Kontribusi Minangkabau Terhadap Malaysia

semenanjungTerlepas dari persoalan kontemporer multi-aspek antara Indonesia dan Malaysia, ikatan sejarah antara dua negara sebenarnya lebih kompleks dari sekedar beda penjajah. Dari segi etnis, bangsa bumiputera atau Melayu Malaysia sebenarnya tidaklah homogen, tapi dibentuk dari berbagai unsur. Salah satu unsur tersebut adalah suku-suku bangsa di Nusantara, di antaranya suku Minangkabau, Jawa, Bugis, Aceh, Banjar, Kerinci, Mandahiling dan Bawean.

Dalam sejarah, keberadaan orang Minangkabau di Malaysia berkaitan dengan kebiasaan merantau suku bangsa ini keluar daerah, baik dalam rangka dagang, mencari ilmu, petualangan atau karena konflik dalam satu atau lain bentuk, semisal Perang Paderi dan PRRI. Orang-orang Minangkabau diperkirakan hijrah ke semenanjung Malaya mulai pada abad ke-15 Masehi (tahun 1400an).

Setidaknya ada dua kontribusi orang Minangkabau di Malaysia, jika kita melihat pada sejarah masa lalu,

  • Yang pertama yakni menjadi salah satu unsur etnis pribumi,
  • Dan kedua dari segi sumbangan kebudayaan dan pemikiran.

Kontribusi yang pertama paling jelas di salah satu negara bagian Malaysia, yakni Negeri Sembilan. Bahasa yang digunakan di sana dapat dipandang sebagai salah satu dialek Minangkabau, dengan pengaruh Melayu Malaysia yang kental. Adat yang dijalankan di sana pun bersumber dari Minangkabau, disebut Adat Perpatih. Demikian juga arsitektur, aneka macam masakan, kesenian dan kesusastraan (pribahasa, pantun, dan sebagainya) jelas menunjukkan orang-orang Minangkabau di sana berusaha mempertahankan tradisinya walaupun sudah di rantau orang.

Nicholas N. Dodge (Population Studies Vol. 34 No. 3: 1980) yang menulis artikel tentang populasi semenanjung Malaya pada abad ke-19, mengatakan adanya hijrah besar-besaran orang Minangkabau pada masa lampau terutama ke wilayah yang sekarang disebut Kerajaan Negeri Sembilan, Kerajaan Selangor dan Kerajaan Johor. Dodge juga mengutip seorang sarjana Inggris, Crawfurd, yang pada 1856 mengatakan bahwa banyak orang Melayu yang civilized di semenanjung Malaya mengatakan asal-usul mereka dari Sumatera dan Minangkabau.

Ada beberapa daerah di Minangkabau yang secara khusus telah menyebar ke berbagai daerah di Malaysia, yang paling jelas yaitu daerah Rao (Rawa) di Pasaman. Diperkirakan sekarang ini ada sekitar 150.000 keturunan Rao di Malaysia. Orang-orang Rao hijrah ke Malaya dimulai pada abad 15, dan terutama pada Perang Paderi. Sejumlah tokoh keturunan Rao telah memainkan peran penting sepanjang sejarah Malaysia, baik sebagai tokoh politik, ulama, cendekiawan dan militer.

Di antara tokoh Rao yang terkenal di sana yaitu Mat Kilau (1865-1970), pendekar dan pahlawan terkenal Malaysia, Syekh Muhammad Murid Rawa dan Haji Yusuf Rawa (1922-2000) (pernah menjadi duta besar Malaysia untuk PBB, Turki, Afghanistan dan sebagainya). Sekarang ini bahkan sejumlah keturunan Rao di Malaysia bergiat mencari silsilah mereka. Aktivitas mereka di antaranya dapat dilihat dalam situs terombarawa.blogspot.com dan jaro.com.my.

Di samping ada daerah-daerah di Malaysia yang namanya mirip dengan daerah di Minangkabau (seperti Ampang, Sungai Cincin, Gombak), bekas tangan orang Minangkabau juga diakui, salah satunya dalam membentuk Kuala Lumpur dari awal-awal perkembangannya pada abad 19.

Pada masa awal perkembangan kota itu, banyak orang Minangkabau yang menjadi pedagang kaya. Banyaknya orang Minangkabau juga membuat mereka mendirikan mesjid yang disebut Masjid Minangkabau. Ketika itu hanya ada dua mesjid di Kuala Lumpur, yakni Masjid Minangkabau dan Masjid Malaka, sehingga tak heranlah jika yang dipandang sebagai imam, khatib dan kadi Kuala Lumpur yang pertama adalah seorang ulama tarekat Naqshbandiah asal Tanah Datar, bernama Haji Utsman bin Abdullah (1850-1919).

Dari segi sumbangan kebudayaan dan pemikiran, salah satu yang tampak adalah kesusastraan, terutama pantun. Ada pendapat yang mengatakan bahwa asal muasal pantun yang berkembang di semenanjung Malaya adalah dari Minangkabau (Xu You Nian Revue de literature compare 60 (2): 1986). Apabila kita ambil beberapa contoh dari pantun yang berkembang di Malaysia memang kita menangkap ada nuansa Minangkabau di sana. Misalnya pada pantun:

Ayam jantan si ayam jalak.

Jaguh Siantan nama diberi.

Rezeki tidak saya tolak.

Musuh tidak saya cari.

Juga dalam pantun:

permata jatoh di rumput

jatoh di rumput gilang

Kasih umpama embun di hujung rumput

datang matahari hilang

Bandingkan dengan:

parmato jatuah ka rumpuik

jatuah ka rumpuik sibilang-bilang

sungguah di mato alah lupuik

tapi di hati takkan hilang.

Meskipun asal muasal pantun dari Minangkabau masih belum dipastikan secara ilmiah, tapi bukti bahwa sebagian pantun di sana ada padanannya dengan yang dikenal di Minangkabau membuktikan adanya pengaruh. Pengaruh ini taklah mengherankan mengingat terdapatnya komunitas orang Minangkabau di Malaysia dan sebagian memainkan peran penting terutama di masa lalu.

Hal terpenting lainnya yang disumbangkan oleh orang-orang Minangkabau dalam sejarah Malaysia adalah bidang agama. Ulama-ulama asal Minangkabau merupakan ulama yang dihormati di semenanjung Malaya. Beberapa di antara mereka pernah menduduki kedudukan tinggi dalam sejumlah kerajaan di sana. Misalnya,

  • Jabatan Syaikh al-Islam (mufti) Kerajaan Perak pernah dipegang oleh Syekh Muhammad Saleh al-Minangkabawy (wafat 1925) dan Syekh Muhammad Zain Simabur (wafat 1957).
  • Syekh Thahir Djalaluddin al-Falaki (1869-1956), ulama kenamaan asal Ampek Angkek, berkiprah luas sebagai reformis Islam di Malaysia, terutama di Kerajaan Perak, Kerajaan Johor dan Singapura.
  • Pada masa lebih awal, Syekh Ismail al-Minangkabawy (pembawa tarekat Naqshbandiah Khalidiah ke Nusantara) juga memainkan peranan besar dalam menyebarkan tarekat tersebut ke Malaya, di antaranya Kerajaan Melaka, Kerajaan Kedah dan Kerajaan Perak.
  • Banyak juga ulama Minangkabau sebelum pulang ke daerah asal mereka dari kota Hijaz menjadi pengajar agama beberapa waktu di sana, misalnya Syekh Abdurrahman Kumango dan Syekh Muhammad Silungkang.

Satu hal lain yang menarik adalah pada waktu dulu di Malaysia juga terjadi apa yang disebut perselisihan antara kaum tua dan kaum muda. Pertikaian itu ibarat gema dari apa yang terjadi di Minangkabau pada waktu yang sama dan juga orang-orang Minangkabau sendiri yang banyak memainkan peran. Ulama kaum tua terutama adalah ulama tarekat yang sebagian disebarkan oleh ulama-ulama asal Minangkabau. Sementara, kaum muda diilhami oleh Syekh Thahir Djalaluddin al-Falaki dengan majalah al-Imam-nya yang terbit di Singapura. Perselisihan ini misalnya membuat kaum tua menghalangi pencalonan beliau yang disebut terakhir ini sebagai mufti Kerajaan Perak.

Segi yang lain yang tak ragu lagi sebagai pengaruh Minangkabau di Malaysia adalah silat Minangkabau. Di antara aliran-aliran yang dipengaruhi misalnya silat pengian, silat harimau, silat cekak, silat sendeng, dan sebagainya yang pernah penulis sebut dalam artikel pada Singgalang, 2 Oktober 2010.

Yang disampaikan di atas hanya sebagian saja dari pengaruh yang ditanamkan oleh orang-orang Minangkabau di Malaysia, terutama semenanjung Malaya. Hal tersebut juga diakui oleh orang-orang Malaysia sendiri, dan bahkan sebagian keturunan Minangkabau di sana masih merasa bangga dengan tanah asal mereka.

Akan tetapi, sayangnya jika mereka melihat sendiri keadaan di Minangkabau sekarang, bahwa kita sedang berusaha menciptakan masyarakat yang beradat dan beragama, sementara satu saja dari dua hal itu masih jauh panggang dari api, maka mereka tentu hanya akan mengalami nostalgia bersama kita.***

Catatan:

Dimuat dalam harian Singgalang pada Senin, 1 November 2010.

Sumber,

http://novelmusda.blogdetik.com/2011/05/11/kontribusi-minangkabau-terhadap-malaysia/

copy-logominangel.jpg:: Teks di atas betul-betul membangkitkan kebanggaan sebagai orang Minangel, mengingat pernyataan di atas dibuat oleh orang non-minangel – yang berarti mempunyai nilai objektivitasnya. Syukur alhamdulillah.

Mudah-mudahan seluruh orang Minangel dapat mempertahankan reputasi unggul seperti yang dipaparkan di atas, dan juga yang terpenting dapat membuktikan reputasi tersebut dengan karya nyata untuk seluruh bangsa Indonesia yang permai ini. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s