————————————————–
Pontianak, NERACA

Sepintas berada di desa Kudangan Kecamatan Delang, Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah di tengah hutan belantara yang persis berada sekitar perbatasan Kalbar-Kalteng tentunya tidak akan merasakan berada di daerah yang asing.

Tidak berbeda dengan desa-desa lainnya di Kalimantan, desa Kudangan juga terletak di tepi sungai Delang dengan rumah-rumah penduduk berderet pada satu jalan desa.

Namun, kalau kita teliti dari adat istiadat, maupun bentuk rumah khas yang terdapat di desa itu termasuk bahasa sehari-harinya dan lingkungan alam di sekitarnya akan mengingatkan kita berada di suatu daerah di Sumatera Barat.

Betapa tidak, desa Kudangan yang dihuni suku Dayak Delang punya bentuk rumah mirip rumah gadang dengan atap melengkung sebagai tanduk kerbau. Bahasa sehari-hari yang dipergunakan adalah bahasa suku Dayak Delang, namun dialek dan sebutan kata-katanya banyak kesamaan dengan bahasa daerah Minangkabau, yang selalu berakhir dengan huruf O dan IK. Seperti contohnya antara lain duo = dua, sanjo = senja/sore, kepalo = Kepala, takajuik = terkejut dan lain sebagainya.

Ada lagi suatu kebisaan dari kaum laki-laki di Kudangan adalah makan sirih yang menurut mereka, jika gigi menjadi hitam melambangkan kejantanan seorang laki-laki. Sebaliknya wanita banyak yang mengisap rokok kelintingan buatan sendiri.

Kepala Adat Samuel Sandang mengungkapkan kepada wartawan dari Pontianak yang berkunjung ke desa itu menyertai peninjauan Gubernur Kalimantan Barat Pardjoko S. baru-baru ini, penduduk Kudangan yang merupakan desa yang terisolasi di daerah Kalimantan Tengah, berasal dari keturunan kerajaan Pagarruyung di Sumatera Barat sejak abad ke 14. Menurut cerita yang berhasil dihimpun wartawan Nearaca pada waktu itu seorang Datuk dari Pagarruyung bernama Malikur Besar Gelar Patih Sebatang Balai Seruang berlayar ke Kalimantan.

Memasuki suatu alur sungai, Datuk Malikur Besar itu tertarik dengan suatu daerah dan mendirikan kerajaan kecil yang diberi nama “Kudangan”. Rombongan Datuk Malikur Besar ini berbaur dengan penduduk asli setempat.

Bukti kerajaan Kudangan keturunan Pagarruyung itu, yang sekarang menjadi kecamatan Delang adalah adanya sejumlah peninggalan bersejarah antara lain suatu bendera berukuran 3 kali 1,5 meter dan hingga kini disimpan dengan baik di rumah adat Kudangan.

Kepala Adat Samuel Sandang secara berhati-hati membuka lipatan bendera, setelah dilakukan suatu upacara adat yang disaksikan Gubernur Pardjoko S. dan rombongan.

Bendera yang nampaknya sudah sangat rapuh, warna dasarnya putih yang kini sudah nampak buram. Pada bagian atas dan bawah terdatpat garis memanjang dengan lebar 20 cm warna merah.

Di tengahnya terdapat gambar Bintang delapan dalam suatu lingkaran warna hijau. Di tengah bintang delapan yang menunjukkan Mata Angin terdapat pula sekuntum bunga yang yang sedang mekar dengan delapan kelopak bunga. Sejajar dengan lingkaran bintang delapan terdapat gambar pedang bersilang yang ujungnya bengkok ke atas.

Sejauh itu belum diketahui secara jelas apakah lambang Kerajaan Kudangan ada hubungannya dengan lambang kerajaan Pagarruyung di Sumatera Barat.

Camat Delang Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalteng Drs. Ropak J. Tanjung menjelaskan kepada NERACA hubungan antara Kudangan dengan Kearajaan Pagarruyung di Sumatera Barat kini sedang diteliti dan penghimpunan datanya.

Di desa itu terdapat pula salah satu rumah adat yang mereka sebutkan rumah Gadang milik Mas Kaya Patinggi Agung Mangku Atu Duo yang berumur sekitar 300 tahun.

Walau sudah dalam usia yang panjang, rumah adat yang berbentuk rumah Gadang masih berdiri megah. Tiang-tiang penyanggah yang tinggi dari kayu besi (kayu belian menurut istilah orang Kalimantan) berdiameter sekitar 30 sampai 40 cm. Rumah adat yang punya konsruksi atap melengkung tanduk kerbau itu, sudah dimodifikasi dengan seni bangunan rumah panjang / rumah bentang suku Dayak Kalimantan.

Penduduknya sekitar 6201 jiwa itu terdi dari 95 % suku Dayak dan 5 % penduduk suku pendatang. Agama yang dianut 65 % agama Kristen Protestan, 30 % menganut kepercayaan yang disebutkan Kaharingan dan 5 % lainnya agama Islam.

Kegiatan perekonomian sehari-hari jelas terlihat lebih berorientasi ke daerah Kalimantan Barat, yaitu ke Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang.

Hasil hutan yang banyak dijual dari daerah Judangan ini antara lain rotan, damar, dan kayu gaharu, sedangkan bahan keperluan sehari-hari mereka beli di Nanga Tayap yang jaraknya sekitar 80 km melalui jalan HPH yang dibangun PT Alas Kesuma, dengan menumpang kendaraan / truk milik perusahaan itu yang hilir mudik sehingga jarak antara kedua daerah itu sudah semakin ramai.

Sedangkan untuk ke daerah lainnya di Kalimantan Tengah, misalnya Pangkalan Bun tidak ada jalan darat. Terkecuali melalui sungai yang dapat ditempuh sekitar tiga hari.

Berapa kalangan yang dihubungi NERACA, baik di Ketapang, maupun Pontianak, mengatakan perlu dilakukan penyelidikan terhadap Kudangan yang bagaikan mirip dengan desa maupun darah Minangkabau. Misalnya diusahakan mendapatkan keterangan atas barang peninggalan sejarah, baik dalam bentuk tertulis maupun yang dapat dilihat dari barang-barang peninggalan lainnya.

7 thoughts on “Desa Minangkabau di Hutan Kalimantan

  1. – – – – – – – – DELETED BY ADMIN – – – – – – – –

    nb. kata2 kasar yg tidak mendasar sama sekali.

    isi teks dari komen hanyalah pengulangan (copy-pase) dari apa yg telah disampaikan pada thread https://minangel.wordpress.com/2013/05/28/borobudur-adalah-warisan-minangkabau/ — yg mana itu pun penuh dg kata2 kasar dan sumpah serapah.

    karena teks ini hanya berupa pengulangan (itu pun sangat panjang – 23 halaman di ms-word) maka saya menganggap komen ini hanyalah TEBARAN SAMPAH dari orang stress ….. yg ditebarkan di pekarangan orang – perbuatan yg sangat tidak terpuji, tentunya.

    mohon maaf atas deletion ini.

  2. putra sumsel says:
    Your comment is awaiting moderation.
    February 13, 2014 at 11:19 am

    kamu nulis wiki itu gal lengkap bodoh tau semua orang klik di google ini yang lengkap

    Kerajaan Melayu
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Peta Ranah Melayu purba, berdasarkan teori yang diterima umum, pusat Kerajaan Malayu dikaitkan dengan situs Muaro Jambi, muara sungai Batanghari, Jambi, Sumatera. Tetapi berbagai negeri (kadatuan) Melayu lainnya pun bersemi sebelum ditaklukan Sriwijaya pada akhir abad ke-7 Masehi, seperti Kerajaan Langkasuka, Pan Pan dan Panai.

    Kerajaan Melayu atau dalam bahasa Tionghoa ditulis Ma-La-Yu (末羅瑜國) merupakan sebuah nama kerajaan yang berada di Pulau Sumatera. Dari bukti dan keterangan yang disimpulkan dari prasasti dan berita dari Cina, keberadaan kerajaan yang mengalami naik turun ini dapat di diketahui dimulai pada abad ke-7 yang berpusat di Minanga, pada abad ke-13 yang berpusat di Dharmasraya dan diawal abad ke 15 berpusat di Suruaso[1] atau Pagaruyung[2].

    Kerajaan ini berada di pulau Swarnadwipa atau Swarnabumi (Thai:Sovannophum) yang oleh para pendatang disebut sebagai pulau emas yang memiliki tambang emas, dan pada awalnya mempunyai kemampuan dalam mengontrol perdagangan di Selat Melaka sebelum direbut oleh Kerajaan Sriwijaya (Thai:Sevichai) pada tahun 682[3].

    PADANG BANCI KONTOL AJA YANG KAMU BESARIN PENGECUT CURANG PENYEBAR OPINI SESAT BISANYA CUMAN NGAPUS AJA. CETEK KECIL KAMU PADANG

    • Pernah saya baca tentang sejarah minangkabau di Wikipedia mengenai pertempuran Sibusuk yang konon katanya antara tentara majapahit yang sebagian besar berasal dari Jawa dan palembang (basemah/pasemah) yang sudah dikuasai Majapahit, heran juga jika Suku Pasemah yang diakui Putra Sumsel adalah pendiri kerajaan Sriwijaya, kenapa pula Palembang yang dulu dikuasai Majapahit, orang-orang basemah/pasemah menjadi prajurit kaki tangan Majapahit menaklukkan wilayah lainnya di Sumatera dan Semenanjung Malaka, apakah suku Pasemah/Basemah tempo dulu cuma bermental prajurit nggak peduli siapapun yang mimpin mau itu bangsawan Sriwijaya atau Majapahit, namanya juga prajurit kudu nurut sama pimpinan, yang jadi pertanyaan kok mau-maunya prajurit basemah mengorbankan nyawa buat penguasa majapahit, padahal Majapahit menurut catatan sejarah merupakan salah satu penyebab runtuhnya Kerajaan Sriwijaya yang selama 8 abad berkuasadi Asia Tenggara…kejanggalan kedua saya telusuri di Wikipedia jumlah penduduk suku Pasemah saat ini tidak lebih dari 500 ribu jiwa jauh dibandingkan sama Suku Renjang sebagai mayoritas di Sumsel yang sebanyak 2 juta Jiwa, bisa-bisanya Putra Sumsel yang bersuku Basemah mengklaim Suku Basemahlah pendiri Kerajaan Sriwijaya, kenapa bukan Suku Renjang yang lebih banyak…mungkin Putra Sumsel yang bersuku Pasemah bisa menjelaskan keganjalan saya dan bisa merubah pandangan saya terkait suku Pasemah, mudah-mudahan apa saya baca di dunia maya kalo Suku Basemah itu Suku Yang Mengutamakan Otot dibandingkan otaknya itu salah

    • Heh putra Sumsel siapa yg loe bilang Banci. Kau lah Banci berani Berkoar2 nggk sopan. Punya Etika nggk loe AnzinK! Ini gw minang asli. Nggk ush bnyak omong loe Banci siapa yg loe Bilang Pengecut. Org Minang itu loe bilang pengecut,ini gw jawara Minang dmn loe ksh alamat loe? Biar gw datangin biar gw Belah kepala loe,Gw potong mulut dan lidah Bangsat loe. Kepala loe dan lidah loe gw kasihkan ke Anjing2 kampung. Jd Anjing dimakan sama Anjink. Ksh alamat loe yg jelas biar gw datang sendiri,nggk perlu takut gw cm sendiri atau kita janjian dmn. Di Sumatra atw Dijawa sama aja bagi gua! Hayo jangan berani berkoar koar hny di blog orang. Hati hati loe mulai sekarang akn gw pantau terus saat ini. Mulut luh akn membawa Malapetaka dan Kebinasaan buat diri luh! Camkan itu PUTRA SUMSEL YG LAHIR DARI RAHIM BANCI !!!!!!!!!! Mhn maaf kpd Penulis sy berkata kata demikian. Krn putra Sumsel ini tlh Menghina org Minang mencaci maki dengan penuh Kebencian.

  3. untuk putra sumsel coba anda berpikir jernih…kita lihat betapa luasnya kejayaan kerajaan pagaruyung ini. dan betapa arif dan bijak sananya masyarakat pagaruyung yang bukan jago kandang dalam menghargai Musuh yang datang untuk menjajah. kita ambil contoh bentuk kebijak sanaan Raja Pagaruyung dalam menyambut kedatangan musuh dari tanah jawa yg berniat untuk menjajah. dengan diadakannya pertandingan adu kerbau. hal ini dilakukan untuk menghindari pertumpahan darah yg akan dialami oleh seluruh pasukan yg datang dari tanah jawa. sebap apabila terjadi perang bisa dipastikan seluruh pasukan yang datang dari tanah jawa akan musnah…dengan diadakannya pertandingan adu kerbau dan berakhir dengan kekalahhan pasukan dari tanah jawa secara otomatis pasukan dari tanah jawa akan pulang dengan membawa rasa malu yang teramat dalam.. karena mereka bisa dikalahkan hanya dengan kerbau yang masih kecil….tetapi apabila terjadi perang dengan pertumpahan darah dan berakibat kekalahn mutlak dari pasukan tanah Jawa Maka hal tersebut akan dianggap hal yang sangat wajar oleh rakyat tanah jawa karena mereka mencoba untuk menaklukan kerajaan Besar yang bernama PAGARUYUNG yang dapat di kosakatakan Paga dan Ruyung yang dapat diartikan sebagai PAGAR YANG TAK BERUJUNG. dengan kata lain KERAJAAN PAGARUYUNG ADALAH KERAJAAN YG TAK BERUJUNG.. bisa dibayangkan betapa besarnya dan kuatnya KERAJAAN PAGARUYUNG… dan bukan tidak mungkin dari kerajaan PAGARUYUNG inilah lahirnya kerajaan Sriwijaya dan kerajaan lainnya dinusantara ini….. terbukti bahwa Orang-orang dari Pagaruyung merupakan Orang-Orang yang TANGGUH dibuktikan Tidakadanya Negara didunia ini yang tidak didatangi danditempati oleh Orang-Orang PAGARUYUNG.

  4. Aturan di Minang Kabau menyebutkan, “Penghulu di Kampung, Raja di Rantau”. Status Raja di rantau sama dengan seorang Penghulu di kampung, atau boleh dikatakan sebagai seorang gubernur dimasa sekarang ini. Kekuasaan Raja di rantau berdaulat penuh terhadap wilayahnya namun tetap tunduk kepada pemerintahan pusatnya yaitu Penguasa di Minang Kabau. Untuk mengembangkan kekuasaan di wilayah rantau, dikirimlah rombongan yang dipimpin oleh keluarga kerajaan pusat untuk membuat kerajaan-kerajaan baru yang nantinya akan menjadi benteng bagi kerajaan pusat bukan dengan cara menaklukkan kerajaan yang sudah ada. Berita di halaman ini menjadi buktinya. Mengapa?

    Minang Kabau adalah budaya yang mengusung perdamaian dan mensejahterakan rakyatnya. Dengan mendirikan sebuah kerajaan baru yang pewaris tahtanya didapat dari hasil perkawinan si Pendiri Kerajaan dengan pemuka masyarakat lokal dapat menghindari perpecahan akibat perebutan kekuasaan di kemudian harinya. Itulah jawaban sebenarnya dari perdebatan di halaman “Borobudur adalah warisan Minang Kabau”.

    Dapunta Hyang yang tercatat dalam prasasti Kedukan Bukit datang bersama rombongan besar untuk membuat sebuah kerajaan besar di pesisir pantai timur sumatera. Pewaris tahta adalah anak dari pekawinan Dapunta Hyang dengan puteri pemuka masayarakat lokal yang kemudian dikenal dengan Dinasti Syailendra. Sistem kerajaan yang kini berubah menjadi monarkhi melakukan penaklukan keseluruh wilayah nusantara tanpa berani mengusik daerah leluhurnya.

    Oleh sebab itu, di akhir masa kejayaannya, di saat Kerajaan Sriwijaya yang merupakan benteng pertahanan ini diserang habis-habisan oleh Raja dari India, Sapurba kembali ke tempat asal leluhurnya.

    Jika ada yang tidak puas dengan tulisan ini, sebaiknya bertanya pada orang tua-tua yang telah banyak makan asam garam, berpengalaman dan mengetahui sejarah negerinya sebelum memberi tanggapan dengan menggunakan “kacamata kuda”.

    Trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s