Jayalah Minang di Nusantara

Sultan Hassanal Bolkiah, salah seorang raja keturunan Minang

Sultan Hassanal Bolkiah, salah seorang raja keturunan Minang

Banyak pihak menilai, abad ke-20 merupakan masa kejayaan peradaban Minangkabau. Hal ini ditandai dengan besarnya peran mereka dalam lima lini pokok kehidupan bermasyarakat di Indonesia (dan Nusantara pada umumnya). Dari lima bidang tersebut, yakni: politik, ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan, serta sosial keagamaan, Minangkabau telah melahirkan ratusan bahkan ribuan ahli yang kompeten di bidangnya. Para ahli itu, yang telah go internasional dan bahkan melegenda antara lain:

  • Tan Malaka,
  • Hatta, Sjahrir,
  • Tuanku Abdul Rahman,
  • Yusof Ishak (politik);
  • Hasyim Ning,
  • Abdul Latief,
  • Tunku Tan Sri Abdullah (ekonomi / bisnis);
  • Chairil Anwar,
  • Muhammad Yamin,
  • Sutan Takdir Alisjahbana,
  • Usmar Ismail,
  • Soekarno M. Noer (budaya);
  • Emil Salim,
  • Sheikh Muszaphar Shukor,
  • Taufik Abdullah,
  • Azyumardi Azra (ilmu pengetahuan); serta
  • Agus Salim,
  • Hamka,
  • Natsir,
  • Tahir Jalaluddin,
  • Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, dan
  • Syafii Maarif (sosial-keagamaan).

Namun dari itu, sedikit sekali orang yang mengetahui kejayaan Minangkabau di masa lampau. Menurut hasil penelitian Mochtar Naim yang dituangkan dalam disertasinya “Merantau”, sejak dahulu kala orang-orang Minang telah banyak berkontribusi dalam pembentukan peradaban Nusantara. Dan di antara mereka banyak pula yang menjadi raja ataupun pendiri sebuah kerajaan. Dalam tulisan kali ini, kita akan melihat sepak terjang raja-raja asal Minangkabau, yang memerintah di banyak negeri seantero Nusantara.

Dapunta Hyang Sri Jayanasa, dipercaya sebagai pendiri imperium besar Sriwijaya. Menurut tambo alam Minangkabau, Dapunta Hyang berasal dari lereng Gunung Merapi, yang kemudian melakukan migrasi bersama sejumlah penduduk setempat. Dengan mengaliri Sungai Kampar dari pedalaman Minangkabau, Dapunta Hyang beserta rombongannya tiba di bibir pantai Selat Malaka. Mereka terus melanjutkan perjalanan ke selatan hingga bertemu muara Sungai Musi. Dari sini mereka mencoba memudiki Sungai Musi dan berjumpa lereng Gunung Dempo. Dari lereng gunung inilah kemudian Dapunta Hyang beserta rombongannya membangun sebuah kedatuan yang berpusat di tepian Sungai Musi.

Prasasti Kedukan Bukit

Kisah perjalanan Dapunta Hyang dari tanah Minang, terukir jelas dalam Prasasti Kedukan Bukit. Prasati itu bercerita tentang rombongan Dapunta Hyang yang selamat melakukan perjalanan dan penyerangan dari Minanga, bersama serombongan pasukan yang melewati darat maupun laut. Hingga saat ini, penafsiran isi prasasti tersebut masih simpang siur. Poerbatjaraka berpendapat bahwa Minanga (atau Minanga Tamwar) merupakan hulu pertemuan dua sungai Kampar, yang berada di luhak Lima Puluh Koto. Dan Minanga Tamwar diprediksi sebagai asal usul nama Minangkabau. Sedangkan para ahli lainnya seperti George Coedes dan Slamet Muljana, justru berteori bahwa Minanga merupakan kerajaan taklukan Dapunta Hyang yang terletak di hulu Batanghari. E.S Ito dalam novelnya “Negara Kelima”, juga menyinggung mengenai migrasi Dapunta Hyang dari Minangkabau ke Palembang. Dikatakannya bahwa Dapunta Hyang telah menghiliri Sungai Batanghari sampai ke muara Jambi, dan kemudian melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki hingga ke tepian Sungai Musi. Menurutnya Dapunta Hyang adalah salah seorang pembesar Minangkabau, yang ingin mengembalikan kejayaan imperium Atlantis.

Putra Minangkabau lainnya yang duduk di tampuk kekuasaan adalah Kalagamet. Dia merupakan raja Majapahit kedua yang memerintah pada tahun 1309-1328. Kalagamet yang bergelar Sri Jayanagara, beribukan Dara Petak seorang permaisuri yang berasal dari Kerajaan Dharmasraya. Pada masa berkuasa, dia mengangkat saudara sepupunya yang juga keturunan Minangkabau, Adityawarman, sebagai duta untuk negeri Tiongkok. Adityawarman adalah putra Dara Jingga, permaisuri Dharmasraya lainnya yang bersuamikan Adwayawarman. Di masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi, Adityawarman naik jabatan sebagai wreddhamantri atau perdana menteri kerajaan. Dalam posisi strategis itu, dia membangkang kepada Tribhuwana dan melecehkan Majapahit. Pada tahun 1347, dia pulang kampung ke Sumatra dan mendirikan Kerajaan Pagaruyung. Kerajaan ini merupakan penerus wangsa Mauli yang telah berkuasa di Sumatra selama hampir satu setengah abad. Pada abad ke-14, Kerajaan Pagaruyung memiliki daerah taklukan ke hampir seluruh wilayah Sumatra dan Semenanjung Malaysia. Kekuasaannya atas Nusantara barat, merupakan balance of power bagi Majapahit yang berkuasa di bagian tengah kepulauan.

Selain Jayanagara dan Adityawarman, tokoh Majapahit lainnya yang dipercaya berasal dari Minangkabau adalah Gajah Mada. Namanya mengikuti genre jago silat Minang lainnya seperti Harimau Campa, Gajah Tongga, atau Anjing Mualim. Sebagian orang memperkirakan, Gajah Mada merupakan putra seorang pendekar Minangkabau yang ikut mengantarkan Dara Petak dan Dara Jingga ke Majapahit. Namun Ridjaluddin Shar dalam novelnya “Maharaja Diraja Aditya­warman: Matahari di Khatulis­tiwa”, malah berpendapat sebaliknya. Menurutnya Gajah Mada adalah anak dari salah seorang pasukan Pamalayu yang menikahi gadis Minangkabau. Asal usul Gajah Mada memang penuh misteri dan tanda tanya. Hingga saat ini belum ada sejarawan yang berhasil mengungkap kelahiran dan kematian tokoh besar tersebut, kecuali hanya dugaan-dugaan awal saja. Yang jelas, Gajah Mada merupakan simbol kebesaran Majapahit dan persatuan Indonesia. Ketika ia ditunjuk sebagai perdana menteri pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, dalam Sumpah Palapa ia bernazar akan menaklukkan seluruh Nusantara di bawah panji Majapahit. Namun janjinya tersebut tak sempat terwujud, sampai akhirnya kerajaan itu runtuh pada awal abad ke-16.

Muhammad Yamin, seorang pakar hukum, ahli sejarah, budayawan, dan salah satu founding fathers Indonesia, merupakan pengagum berat sosok Gajah Mada. Kekagumannya mungkin juga dikarenakan pertalian darah yang sama sebagai putra Minangkabau. Usahanya dalam merekonstruksi peran Gajah Mada dalam buku setebal 112 halaman, merupakan salah satu bentuk kegandrungannya. Impian Gajah Mada mempersatukan Nusantara, telah mengilhaminya untuk menggabungkan seluruh jajahan Hindia-Belanda dalam satu kesatuan wilayah politik. Pada bulan Oktober 1928, cita-citanya itu benar-benar terwujud. Dalam sebuah ikrar bersama yang kelak dikenal dengan Sumpah Pemuda, Yamin berhasil menyatukan seluruh komponen rakyat Hindia-Belanda, dalam satu bangsa, bahasa, dan tanah air.

Sultan Hassanal Bolkiah, salah seorang raja keturunan Minang

Pada tahun 1390, seorang pengelana Minangkabau yang kemudian berjuluk Raja Bagindo, mendirikan Kesultanan Sulu. Tak banyak riwayat mengenai raja yang satu ini, kecuali para keturunannya yang menjadi pelaut ulung. Kabarnya mereka sangat ditakuti oleh pedagang-pedagang Eropa yang acap melintasi perairan utara Nusantara.

Mohd. Jamil al-Sufri dalam bukunya “Tarsilah Brunei: The Early History of Brunei up to 1432 AD” menyebutkan, bahwa dari silsilah raja-raja Brunei Darussalam, diketahui bahwa pendiri kerajaan ini: Awang Alak Betatar atau yang bergelar Sultan Muhammad Shah, berasal dari Minangkabau. Selain itu raja-raja Serawak di Kalimantan Utara, juga banyak yang berasal dari Minangkabau. Hal ini berdasarkan informasi para bangsawan Serawak, yang ditemui Hamka pada tahun 1960. Kamardi Rais Dt. Panjang Simulie dalam bukunya “Mesin Ketik Tua” juga memerikan berita bahwa ketika James Brook dirajakan di Serawak, yang melantiknya adalah datuk-datuk asal Minangkabau.

Sultan Buyong, anak dari raja Indrapura yang bertahta di Pesisir Selatan, pernah berkuasa di Kesultanan Aceh pada tahun 1586-1596. Buyong (Buyung?) naik menjadi raja, berkat pengaruh dan kekuatan para pedagang Minang yang berniaga di Kutaraja. Sebelum itu kakak ipar Buyong, Sultan Sri Alam, juga sempat bertahta di Kesultanan Aceh (1575-1576). Sri Alam berkuasa melalui kudeta berdarah hulubalang Minangkabau, yang disebut-sebut telah berkomplot dalam pembunuhan Sultan Muda. Untuk menyingkirkan pengaruh Minangkabau dari Kerajaan Aceh, sekaligus membalaskan dendam kematian Sultan Muda, pada tahun 1596 ulama-ulama Aceh melakukan pembunuhan berencana terhadap Buyong. Dengan terbunuhnya Buyong maka berakhirlah pengaruh Indrapura di tanah rencong. Kesultanan Indrapura yang beribu kota di Indrapura (selatan Painan), merupakan pecahan dari Kerajaan Pagaruyung. Pada paruh kedua abad ke-16, kesultanan ini memiliki pengaruh yang cukup luas di pesisir barat Sumatra. Wilayahnya menjangkau daratan Aceh di utara hingga Bengkulu di selatan.

Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah I atau yang dikenal dengan Raja Kecil adalah salah seorang putra Pagaruyung pendiri Kesultanan Siak Sri Indrapura. Sebelum mendirikan Kesultanan Siak pada tahun 1723, Raja Kecil sempat bertahta di Kesultanan Johor (1717-1722). Namun kekuasaannya tak bertahan lama, karena aksi kudeta yang dilancarkan Bendahara Abdul Jalil dan pasukan Bugis. Di masa pemerintahannya, Kesultanan Siak melakukan perluasan teritori hingga ke wilayah Rokan, dan berhasil membangun pertahanan armada laut di Bintan. Pada tahun 1740-1745, Siak menaklukkan beberapa kawasan di Semenanjung Malaysia. Dan 40 tahun kemudian, wilayah kekuasaannya telah meliputi Sumatra Timur, Kedah, hingga Sambas di pantai barat Kalimantan.

Istana Siak Sri Indrapura

Di Semenanjung Malaysia, Raja Melewar yang merupakan utusan Pagaruyung, menjadi raja bagi masyarakat setempat. Pada tahun 1773, konfederasi sembilan nagari di Semenanjung Melayu, membentuk sebuah kerajaan yang diberi nama Negeri Sembilan. Kerajaan ini terbentuk pasca derasnya arus migrasi Minangkabau ke wilayah tersebut. Seperti halnya masyarakat di Sumatra Barat, rakyat Negeri Sembilan juga menggunakan hukum waris matrilineal serta model adat Datuk Perpatih. Pada tahun 1957, Tuanku Abdul Rahman yang merupakan keturunan Raja Melewar, menjadi Yang Dipertuan Agung Malaysia pertama.

Di Tapanuli, Sisingamangaraja yang dipercaya sebagai Raja Batak, juga berasal dari Minangkabau. Hal ini berdasarkan keterangan Thomas Stamford Raffles yang menemui para pemimpin Batak di pedalaman Tapanuli. Mereka menjelaskan bahwa Sisingamangaraja adalah seorang keturunan Minangkabau yang ditempatkan oleh Kerajaan Pagaruyung sebagai raja bawahan (vassal) mereka. Hingga awal abad ke-20, keturunan Sisingamangaraja masih mengirimkan upeti secara teratur kepada pemimpin Minangkabau melalui perantaraan Tuanku Barus.

Sumber,

http://afandriadya.com/2011/06/21/raja-minang-di-nusantara/ – 31 Januari 2013.

8 thoughts on “Jayalah Minang di Nusantara

  1. – – – – – – – – DELETED BY ADMIN – – – – – – – –

    nb. kata2 kasar yg tidak mendasar sama sekali.

    isi teks dari komen hanyalah pengulangan (copy-pase) dari apa yg telah disampaikan pada thread https://minangel.wordpress.com/2013/05/28/borobudur-adalah-warisan-minangkabau/ — yg mana itu pun penuh dg kata2 kasar dan sumpah serapah.

    karena teks ini hanya berupa pengulangan (itu pun sangat panjang – 23 halaman di ms-word) maka saya menganggap komen ini hanyalah TEBARAN SAMPAH dari orang stress ….. yg ditebarkan di pekarangan orang – perbuatan yg sangat tidak terpuji, tentunya.

    mohon maaf atas deletion ini.

  2. putra sumsel says:
    Your comment is awaiting moderation.
    February 13, 2014 at 11:19 am

    kamu nulis wiki itu gal lengkap bodoh tau semua orang klik di google ini yang lengkap

    Kerajaan Melayu
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Peta Ranah Melayu purba, berdasarkan teori yang diterima umum, pusat Kerajaan Malayu dikaitkan dengan situs Muaro Jambi, muara sungai Batanghari, Jambi, Sumatera. Tetapi berbagai negeri (kadatuan) Melayu lainnya pun bersemi sebelum ditaklukan Sriwijaya pada akhir abad ke-7 Masehi, seperti Kerajaan Langkasuka, Pan Pan dan Panai.

    Kerajaan Melayu atau dalam bahasa Tionghoa ditulis Ma-La-Yu (末羅瑜國) merupakan sebuah nama kerajaan yang berada di Pulau Sumatera. Dari bukti dan keterangan yang disimpulkan dari prasasti dan berita dari Cina, keberadaan kerajaan yang mengalami naik turun ini dapat di diketahui dimulai pada abad ke-7 yang berpusat di Minanga, pada abad ke-13 yang berpusat di Dharmasraya dan diawal abad ke 15 berpusat di Suruaso[1] atau Pagaruyung[2].

    Kerajaan ini berada di pulau Swarnadwipa atau Swarnabumi (Thai:Sovannophum) yang oleh para pendatang disebut sebagai pulau emas yang memiliki tambang emas, dan pada awalnya mempunyai kemampuan dalam mengontrol perdagangan di Selat Melaka sebelum direbut oleh Kerajaan Sriwijaya (Thai:Sevichai) pada tahun 682[3].

    PADANG BANCI KONTOL AJA YANG KAMU BESARIN PENGECUT CURANG PENYEBAR OPINI SESAT BISANYA CUMAN NGAPUS AJA. CETEK KECIL KAMU PADANG

    //////////////////////////

    Minangel ~ bagian yg saya potong, ITU TIDAK PENTING DAN TIDAK RELEVAN.

    tapi biar bagaimana pun, sejarah memang menjelaskan bhw minanga (dllllll) menjadi taklukan sriwijaya. itu memang saya akui, gila saya kalo tidak mengakui ……

    tapi masalahnya adalah, sriwijiaya itu kk siapa???? sriwijaya itu kerajaan milik minangkabau, bukan????

    mengaoa hal beginian saja @putrasumsel tidak dapat memahami???? hahahahaha ….

    • Pernah saya baca tentang sejarah minangkabau di Wikipedia mengenai pertempuran Sibusuk yang konon katanya antara tentara majapahit yang sebagian besar berasal dari Jawa dan palembang (basemah/pasemah) yang sudah dikuasai Majapahit,

      heran juga jika Suku Pasemah yang diakui Putra Sumsel adalah pendiri kerajaan Sriwijaya, kenapa pula Palembang yang dulu dikuasai Majapahit, orang-orang basemah/pasemah menjadi prajurit kaki tangan Majapahit menaklukkan wilayah lainnya di Sumatera dan Semenanjung Malaka,

      apakah suku Pasemah/Basemah tempo dulu cuma bermental prajurit nggak peduli siapapun yang mimpin mau itu bangsawan Sriwijaya atau Majapahit, namanya juga prajurit kudu nurut sama pimpinan,

      yang jadi pertanyaan kok mau-maunya prajurit basemah mengorbankan nyawa buat penguasa majapahit, padahal Majapahit menurut catatan sejarah merupakan salah satu penyebab runtuhnya Kerajaan Sriwijaya yang selama 8 abad berkuasadi Asia Tenggara…

      kejanggalan kedua saya telusuri di Wikipedia jumlah penduduk suku Pasemah saat ini tidak lebih dari 500 ribu jiwa jauh dibandingkan sama Suku Renjang sebagai mayoritas di Sumsel yang sebanyak 2 juta Jiwa, bisa-bisanya Putra Sumsel yang bersuku Basemah mengklaim Suku Basemahlah pendiri Kerajaan Sriwijaya, kenapa bukan Suku Renjang yang lebih banyak…

      mungkin Putra Sumsel yang bersuku Pasemah bisa menjelaskan keganjalan saya dan bisa mengubah pandangan saya terkait suku Pasemah,

      mudah-mudahan apa saya baca di dunia maya kalo Suku Basemah itu Suku Yang Mengutamakan Otot dibandingkan otaknya itu salah

  3. .
    .
    – – – – DELETED BY MOD – – – –

    isinya hanya pengulangan, dan buang sampah di blog saya.

    terima kasih

  4. Untuk fahriza tanjung saya katakan disitu rumpun suku pasemah yang didalamnya termasuk rejang, kaur/ bengkulu, lahat, muara enim, musi, sekayu, linggau, ogan, semendo. Kalau kamu mau mengecilkan pasemah dengan mengatakan hanya 500.000 (limaratus ribu), saya juga mengecilkan minangkabaw yanghanya sebatas kampung/ nagari minangkabaw yang berpenduduk tidak lebih hanya 5000 (lima ribu) jiwa saja berarti orang minangkabaw itu hanya lima ribu orang saja.

    Minangel —

    Ada buktinya gak????

    • Baik terimakasih atas sanggahannya, cuma meluruskan apa yang anda bilang itu berbeda dengan apa yang saya baca di wikipedia dan salah satu buku di Gramedia kalau tidak salah judulnya Kamus Suku-Suku Nusantara bisa dicek sendiri bukunya masih terbitan baru tahun 2014/2015, mohon jangan membuat pernyataan tampa fakta yang cenderung mengadu domba dan mengeruhkan suasana, Jika anda mau menjumlahkan suku bangsa Melayu Riau dan Melayu Minang ada sebanyak 40 jutaan dibanding Suku Pasemah/Basemah 450 ribu atau 6 juga penduduk palembang saat ini, coba anda kurangi dengan tingkat pertumbuhannya selama 14 Abad itulah gambaran jumlah penduduk tempo dulu di Sumatera Tengah, saya lebih percaya apa yang ditulis dibuku tersebut dengan apa yang anda sebutkan, silakan cek dilink-link berikut ini atau datang langsung ke toko buku Gramedia pasti anda akan menemukan buku tersebut terimakasih
      https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Besemah
      https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Rejang
      https://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Minangkabau
      Saya sebagai orang Minang dan seorang muslim tidak terlalu bangga dengan catatan sejarah pra islam suku bangsa Minang di Indonesia

  5. Asal Usul
    Baso Palembang Alus hampir menyerupai bahasa Jawa, oleh sebab itu banyak orang berasumsi bahwa bahasa Palembang berasal dari Jawa. Namun pada dasarnya tidaklah demikian, bahkan sebaliknya, Identitas Palembang sebagai korabolasi dua kebudayaan Melayu-Jawa terlepas dari sejarah Palembang itu sendiri. Menurut sumber sejarah lokal, Kesultanan Palembang muncul melalui proses yang panjang dan berkaitan erat dengan kerajaan-kerajaan besar di Pulau Jawa, seperti Kerajaan Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram. Palembang (Melayu/Sriwijaya) pada masa laloe adalah cikal bakal berdirinya kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa. Dalam manuskrip sejarah Palembang diceritakan:
    Al kisah tersebutlah dalam satu masa di Bukit Siguntang duduk memerintah seorang raja bernama RAJA SULAN yang mempunyai dua orang putra, masing-masing bernama ALIM dan MUFTI, Alim menjadi sultan setelah ayahandanya wafat, sedangkan Mufti menjadi sultan di Gunung Meru/ gunung dempo. Setelah Sultan Alim wafat ia digantikan oleh putranya tanpa melalui musyawarah dengan pamannya Sultan Mufti.

    Karena itu Sultan Mufti bermaksud untuk menurunkan putera Sultan Alim dari kedudukannya sebagai Sultan di Bukit Siguntang. Mendengar cerita tersebut maka putra Sultan Alim beserta seluruh rakyat dan pasukannya meninggalkan Bukit Siguntang menuju INDRA GIRI. Mereka menetap di suatu daerah yang mereka pagari dengan ujung sebagai tempat pertahanan. Kemudian tempat tersebut bernama Pagaruyung (Padang, Sumatera Barat). Setelah Sultan Mutfi wafat, ia digantikan oleh puteranya dengan pusat pemerintah di Lebar Daun bergelar DEMANG LEBAR DAUN hingga tujuh turun lebih.
    Demang Lebar Daun ini mempunyai seorang saudara kandung bergelar RAJA BUNGSU.
    Kemudian Raja Bungsu tersebut hijrah ke tanah Jawa, di negeri Majapahit, bergelar Prabu Anom Wijaya atau Prabu Wijaya/BRAWIJAYA I /CAKRA DARA/ SUAMI TRIBUWANA TUNGGA DEWI/ MENANTU RADEN WIJAYA sampai tujuh turun pula.
    Brawijaya IV/ DAMAR WULAN memiliki putera bernama ARIA DAMAR atau ARIA DILAH dikirim ke tanah asalh nenek moyangnya yaitu Palembang, ia dinikahkan dengan anak Demang Lebar Daun juga dan diangkat menjadi raja (1445-1486). Ia juga mendapat kiriman seorang putri Cina yang sedang hamil, yakni isteri BRAWIJAYA V/ SAUDARA SEAYAH ARYA DAMAR yang diamanatkan kepadanya untuk mengasuh dan merawatnya, Sang puteri ini melahirkan seorang putra yang diberi nama RADEN FATAH atau bergelar Panembahan Palembang, yang kemudian menjadi raja pertama di Demak.
    ARYA DAMAR DENGAN MANTAN ISTRI SAUDARANYA INI JUGA PUNYA ANAK BERNAMA RADEN HUSEN/ ARTINYA RADEN HUSEN ADALAH ADIK RADEN FATAH DAN ARYA DAMAR ADALAH PAMAN RADEN FATAH.
    Adapun prameswara pangeran palembang penguasa malaka itu adalah sebagai berikut prameswara bin raden sotor bin rana menggala bin cakra dara bin sultan mufti bin raja sulan bukit seguntang palembang. jadi benar kalau prameswara menyebut dirinya pangeran palembang, karena leluhurnya memang orang palembang.

    Pada saat Raden Fatah menjadi raja Demak (1478-1518), ia berhasil memperbesar kekuasaannya dan menjadikan Demak kerajaan Islam pertama di Jawa.
    Akan tetapi kerajaan Demak tidak mampu bertahan lama karena terjadinya perang saudara, Setelah kerajaan Demak mengalami kemunduran, muncullah Kesultanan Pajang. Penyerangan Kesultanan Pajang ke Demak mengakibatkan sejumlah bangsawan Demak melarikan diri ke Palembang.

    Rombongan dari Demak yang berjumlah 80 orang dikepalai oleh Ki. Sedo Ing Lautan (1547-1552) menetap di Palembang Lama (1 Ilir) yang saat itu Palembang di bawah pimpinan Dipati Karang Widura, keturunan Demang Lebar Daun. kisedo ing lautan menikah dengan putri demang lebar dun itu, Mereka mendirikan istana Kuto Gawang dan masjid di Candi Laras (PUSRI sekarang). Pengganti Pangeran Sedo Ing Lautan adalah anaknya, Ki, Gede Ing Suro (1552-1573), setelah wafat diganti oleh Kemas Anom Adipati Ing Suro/Ki. Gede Mudo (1573-1590). Kemudian diganti saudaranya Sultan Jamuluddin Mangkurat II Madi Alit (1629-1630), kemudian Sultan Jamaluddin Mangkurat III Sedo Ing Puro (1630-1639), Sultan Jamaluddin Mangkurat IV Sedo Ing Kenayan (1639-1950), Sultan Jamaluddin Mangkurat V Sedo Ing Peserean (1651-1652), Sultan Jamaluddin Mangkurat VI Sedo Ing Rejek (1652-1659), Sultan Jamaluddin VII Susuhunan Abdurrahman Candi Walang (1659-1706), Sultan Muhammad Mansur (1706-1714), Sultan Agung Komaruddin (1714-1724), Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1757), dst.

    Pada abad ke 16 di Palembang mulai terbentuk dan tumbuh suatu pemerintahan yang bercorak Islam. Pangeran Aria Kesumo (Kemas Hindi) pada tahun 1666 memproklamirkan Palembang menjadi negar Kesultanan beliau bergelar Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayidul Imam berkuasa (1659-1706). Dengan demikian islam telah menjadi agama Kesultanan Palembang Darussalam dan pelaksanaan hukum Islam berdasarkan ketentuan resmi hingga berakhirnya Kesultanan Palembang pada tahun 1823.

    prbu brawijaya I = CAKRA DARA/ raja bungsu bin mufti bin raja sulan palembang
    prabu brawujaya II = HAYAM WURUK Bin cakra dara
    prabu brawijaya III = WIKRAMAWARDANA/ menantu cakra dara/ suami kusumawardani
    prabu brawijaya IV = DAMARWULAN/ menantu wikramawardana/ suami ratu suhita/ ayah arya damar
    brawijaya V = KERTABUMI bin damarwulan/ Ayah raden fatah
    brawijaya VI = PRABU GIRINDRA/ Menantu kerta bumi
    brawijaya VII = PRABU UDARA/ MENANTU PRABU GIRINDRA sekaligus patih prabu girindra

    Minangel —-
    PERTAMA
    bahasa palembang alus

    jawab,
    saya tidak punya kepentingan utk isu ini.

    KEDUA
    sejarah kesultanan palembang.

    jawab,
    saya tidak punya kepentingan dg isu ini.

    saya hanya ingin ada kepastian, bhw kerajaan srivijay merupakan kerajaan berdarah minang, krn didirikan oleh putra minang, yaitu dapntahuyang, dan itu ada buktinya, yaitu prasasti kedukan bukit.

    KETIGA
    sejara nama pagaruyung, yg menurut sdr berasal dari kisah mufti dan alim ….

    jawab,
    apakah pendirian / teori sdr sudah di-verifikasi oleh lembaga keilmuan, spt WIKIPEDIA ATO LIPI????

    tidak ada satu pun artikel di internet, khususnya yg ilmiah, yg menjelaskan bhw pagaruyung berasal dari kisah sultan alim dan si mufti ini.

    semua artikel berbasis minang tidak ada yg menyatakan bhw nama pagaruyung berasal dari kisah si mufti ato si alim ato apalah.

    jadi, argumentasi / teori sdr itu hanya berbasis kesukuan sdr saja, yaitu palembang ….

    di situs lain, saya temukan adanya netter yg protes mengenai kisah si mufti dan si alim ini. netter itu berkata, itu terjadinya tahun berapa? kok ada penguasa bernama islami??? apakah pada saat itu islam sudah hadir di palembang??? bukankah itu masih jjamannya bukit siguntang??? bukankah itu masih jamannya batu? jamannya hindu buddha?? dari mana datangnya sultan mufti dan sultan alif???

    KEEMPAT.
    sdr tulis silsilah parameswara dg lengkap: prameswara bin raden sotor bin rana menggala bin cakra dara bin sultan mufti bin raja sulan bukit seguntang palembang.

    jawab,
    wah hebat sekali!!! wikipedia saja tidak pernah sebut demikian … kok sdr sbg orang palembang bisa tauk????

    ini lawakan murahan, ato paparan ilmiah???

    org2 singapura saja tidak tahu asal usul parameswara …. gila!!!!

    TERAKHIR,
    pada akhirnya, apakah paparan sdr ini BERMUTU???

    apakah paparan ini berbobot secara ilmiah???

    saya pertanyakan itu.

    terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s