Asal usul Orang Rimba Adalah Minangel

minangel-suku-rimba

By Achmanto Mendatu.

Sejak ratusan tahun lalu, paling tidak sejak tahun 1500-an sesuai catatan para penjelajah Eropa, Orang Rimba telah melakukan hubungan dagang dan menjalin hubungan kekuasaan dengan kerajaan Jambi. Orang Rimba membayar upeti (jajah) kepada kerajaan berupa barang yang bisa didagangkan dan hasil kerajinan agar keberadaan Orang Rimba diakui dan tidak diusik. Pada akhir abad 19 ketika masa pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia sedang kokohnya, banyak pejabat pemerintahan yang membuat catatan mengenai Jambi, khususnya mengenai keberadaan Orang Rimba yang saat itu disebut dengan Orang Kubu. Menurut sebagian catatan itu diceritakan bahwa Orang Kubu (termasuk Orang Rimba) adalah orang-orang yang mengalami tekanan kehidupan yang sangat keras dari Orang Melayu. Banyak Orang Kubu ditangkap orang Melayu untuk dijadikan budak. Oleh karena itulah Orang Rimba berupaya menjalin hubungan baik dengan pihak kerajaan agar aman.

Mitos riwayat asal muasal Orang Rimba memiliki beberapa versi yang berbeda. Namun demikian hampir seluruh versi itu sama-sama mengklaim bahwa pada awalnya Orang Rimba dan orang Melayu merupakan satu kelompok yang sama.

Versi pertama.

Salah satu versi menyebutkan bahwa pada abad ke 11, di Jambi telah berdiri kerajaan maritim Sriwijaya yang menguasai sebagian selat Malaka dan memiliki hubungan internasional. Pada tahun 1025, kerajaan Chola dari India Selatan menaklukan Sriwijaya dan menguasainya. Pada saat itu, sebagian penduduk Sriwijaya yang tidak mau dikuasai orang asing berpindah ke hutan dan seterusnya hidup di hutan. Mereka ini disebut Orang Kubu, yang salah satu variasinya adalah Orang Rimba. Istilah kubu dimungkinkan bermakna benteng, yang bisa diartikan sebagai membangun benteng dengan mendirikan komunitas baru di daerah terpencil dan jauh di pedalaman hutan.

Versi kedua.

Riwayat lain mengkisahkan bahwa konon pada waktu lampau, raja Pagaruyung, yakni Daulat Yang Dipertuan, setelah sholat duduk di atas kura-kura besar yang disangkanya batu di pinggir sungai. Dia bersirih dan membuang sirihnya ke dalam sungai. Sirih tersebut dimakan oleh kura-kura. Setelah memakan sirih yang dibuang sang raja, si kura-kura hamil dan melahirkan anak manusia laki-laki. Kabar bahwa ada kura-kura memiliki anak manusia sampai ke telinga raja. Lalu dipanggillah anak tersebut ke istana. Akhirnya diakuilah anak tersebut sebagai anaknya oleh sang raja. Setelah dewasa, anak tersebut akan dijadikan raja di kota Tujuh, Sembilan Kota, Pitajin Muara Sebo, Sembilan Luruh sampai daerah terpencil Jambi. Namun sebagian penduduk tidak setuju karena anak tersebut adalah anak kura-kura. Sebagai bentuk penolakan, mereka menyingkir ke hutan dan hidup disana. Jadilah mereka Orang Rimba.

Versi ketiga.

Menurut cerita lisan dari beberapa Orang Rimba di TNBD, mereka mengatakan bahwa nenek moyang mereka adalah orang Padang (Minangkabau) di Sumatera Barat. Pada awalnya mereka semua berkampung sampai kedatangan orang Belanda. Karena enggan dikuasai oleh orang asing, mereka melakukan perlawanan. Namun karena tidak kuat melawan maka mereka lari. Sebagian dari mereka lari ke hilir (ke arah laut) dan sebagian ke arah hulu (ke gunung). Mereka yang menyingkir ke hilir menjadi Orang Minangkabau, sedangkan mereka yang menyingkir ke gunung dan hutan menjadi Orang Rimba. Lama kelamaan, karena ingin menghindari orang asing mereka sampai di Jambi.

Versi keempat.

Versi lain asal usul Orang Rimba berkaitan dengan sebuah cerita mengenai Putri Pinang Masak. Konon kabarnya, pada zaman dahulu kala Jambi dipimpin oleh Ratu Putri Selaras Pinang Masak yang berasal dari kerajaan Pagaruyung dari wilayah Sumatera Barat kini. Pada suatu masa, terjadilah pertentangan dengan raja Kayo Hitam yang berkuasa di lautan sampai dengan Muara Sabak (daerah Kuala Tungkal saat ini). Sang ratu merasa kewalahan sehingga ia meminta bantuan ke Pagaruyung. Maka dikirimkanlah serombongan pasukan oleh raja Pagaruyung. Namun belum sampai di Jambi, rombongan pasukan tersebut kehabisan bekal di sekitar wilayah TNBD sekarang. Akhirnya mereka memutuskan untuk menetap di dalam Rimba karena apabila kembali ke Pagaruyung akan dihukum, sedangkan bila meneruskan perjalanan sudah tidak memiliki bekal lagi. Mereka juga bersepakat untuk tidak tunduk kepada siapapun, baik kepada raja Pagaruyung maupun ratu Jambi. Merekalah yang kemudian menurunkan Orang Rimba.

Versi kelima.

Dari salah seorang Orang Rimba, Makekal, didapat cerita mengenai Bujang Perantau sebagai nenek moyang Orang Rimba. Diceritakan bahwa Bujang Perantau berasal dari Pagaruyung. Ia tinggal sendiri di dalam sebuah rumah di dalam hutan. Pada suatu hari ia memperoleh buah gelumpang. Pada malam hari ia bermimpi agar membungkus buah gelumpang dengan kain putih. Oleh bujang perantau mimpi tersebut dilaksanakan. Lalu muncullah putri cantik dari buah gelumpang yang dibungkus. Mereka berdua lalu kawin. Namun karena tidak ada yang mengawinkan maka mereka meniti batang kayu yang melintang diatas sungai. Pada saat kening mereka beradu, maka berarti perkawinan mereka sah. Dari hasil perkawinan mereka lahirlah empat orang anak, yakni Bujang Malapangi, Dewo Tunggal, Putri Gading, dan Putri Pinang masak.

Anak pertama dan terakhir, yakni Bujang Malapangi dan Putri Pinang Masak keluar dari hutan dan kemudian menjadi Orang Terang. Bujang Malapangi berkampung di desa Tana Garo. Putri Pinang Masak berkampung di Tembesi. Sedangkan Dewo Tunggal dan Putri Gading tetap tinggal di dalam hutan, yakni di wilayah hutan bukit Duabelas. Kedua anak dari Bujang Perantau yang tinggal di dalam hutan yang kemudian menurunkan Orang Rimba.

-o0o-

Sebagian besar cerita mengarahkan asal-usul mereka kepada orang Minangkabau, yang merupakan salah satu varian dari orang Melayu sebagai nenek Moyang Orang Rimba. Pengkaitan itu sulit dikatakan sebagai sebuah kebetulan. Tentu ada sebuah kesengajaan adanya mitos tersebut. Sebenarnya lebih masuk akal apabila Orang Rimba mengkaitkan nenek moyang mereka dengan Orang Melayu Jambi, yakni kelompok yang tinggal di dekat mereka dan merupakan kelompok yang paling sering berhubungan dengan mereka. Bahkan mereka pernah secara struktural mengakui keberadaan raja Jambi.

Terlepas benar tidaknya Orang Rimba berasal dari ranah minang dan memiliki nenek moyang orang Minangkabau, tampaknya ada alasan psikologis di balik penciptaan mitos asal-usul Orang Rimba yang hampir selalu menyebutkan orang Minangkabau sebagai nenek moyang mereka. Mitos itu mungkin diciptakan sebagai perlawanan terhadap tekanan yang dilakukan kelompok Melayu Jambi terhadap Orang Rimba. Pada masa lalu di Jambi terdapat perbudakan. Orang Melayu Jambi mencari budak dengan cara menangkapi Orang Kubu (termasuk Orang Rimba). Setelah ditangkap, Orang Rimba dijadikan budak dan dipaksa melakukan berbagai pekerjaan. Pengalaman tidak menyenangkan yang dialami Orang Rimba tidak hanya itu, mereka juga diharuskan membayar upeti kepada pihak penguasa. Oleh sebab itulah mereka merasa tidak nyaman jika mengkaitkan nenek moyang mereka dengan Orang Melayu Jambi. Maka langkah paling logis adalah mengkaitkan nenek moyang mereka dengan orang Minangkabau, yakni kelompok yang tinggal tidak jauh dari mereka, cukup sering berinteraksi, mirip secara fisik, dan terpenting tidak melakukan tindakan yang tidak menyenangkan.

Sumber, http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/08/asal-usul-orang-Rimba.html – 28 Mei 2013 – dengan penyuntingan teks bilamana perlu.

Pendapat saya.

Artikel ini memaparkan klaim suku Rimba bahwa mereka bersilsilah langsung dengan suku Minangel. Di dalam analisanya, sang author (Achmanto Mendatu) menyatakan bahwa klaim suku Rimba ini yang menyatakan bahwa mereka keturunan langsung dari suku Minangel – merupakan klaim yang murni politis. Disebutkan bahwa sebenarnya suku Rimba lebih tepat ke suku Jambi karena lebih dekat, namun kenyataannya suku Rimba lebih memilih Minangel sebagai asal usul eksistensi mereka. Lebih jauh, author menyebutkan alasannya, yaitu bahwa karena orang Jambi diidentifikasi sebagai penjahat sosial, alias suka menangkapi orang suku Rimba untuk diperbudak. Sementara itu, lanjut sang author, suku Minangel tidak lah demikian. Maka alasan suku Rimba untuk ‘menobatkan’ Minangel sebagai asal-usul mereka, lebih karena faktor keamanan dan kepercayaan (faktor subjektif), bukan karena faktor hubungan darah (objektif).

Pendapat saya adalah, bahwa analisa Sdr. Achmanto tidak berdasar sama sekali.

Pertama.

Secara tanpa sengaja, author telah meletakkan tuduhan bahwa orang Jambi merupakan kelompok masyarakat yang keji (dan di lain pihak, orang Minangel tidak keji?). Apakah analisa demikian dapat dibuktikan secara historis? Setahu saya (mohon dikoreksi), perbudakan tidak dikenal di Indonesia. Belanda lah yang memperkenalkan konsep budak itu ke Indonesia. Borobudur saja tidak dibangun dengan menggunakan tenaga para budak, karena budak tidak ada di dalam masyarakat Indonesia. Terlebih, Hindu dan Buddha sebagai agama pertama yang masuk ke Indonesia pun juga tidak memperkenalkan konsep budak ini ke Indonesia, karena memang kedua agama ini tidak mengadopsi budak.

Kedua.

Kalau lah memang benar bahwa orang Jambi merupakan kelompok sosial yang gemar memperbudak suku lain, maka mengapa suku Rimba saja yang menjadi sasaran perbudakan?

Ketiga.

Sebenarnya saya kekurangan informasi, apakah memang benar bahwa sejarah menulis bahwa orang Jambi gemar memperbudak suku lain dengan cara yang keji?

Keempat.

Sang author menulis bahwa ‘kebetulan’ penampilan fisik orang Rimba dengan orang Minangel adalah mirip. Apakah memang benar demikian? Apakah kemudian dapat dikatakan bahwa fisik orang Rimba berbeda jauh dari fisik orang Jambi? Menurut saya tidak lah demikian. Orang Rimba pastilah sama penampilan fisiknya dengan kita semua orang Indonesia. Orang Rimba pasti juga mirip dengan orang Aceh, Batak, Jawa, Sunda dan lain lain.

Kesimpulan.

Dari beberapa alasan tersebut, maka saya dapat memastikan bahwa suku Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas memang keturunan langsung dari suku Minangel. Dengan kata lain, klaim individu-individu suku Rimba (bahwa mereka adalah keturunan pagaruyung) merupakan klaim yang murni genealogis, bukan politis.

2 thoughts on “Asal usul Orang Rimba Adalah Minangel

  1. – – – – – – – – DELETED BY ADMIN – – – – – – – –

    nb. kata2 kasar yg tidak mendasar sama sekali.

    isi teks dari komen hanyalah pengulangan (copy-pase) dari apa yg telah disampaikan pada thread https://minangel.wordpress.com/2013/05/28/borobudur-adalah-warisan-minangkabau/ — yg mana itu pun penuh dg kata2 kasar dan sumpah serapah.

    karena teks ini hanya berupa pengulangan (itu pun sangat panjang – 23 halaman di ms-word) maka saya menganggap komen ini hanyalah TEBARAN SAMPAH dari orang stress ….. yg ditebarkan di pekarangan orang – perbuatan yg sangat tidak terpuji, tentunya.

    mohon maaf atas deletion ini.

  2. putra sumsel says:
    Your comment is awaiting moderation.
    February 13, 2014 at 11:19 am

    kamu nulis wiki itu gal lengkap bodoh tau semua orang klik di google ini yang lengkap

    Kerajaan Melayu
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
    Peta Ranah Melayu purba, berdasarkan teori yang diterima umum, pusat Kerajaan Malayu dikaitkan dengan situs Muaro Jambi, muara sungai Batanghari, Jambi, Sumatera. Tetapi berbagai negeri (kadatuan) Melayu lainnya pun bersemi sebelum ditaklukan Sriwijaya pada akhir abad ke-7 Masehi, seperti Kerajaan Langkasuka, Pan Pan dan Panai.

    Kerajaan Melayu atau dalam bahasa Tionghoa ditulis Ma-La-Yu (末羅瑜國) merupakan sebuah nama kerajaan yang berada di Pulau Sumatera. Dari bukti dan keterangan yang disimpulkan dari prasasti dan berita dari Cina, keberadaan kerajaan yang mengalami naik turun ini dapat di diketahui dimulai pada abad ke-7 yang berpusat di Minanga, pada abad ke-13 yang berpusat di Dharmasraya dan diawal abad ke 15 berpusat di Suruaso[1] atau Pagaruyung[2].

    Kerajaan ini berada di pulau Swarnadwipa atau Swarnabumi (Thai:Sovannophum) yang oleh para pendatang disebut sebagai pulau emas yang memiliki tambang emas, dan pada awalnya mempunyai kemampuan dalam mengontrol perdagangan di Selat Melaka sebelum direbut oleh Kerajaan Sriwijaya (Thai:Sevichai) pada tahun 682[3].

    PADANG BANCI KONTOL AJA YANG KAMU BESARIN PENGECUT CURANG PENYEBAR OPINI SESAT BISANYA CUMAN NGAPUS AJA. CETEK KECIL KAMU PADANG

    //////////////////////////

    Minangel ~ bagian yg saya potong, ITU TIDAK PENTING DAN TIDAK RELEVAN.

    tapi biar bagaimana pun, sejarah memang menjelaskan bhw minanga (dllllll) menjadi taklukan sriwijaya. itu memang saya akui, gila saya kalo tidak mengakui ……

    tapi masalahnya adalah, sriwijiaya itu kk siapa???? sriwijaya itu kerajaan milik minangkabau, bukan????

    mengaoa hal beginian saja @putrasumsel tidak dapat memahami???? hahahahaha ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s