Padri Dan Akhir Kerajaan Minangkabau

Pakaian Wanita Minangkabau Abad 19masehi abad 13hijrah

Tahun 1803 tiga orang haji pulang dari tanah suci kembali ke Minangkabau. Setelah mengamati keberhasilan pergerakan puritan wahabi di tanah suci mereka menggiatkan proses penyatuan ajaran Islam di masyarakat Minangkabau, menyesuaikan dengan budaya setempat. Hal ini merupakan tanda awal perubahan bentuk sistem Minangkabau dan wawasan agama.

Jaringan surau.

Tiga orang haji datang tepat waktu, karena Tuanku Nan Tuo dari Koto Tuo (di daerah Agam) dan muridnya mulai menggerakkan reformasi lunak. Ketiga haji ini melihat beberapa orang yang tergabung di dalam kelompok ini memilih metode radikal untuk menggerakkan reformasi. Mereka mendukung reformis yang lebih radikal, membantu mengubah kebiasaan pertikaian agama – dari perjuangan keluarga menjadi perang nagari. Sebelum akhir abad ini jaringan sekolah agama atau surau dengan Pusat tertua di Ulakan pantai Barat Sumatera sudah berdiri di sepanjang dua pesisir dan di dataran tinggi Minangkabau. Beberapa surau di bawah pimpinan Tuanku (guru) muncul sebagai Pusat dari cabang khusus mengenai pengetahuan ajaran Islam. Karena hanya orang yang telah menguasai tiga cabang penting di dalam ajaran Islam yaitu tauhid, fikih, dan tasauf disebut Tuanku, dapat dibayangkan bagaimana setiap Pusat ajaran Islam menarik perhatian murid di setiap pelosok Minangkabau. Namun tiga ajaran ini dapat dipelajari dengan benar bila murid mempunyai cabang pelatihan di dalam Islam, bahasa Arab, membaca dan tafsir Alquran, dan Alhadis.

Gerakan murid menjadi gejala luar biasa menyebar ke pelosok Minangkabau.

Gerakan reformasi Tuanku dan Tuo

Di dataran tinggi Minangkabau surau Tuanku Nan Tuo menjadi Pusat sekolah beraliran mistik Shatariyah atau tarekat. Gerakannya sebagai jawaban pada kepala adat atau penghulu yang menjadi pemegang kekuasaan Minangkabau, yang tidak memberi tanggapan pada gerakan yang semakin kuat tersebar di Pusat pendidikan Islam di antara daerah pesisir hingga pedalaman. Gerakan ini  terjadi saat perubahan besar pada ekonomi di pedalamam Minangkabau, karena hubungan perdangangan dengan pesisir yang dikuasai Belanda berkembang pesat. Menurut Tuanku Nan Tuo pengetahuan dangkal para penghulu tentang  ajaran Islam dan kewajiban ajaran Islam dan kelemahan tanggungjawabnya pada etika ajaran Islam membuat mereka tidak hanya kurang peka pada kesempatan baru, namun juga mengabaikan keselamatan perantau; suatu pelanggaran besar di dalam politik tradisi adat Minangkabau. Dengan menekankan kepatuhan pada kewajiban ajaran Islam dan keselarasan di dalam masyarakat, gerakan reformasi Tuanku Nan Tuo juga bertujuan untuk mengamankan perjalanan pedagang dan pelajar agama.

Gerakan Padri.

Para pembaru radikal bagaimanapun kurang sabar mengubah sistem sosial Minangkabau dan wawasan ajaran agama. Dengan menggunakan jaringan pelajar terdahulu, Tuanku guru muda yang berasal dari daerah Agam memperluas lingkaran pengaruh mereka ke daerah lain di Minangkabau. Gerakan mereka, yang dikenal sebagai gerakan Padri, bukan hanya menantang kekuasaan Tuanku Tua yang berdasarkan Hukum agama, mengutuk kekuatan yang melawan Islam, dan mensahkan kedudukan politik penghulu, namun juga mengancam Kerajaan Minangkabau lama yang berpusat di Pagaruyung. Di dalam suatu pertemuan, antara pemimpin Padri dan keluarga Kerajaan yang damai, tiba-tiba pecah menjadi pertempuran. Walau pun Raja Tua, Sultan Alam Muningsyah menyelamatkan diri, namun beberapa anggota Kerajaan terbunuh. Kekeramatan keluarga Kerajaan yang secara struktur menjauhkannya dari sistem sosial matrilineal Minangkabau, menuju kepunahan.

Intervensi Belanda.

Campur tangan Belanda (1821) di dalam perang antarnagari akhirnya mengakhiri kekeramatan Kerajaan Minangkabau. Dengan berpura-pura membantu keluarga Kerajaan melawan kelompok Islam fanatik, Belanda mengambil alih Padang dari tangan Inggris dan mencampuri urusan Minangkabau. Setelah mengambil alih kedudukan anggota keluarga Kerajaan, Belanda menobatkan Raja baru, Sultan Alam Bagagarsyah, wakil Raja di  Tanahdatar. Pada Tahun 1832 terjadi perang singkat, setelah jatuhnya benteng terakhir orang Padri, Bonjol, Belanda mencurigai sekutu lama Belanda, Sultan, kepala adat, dan Tuanku, bersekongkol dengan pemimpin Padri untuk mengusir Belanda. Sementara yang lain dihukum mati, Sultan diasingkan ke Jawa.

Kerajaan Minangkabau berakhir pada saat perang kolonial baru mulai, Januari 1833, seluruh Minangkabau melawan Belanda. Tuanku Imam Bonjol, pemimpin Padri di Bonjol, dan yang saat pendudukan Bonjol (1832) kekuasaan politik dikembalikan kepada penghulu Bonjol, melanjutkan kepemimpinannya sebagai pemimpin keagamaan dan perjuangan kemerdekaan. Perjuangan gigih berlangsung lebih dari empat tahun sebelum Belanda berhasil mengambil alih benteng Bonjol. Tuanku Imam Bonjol ditangkap dan diasingkan ke Jawa Barat, kemudian ke Ambon, ke Minahasa (Sulawesi Utara), dan meninggal di sana. Dengan kejatuhan Bonjol di Tahun 1837 daerah Minangkabau menjadi bagian dari Hindia Belanda.

One thought on “Padri Dan Akhir Kerajaan Minangkabau

  1. – – – – – – – – DELETED BY ADMIN – – – – – – – –

    nb. kata2 kasar yg tidak mendasar sama sekali.

    mohon maaf atas deletion ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s