Asal-Usul Nama Minangkabau Menurut Para Ahli

529318_576091822425196_1108251253_n

Oleh: Yulfian Azrial

Pendapat tentang asal-usul nama Minangkabau sangat beragam. Ada yang berasal dari cerita rakyat, yaitu pendapat yang berkembang dari mulut ke mulut. Ada pula asal-usul nama Minangkabau yang tertuang dalam Tambo Alam Minangkabau.

Karena masa terus berkembang, dilakukan pula penelitian oleh para ahli. Baik ahli sejarah, Ahli Sosiologi, Antropologi, dan lain-lain. Sehingga dari penelitian ini terungkap pula sejumlah kata yang menjadi asal-usul nama Minangkabau menurut pendapat para ahli tersebut. Sampai sekarang belum dapat dipastikan dengan jelas mana asal-usul nama Minangkabau yang sebenarnya.

Namun demikian, dengan semakin meningkatnya kecerdasan manusia, maka pendapat yang lebih banyak dipercayai orang adalah asal-usul nama Minangkabau menurut para ahli ini. Karena pendapat ini telah melewati proses penelitian yang juga dikuatkan bukti-bukti dengan melewat proses kajian ilmiah yang didasarkan pada pendekatan yang bisa dipertanggungjawabkan sesuai dengan rujukan ilmu pengetahuan.

Berikut adalah beberapa asal nama Minangkabau menurut pendapat para para ahli tersebut:

Dari kata Minanga Tamvan

Prof. Dr. Poerbacaraka mengatakan bahwa nama Minangkabau berasal dari kata dalam bahasa Sangsekerta yaitu Minanga Tamwan. Kata-kata ini terdapat dalam Prasasti Kedukan Bukit.

Teks Prasasti Kedukan Bukit:

Prasasti Kedukan Bukit

  1. svasti śrī śakavaŕşātīta 605 (604 ?) ekādaśī śu
  2. klapakşa vulan vaiśākha dapunta hiya<m> nāyik di
  3. sāmvau mangalap siddhayātra di saptamī śuklapakşa
  4. apunta hiyavulan jyeşţha d<m> maŕlapas dari minānga
  5. vala dualakşa dangan ko-(sa)tāmvan mamāva yam
  6. duaratus cāra di sāmvau dangan jālan sarivu
  7. di mata japtlurātus sapulu dua vañakña dātam
  8. sukhacitta di pañcamī śuklapakşa vula…
  9. marvuat vanua…laghu mudita dātam

10. śrīvijaya jaya siddhayātra subhikşa…

Alih Bahasa

  1. Selamat! Tahun Śaka telah lewat 604, pada hari ke sebelas
  2. paro-terang bulan Waiśakha Dapunta Hiyang naik di
  3. sampan mengambil siddhayātra. di hari ke tujuh paro-terang
  4. bulan Jyestha Dapunta Hiyang berlepas dari Minanga
  5. tambahan membawa bala tentara dua laksa dengan perbekalan
  6. dua ratus cara (peti) di sampan dengan berjalan seribu
  7. tiga ratus dua belas banyaknya datang di mata jap (Mukha Upang)
  8. sukacita. di hari ke lima paro-terang bulan….(Asada)
  9. lega gembira datang membuat wanua….

10. Śrīwijaya jaya, siddhayātra sempurna….

Prasasti Kedukan Bukit adalah prasasti yang menceritakan tentang kisah perluasan wilayah Minanga Tamwan. Yaitu perluasan wilayah yang bermula dari kemenangan utusan Raja Minanga Tamwan yang dipimpin Datuk Cribijaya (Dt. Sibijayo, Panglima Perang Minanga Tamwan) melawan Bajak Laut yang bnyak meresahkan masyarakat di sekitar Sungai Palembang (Sungai Musi) sekarang.

Dalam prasasti ini disebutkan antara lain,

  • “Yang Dipertuan Hyang melepas duapuluh laksa
  • tentara dari Minanga Tamwan yang dipimpin
  • Cribijaya (Dt.Sibijayo) melalui perjalanan suci,
  • dengan tujuan memperluas negara hingga
  • mendatangkan kemakmuran.”

Semua ini dituangkan Prof. Dr. Poerbacaraka dalam bukunya Riwayat Indonesia I. Hanya saja di manakah letak daerah Minanga Tamwan itu, hingga saat ini masih menjadi perdebatan. Menurut keterengan Prof. Dr. Poerbacaraka yang disebut Minanga Tamwan itu adalah daerah yang terletak di antara dua Sungai Besar yang bertemu.

Sebagian ahli ada yang menduga bahwa dua sungai besar itu adalah Kampar Kiri dan Kampar Kanan. Namun bila yang dimaksud adalah Sungai Kampar Kiri dan Kampar Kanan, maka kemungkinan besar daerah tersebut ada di sekitar Muara Takus.

Menurut hasil penelitian dan kajian penulis sendiri bersama Masyarakat Sejarahawan Indonesia (MSI) Luhak Limopuluah (Yulfian Azrial,dkk-2003), Minanga Tamwan bisa saja bukanlah dimaksudkan sebagai pertemuan antara dua sungai besar secara fisik. Karena pertemuan sungai secara fisik tentu lebih lazim disebut sebagai muara bukannya Minanga Tamwan.

Tetapi Minanga Tamwan justru bisa saja menunjukkan suatu daerah atau kawasan yang menjadi tempat pertemuan masyarakat dari dua sungai besar. Hal ini karena jalan raya utama masyarakat kita pada zaman dahulu adalah sungai.

Maka kalau kita lihat dari peta, dua sungai besar itu di kawasan pulau Sumatera bagian tengah ini hanya satu, yaitu daerah yang terdapat antara Hulu Sungai Kampar dengan Batang Sinamar (Kuantan / Indragiri). Kawasan ini berada antara Maek dan Mungka. Tepatnya yaitu di Bukit Batu Bulan di Nagari Talang Maua.

Daerah ini juga berada tepat tidak jauh dari garis Khatulistiwa. Kemudian kalau ditinjau dari asal usul katanya menurut Bahasa tamil, maka kata Talang itu berasal dari kata Ta yang berarti besar dan Lang adalah bandar. Jadi Talang artinya bandar besar.

Keberadaan Bukit Batu Bulan ini dapat digambarkan sebagai berikut: Satu sisinya turun ke Batang Kampar di Maek, sedangkan sisi yang lain turun ke Batang Sinamar yang kehilirnya dike-nal juga sebagai Batang Kuantan atau Sungai Indragiri.

Di atas bukit ini terdapat beberapa situs yang merupakan bekas pusat perdagangan besar seperti Ranah Pokan Akad, Ranah Pokan Selasa, Ranah Pokan Komih, Ranah Pokan Jumat, Ranah Pokan Sabtu, dll.

Tempat ini jelas pernah mempertemukan pedagang yang naik dari dua sungai besar, yaitu yang naik lewat Batang Kampar dan dan yang naik dari Batang Kuantan (Indragiri). Namun untuk memastikan hal ini masih diperlukan penelitian lebih lanjut.

Dari kata Pinang Khabu

Prof.Van der Tuuk, seorang profesor kebangsaan Belanda mengatakan bahwa Minangkabau merupakan Pinang Khabu. Yaitu tanah pangkal, tanah asal atau tanah leluhur.. Pendapat ini dikuatkan pula oleh pernyataan Thomas Stanford Raffles, seorang ahli kebangsaan Inggris yang pernah menjabat Gubernur Jenderal Inggris di Indonesia pada tahun 1811 hingga 1818.

Pernyatan ini tertuang di dalam keterangannya setelah melakukan penjelajahan ke berbagai pelosok nagari dan hutan-hutan di wilayah Sumatera Tengah. Dalam sebuah catatannya Raffles menyatakan bahwa: “…. Di sini kita menemukan bekas-bekas suatu kerajaan besar (Minangkabau) yang namanya hampir-hampir tidak kita kenal sama sekali, tetapi sangat nyata merupakan tempat asal bangsa-bangsa Melayu yang bertebaran di Kepulauan Nusantara.”

Untuk memudahkan kita mengingat perjalanan Raffles ini, nama bunga Raflesia adalah salah satu kenang-kenangan untuk mengabadikan penjelajahan alam yang dilakukan Raffles tersebut. Raflesia maksudnya yaitu nama bagi sejenis bunga raksasa yang ditemukan oleh Raffles. Di Ranah Minang kita biasa menyebutnya dengan Bungo Bangkai.

Pernyataan bahwa Minangkabau merupakan tanah asal ini didukung pula oleh banyak data dan fakta. Apalagi semua suku bangsa Melayu menurut sejarah memang berasal dari Minangkabau. Seperti Melayu Riau, Jambi, Deli, Aceh, Palembang, Melayu Semenanjung, Kalimantan, dan Bugis. Bahkan Suku Kubu, Sakai, Talang Mamak, Suku Anak Laut di Selat Malaka, dll, mengaku berasal dari Minangkabau.

Bukti lain tentang hal ini misalnya seperti pengakuan yang terpahat menjadi prasasti di makam Seri Sultan Tajuddin di Brunai yang antara lain berbunyi sebagai berikut:

“Maka Seri Sultan Tajuddin memerintahkan kepada Tuan Haji Khatib Abdul Latif supaya menerangkan silsilah ini agar diketahui anak cucu, raja yang mempunyai tahta kerajaan di Negara Brunai Darussalam turun-temurun yang mengambil pusaka nobat negara dan genta alamat dari negeri Johor Kamalul Maqam, yang mengambil pusaka nobat negara dan alamat dari Minangkabau nagari Andalas…dst”.

Parasasti ini menggambarkan bahwa orang-orang Melayu yang berada di Semenanjung Malaysia sekarang juga berasal dari Minangkabau. Misalnya seperti yang di Johor, Selangor, Malaka, Pahang, dll. Bahkan sampai ke generasi yang paling akhir, yaitu yang kemudian menghuni Negeri IX. Menurut sejarah, umumnya mereka ini menyeberang Selat Malaka setelah melewati aliran Batang Rokan dan Batang Kampar.

Dari Kata Menon Cobos

Menurut Prof. Dr. Muhamad Hussein Nainar, seorang guru besar di Universitas Madras, kata Minangkabau berasal dari kata Menon Cobos.

Menon Cobos artinya adalah tanah mulia atau tanah murni. Dianggap sebagai tanah murni atau tanah mulia karena daerah ini juga dianggap sebagai tempat asal para leluhur orang-orang Melayu.

Dari Kata Binanga Kanvar

Menurut Prof. Sutan Muhammad Zain kata Minangkabau berasal dari Binanga Kanvar. Binanga Kanvar artinya adalah muara Sungai Kampar. Menurutnya di Muara Sungai Kampar inilah bermulanya kerajaan Minangkabau.

Pendapat lain yang senada dengan Prof. Sutan Muhammad Zain adalah pernyataan seorang kebangsaan Cina yang bernama Chan Yu Kua. Pernyataan ini ia tuliskan di dalam catatan perjalanannya.

Di dalam catatan itu ia menerangkan bahwa sewaktu ia pernah datang ke Muara Kampar pada abad ke 13. Dijelaskannya bahwa di Muara Kampar itu didapatinya sebuah bandar dagang yang paling ramai di pusat Pulau Sumatera. Catatan ini mengingatkan kita pada catatan serupa dari pendahulunya, I-Tsing beberapa abad sebelumnya.

Dari kata Mina Kambwa

Sewaktu melakukan penelitian untuk pendalaman materi di beberapa buku ini, saya (Yulfian Azrial, 2011) melihat bahwa kata Minangkabau juga bisa berasal dari istilah dalam bahasa Sanskerta, yaitu kata Mina Kambwa. Mina Kabwa artinya negeri Pilar Naga atau negeri Pilar Langit yang terdiri dari deretan Gunung Berapi.

Dari segi etimologi, kata mina dalam Bahasa Sanskerta berarti Naga. Dalam kisah-kisah Hindu Kuno, istilah Mina atau Naga sering digambarkan sebagai simbol dari gugusan gunung berapi yang terdapat di pegunungan Bukit Barisan sekarang. Sedangkan Kambwa atau Skambwa berati pilar atau semacam tiang penyangga langit. Jadi Mina Kambwa artinya tiang atau pilar penyangga langit yang terdiri dari gugusan gunung berapi.

Istilah Mina Kambwa ini sering disebut dalam mandala-mandala Hindu. Dalam mandala-mandala Hindu seperti dalam Shri Yantra dan Kalachakra Mandala, deretan gunung merapi di gugusan pegunungan bukit barisan ini sering disebut sebagai Gunung Meru atau Gunung Suci sorga. Gunung yang terbesar dan tertinggi disebut Gunung Mahameru yang sering dilambangkan dengan piramida besar. Gunung ini oleh sebagian besar ahli diduga adalah Gunung Krakatau yang meletus pada tahun 11.600 SM.

Pada saat itu gunung tersebut meledak dengan ledakan supervuklanis-nya, yang membuat gunung itu runtuh seperti balon yang bocor. Puncak gunung yang semula tinggi ini tenggelam di bawah laut, berubah menjadi kaldera raksasa. Asap dan debunya bahkan menutupi hampir seluruh langit dunia. Hal yang membuat para ahli Geologi dan Fisikawan nuklir berpendapat bahwa inilah yang menyebabkan berakhirnya Zaman Es Pleistosen.16

Sebelum meletusnya Gunung Krakatau digambarkan bahwa di kawasan ini terdapat puncak-puncak peradaban dunia yang kemudian menyebar ke belahan dunia lain. Untuk mengenang peradaban di tanah leluhurnya ini, maka di berbagai tempat penyebarannya ditemukan banyak simbol tentang segitiga. Simbol yang melambangkan Gunung Meru atau Gunung Suci sorga.

Bahkan di sejumlah tempat dibangun sejumlah duplikat Gunung Meru ini yang lazim disebut piramida. Misalnya seperti yang ditemukan di Mesir, Mesopotamia, Yunani, pada suku Maya, dan suku Aztek di benua Amerika. Bahkan dengan meletakkan jenazah di dalam bangunan ini, dibayangkan oleh mereka sebagai meletakkan para almarhum di perut Gunung Sorga.

(Dikutip dari Buku Budaya Alam Minangkabau, Yulfian Azrial, Jilid 4).

**Yulfian Azrial, adalah Kepala Balai Kajian, Konsultansi, dan Pemberdayaan (BKPP) Nagari Adat Alam Minangkabau, Ketua Bidang Penelitian, Pengkajian dan Penulisan Masyarakat Sejarawan Indonesia Luhak Limopuluah. Penulis Buku Budaya Alam Minangkabau.

Sumber,

http://yulfianazrialcyber.blogspot.com/2010/04/asal-usul-nama-minangkabau-menurut-para.html  — 5 April 2013.

12 thoughts on “Asal-Usul Nama Minangkabau Menurut Para Ahli

  1. – – – – – – – – DELETED BY ADMIN – – – – – – – –

    nb. kata2 kasar yg tidak mendasar sama sekali.

    mohon maaf atas deletion ini.

    • Pernah saya baca tentang sejarah minangkabau di Wikipedia mengenai pertempuran Sibusuk yang konon katanya antara tentara majapahit yang sebagian besar berasal dari Jawa dan palembang (basemah/pasemah) yang sudah dikuasai Majapahit, heran juga jika Suku Pasemah yang diakui Putra Sumsel adalah pendiri kerajaan Sriwijaya, kenapa pula Palembang yang dulu dikuasai Majapahit, orang-orang basemah/pasemah menjadi prajurit kaki tangan Majapahit menaklukkan wilayah lainnya di Sumatera dan Semenanjung Malaka, apakah suku Pasemah/Basemah tempo dulu cuma bermental prajurit nggak peduli siapapun yang mimpin mau itu bangsawan Sriwijaya atau Majapahit, namanya juga prajurit kudu nurut sama pimpinan, yang jadi pertanyaan kok mau-maunya prajurit basemah mengorbankan nyawa buat penguasa majapahit, padahal Majapahit menurut catatan sejarah merupakan salah satu penyebab runtuhnya Kerajaan Sriwijaya yang selama 8 abad berkuasadi Asia Tenggara…kejanggalan kedua saya telusuri di Wikipedia jumlah penduduk suku Pasemah saat ini tidak lebih dari 500 ribu jiwa jauh dibandingkan sama Suku Renjang sebagai mayoritas di Sumsel yang sebanyak 2 juta Jiwa, bisa-bisanya Putra Sumsel yang bersuku Basemah mengklaim Suku Basemahlah pendiri Kerajaan Sriwijaya, kenapa bukan Suku Renjang yang lebih banyak…mungkin Putra Sumsel yang bersuku Pasemah bisa menjelaskan keganjalan saya dan bisa merubah pandangan saya terkait suku Pasemah, mudah-mudahan apa saya baca di dunia maya kalo Suku Basemah itu Suku Yang Mengutamakan Otot dibandingkan otaknya itu salah

  2. putra sumsel says:
    Your comment is awaiting moderation.
    February 13, 2014 at 11:19 am

    kamu nulis wiki itu gal lengkap bodoh tau semua orang klik di google ini yang lengkap

    Kerajaan Melayu
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Peta Ranah Melayu purba, berdasarkan teori yang diterima umum, pusat Kerajaan Malayu dikaitkan dengan situs Muaro Jambi, muara sungai Batanghari, Jambi, Sumatera. Tetapi berbagai negeri (kadatuan) Melayu lainnya pun bersemi sebelum ditaklukan Sriwijaya pada akhir abad ke-7 Masehi, seperti Kerajaan Langkasuka, Pan Pan dan Panai.

    Kerajaan Melayu atau dalam bahasa Tionghoa ditulis Ma-La-Yu (末羅瑜國) merupakan sebuah nama kerajaan yang berada di Pulau Sumatera. Dari bukti dan keterangan yang disimpulkan dari prasasti dan berita dari Cina, keberadaan kerajaan yang mengalami naik turun ini dapat di diketahui dimulai pada abad ke-7 yang berpusat di Minanga, pada abad ke-13 yang berpusat di Dharmasraya dan diawal abad ke 15 berpusat di Suruaso[1] atau Pagaruyung[2].

    Kerajaan ini berada di pulau Swarnadwipa atau Swarnabumi (Thai:Sovannophum) yang oleh para pendatang disebut sebagai pulau emas yang memiliki tambang emas, dan pada awalnya mempunyai kemampuan dalam mengontrol perdagangan di Selat Melaka sebelum direbut oleh Kerajaan Sriwijaya (Thai:Sevichai) pada tahun 682[3].

    PADANG BANCI KONTOL AJA YANG KAMU BESARIN PENGECUT CURANG PENYEBAR OPINI SESAT BISANYA CUMAN NGAPUS AJA. CETEK KECIL KAMU PADANG

    //////////////////////////

    Minangel ~ bagian yg saya potong, ITU TIDAK PENTING DAN TIDAK RELEVAN.

    tapi biar bagaimana pun, sejarah memang menjelaskan bhw minanga (dllllll) menjadi taklukan sriwijaya. itu memang saya akui, gila saya kalo tidak mengakui ……

    tapi masalahnya adalah, sriwijiaya itu kerajaan siapa???? sriwijaya itu kerajaan milik minangkabau, bukan????

    mengapa hal beginian saja @putrasumsel tidak dapat memahami???? hahahahaha ….

  3. Orang Minang Kabau adalah manusia yang memiliki budi pekerti tinggi dan memegang teguh adat-istiadatnya secara turun temurun. Janganlah kita terpancing dengan hujatan, caci-maki, sumpah-serapah dari orang-orang yang tidak beradab. Derajat manusia dapat diukur dari tutur bahasanya, jika yang keluar dari mulutnya hanya kotoran dan segala jenis binatang, apakah pantas dia disebut sebagai seorang yang beradab, intelektual atau berpendidikan?

    Ada cerita mengenai tiga orang buta yang diberi kesempatan untuk mengenali seekor gajah yang berdiri dihadapannya. Orang buta pertama memegang kakinya, orang buta kedua memegang telinganya dan orang buta ketiga memegang belalainya. Setelah itu mereka berdebat untuk menggambarkan bagaimana bentuk gajah itu?
    Orang buta pertama mengatakan “Ternyata gajah itu besar, keras dan tegak lurus seperti sebatang pohon”.
    Orang buta kedua membantah klaim rekannya, “Gajah itu tipis, lebar dan tidak bertulang”
    Orang buta ketiga menertawakan kedua rekannya, “kalian semua salah, gajah itu bulat dan panjang seperti seekor ular”

    Salahkah mereka menggambarkan gajah seperti itu? Jika anda sebagai orang yang bisa melihat menerangkan kepada mereka bentuk gajah yang sebenarnya, pasti mereka akan membantah dan mendebat anda mati-matian. Karena kenyataan yang mereka temukan dengan tangan mereka menyatakan lain dari fakta yang anda kemukakan.

    Itulah perbedaan antara orang yang tahu dan mengetahui. Orang yang tahu berbicara berdasarkan apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Tapi, orang yang mengetahui akan berpikir dan menganalisa dahulu apa yang mereka temukan hingga ucapan mereka tidak akan mudah terbantahkan.
    Semoga hal ini dapat menjadi bahan renungan bagi kita.

    Trims

  4. Minangel ~ bagian yg saya potong, ITU TIDAK PENTING DAN TIDAK RELEVAN.
    JUSTRU YANG ANDA POTONG ITULAH INTINYA YAK MENGATAKAN MELAYU MINANGA ITU DITAKLUKKAN OEH SERIWIJAYA.
    ANDA MINANGEL SANGAT NGOTOT KALAU MINANGATAMWAN ITU ADALAH ASAL SERIWIJAYA. PADAHAL JELAS DISITU TAKLUKKAN SERIWIJAYA.

    tapi biar bagaimana pun, sejarah memang menjelaskan bhw minanga (dllllll) menjadi taklukan sriwijaya. itu memang saya akui, gila saya kalo tidak mengakui ……
    ARTINYA JELAS MINANGATAMWAN ITU BUKAN ASAL SERIWIJAYA TAPI TAKLUKAN SERIWIJAYA.

    tapi masalahnya adalah, sriwijiaya itu kerajaan siapa???? sriwijaya itu kerajaan milik minangkabau, bukan????
    JELAS BUKAN MILIK MINANGKABAW. KARENA ANDA MENGATAKAN BERULANG ULANG KALAU MINANGKABAW ITU BERASALDARI KATA MINANGATAMWAN DIPRASASTI KEDUKAN BUKIT PALEMBANG ITU. SEDANGKAN MINANGATAMWAN ITUNADALAH TAKLUKAN SERIWIJAYA. KAN ANDA SENDIRI YANG MENGATAKAN MENGAKUI GILA ANDA JIKA TIDAK MENGAKUINYA. ARTINYA MINANGKABAW ITU TAKLUKKAN SERIWIJAYA.

    SERIWIJAYA ITU JELAS MILIK ORANG SUMSEL. APA YANG DISAMPAIKAN PUTRA SUMSEL ITU BENAR SEMUA, ILMIAH,

    WAHAI MINANGEL TIDAK USAH ANDA BICARA SERIWIJAYA YANG SUDAH JELAS MILIK ORANG SUMSEL. SERIWIJAYAITUSUDAH MENDARAH DAGIN DENGAN SUMSEL.

    KITA URUSI DULU URUSAN KITA. URUSAN KITA BELUM SELESAI ANTARA RIAU DENGAN MINANG KABAW. BAGI KAMI ORANG MELAYU RIAU MINANGKABAW ITU LAHYANG BERASAL DARI MELAYU RIAU. BUKAN MINANGKABAW ASAL MELAYU RIAU
    KARENA NENEK MOYANG DATANG LEBIH DULU KERIAU BARU MASUK KE MINANG KABAW.
    JADI TIDAK BENAR MELAYU RIAU ITU MINANGKABAW. RAJA RAJA MELAYU RIAU KETURUNAN SULTAN JOHOR,SULTAN JOHOR KETURUNAN MALAKA, MALAKA KETURUNAN PALEMBANG, PALEMBANG KETURUNAN SERIWIJAYA, BEGITU SEMUA PUSAKA MELAYU MENULISKAN SEJARAHNYA. DAN SERIWIJAYA BERASAL DARI DAERAH ULUAN SUNGAI MUSI DAN SENTRAL PERADABAN DI GUNUNG DEMPO, SEBAGAI PEMEGANG PERADABAN BESAR MEGALIT TERBESAR DAN TEERLENGKAP DIDUNIA ITULAH ASAL SERIWIJAYA.

    mengapa hal beginian saja @putrasumsel tidak dapat memahami???? hahahahaha …
    JANGANLAH ANDA TERTAWA KARENA KARENA TAWA ANDA ITU MENUNJUKAN ANDA TIDAK ILMIAH DAN ANDA TIDAK MAMPU .
    APA YANG DILAKUKAN PUTRA SUMSEL ITU WAJAR. KARENA SERIWIJAYA ITU BERADA DISUMSEL. KETIKA ADA YANG MENGUSIKNYA WAJAR DIA MENYAMPAIKAN BUKTI UNTUK DIADU DENGAN PENDAPAT ANDA.
    ANDA SAJA AKAN MEMPERTAHANKAN JIKA ADA MENGKLAIM / MENGUSIK PAGARRUYUNG.ADITYAWARMAN ITU BUKAN ASLI ORANG SUMATERA AYAHNYA ORANG JAWA. ITU YANG SUDAH JELAS. SEDANG IBUNYA PUTRI DHARMASRAYA. SEDANGKAN DHARMASRAYA ITU ADALAH SERIWIJAYA YANG BERASIMILASI DENGAN JAMBI SEBAGAI BEKAS DAERAH TAKLUKKAN SERIWIJAYA. JADI MEMANG BUKAN ORANG MINANG ADITYAWARMAN ITU. DIA ADALAH JAWA MELAYU.

  5. 1 Swasti, sri. Sakawarsatita 604 ekadasi su-
    2 klapaksa wulan Waisakha Dapunta Hyang naik di
    3 samwau mangalap siddhayatra. Di saptami suklapaksa
    4 wulan Jyestha Dapunta Hyang marlapas dari Minanga
    5 tamwan mamawa yang wala dua laksa dangan kosa
    6 dua ratus cara di samwau, dangan jalan sariwu
    7 telu ratus sapulu dua wanyaknya, datang di Mukha Upang
    8 sukhacitta. Di pancami suklapaksa wulan Asada
    9 laghu mudita datang marwuat wanua …..
    10 Sriwijaya jayasiddhayatra subhiksa
    Terjemahan dalam bahasa Indonesia modern:
    1 Bahagia, sukses. Tahun Saka berlalu 604 hari kesebelas
    2 paroterang bulan Waisaka (23 april) Dapunta Hyang naik di
    3 perahu melakukan perjalana . Di hari ketujuh paroterang
    4 bulan Jesta(19 mei) Dapunta Hyang berlepas dari Minanga
    5 tambahan membawa balatentara dua laksa dengan perbekalan
    6 dua ratus koli di perahu, dengan berjalan seribu
    7 tiga ratus dua belas banyaknya, datang di Muka Upang
    8 sukacita. Di hari kelima paroterang bulan Asada(16 juni)
    9 lega gembira datang membuat wanua …..
    10 Perjalanan jaya Sriwijaya berlangsung sempurna
    a. DAPUNTA PERTAMA NAIK DIPERAHU ITU PARO TERANG BULAN WAISAK ( 23 APRIL) INILAH ASAL SERIWIJAYA, BUKAN MINANGA TAMWAN KARENA DIKATAKAN DAPUNTA MANGGALAP SIDHAYATRA.
    b. DAPUNTA BERLEPAS DARI MINANGATAMWAN DIHARI KETUJUH PAROTERANG BULAN JESTA (19 MEI) ARTINYA 26 hari setelah naik perahu melakukan sidhayatra baru bertolak/berlepas dari minangatamwan. Makajelas MINANGATAMWAN ITU BUKAN SERIWIJAYA/ ASAL SERIWIJAYA TAPI TAKLUKKAN SERIWIJAYA. karena jarak dapunta naik perhu sampai berlepas itu 26 hari, dari tgl 23 april baru berlepas dari minangatamwan tgl 19 mei.
    c. datang dimuka upang dihari kelima paroterang bulan Asada ( 16 juni.) dari minanga dapunta menuju ulu musi membawa dualaksa pasukkan sesuai 20 hari kemudian mendatangi muka upang palembang satu minggu/ 5 hari sesuai, jadi 27 hari dari belepas dari minangatamwan baru datang dimuka uphang palembang. Karena dikatakan selepas dari minangatamwan itu tidak dikatakan dapunta menuju muka upang/ langsung menuju muka upang tapi dengan tegas dikatakan datang dimuka upang. Selepasdari minangtamwan itu dapunta keulu musi dari ulu musi pasukkan dua laksa itu mendatangi palembang selepas dari minangatamwan, Minangatamwan itu adalah penghalang seriwijaya menuju muka upang untuk itu perlu ditaklukkan dulu baru menuju muka uphang palembang.
    jadi jelas minangatamwan itu bukanlah tempat pertama dapunta naik perahu/ tempat melakukan sidhayatra. tempat dapunta melakukan/ magalap sidhayatra adalah seriwijaya, karena diakhir prasasti dikatakan sidhayatra seriwijaya jaya subhiksa.
    artinya seriwijaya yang melakukan sidhayatra bukan minangatamwn. bukan sidhayatra minangatamwan jaya subhiksa. Paktanya memang seriwijaya sudah ada sebelum peristiwa itu sebelum sidhayatra th 683M karena seriwijaya th 670 sudah ada.

    Jika seriwijaya itu adalah taklukan kerajaan minangatamwan maka seriwijaya tidak akan pernah ada yang ada hanya minangatamwan sebab taklukan itu akan jadi negara yang menaklukkan. Diseluruh dunia negara yang menaklukkan akan menjadikan taklukannya sebagai negaranya.
    Jika minangatamwan yang menaklukkan seriwijaya, maka yang ada kerajaan minangatamwan. Jelas seriwijaya yang berganti nama menjadi minangatamwan. Sebab seriwijaya sebelumsidhayatra dapunta 683M sudah ada sudah disebut dengan sebutan yang sama oleh itsing tahun 671M dengan tahun 683M.
    Paktanya minangtamwan, melayu, kedah, tulang bawang yang berubah jadi seriwijaya.
    Belanda menaklukkan indonesia memberi nama hindia belanda( netherland indie) bukan belanda yang berganti nama jadi indie. Turki menaklukan konstantinopel romawi berganti nama istanbul turki, bukan turki yang berganti nama jadi romawi.jepang/ nipon pernah menguasai indonesia/ hindia belanda mengganti nama hindia belanda dengan nipon raya. Indonesia yang jadi dai nipon bukan nipon yang berubah jadi indonesia. Indonesia menguasai timor timur, timour timur yang berganti nama timour-timur indonesia. Bukan indonesia yang jadi timor leste. Malaysia jadi jajahan inggris. Malaysia yang berganti nama menjadi nama inggris dan jadi wilayah inggris bukan inggris yang berubah berganti jadi malaysia. Begitu juga minangatamwan karena taklukkan seriwijaya menjadi seriwijaya. Melayu, kedah, tulang bawang, bangka belitung adalah taklukan seriwijaya maka wilayah itu menjadi seriwijaya bukan seriwijaya yang menjadi melayu,kedah, tulang bawang.
    Ketika jambi, riau, pernah jadi wilayah johor maka jambi dan riau jadi johor Bukan johor yang jadi jambi/ riau.

  6. Sang Nila Utama telah berkahwin dengan puteri Demang Lebar Daun dari Palembang iaitu Raden Ratna Cendera Puri, yang juga merupakan ibu saudara Sang Nila Utama dari sebelah ibunya (adik-beradik Wan Sendari)[3]. Hasil perkahwinan dikurniakan seorang putera bernama Paduka Sri Pekerma Wira Diraja (1372 – 1386).

    Selepas kemangkatan baginda Sang Nila Utama, 3 lagi Raja memerintah Singapura bermula dari anakdanya iaitu Paduka Sri Pekerma Wira Diraja (1372 – 1386), cucunya Paduka Seri Rana Wira Kerma (1386 – 1399) dan yang terakhir cicitnya Paduka Sri Maharaja Parameswara (1399 – 1401).

    Pada tahun 1401, cicit baginda iaitu Paduka Sri Maharaja Parameswara diusir dari Singapura selepas Majapahit berjaya menawan Singapura. Baginda kemudiannya melarikan diri ke utara dan menubuhkan kerajaan Melaka pada tahun 1402.

    Sang Nila Utama ialah anak kepada Sri Nila Pahlawan (Sang Sapurba) yang diceritakan dalam Sejarah Melayu sebagai nenek moyang legenda Raja-raja Melayu. Dari keturunan baginda, wujud dinasti-dinasti kerajaan di alam Melayu seperti Melaka, Johor dan Perak. Sultan Perak ke-34, Sultan Azlan Muhibbuddin Shah (1984 – sekarang) ialah keturunan langsung dari Sultan Perak pertama, Sultan Muzaffar Shah I (1528 – 1549), iaitu salah seorang putera Sultan Mahmud Shah (1488–1528), Sultan Melaka terakhir.
    Lihat juga

    Parameswara

    Rujukan

    “Studying In Singapore”. Search Singapore Pte Ltd. Capaian 2006-04-14.
    “Sang Nila Utama” (PDF). 24hr Art. Capaian 2006-04-14.
    http://hazis.wordpress.com/salasilah-sultan-pahang/

    Keluarga Diraja Melaka dan Johor

  7. kayaknya mengenai asal usul Sriwijaya sudah dikaji kok oleh para ahli sejarah kita, kalo soal ilmu sudah dianggap masternya yaitu Purbacaraka dan Slamet Mulyana, yang satu menyebutkan kalau Sriwijaya berasal dari Minanga yang berpindah mencari wilayah kerajaan baru (Purbacaraka) dan Slamet Mulyana yang menyebutkan kalau Minanga itu wilayah taklukan… Heran para ahli memaparkan teorinya secara ilmiah tapi disini orang komentarnya pake ego dan emosi ckckck…asal usul Sriwijaya bukan asli Sumsel emang sudah banyak diamini banyak pihak dan dipaparkan secara ilmiah oleh ahli sejarah negara lain seperti India dan Thailand yang para ahli sejarahnya berpendapat Sriwijaya itu asalnya dari Kerajaan di India dan Thailand…..karena keselnya akan opini publik yang meremehkan bahwa nggak mungkin orang pribumi memiliki sejarah besar maka Purbacaraka menunjukkan bukti yang menguatkan hipotesis bahwa bukan dari India atau Thailan tapi dari Minanga (atau minang istilah saat ini) seperti yang disebutkan dalam prasasti kedukan bukit…kalau ada orang yang marah-marah kalau Sriwijaya asalnya bukan dari Sumsel seharusnya bukan dialamatkan disini, tapi datang langsung ke ahli sejarah bersangkutan ke Bpk. Purbacaraka di UI dan ahli-ahli sejarah India dan Thailand disana…jangan sampai karena hal ini membuat orang karena emosi mncaci maki dan mengeluarkan kata-kata kotor tidak pada tempatnya pada sesama saudara sesuku lainnya. terimakasih.

  8. asal usul seriwijaya bukan berasal dari minangkabaw juga telah diamini semua pihak kecuali orang minangkabaw sendiri yang ngarang semau maunya. minangatamwan itu adalah taklukan seriwijaya dan banyak para ahli yang mengatakan itu. dan kalau ada yang marah marah kalau seriwijaya asalnya bukan dari minangkabaw seharusnya bukan dialamatkan disini tapi tanyakan langsung kepada selamet mulyana dan para ahli lain yang mengatakan minangatamwan itu adalah taklukan seriwijaya.

    Minangel,

    Minangatamvan adl taklukan nya sriwijaya? Gimana ceritanya?

    Kan Sudah tertulis di prasasti kedukan bukit, bhw justru Minangatamvan (Minang) itulah asal pendiri Srivijay?

    • Bung, asal usul Dapunta Hyang Sri Jayanasa masih misteri, jadi Anda jangan memaksakan kehendak. Berbeda dengan pendapat Anda; para ahli seperti Buchari, Poerbatjaraka, Soekmono, J.L. Moens, dan N.J Krom, mengajukan lokasi Minanga di pedalaman Sumatera Tengah. Ada yang berpendapat Minanga berada di hulu Sungai Kampar. Ada yang mengemukakan di hulu Batang Kuantan, dan ada pula yang menyatakan di hulu Batanghari. Dari tempat-tempat yang diajukan, semuanya berada di pedalaman Sumatera Tengah, kampung halaman orang Minang. Pendapat mereka lainnya yang perlu kita simak adalah bahwa ekspedisi Dapunta Hyang ke Palembang bertujuan untuk memindahkan pusat kerajaan dari pedalaman ke tepi lautan. Ini merupakan suatu hal yang wajar, mengingat Sriwijaya adalah kerajaan yang dinamis, dimana pusat kerajaannya sering berpindah-pindah, dari Minanga ke Palembang, ke Jawa Tengah, kembali ke Palembang, sebelum akhirnya pindah ke Jambi. Sedangkan De Casparis berpendapat, bahwa Palembang adalah daerah taklukan Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Yang mana hal ini dibuktikan dengan Prasasti Telaga Batu, yang berisi ancaman raja terhadap rakyat taklukannya. Lebih lanjut isi Prasasti Talang Tuwo memperkokoh pendapat itu. Yang mana sebagai bentuk penghormatan atas masyarakat taklukannya, raja menghadiahi sebuah taman Sriksetra.

      Kalau Anda melihat pertentangan pendapat diantara para pakar/sejarawan, itu merupakan suatu hal yang biasa. Bukan berarti pendapat tersebut sudah final dan tidak bisa dikritisi lagi. Jadi perbedaan itu wajar-wajar saja sepanjang ada bukti pendukungnya.

      Terlepas darimana asal usul Dapunta Hyang Sri Jayanasa, ada beberapa hal yang luput dari pembahasan para sejarawan. Sudah menjadi kaidah bagi para ahli sejarah, bahwa suatu kejadian tidak bisa berdiri sendiri. Mesti ada faktor yang menyebabkannya terjadi, seperti faktor ekonomi, geopolitik, sosial-budaya, dan kepercayaan (agama). Untuk faktor ekonomi dan geopolitik misalnya, masih ada ruang bagi kita untuk terus bertanya dan mengkritisi, mengapa Dapunta Hyang Sri Jayanasa melakukan ekspedisi. Menurut pembacaan saya dari beberapa pendapat pakar di atas, ekspedisi militer tersebut bertujuan untuk menguasai lalu lintas perdagangan di Selat Malaka serta untuk memasarkan emas yang banyak terdapat di tanah Minang. Disamping Palembang ada beberapa wilayah yang menjadi basis bagi pedagang emas Minangkabau, yakni muara Jambi, Barus, dan beberapa kota di Semenanjung Melayu. Jadi menurut hemat saya ekspedisi yang dilakukan Dapunta Hyang Sri Jayanasa, mirip seperti perantauan orang-orang Minang ke wilayah pesisir barat Sumatera (dari Meulaboh, Barus, Sibolga, hingga Bengkulu) dan di kedua belah sisi Selat Malaka, dimana perantauan mereka sebagian besar bertujuan untuk memasarkan produk-produk dari pedalaman Minangkabau. (Lihat buku Andaya dan Drakard)

      Sedangkan jika kita menilik ekspedisi tersebut sebagai ekspedisi militer, maka pihak yang melakukan ekspedisi haruslah memiliki perbekalan logistik yang cukup. Sehingga logis jika kita mengatakan Dapunta Hyang berasal dari Minang, sebab pedalaman Minangkabau ketika itu merupakan wilayah yang banyak menghasilkan komoditas untuk melakukan ekspedisi, seperti padi, besi untuk membuat senjata, dan kayu untuk membuat perahu. Selain itu para penjelajah Minang juga memiliki kekayaan yang cukup berupa emas untuk ditukarkan ketika tiba di wilayah baru. Oleh karenanya dulu, banyak diantara pengelana Minangkabau yang melakukan perantauan hingga Eropa dan Timur Tengah, karena memiliki kekayaan yang cukup. (Lihat buku Christine Dobbin: “Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra, 1784-1847”)

      Dari faktor sosial-budaya, kita bisa mengajukan adat merantau yang telah melembaga di tengah-tengah masyarakat Minang. Sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk merantau dan meneroka wilayah-wilayah baru di seluruh Nusantara. Dan dalam perantauannya banyak diantara mereka yang pergi secara berombongan. Disamping Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang “meneroka” kota Palembang; Datuk Bagindo, Raja Kecil, Datuk Jannaton, serta rombongan masyarakat Minang yang pergi ke Negeri Sembilan adalah perantau-perantau Minang yang meneroka wilayah baru. Wallahualam bi shawab.

    • dapunta hyang/sriwijaya selalu bikin prasasti setelah melakukan penaklukan. setelah menaklukkan palembang lalu bikin prasasti kedukan bukit. begitu pula setelah menaklukan bangka bikin juga prasasti kota kapur, terus setelah penaklukan ke jawa dan lain lain juga bikin prasasti. berarti prasasti yg pertama adalah penanda penaklukan.

      pertanyaannya: ada gk prasasti sebagai bukti penaklukan minangatamwan?. ternyata gk ada tuh. berarti minangatamwan bukan taklukan dapunta hyang/sriwijaya, tapi adalah asal usul dapunta hyang yang melakukan penaklukan ke selatan lalu bikin prasasti kedukan bukit setelah berhasil menaklukkan palembang. kalau dia menaklukkan minangatamwan tentu tentaranya tidak pulang semua, tapi ada yg tinggal utk menduduki wilayah taklukan. ini logika yg bener. masak abis penaklukan pulang dulu ke asal lalu siapain pasukan lagi. buat apa? org udh ditaklukin kok. ah aneh logikanya, suka sukanya sendiri. org ini gk bisa membaca teks sejarah yg rumit karena kemampuan terbatas, tapi sok ambil kesimpulan sendiri. parah…

      tulisan putra sumsel (Sang Sapurba): “DH BERLEPAS DARI MINANGATAMWAN TGL 19 MEI ( SATU BULAN ) DARI PERTAMA NAIK PERAHU YAKNI TGL 23 APRIL. ARTINYA MEMAKAN WAKTU SATUBULAN PERJALANAN DH DARI SERIWIJAYA KE MINAGNGATAMWAN DAN SEKALI GUS MENAKLUKKAN MINAGATAMWAN ITU, KEMUDIAN BARU BERLEPAS DARI MINANGA TGL 19 MEI. DARIMINANGA DATANG DIPALEMBANG TGL 16 JUNI 682M 27 HARI ARTINYA DARI PENAKLUKAN MINANGATAMWAN PULANG DULU KEWILAYAH ASAL SERIWIJAYA DAN MENYIAPKAN PASUKKAN BESAR SEBESAR DUA LAKSA SESUAI MEMAKAN WAKTU 20 HARI KEMUDIAN BARU MENDATANGI PALEMBANG MEMAKAN WAKTU 6 HARI. MAKA PAS 26/ 27 HARI”. bener bener kacau logikanya. kok bolak balik ya?…ini menunjukkan org ini punya logika dan pemahaman yg rendah. itu terlihat dari cara penulisan kalimat dengan susunan yg kacau atau bisa jg pemahaman yg kacau ttg sejarah. teorinya hanya berdasar mau maunya sendiri.

      aneh logika si putra sumsel (sang sapurba) ini. logikanya terbalik balik. para ahli aja msh pada belum sepakat, eeh dia udah yakin seyakinnya sama teorinya sendiri yg bukan ahli. ini org udh kena penyakit megalomania yg merasa udh sngat hebat, besar dll sehingga dia paksakan teori dungunya pada org lain. kasian sekali, ingin mencari kebesaran kemegahan tapi tak didukung secara historis. kalau memang org pasemah berdarah perintis/pionir tentu setelah kejatuhan sriwijaya dia bangkit lagi. tapi kenyataannya yg bangkit adalah darmasraya dan pagaruyung. Klo karakter perintis/pionir org minang tentu gk bisa dibandingin sama pasemah. udh banyak sejarah yg mencatat ttg ini. sejarah itu berkesinambungan bung, gk ujug ujug bikin teori sendiri.

      kalau mau memahami sejarah dgn pikiran terbuka bukan fanatisme sempit, putra sumsel (sang sapurba) hrsnya terima dong kalau sampai zaman modern pun org minang msh tercatat sbg pendiri penting negara yg bernama indonesia. semua org yg berpendidikan tau sejarah ini. kalau putra sumsel (sang sapurba) menyangkalnya dan mengatakan org minang pengkhianat dan pemberontak semua sprti tulisannya di atas, sy gk tau lagi deh, mau dimasukkan kelompok mana manusia macam ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s