Bahasa Dan Kekuasaan Kerajaan Minangkabau

bahasa-kerajaan-minangel

Kerajaan Minangkabau di Sumatera Tengah telah lama dianggap sebagai suatu paradox. Para penjelajah pertama yang datang ke daerah ini melukiskan penghormatan Raja Minangkabau yang diperoleh dari orang-orang Melayu yang tinggal di Nusantara. Sekali pun mahsyur, orang asing menemukan kesulitan memahami dan menjelaskan landasan kekuasaan Kerajaan Minangkabau.

Para penguasa Minangkabau

Berkediaman di pedalaman dan pegunungan Sumatera tengah, Raja Minangkabau jarang nampak oleh rakyat pesisir dan hanya sekali di abad 17 penjelajah Eropa berani mengunjungi Raja Minangkabau sebelum inti dinastinya dihancurkan para reformis Islam awal abad ke 19.

Pancaran ghaib di sekitar penguasa di pegunungan menjengkelkan pemerhati Eropa yang sedikit mengurangi kekuasaan ‘nyata’ dan melukiskan mereka dengan istilah menghina sebagai ‘ulama’ dan ‘imam Raja’. Menurut seorang penulis Eropa Raja Minangkabau adalah ‘Raja tanpa tentara: dalih Raja terburuk yang pernah dikenal Dunia’. Walau pun demikian pengaruh sesama penguasa sangat jelas karena mereka terbukti sangat dekat di hati dan pikiran rakyatnya. William Marsden memperhatikan bahwa pada akhir abad 18 “Negeri Minangkabau dianggap sebagai kedudukan tertinggi di dalam kewenangan penduduk dan agama di Timur, dan kemudian berlayar ke Mekah untuk kunjungan internasional, meterai orang terpelajar, dan diberkati sifat kesucian tertinggi”. Raja-Raja Minangkabau mengaku keturunan Iskandar Zulkarnain atau Alexander Yang Agung. Mereka menyatakan bahwa bentukan kampung halaman mereka di Sumatera setua penciptaan Dunia.

Adityawarman

Sementara rincian tetap mengenai asal-usul martabat Minangkabau tertelan waktu, Raja Minangkabau yang sangat termasyhur mungkin yang menjadi leluhur dinasti Kerajaan, yaitu adityawarman, Raja kuat penuh semangat yang berkuasa di Sumatera Tengah antara tahun 1347 dan 1374. Ia meninggalkan banyak prasasti yang menyanjung kekuatan dan kejayaan Pemerintahannya.

Banyak prasasti yang ditulis di dalam bahasa Sansekerta dan Melayukuno, belum diuraikan. Apakah benar bahwa Adityawarman mempertegas peran kekuatan batin yang diperoleh melalui upacara tantri sebagai unsur utama kekuasaannya. Adityawarman pemuja Kalacakra, suatu sinkretis Siwa-Buddha yang meliputi korban dan upacara persekutuan dengan Bhairawa (dari Siwa) dan sakti-nya untuk mencapai kebenaran tertinggi dan penyatuan melalui persatuan tubuh. Prasasti menuturkan upacara keagamaan sedemikian rupa sehingga melukiskan Adityawarman sebagai Raja menakutkan sekaligus pemurah. Ia maharaja ‘mutlak’, sebaliknya juga mendatangkan kemakmuran kepada seluruh rakyat karena ‘kesejahteraan senantiasa di benaknya’.

Negeri emas.

Kerajaan Minangkabau kaya emas, menambah daya tarik para pedagang dan nakhoda yang mengunjungi Nusantara. Di dalam prasasti Adityawarman menyebut negerinya sebagai ‘swarnadwipa’ (Negeri emas) dan dirinya sebagai ‘Raja Negeri emas’. Di kemudian hari para Raja Minangkabau menekankan pentingnya emas, pengumpulan yang dikatakan suatu cadangan Kerajaan. Negeri yang ditulis di dalam bahasa Sansekerta sebagai ‘swarnadwipa’ diartikan sebagai ‘Pulau emas’ di dalam bahasa Melayu, dan sejumlah benda suci terbuat dari emas disimpan para Raja. Emas, dan juga lada, menarik perhatian pedagang Eropa, terutama Portugis dan Belanda yang pada abad 16 dan 17 berusaha menjalin hubungan dengan penguasa tanah emas di pedalaman Sumatera.

Hubungan antara Belanda dan Raja-Raja Minangkabau

Pada tahun 1660-an, persekutuan dagang Hindia Belanda Timur (VOC) menempatkan diri di pantai Barat Sumatera dan memulai hubungan luar biasa dengan istana Minangkabau. Hubungan ini merupakan jalan VOC untuk mengatur kawasan pantai atas nama Raja di pedalaman, sebaliknya VOC mengakui kedaulatan Kerajaan dan memberi upeti secara teratur kepada istana.

Belanda bernaksud menggunakan kewibawaan dan nama Kerajaan Raja Minangkabau sebagai alat berunding dengan penduduk setempat, petunjuk bahwa Raja Minangkabau melihat pendekatan ini di dalam pengertian hubungan tradisional antara Raja dan bawahan, dan menerima hadiah VOC sebagai upeti. Kehadiran Belanda di Sumatera Barat sama sekali tidak menghapus hubungan antara penduduk pantai dan istana di pedalaman. Sebaliknya hal ini memperkuat hubungan tersebut. Sebagaimana kegiatan monopoli perdagangan VOC menjadi lebih berat, utusan dari pantai Barat berkunjung ke pedalaman untuk minta bantuan dan kepemimpinan istana. Antara akhir abad 17 dan awal abad 18 para pangeran Minangkabau dan utusan istana memimpin perlawanan perluasan VOC di Sumatera, dan selanjutnya ke Malaka, Ambon dan Jawa. Perangkat yang membuat para utusan ini tepatguna di dalam pemusatan anti-Belanda adalah jatidiri mereka dengan kekuatan bathin dengan istana Minangkabau.

Peran surat Kerajaan

Surat-surat Kerajaan Minangkabau membantu kita memahami alam pikiran hubungan tersebut. Ketiadaan hubungan langsung antara Raja dan rakyatnya menjadikan surat dan para utusan Raja berfungsi sebagai penghubung Raja di pedalaman dengan rakyatnya di rantau, di ujung batas dunia Minangkabau. Belanda dan pemerhati Eropa lain mengejek ‘kemegahan’ retorika bahasa surat Raja Minangkabau, namun lupa memahami bagaimana bahasa Raja, seperti prasasti Adityawarman, sarana untuk mengantarkan berkah kepada rakyat dan menyertakan rakyat di dalam satu lingkaran persetujuan kekuasaan Minangkabau.

Kekuatan suci

Setelah memeluk Islam para Raja Minangkabau menjelaskan kekuasaan mereka sebagai sesuatu yang dperoleh dari Allah yang berarti dinasti mereka keturunan langsung Adam dan Iskandar Zulkarnain. Pada awal abad 18 salah satu Raja Minangkabau menjelaskan dirinya ke VOC sebagai “nur Allah, terkuat dan keturunan Iskandar Zulkarnain yang merupakan sinar suci dan mempunyai mahkota dari dua dunia, disembah melalui kekuatan Allah dan NabiNya”.

Lebih tegas dibanding penguasa lain Nusantara, Raja-Raja Minangkabau menyatakan berhubungan langsung dengan Tuhan tanpa perantara. Pernyataan itu mungkin menjelaskan mengapa Padri memutuskan menggulingkan para penguasa ketika reformasi Islam tersebar di Sumatera. Sebagaimana tertulis di dalam salah satu surat abad 19, “sinar Sultan mempunyai Pagaruyung melebihi sinar matahari dan rembulan, tempat damai, satu-satunya Negeri yang memperoleh kekayaan dari Tuhan Yang Mahatinggi”.

Seperti Adityawarman, maharaja di Raja yang menyatukan ‘kekuasaan’ dan ‘kemakmuran’, Raja-Raja Minangkabau mengartikan kekuasaan mereka di dalam istilah yang menegaskan dampak kekuatan suci di dunia. Seperti kata Inderma Shah dari Suruaso kepada Belanda abad 18: “Saya Sultan di atas bumi dan laut, mempunyai kekuasaan dan kekuatan dari Tuhan. Saya dapat membuat perang dan damai, dan saya dapat melaksanakan kemakmuran terus menerus. Saya Sultan terkuat di Dunia, saya adalah takhta dari segala takhta Raja dan mahkota seluruh Dunia”.

Bahasa para duta Minangkabau di dalam menyampaikan pesan kekuasaan dari zaman Hindu-Buddha hingga zaman Islam adalah tetap, berdampak nyata  menyediakan wacana setempat mengenai kekuatan dan perlawanan saat penduduk Nusantara dihadapkan pada tantangan Belanda ‘kafir’ abad 17. Paradox martabat Minangkabau akan hilang bila kita amati kekuatan bahasa di dalam arti yang sebenarnya dan menghargai bagian penting yang ada di dalam Kerajaan kata-kata.

10 thoughts on “Bahasa Dan Kekuasaan Kerajaan Minangkabau

  1. – – – – – – – – DELETED BY ADMIN – – – – – – – –

    nb. kata2 kasar yg tidak berdasar sama sekali.

    mohon maaf atas deletion ini.

  2. – – – – – – – – DELETED BY ADMIN – – – – – – – –

    nb. kata2 kasar yg tidak mendasar sama sekali.

    mohon maaf atas deletion ini.

  3. Orang Kuantan adalah Orang Melayu
    Derichard H. Putra Jumat, 20 Juli 2012 107 comments

    BERBAGAI penelitian arkeologi, etnolinguistik, hingga kebudayaan di seluruh dunia mengatakan bahwa orang Kuantan adalah Melayu. Ketika gelombang arus migrasi pertama sekitar 1000 tahun SM orang Melayu masuk ke nusantara mereka mendiami pesisir Pulau Sumatra, kemudian mereka mulai masuk secara evolusi ke pedalaman, singgah di berbagai pinggiran sungai di sepanjang 4 sungai di Riau, yaitu Sungai Indragiri/Kuantan, Siak, Kampar, dan Rokan. Orang ini saat ini disebut dengan proto Melayu (Melayu Tua), dan sekarang disebut pula dengan masyarakat suku Asli, seperti Talang Mamak, Sakai, Bonai, Akit, Duanu, dll. Setelah bermastutin di tepi-tepi sungai mereka terus merasuk masuk ke hulu. Khusus di Indragiri mereka singgah dan bermastautin di Kuantan, dan seterusnya sampai pula di Minangkabau.

    Setelah itu terjadi lagi gelombang kedua arus masuk ke Nusantara dan melakukan perjalanan dengan proses evolusi memudiki sungai. Sebagian singgah di rantau-rantau sungai di Riau dan sebagian lagi bermukim hingga di Pagaruyung. Orang-orang ini kemudian dikenal dalam ilmu kebudayaan sebagai deutro Melayu (Melayu Muda). Bukti sejarah dalam peristiwa ini begitu banyak, mulai situs-situs candi hindu hingga budha. Di sepanjang sungaiIndragiri/batang Kuantan terdapat tidak kurang dari 3 situs candi yang diperkirakan umurnya lebih dari 2000 tahun yang lalu. Di sungai Rokan menurut penelusuran Tim Ekspedisi Kebudayaan 4 Sungai (Tahap I Sungai Rokan) ada lebih dari 10 situs mahligai yang ditemukan dan diperkirakan umurnya lebih tua dari candi Muara Takus. Yang paling menonjol memang Candi Muara Takus yang berdiri sebelum kerajaan Sriwijaya lahir. Tim ekspedisi itu mencatat seni ukir yang terdapat di sepanjang sungai Rokan juga menunjukkan lebih tua dibandingkan dengan seni ukir di Minangkabau.

    Menurut Tambo kenegerian Cerenti, salah satu puak yang mendiami Rantau Kuantan, suku-suku yang mendiami kenegerian Cerenti itu, adalah keturunan dari nenek moyang mereka yang mendiami Semenanjung Melaka. Kemudian pindah ke Deli, tetapi karena adanya terjadi suatu peperangan Raja Deli dengan Raja Bugis, mereka migrasi pula ke Sumatera bagian tengah, sebagian ke Minangkabau sebagian ke Siak Sri Indrapura. Suku yang pindah ke Minangkabau dipimpin oleh Raja Mahkota. Raja Mahkota ini tidak berfungsi sebagai raja sebab ia dalam perantauan. Sedangkan yang pindah ke Siak Sri Indrapura disambut dengan baik oleh rajanya, bahkan ada di antara mereka diangkat menjadi panglima raja Siak Sri Indrapura. Ihwal Raja Mahkota beristrikan Putri Kembang melahirkan dua orang anak dan yang tua adalah perempuan bernama Putri Hijau dan yang kedua laki-laki bernama Putra Hutan.

    Beberapa lama mereka mendiami Minangkabau. Raja Mahkota pun mulai berkuasa di daerah kecil yang ia diami, hingga Raja Mahkota meninggal dunia. Istri, anak dan orang-orang sesukunya meninggalkan daerah itu, kemudian hijrah ke Siak Sri Indrapura.

    Di Siak, Putri Kembang dan rombongan berkumpul kembali dengan kelompok yang menuju Siak setelah bertahun-tahun mereka berpisah. Putri Kembang dilamar Raja Siak Sri Indrapura, tetapi lamaran Raja Siak itu ditolaknya, sebab beliau tidak sudi menjadi istri dari Raja Siak. Penolakan itu mengakibatkan Raja Siak marah, dan menyeret Putri Kembang ke penjara seumur hidup. Tindakan Raja Siak tidak disenangi Panglima yang sudah diangkatnya, sehingga terjadilah peperangan antara Panglima Raja Siak dengan Raja Siak. Akhirnya, untuk menghindari pertumpahan darah yang lebih besar rombongan Panglima menghindar menuju Kerajaan Indragiri hingga sampailah ke suatu tempat yang kelak bernama Cerenti.

    Hal ini didukung oleh banyaknya pendapat budayawan yang mengatakan bahwa raja-raja Pagaruyung berasal dari Rantau Kuantan yang terjadi lebih dari 1500 tahun yang lalu.

    Baik Melayu Tua maupun Melayu Muda memakai sistem keturunan matrilineal (garis keturunan ibu). Setelah Islam masuk diperkirakan abad ke-13 Melayu di Riau terutama yang mendiami pesisir Sumatra menerima peradaban Islam yang memakai sistem patrilineal. Karena memang kebudayaan Melayu itu sangat terbuka dan menerima Islam sepenuhnya. Namun, di banyak rantau di hulu sungai di Riau hingga Sumatra Barat pengaruh sistem yang islami ini diterima dengan berbagai rumusan baru, seperti tali berpilin tiga atau tiga tunggu sejerangan, dst.

    Pada abad ke-13 itu pula, ketika Islam masuk ke Sumatra tidak hanya agamanya di terima dengan sepenuh hati tetapi juga peradaban Islam dihayati dengan baik. Gelombang pertama literacy Jawi (Arab Melayu) pun masuk dan dipakai dengan amat mesra. Tradisi keberaksaraan ini sangat merasuk kepada para ahli di Minangkabau waktu itu. Mereka pun mulai terpengaruh membuat sejarah dan syiarah, Mereka menyusun tambo-tambo di rantau Minangkabau. Perantau-perantau Minangkabau yang suka merantau menjalarkan keterampilan mereka membuat tambo dengan Minangkabau sebagai kiblat mereka. Jadi, saat ini memang banyak tambo-tambo yang berasal dari Kuantan terdapat kata Minangkabau di sana. Dari sekian banyak itu, disertakan di sini ringkasan Tambo Cerenti seperti yang ditulis di atas.

    Jadi, tulisan ini menyimpulkan bahwa tidak benar bahwa Orang Kuantan adalah Orang Minangkabau, yang benar adalah orang Kuantan merupakan orang Melayu Kuantan, dan nenek moyang orang Minangkabau berasal dari ras yang sama dan dulunya juga pernah berasal dari Kuantan, Kampar, dsbnya. di Riau. Ihwal adat istiadat yang memakai system kekuasaan matrilineal (garis keturunan kekerabatan seperti Minangkabau itu bukan pemilik tunggal Minangkabau karena memang kebudayaan Melayu yang paling tua sebelum Islam masuk nenek moyang orang Melayu memang memakai system matrilineal. Di Kuantan dan di berbagai wilayah budaya di Riau lainnya juga memakai system yang sama, Islam lah yang mengubah peradaban ini ke garis keturunan sebelah ke laki-laki.

    Perlu diketahui dalam sejarah Melayu, Sulalatus Salatin menyebutkan Wan Seri Bani pernah berkuasa dan saat itu system matriarkhat (pengambilan keputusan di tangan perempuan) pernah berlaku juga untuk beberapa abad di situ. Dan, bersambung hingga kepada kekuasan Engku Puteri*** [Derichard H. Putra]

  4. Putra Riau20 Maret 2012 01.40

    Sdr. T. Bustamam

    Terlalu sempit pikiran anda mengatakan “…Dan bagi saya masyarakat yang berbahasa Minang dan mempunyai adat persis Minang adalah orang Minang, namun masyarakat yang berbahasa mirip Minang tapi tidak beradat Minang, bukanlah orang Minang”,

    Minang adalah pecahan atau puak kecil dalam melayu, sepertinya jg betawi, kubu, dayak, jawa, sunda, dll. Kalaupun toh berbahasa hampir sama, atau berbudaya hampir sama, tidak lantas keduanya langsung dikatakan sama, atau berasal dari daerah yg sama. karena bisa jadi terpengaruh atau dipengaruhi oleh kebudayaan yg lebih besar waktu itu. Anda harus belajar dulu teori penyebaran kebudayaan dan difusi kebudayaan.

    dan untuk menjawab pernyataan anda yg lain silah baca “Barus Seribu Tahun Lalu”.

    Contoh Dialek Taluk/Kampar
    Apo?
    Mangapo?
    Siapo?
    Dimano?

    Minang
    A?
    Manga?
    Sia?
    Dima?

    Bahasa minang pada umumnya pengurangan dua konsonan dari bahasa Taluk atau Kampar. Dalam teori perkembangan bahasa, sebuah kebudayaan sangat tidak mungkin untuk menambah konsonan dalam bahasa yg digunakan, tetapi yg mungkin terjadi adalah pengurangan konsonan dari bahasa induk. Perkembangan bahasa sangat dipengaruhi oleh lingkungan alam dan kebudayaan yang lebih kuat.

    Nah, mana yg lebih dulu? Kuantan/Kampar? atau Minang?

    Melayu Tua dan Melayu Muda, sudah datang ke Nusantara sejak 2500 dan 1500 SM. Jadi apanya yg tidak ada melayu sejak 1000 tahun sebelum masehi? (coba baca dulu buku).
    Balas

    • Orng minang juga berucap apo siapo mengapo cuma kebanyakan dalam bertutur percakapan lebih suka berucap A manga sia.. Jadi tidak benar menurut pandangan saya.. Bukan pendapat ahli saya hanya seorang berdarah minang asli.. Di sumatra Barat ada beberapa dialek khas berbeda bunyi cara pengucapan ada yg cepat sedang dan lambat berirama.. Ucapan berbeda sekilas di dengar akan berbeda bunyinya padahal bahasanya sama.. Menurut pandangan saya.. Bahasa melayu itu turunan dari bahasa minang mengapa karena apa bila bahasa minang d bawakan keluar daerah malang akan agak sukar orng memahami bahasa tsb sedang bahasa melayu lebih mudah d ucapkan karena tidak banyak penekanan bunyi pada bahasa nya misal nya di minang datuk ditulis datuk tapi d bacanya datuk tapi bila d sebutkan datuak buyung itu buyuang masih banyak ini jua ttg penulisan nama tempat lubuk Alung itu tetap d baca lubuk Alung. Tapi ketika orng menyebut tempat lubuak aluang masih banyak lagi orng bukan biasa bertutur bahasa minang akan kagok saat berbicara minang karena akan terkesan dapat tanpa dialek khas

  5. Anonim1 Maret 2013 19.00

    daerah Riau daratan sekarang ini merupakan endapan lumpur dari hempasan ombak di pesisir timur pulau Sumatra. Anda perhatikan saja Kota Palembang, dahulu kota ini terletak di pinggir pantai timur pulau Sumatra. Kebudayaan melayu bersumber dari hulu Sungai Musi dan Sungai Batanghari. Kita semua adalah keturunannya. Jadi tak usah mempelintir logika hanya untuk pembenaran kata-kata kaum rasial. Saya Melayu Minang, tapi bukan racialist.

  6. Muhammad Haqky5 Mei 2012 17.42

    Alasan Orang Kampar Lebih Dekat Dengan Melayu

    Pertama
    berikut petikan dari Kitab Negarakertagama:
    “1. Terperinci demi pulau negara bawahan, paling dulu M’layu, Jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya, pun ikut juga disebut daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane, Kampe, Haru serta Mandailing, Tamihang, negara Perlak dan Padang.
    2. Lwas dengan Samudra serta Lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus, itulah negara-negara Melayu yang t’lah tunduk, negara-negara di pulau Tanjungnegara : Kapuas-Katingan, Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut”

    pernyataan diatas merupakan wilayah melayu dan kampar termasuk berada di dalamnya dan terpisah dari minangkabau yang juga bagian dari melayu.

    Kedua
    visi dan misi yang sama. Pernah dengar orang kampar meminta-minta/ ngamen/ mengemis? saya yakin tidak pernah. Kebanyakan orang kampar bukan tergolong orang kaya dan kebayakan hanyalah bekerja menggarap ladang dan beternak dan generasi muda sekarang kebanyakan sebagai pegawai negeri sipil. namun mereka mempunyai gengsi dan mempunyai prinsip lebih baik menganggur/ menjadi bujang lapuk ketimbang harus meminta-minta/ mengemis di jalan, mall, maupun tempat umum lainnya. sama-halnya dengan orang melayu pada umumnya juga berprinsip demikian.

    Ketiga
    Bila kita dengar pepatah jawa “makan tak makan yang penting kumpul”. di kampar juga ada tradisi seperti itu tapi jauh lebih bernilai “ngumpul wajib makan”. maksudnya bila ada orang datang berkunjung kerumah tetangga, sanak keluarga, teman, dll biasanya diruang tamu sudah dipersiapkan piring, gelas dan orang rumah mempersiapkan nampan tudung saji yang berisi berbagai macam lauk-pauk dan tentunya sebakul nasi sebagai penghormatan/ penyambut orang yang datang dan si pendatang/ tamu diharuskan makan setidaknya minimal sesendok makan saja sebagai penghormatan dan jangan sungkan. Tradisi ini biasa ditemui di perkampungan-perkampungan kampar seperti kuok, kumantan, batubelah, airtiris, rumbio, danau bingkuang, dll.

    • Kalian..orang2 sumatra memperdebatkan asal muasal…dahulu mendahului.,padahl kalau di pikir dan diurut ke atas yang kalian sebutkan di atas itu bukan muasal,,..tapi mutengah’.’.kalau mau tau asal melayu dari mana,minang dari mana,riau darimana,jambi dari mana,’….Nih saya kasih tahu,.’,…..KALIAN SEMUA BERASAL DARI ARAB SEMUANYA’KARNA KALIAN ADALAH KETURUNAN ADAM DAN SITI HAWA’.YANG JELAS JELAS SEJARAHNYA DITULIS DI AL,’QURAN.’-

    • Kalau anda menyebutya MELAYU tentu sangat beda dengan MInang. Tapi jika menyebutnya MALAYU berati Minang. Mari kita pahami ME dan Ma ini dulu.

      Melayu dengan Malayu sekarang beda makna. Melayu identik dengan dialek melayu malaysia, muslim dan sawo matang dengan alat musik baru seperti accordion, gitar, biola dll dan memilik warna kultur merah kuning hijau. Etnisnya bermukim di malaysia, kep riau dan sebagian kalimantan. Tapi yg sering kita dengar Melayu itu ras sawo matang yg berada di nusantara termasuk negara2 tetangga.

      Sedangkan MALAYU identik dengan kerajaan tua Minangkabau, dan MALAYU itu sendiri subsuku dari dua suku besar di minang yaitu koto piliang dan bodi caniago. Bahasa, budaya sama dengan minang karna Malayu itu bagian dari minang. identik muslim dan banyak alat musik tua di minang / malayu tidak terdapat di melayu / malaysia / riau kepulauan. Malayu ini bermukim di sumatera barat, jambi, bengkulu, kuantan, kampar, rokan, siak (Riau) negeri sembilan dan bebrpa negeri lainnya. khas warna kultur merah kuning hitam.

      Dari Sejarah kerajaan tua di sumatera awal masehi (5-7) tidak ada nama kerajaan MELAYU, yg ada kerajaan MALAYU di sungaibatang hari jambi dan minangkabau (baca Malayu-dhamasraya-pagaruyung sumatera barat). diperkirakan bangsa dari kerajaan Malayu tua (Malayu-dhamasraya-pagaruyung) stelah jatuhnya atau di masa kerajaan MALAYU itu berlangsung, orang malayu menyebar ke seluruh sumatera, malaka (malaysia) dan nusantara dengan tradisi merantaunya.

      Sampai akhir jayanya krajaan malaka maka fonem kata MALAYU telah berubah menjadi MELAYU dikarenakan dialek yg ada di malaka pada masa itu. Apalagi setelah portugis merebut malaka di tahun 1511 telah memetakan daerahnya dengan sebutan MELAYU. istilah MELAYU populer sampai sekarang. Jadilah orang melayu dengan budaya yg berbeda dengan MALAYU aslinya yg berbudaya minang.

      Memakai istilah kata MELAYU untuk menghubungkan dari mana mereka berasal, kurang pas. Tapi jika menggunakan kata MALAYU maka terdapatlah sebagai berikut:

      Prof.Dr.Husain Naimar, guru besar antropologi Universitas Madras mengatakan kata melayu berasal dari bahasa Tamil. MALAI berarti gunung, MALAIUR adalah suatu suku bangsa pegunungan dan sebutan malaiur fonetis menjadi MALAYU lalu MELAYU. Penduduk sebelah pesisir selatan pegunungan Dekkan adalah orang MALABAR, orang minangkabau menyebutnya malabari. Malayalam adalah bahasa yang dipergunakan oleh suku bangsa dravida yang mendiami pegunungan.

      Di minangkabau menurut penelitian Prof.Husein Naimar banyak terdapat kata-kata tamil dan sanskerta. hal ini membuktikan adanya hubungan sejarah antara Minangkabau dan Malabar. kitab Nagarakretagama 1365 M pada masa singosari menceritakan tentang ekspedisi PAMALAYU ke sumatera. bukan PEMELAYU. Jadi istilah MELAYU muncul belakangan.

      “Ketika angin timur laut mulai bertiup, kami berlayar meninggalkan Kanton menuju selatan …. Setelah lebih kurang dua puluh hari berlayar, kami sampai di negeri Sriwijaya. Di sana saya berdiam selama enam bulan untuk belajar Sabdawidya. Sri Baginda sangat baik kepada saya. Beliau menolong mengirimkan saya ke negeri MALAYU, di mana saya singgah selama dua bulan.. (Pendeta cina dinasti tang, i tsing 634-713)

      kitab Hindu Purana pada zaman Gautama Buddha terdapat istilah Malaya dvipa yang bermaksud tanah yang dikelilingi air. Semoga bisa memahami apa dan darimana asal kata MELAYU tersebut dan apa kaitannya dengan Minang. bukti yg lainnya bisa anda cari sendiri

      Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/akbarisation/minang-itu-melayu-tapi-melayu-bukanlah-minang_5518cc1281331158709de0f9

  7. Saya rasa memang benar kekuasaan raja minang kabau kekuatan tak terbatas.. Kekuasaan sejatinya adalah kekuatan masyarakat minang itu sendiri. Kesejahteraan rakyat kekuatan raja itu sendiri. Kekuasaan dr Tuhan langsung d agungkan rakyatnya itulah pemimpin sejati tidak butuh tentara karena tentara rakyatnya sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s