Sejarah Asal-Mula Nama Pagaruyung Bagian 01 dari 02

sejarahAda Apa Di Balik Nama Pagaruyung

Sungguh berlimpah faedahnya, bagi siapa yang mau menuntut ilmu di USKST (Universitas Sepanjang Kampung Sebelit Tanjung). Seperti saya di Hulu Kampar ini misalnya. Setiap informan dan orang-orang di lapangan adalah profesor yang membekali kantong pengetahuan kita dengan berbagai ilmu yang tidak disangka-sangka.

Laporan JUNAIDI SYAM, Pekanbaru

SALAH satunya adalah soal geneologi diksi Pagaruyung yang disampaikan oleh Pak Hawari Imam Pangian. Sepulang dari menelusuri hulu Sungai Tampamali bersama Pak Marwan, Pak Peri, dan Pak Jalid, saya langsung ke Muaro Sungai Lolo. Singgah sebentar di kediaman Tongku Mudo Sati untuk meletakkan barang-barang, dan langsung berangkat ke Selayang.

Dua hari di Selayang saya manfaatkan untuk mencari informasi tentang Kenegerian Selayang yang posisinya berhadapan langsung dengan Pangian yang terletak di bagian hulu Sungai Lolo (anak Sungai Kampar). Sedangkan Selayang terletak di salah satu anak Sungai Sumpu (Sungai Rokan). Pangian adalah wilayah frontier yang unik.

Begitu sepeda motor Pak Peri berhenti di balai kampung Pangian, saya melihat Pak Imam Hawari tengah berbincang-bincang santai dengan tujuh lelaki. Seperti biasa, Pak Imam menyambut orang-orang yang singgah dengan wajah ceria, karena pembawaannya memang sudah begitu. Setelah berbual singkat, berbasa-basi dan bercanda, Pak Imam mengajak saya menginap di rumahnya. Saya katakan, “Langkah kanan rupanya saya ni.” Pak Imam tertawa, sebab dia mengerti bahwa yang saya maksud itu adalah keberuntungan.

Malam harinya, kami berbual-bual soal tasawuf, telaah sifat 20, dan ilmu kaji diri. Beberapa pemuda ikut bergabung mendengarkan penuturan beliau. Pak Imam juga bercerita soal sejarah berdirinya Selayang dan Pangian, sejarah Tuanku Imam Bonjol yang diklaim berasal dari Pangian, sejarah raja Melayu Palembang yang bernama Datuk Leba Tolingo (Demang Lebar Daun) dll. Perbualan berangsur dan berasak juga ke soal Pagaruyung. Inilah yang saya tunggu! Versi Pak Imam Pangian masuk dalam daftar perbendaharaan pengetahuan saya tentang Pagaruyung.

Dalam pembukaan manuskrip Taromba Tambusai dituliskan;

“Inilah surat keterangan taromba yang turun daripada Pagaruyung yang dibawa Sultan Mahjudin putra Sultan Pagaruyung anak cucu Sultan Isykandar Dzulkarnain yang turun-temurun menjadi raja di dalam Pulau Perca ini. Itulah pegangan Raja Tambusai, sah dengan nyatanya”.

Teks naskah ini jelas menyebutkan Pagaruyung sebagai pusat kekuasaan raja alam Minangkabau. Baiklah, teks manuskrip tersebut kita tinggalkan sejenak.

Saya pernah mendengar cerita tentang tempat mandi putri raja yang dipagar menggunakan “batang ruyung”. Ada pula kisah tentang “tongkat ruyung” yang dipancangkan sebagai simbol kekuasaan kerajaan kuno di masa lalu. Bahkan sering saya dengar datuk-datuk membuat pertanyaan bernuansa menguji, “Pagar ruyung itu apa? Dari kayu apa? Dan apa pula makna ruyung dalam adat? Di mana pohon ruyung itu tumbuh?”.

Baiklah, kita lanjutkan cerita Pak Imam tentang empat bersaudara yang keluar dari negerinya mencari tanah ulayat. Sampai di suatu tempat, mereka membuka hutan rimba. Bertemulah mereka dengan sebatang pohon kayu tepat di tengah-tengah rimba yang akan ditebang. Pohon tersebut dijadikan tempat berteduh dan istirahat. Demikianlah kebiasaan yang dilakukan orang berladang membuka rimba. Setelah semua pohon ditumbang, maka yang terakhir kali ditebang adalah pohon tempat mereka istirahat tersebut. Segala perkakas dan alat-alat dipindahkan ke bedeng di tepi ladang, sebab pohon tersebut akan segera dibeliung.

Mula-mula saudara yang paling tua pergi menebang pohon itu sendirian. Dikelilinginya batang pohon tersebut untuk memilih bagian dahan tua. Cara menebang pohon besar, biasanya dipilih sisi dahan tua untuk memulai pangkal kerja, bertujuan agar pohon kayu cepat tumbang. Tukih (kayu bertupang) disandarkan untuk tempat berpijak saat menghantamkan beliung ke permukaan kayu. Petang hari, saudara tertua itu pulang ke kampung. Sampai di rumah, berkatalah saudara tua tadi, “Sudah hampir selesai. Tinggal sedikit saja yang akan kalian diteruskan”.

Keesokan hari, saudara nomor dua pergi melanjutkan tebangan. Nampak olehnya pohon kayu itu masih utuh. Tidak ada sedikit pun bekas tebangan kakak sulungnya kemarin. Tukih untuk menebang juga tak nampak. Maka dibuatnya tukih baru yang lebih tegap untuk menopang tegak berdirinya saat mengayunkan beliung. Petang hari dia pulang. Berkatalah dia pada sudara-saudaranya di rumah, “Tak ada kakak menebang kemarin. Tak ada bekas tebangan di pohon itu. Kerja saya tadi hampir sudah, tapi hari hampir petang. Masih ada sisa kerja sedikit lagi”. Heranlah kakaknya yang tua, disangkanya si adik berbohong, sedangkan adik nomor dua menyangka kakak sulungnya itu yang berbohong.

Hari selanjutnya, berangkat pula saudaranya yang nomor tiga. Sesampai di bawah pohon tersebut, tiada juga ditemukan bekas tebangan sama sekali. Tukih untuk menebang juga tidak nampak. Mulai pula ia memasang tukih baru. Ditebangnya pula pohon itu hingga pekerjaannya hampir selesai, namun hari pun petang. Pulanglah dia ke rumah, lalu berkata pada ketiga saudaranya, “Haram saya temukan bekas tebangan kakak berdua. Tak nampak oleh saya sempolah (serpihan sampah tebangan) di dekat batang tu”. Adik yang ketiga itu menyangka kedua kakaknya berbohong.

Pagi yang keempat, pergi pula si bungsu. Tiada juga nampak olehnya bekas-bekas kerja menebang di pohon itu. Sadarlah dia bahwa kayu itu tidak bisa ditebang oleh saudara-saudaranya. Kemudian si bungsu memasang niat dan menyerukan kata-kata bertuah. Dengan sekali pakuk (hantaman beliung) pada bagian dahan tuanya, rebahlah pohon kayu.

Pulanglah si bungsu ke rumah. Saudara-saudaranya terkejut, “Mengapa cepat betul si bungsu ini pulang?”. Berkatalah si bungsu sambil bergurau, “Sama sekali tak ada kalian bekerja rupanya. Tadi, saya temukan pohon itu masih utuh tanpa cacat. Rupanya kalian tidur ya?”. Akibat gurauan itu, pohon yang telah tumbang tersebut tak pernah layu dan tetap menghijau daunnya.

Setelah bertahun-tahun, pohon itu tetap hijau. Orang semakin banyak berdatangan ke banjar ladang empat bersaudara tadi. Lama-kelamaan, banjar itu menjadi perkampungan yang ramai. Batang kayu yang telah tumbang tersebut dikabung-kabung, lalu dijadikan pagar. Karena kayu tersebut be-ruyung (berteras di luar), maka negeri tersebut dinamakan Pagaruyung.

Lantas saya tanyakan pada Pak Imam, “Kayu apa yang mereka tebang itu?” Jawab Pak Imam, “Entahlah, hanya kayu itu ada ruyungnya”. Sambil tersenyum Pak Imam balas bertanya pula pada saya, “Coba dikira-kira, kayu apa saja yang terasnya di luar?”. Saya jawab, “Pinang, ibul, kelapa …” Belum sempat saya selesai menyebutkan satu persatu macam jenis pohon yang beruyung, Pak Imam sudah melanjutkan pula, “… Bambu, batang ubi kayu, pisang, ya kan?”. Beliau menyindir saya dengan ucapan, “Kalau orang ini (maksudnya saya), pasti dia tahu. Mengapa dalam adat ada sebutan Pagaruyung?”. Ucapan Pak Imam soal jenis pohon yang memiliki ruyung tersebut menjadi kata kunci untuk menjelaskan penamaan Pagaruyung. ***

Pagaruyung bukanlah sekadar diksi tanpa arti dan makna. Bukanlah pula sekadar sebutan yang biasa kita temukan dalam mitos, ataupun hanya sekadar nama sebuah identitas pusat kekuasaan Raja Minangkabau. Pagaruyung memiliki makna khusus dalam adat. Setiap pohon yang berteras di luar memiliki kekuatan yang khas.

Jika soko dilambangkan dengan pohon kayu binuang (pohon kayu besar), maka pisoko dilambangkan dengan teras ruyung. Struktur soko berbasis “bilangan satu” yang muncul dalam ungkapan adat:

“ ……… berpucuk bulat, berurat tunggang, tumbuhnya dari bumi, tumbuh tak ditanam, besarnya tak dilambuk, orang yang diadatkan, dikurung-kandangkan oleh ninik mamak ……”.

Ungkapan bagian terakhir inilah yang dapat menjelaskan makna Pagaruyung, yakni dikurung-kandangkan oleh ninik-mamak.

Pagaruyung adalah istilah menyebutkan pisoko yang mengurung-kandangkan soko. Raja Melayu Kuno itulah yang soko, sedangkan pisoko adalah pegawai, pemelihara, pekerja, dan pembela. Menurut struktur konsep falsafah adat Pagaruyung, soko itu sangat lemah, sedangkan pisoko sangat kuat. Pisoko bertugas melindungi soko dengan kekuatannya. Soko adalah inti utama atau bagian tengah batang yang lembut dan mudah rusak, maka pisoko mengelilinginya agar tetap terlindungi.

Ketika si Besi, si Kelopak, dan si Bunga beradu argumen dengan ayahnya Sutan Mulia tentang mana yang lebih keras soko dibanding pisoko?”. Sang ayah menjawab “lebih keras soko”, tapi sang anak menyatakan “lebih keras pisoko”. Sang anak benar, sebab dia memakai konsep adat kayu beruyung atau adat pagaruyung. Maka, istilah “adat Pagaruyung” bukan berarti harus merujuk pada identitas suatu lokalitas.

Kembali pada keterangan Pak Imam yang menyebutkan bahwa pohon pisang mempunyai ruyung. Benarkah? Dan apakah pohon pisang itu kuat? Seperti apa kuatnya ruyung pohon pisang? Mari kita lihat.

Pohon pisang mempunyai kelopak-kelopak (pelepah, red) batang yang strukturnya sangat unik. Kelupak batang pisang tumbuh dari permukaan umbi yang disebut limbago (lembaga) atau azas. Visualitas kelupak itu berlingkar sehingga membentuk struktur batang. Umbut (empulur tengah batang) di tengah-tengah batang itulah empulur soko, dan kelupak-kelupak itulah pisoko. Fungsi kelopak pisang tersebut untuk melindungi umbut.

Jika pisang berbuah, maka akan muncul jantung, kemudian kelupak jantung pisang akan jatuh satu persatu hingga muncul tandan dan sisir buah pisang. Lahirlah ungkapan, “yang bersikat-sikat bagai pisang”, artinya; muncul pihak-pihak dan keluarga-keluarga yang banyak dalam satu pohon tersebut. Jika pisang sudah berbuah, maka sampai pula ajalnya. Untuk melanjutkan kehidupan pisang itu, maka diambil pula anaknya yang tumbuh di bawah pokok pisang tersebut. Anak pisang itu tumbuh dari lembaga yang dulu juga. Oleh sebab itu ada ungkapan menyebutkan “hanya sekali pisang berbuah”. Artinya anak pisanglah yang akan ditanam, diganjak, dipindahkan untuk dipetik pula buahnya.

Anak pisang itulah yang disebut kemenakan, sebab dia tumbuh di lembaga induknya. Buah pisang tidak bisa ditanam, hanya bisa dimakan saja. Artinya buah pisang hanya untuk diambil manfaatnya. Buah pisang adalah simbol anak dalam adat soko, dan buah pisang tidak bisa ditanam, artinya tidak bisa meneruskan kekuasaan menurut adat soko.

Muncul pepatah adat; “jika diganjak mati, dibubut layu” (jika dipindahkan maka mati, jika dicabut empulurnya maka layu). Artinya, jika pisang sudah berbuah, maka habislah kekuasaannya. Pohon pisang yang sudah berbuah, tak akan pernah lagi berbuah untuk selamanya, dan kondisi ini disebut juga “telah mati”. Jika empulur pisang itu dibubut (dicabut), maka batang pisang akan layu. Artinya, jika diberhentikan dengan paksa, maka jabatannya tidak lagi berguna, diibaratkan mati layu.

Ada satu mitos tentang betapa kuatnya ruyung pelepah pisang.

Pada suatu ketika, Datuk Singo Manden datang ke istana Datuk Malangik Hitam Lidah. Kunjungan itu untuk menyelesaikan soal siapakah yang lebih dulu mengklaim ulayat di Hulu Sungai Tampamali dan Tampakayu? Maka, datanglah Datuk Singo ke istana Datuk Malangik di Longuong Hulu Kampar.

Sebab karena sangat besar dan beratnya tubuh Datuk Singo maka lantai rumah Datuk Malangik rubuh. Tubuh Datuk Singo jatuh terduduk ke tanah beserta lantai rumah. Datuk Malangik memperbaiki lantai rumahnya. Namun setelah diduduki kembali oleh Datuk Singo, lantai itu kembali rubuh. Hingga kali yang ketiga, berkatalah Datuk Singo, “Tongkatlah lantai itu dengan telutuk pisang (pelepah pisang)”. Setelah lantai rumah ditongkat dengan pelepah pisang, barulah lantai istana Datuk Malangik bisa diduduki Datuk Singo Manden.

Itulah sebabnya muncul satu kepercayaan dalam masyarakat Melayu, jika ada helat kenduri di dalam rumah, sedangkan lantainya dikhawatirkan runtuh sebab banyaknya orang, maka dipasanglah tongkat penyangga lantai dari telutuk batang pisang. Begitu banyak soal kepercayaan ilmu kebatinan Melayu Kuno yang disandar pada keampuhan ruyung batang pisang.

Jika akan mendirikan gelanggang silat, maka di tengah-tengah gelanggang ditanam serumpun batang pisang. Jika ada orang yang kebal senjata tajam atau tahan terhadap pukulan, dipercaya jika dipukul dengan pelepah pisang akan menderita kesakitan luar biasa. Menanam batang pisang di tiap sudut pekarangan rumah dianggap mampu menyejukkan hati dan perasaan orang dalam rumah tersebut. Pohon pisang juga dipercaya menyejukkan tanah perkebunan, dan jika ditanami pisang maka tanah gersang bisa segera berubah menjadi subur.

Saya rasa cukup sampai di sini keterangan tentang ruyung pisang, sebab jika dibahas terus, maka halaman koran Riau Pos ini jadi penuh hanya untuk perkara pisang sebatang. Rahasia adat yang satu ini selalu diokokkan (disimpan sendiri dan dipakai sendiri) oleh beberapa datuk adat. Para datuk adat menganggap pengetahuan-khusus adalah ibarat senjata yang bisa dipakai untuk mengalahkan argumen-argumen orang yang mengaku-ngaku tahu adat, namun sebenarnya ilmu pengetahuan adat mereka kurang.

Jika ada orang yang benar-benar ingin belajar adat, dan dia punya pula aluran serta kecucuran darah soko adat, biasanya datuk itu akan menyuruhnya datang ke rumah untuk menerima ilmu adat tersebut. Kembali ke pokok persoalan tentang Pagaruyung. Muncul satu pertanyaan penting, ruyung apakah yang dipakai oleh orang Batusangkar untuk menyebut diri mereka beradat Pagaruyung?

Pertanyaan ini pasti ada jawabannya, dan harus ada pula alasannya menurut adat lama pusaka usang yang dipakai oleh orang Minangkabau. Sayangnya, dalam Tambo Alam Minangkabau tidak dijelaskan sama sekali soal ruyung apa yang dijadikan sebagai pagar adat mereka. Hal ini bisa saja terjadi karena okok-pelitnya datuk. Sekali lagi saya ulangi, pengetahuan khusus ilmu kebatinan adat seperti ini biasa dijadikan senjata ampuh untuk mempertahankan martabat dan harga diri datuk di mata anak kemenakan.

Terima kasih untuk sumber,

http://www.riaupos.co/55345-berita-ada-apa-di-balik-nama-pagaruyung.html#.VdLA27XA6Uk

Minangel,

Paparan ini sungguh menarik untuk diikuti, mengingat sedikit sekali sumber atau referensi yang dapat dijadikan pijakan di dalam memahami kata Pagaruyung.

Saya yakin sekali bahwa argumentasi yang dipaparkan di dalam artikel ini, mengenai asalmula kata pagaruyung, dapat dipertanggungjawabkan, alias berbobot, dan bernilai.

Namun satu hal yang tentunya kita harapkan, semoga dengan adanya paparan ini, semakin memperluas daya-rangsang dan daya-tarik semua pihak khususnya Urang Awak untuk dapat menggali lebih dalam lagi mengenai asalmula kata pagaruyung.

Wallahu a’lam bishawab.

Baca Selanjutnya, Sejarah Asal Mula Nama Pagaruyung Bagian 02 dari02

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s