Minangkabau Adalah Kiblat Nusantara Benarkah?

W

pedas cabe

Minangkabau adalah suatu daerah yang terdapat di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang tepatnya terletak di tengah Sumatera, merupakan salah satu suku bangsa yang dimiliki bangsa Indonesia, dan juga salah satu lingkungan budaya yang mekar bersama lingkungan budaya lainnya.

Namun sungguh pun begitu, rasanya tidak berlebihan jika dikatakan, bahwa untuk satu dan beberapa hal, budaya Minangkabau tampaknya telah menjadi kiblat bagi Nusantara. Hal apa sajakah itu? Berikut ulasannya secara singkat.

Pertama. Kuliner.

Aspek yang satu ini sudah jelas, dan sudah mendapat kesepakatan dari berbagai pihak, baik di Nusantara sendiri mau pun di mancanegara. Hidangan yang standar untuk ukuran bangsa Indonesia adalah hidangan Minangkabau, baik untuk menu rendang, telur balado, daun singkong kuah-kuning, dsb, merupakan menu yang berasal dari Minangkabau.

Jelas sekali terlihat, bahwa pada setiap event sosial yang berkelas, maka pastilah hidangan yang disajikan merupakan hidangan Minangkabau, dan terkadang dikombinasikan dengan hidangan dari daerah lain sebagai pelengkap, seperti gado-gado betawi, tempe orek Jawa, dsb. Namun tetaplah yang menjadi ‘pemain utama’ di atas meja hidangan adalah hidangan Minangkabau.

Hidangan nasi-kotak yang biasa dibagi-bagikan kepada publik, umumnya mengusung hidangan Minangkabau ini, seperti rendang, ayam goreng balado, sambal-ijo, dsb. Jadi kalau terdapat nasi-kotak yang tidak mengusung hidangan Minangkabau, pasti hidangan nasi-kotak tersebut dipandang sebelah mata. Tidak nendang rasanya, itu kata mereka, kalau nasi-kotak yang mereka peroleh tidak mengusung hidangan Minangkabau.

Hal ini membuktikan, bahwa kuliner Minangkabau secara alamiah sudah ditabalkan sebagai kiblat kuliner nusantara.

Kedua. Hidangan bebek.

Sekarang ini, sekitaran tahun 2016an, tampaknya hidangan daging bebek telah menggejala / menjadi trend di mana-mana. Di setiap restoran yang berkelas, sampai pejaja makanan di pinggir jalan, turut menyajikan hidangan daging bebek ini, dan terkhusus lagi daging bebek tersebut disajikan dengan baluran sambal ijo yang menggugah selera siapa saja.

Mari kita perhatikan. Apakah trend hidangan bebek ini sudah menggejala sejak lama? Rasanya tidak. Saya sebagai manusia yang terlahir pada tahun 1971, melihat bahwa pada tahun 70-an, 80-an, 90-an sampai menjelang 2000an, hidangan nasi bebek ini tidak / belum menggejala di tengah masyarakat Indonesia khususnya Jakarta yang beragam suku ini. Masyarakat luas kala itu hanya mengenal daging ayam yang dari kalangan unggas, lain tidak.

Saya punya kisah. Saya ingat sekali, tahun 1990-an awal, uni ipar saya, yang berasal dari Kampung Ngarai Sianok, diminta ayah saya (mertua dari uni ipar) untuk menyajikan hidangan bebek sambal ijo (bahasa Minangkabau-nya: itiak lado ijau), karena hidangan khas kampung Ngarai Sianok adalah bebek sambel ijo tersebut.

Atas permintaan ayah saya tersebut, maka sejurus kemudian uni ipar saya langsung ke dapur dan menyiapkan hidangan itiak lado ijau tersebut untuk hidangan Lebaran yang lezat. Maksud ayah saya adalah, selain ingin mencicipi lezatnya hidangan itiak lado ijau, pun juga supaya nanti para tamu melihat bahwa orang-tua kami mempunyai menantu yang berasal dari Ngarai Sianok.

Yang ingin saya katakan adalah, bahwa pada tahun 1990-an tersebut, hidangan bebek sambel ijo sama sekali tidak menjadi trend di tengah masyarakat kala itu seperti sekarang ini. Oleh karena itu, orang-orang kala itu masih merasa asing dengan hidangan yang satu ini.

Namun sekarang lain lagi kenyataannya, di mana hidangan bebek lado ijau telah menjadi hidangan publik yang paling dicari di mana-mana. Berasal dari manakah trend tersebut, kalau bukan dari ranah Minangkabau?

Tampaknya, ‘bocornya’ tradisi itiak lado ijau milik Kampung Ngarai Sianok ini ke seluruh Indonesia –khususnya Jakarta, mungkin lewat dua jalur. Pertama, dari tayangan kuliner di tivi-tivi Nasional yang, sering meliput hidangan khas dari Minangkabau daerah Ngarai Sianok ini. Kedua, tentunya, juga di berbagai restoran nasipadang yang turut menyajikan itiak lado ijau ini.

Dari kedua jalur itu, publik luas mulai melihat bahwa daging bebek juga nikmat dan pantas untuk dijadikan salah satu menu di meja makan, dan cara penyajiannya tentu saja jadi mengikuti tradisi khas Minangkabau, yaitu disajikan dengan baluran sambal lado ijo.

Kesimpulannya, publik luas secara alamiah telah berkiblat kepada Minangkabau di dalam hal hidangan itiak lado ijau ini. Dengan lain kata, kalau di mana-mana dijumpai hidangan bebek sambel ijo, maka dapat dipastikan bahwa hidangan tersebut berasal dari kearifan suku Minangkabau.

Ketiga. Citarasa pedas dan superpedas.

Siapa orang Indonesia yang tidak suka pedas? Makan mie bakso, makan mie pangsit, makan gado-gado, makan ketoprak, makan pempek, makan mie-rebus, soto mie, dsb, pasti mereka menginginkan hidangan mereka dibubuhi rasa pedas yang menggigit. Mereka makan di warteg pun juga minta untuk diberikan pedas melalui aneka sambel, dan mereka sama sekali tidak protes, kalau hidangan warteg yang mereka santap berasa pedas luar biasa. Itu menandakan bahwa orang Indonesia dengan citarasa pedas sudah menyatu …..

Ada satu hal yang harus diketahui mengenai kecintaan publik Indonesia kepada citarasa pedas ini. Saya adalah manusia yang terlahir tahun 1971, berasal dari suku Minangkabau, asli. Pada tahun 80an, juga 90an, jelas sekali bahwa publik luas (yang berarti siapa saja di luar suku Minangkabau) sangat membenci (atau tepatnya, menjauhi) citarasa pedas ini. Publik luas, yang khususnya berasal dari suku Jawa, betawi dan sunda, begitu menunjukkan ketidaksukaan mereka kepada citarasa yang pedas-pedas. Kerap mereka berkata kepada saya yang kala itu masih bocah, ‘wah kalau orang Padang sukanya yang pedes yaaa?”. Kalimat mereka itu jelas menunjukkan bahwa terdapat dikotomi adalah ‘kita’ dengan ‘mereka’. ‘Kita’ adalah publik yang tidak suka pedas, biasanya orang Jawa, sunda atau betawi, yang makannya selalu berasa manis (baik berasal dari gula pasir mau pun kecap yang dimasukkan ke dalam masakan), dan ‘mereka’, yang merupakan orang Padang yang masakannya terkenal pedas dan suka pedas. Dan kita bukanlah mereka, mereka bukanlah kita. Itu kesan kuat yang saya peroleh kala itu, yang dibedakan dari kesukaannya pada citarasa pedas ini.

Jadi kesimpulannya adalah, sebenarnya publik luas kala itu merasa bahwa citarasa pedas adalah khas milik orang Minangkabau saja, dan seolah citarasa pedas yang khas Minangkabau itu, merupakan adat orang Minangkabau, jadi orang di luar Minangkabau tidak boleh dan tidak usah ikut-ikutan makan pedas. Kalau di dalam agama, sepertinya begini: lakum dinukum waliyadin: pedas adalah milik Minangkabau saja, dan manis milik Jawa sunda betawi saja, jangan ditukar-tukar.

Tapi itu dulu. Sekarang ceritanya sudah lain, tentunya.

Sekarang di mana-mana publik terlihat keranjingan citarasa pedas, seperti yang sudah diungkapkan di atas: pangsit harus pedas, bubur ayam harus pedas, dsb. Makan gorengan pun juga harus pedas, alias si pedagang harus menyediakan cabe rawit.

Saya masih teringat apa yang terjadi ketika sudah terjadi ‘transisi pedas’ publik luas ini, dari yang antipati terhadap selera pedas menuju publik yang keranjingan selera pedas ini. Salah satu dari mereka, yang jelas dari suku Jawa, berkata kepada saya yang asli Minangkabau ini, begini katanya: emang sih orang bilang masakan Padang itu pedes, tapi kamu belum tauk, bahwa masakan kami di Jawa jauh lebih pedes. Masakan Padang pedes-nya belum seberapa kalau dibandingkan dengan pedesnya masakan kami di Jawa.

Saya tercenung dan terdiam seribu-basa demi mendengar kawan Jawa itu berkata kepada saya mengenai yang pedas-pedas. Kata-katanya tidaklah pedas, tentu saja. Namun yang jadi prihatin, lha bukankah pada tahun 80an, 90an dan agak kesini, semua orang di luar Minangkabau antipati terhadap selera pedas? Tidak jarang, kala itu, mereka berkata menghujat, bahwa citarasa pedas itu tidak sehat, bisa merusak kesehatan, mendatangkan sakit perut, buang-buang air besar, dsb. Itu adalah fakta sejarah. Tidak bisa dipungkiri.

Bukankah masakan Jawa, sunda dan betawi terkenal akan rasa manisnya, entah itu berasal dari gulapasir mau pun kecap? Namun sekarang mengapa tiba-tiba publik luar Minangkabau berkata yang seperti demikian? Bahkan, mengapa sekarang terkesan bahwa pedasnya hidangan Minangkabau itu ‘belum seberapa’ dibanding pedasnya hidangan Jawa (sunda atau betawi dsb)? Saya dan siapa pun tidak boleh lupa, bahwa pada masa lalu bukankah justru orang Jawa, sunda, betawi dsb itulah yang antipedas, dan hidangan mereka selalu terasa manis? Mengapa sekarang terbalik?

Sejarah tidak boleh dipelintir, toh? Faktanya, pada masa lalu, hanya orang Minangkabau yang menikmati kuliner superpedas. Dan fakta berikutnya: orang di luar Minangkabau, seperti Jawa, sunda, betawi dsb, antipati terhadap citarasa pedas. Fakta ketiga: orang Jawa, sunda, betawi dsb, setia kepada kuliner mereka yang serba manis, semuanya harus manis.

Terlepas dari adu-klaim pedas ini, ada satu hal yang patut untuk diketengahkan. Secara alamiah, proses ini sebenarnya menunjukkan bahwa Minangkabau adalah kiblatnya nusantara, khususnya di dalam hal citarasa superpedas. Sekarang publik luas berlomba-lomba menikmati yang pedas-pedas, seolah mereka adalah orang Minangkabau sendiri. Walau pun juga harus dikatakan, bahwa bolehlah mereka berkiblat kepada citarasa pedas khas Minangkabau, namun mengapa caranya seperti itu, dengan adu-klaim bahwa justru pedasnya Minangkabau jauh kalah dibanding pedasnya masakan mereka? Sportif-lah sedikit. Hahahaha ….

Keempat. Sambel ijo.

Apa yang terbayang saat mendengar kata sambel ijo? Ya, restoran nasipadang.

Sambel ijo, atau di dalam lidah Minangkabau adalah lado hijau, adalah sambel khas Minangkabau, yang di dalam kasus tertentu, merupakan bumbu untuk hidangan daging bebek khas Kampung Ngarai Sianok.

Orang Minangkabau di dalam hal pedas memang keterlaluan. Bukan cabe merah saja yang mereka jadikan sambel, namun cabe hijau pun juga mereka jadikan bahan sambel, maka jadilah sambel hijau, yang pedasnya luar biasa sehingga membuat batok kepala penikmatnya keringatan tidak karukaruan.

Menarik sekali, bahwa ternyata sambel ijo ini pun juga sudah di-adopsi oleh kuliner di luar lingkungan Minangkabau. Jadi dengan kata lain, hidangan di luar Minangkabau juga menyediakan dan menikmati sambel ijo ini. Tidak jarang terdapat restoran bebek, yang jelas bukan restoran nasipadang, menyajikan bebek dengan sambel ijo ini, jadi seolah bebek dengan sambel ijo sebenarnya bukanlah khas Minangkabau, karena daerah lain juga punya. Wah luar biasa!

Ini menunjukkan, untuk urusan sambel ijo pun, Minangkabau adalah kiblatnya. Logikanya saja, apakah benar sudah sejak dahulu orang Jawa atau sunda atau betawi sudah menyukai sambel ijo? Mana mungkin? Bukankah justru pada masa bahela, mereka-mereka ini adalah masyarakat yang anti-pedas? Jangankan sambel ijo, sambel ‘normal’ saja mereka ketakutan, kala itu? Namun sekarang mengapa berbeda? Sekarang semua orang tanpa pandang suku mau pun daerah berlomba-lomba menikmati dan membuat sambel ijo ini. Ya, ini berarti Minangkabau adalah kiblat nusantara di dalam hal sambel ijo.

Kelima. Hajatan pernikahan.

Setiap hajatan / resepsi pernikahan, pastilah resepsi tersebut dikemas di dalam tradisi dan adat sang hajatan, misalnya orang Jawa maka resepsinya menurut adat lembaga Jawa, dsb. Jadi, ada hubungan yang kuat antara hajatan pernikahan dengan penggelaran adat dan tradisi leluhur.

Saya masih ingat, bahwa di tahun 80an (apalagi hitung mundurnya), publik Indonesia sama sekali tidak pernah menghubungkan antara hajatan nikah dengan adat dan tradisi leluhur. Kala itu, setiap ada resepsi nikah, selalu digelar di dalam acara kumpul-kumpul biasa, di mana pengantin didudukkan berduaan, didandani seadanya. Praktis tidak ada kesan kedaerahan sama sekali, apakah daerah Jawa, atau betawi, sunda, dsb. Pun juga tidak ada musik-musik kedaerahan. Jadi dengan kata lain, mereka kala itu tidak pernah menghubungkan antara resepsi nikah dengan gelar adat leluhur.

Namun berbeda dengan suku Minangkabau. Keluarga saya, di tahun 1979 menggelar resepsi nikah abang sulung kami, di rumah, dengan menggelar adat dan tradisi Minangkabau tentunya. Satu set pelaminan khas Minangkabau dipasang di ruang tamu, suatu set pelaminan yang megah nan anggun, dominasi merah beludru nan menyala-nyala, diapit banta-gadang di kiri-kanan kursi peraduan pengantin, begitu permai-nya. Tidak lama pengantin pun datang, di mana pengantin perempuan mengenakan suntiang-gadang yang megah, dan pengantin laki-laki bertongkat begitu gagahnya.

Itu adalah sekedar contoh, bahwa masyarakat Minangkabau sejak dulu sudah menggabungkan antara resepsi nikah dengan penggelaran adat dan tradisi leluhur, sementara di luar Minangkabau, hal tersebut tidak ada. Para undangan kami, yang non-Minangkabau, terheran-heran melihat bagaimana kami menggelar resepsi nikah tersebut yang digabungkan dengan penggelaran adat ini.

Saya masih menyimpan foto-foto pernikahan kenalan saya pada tahun-tahun masa lalu yang berasal non-Minangkabau. Tampak sekali bahwa resepsi nikah mereka sama sekali tidak diwujudkan di dalam adat dan tradisi leluhur. Jadinya pelaminan mereka hanya sebatas dinding yang diselubung kelambu –entah apa itu namanya, kemudian diterakan tulisan “Mohon doa restu”. Itu saja. Sementara pengantinnya cukup hanya mengenaian baju kemeja untuk pria, dan perempuan mengenakan kebaya sehari-hari dengan rambut yang disanggul dan sedikit makeup. Tidak lebih.

Namun itu dulu, dan sekarang sudah lain.

Sekarang, setiap resepsi nikah, yang berbasis daerah mana saja, pasti diwujudkan di dalam bentuk adat dan tradisi leluhur. Orang Jawa akan menggelar resepsi nikah sesuai dengan tradisi Jawa, orang sunda akan menggelarnya dengan tradisi sunda, dst.

Sampai pada level ini, saya mempunyai keberanian untuk menyatakan, bahwa kecenderungan publik luas untuk menggelar resepsi nikah berbalut nuansa kedaerahan, sebenarnya berasal dari dan meniru kebiasaan orang Minangkabau. Jadi dengan kata lain, kebiasaan orang Minangkabau yang menggelar resepsi nikah yang berbalut tradisi kedaerahan, telah membuka mata dan fikiran saudara-saudara dari suku lain, untuk memahami, bahwa tidak salah kalau menggelar resepsi nikah dengan berbalut nuansa daerah.

Penekanannya adalah pada pelaminan, seperti ornamen, dominasi warna, atap-atap, kursi pengantin, dsb. Pada masa dahulu, hanya keluarga suku Minangkabau saja yang men-set pelaminan untuk pernikahan anak-anak mereka menurut nuansa Minangkabau. Sementara di luar suku Minangkabau, pelaminan ditata secara datar-datar saja, jauh dari kesan kedaerahan atau kesukuan mana pun. Dan ternyata, kebiasaan keluarga Minangkabau inilah yang di-adopsi oleh keluarga dari suku lain.

Saya sebagai orang Minangkabau asli, terheran-heran ketika menghadiri resepsi nikah kenalan yang berasal dari luar Sumatera. Pelaminan mereka, seratus-persen mirip pelaminan Minangkabau, lengkap dengan ornamen-ornamen uniknya. Belum lagi dengan dominasi warna yang betul-betul mirip pelaminan Minangkabau.

Pada setting pelaminan Minangkabau, biasanya terdapat ornamen gantungan yang sekilas tampak seperti sehelai dasi, biasanya berbahan beludru, berwarna merah, hijau, hitam, hijau dsb. Dan dasi-dasi tersebut biasanya diberi hiasan tepi seperti jurai-jurai yang senantiasa bergoyang-goyang. Nah ornamen yang berbentuk seperti dasi ini, digantung di dalam jumlah banyak pada atap-atap pelaminan, sehingga pelaminan terkesan begitu ramai dan semarak.

Unik sekali, bahwa pelaminan kawan saya ini mempunyai keseluruhan hal tersebut, padahal jelas kawan saya ini bukan orang Minangkabau, pun pelaminannya juga bukan pelaminan Minangkabau. Begitu juga dengan kelambu sebagai latar belakang pelaminan, juga berciri khas Minangkabau. Kelambu yang dimaksud di sini adalah, seperti sprei, kain lebar dan luas, yang mana kain ini terbuat dari beludru, kemudian di atasnya disulamkan motif2 bunga atau lainnya dengan menggunakan benang emas. Sungguh itu adalah ciri-khas Minangkabau.

Yang membedakan pelaminan tersebut dari pelaminan Minangkabau hanya terletak pada ketiadaan gonjong dan banta-gadang, karena kedua hal tersebut murni berkesan Minangkabau. Di luar itu, semua mengkopi-paste habis khasanah pelaminan Minangkabau.

Maka dari point ini, saya mempunyai keberanian untuk menyatakan, bahwa setting pelaminan menurut nuansa kedaerahan dari sang pengantin, adalah berkiblat kepada suku Minangkabau, karena pada masa awal, keluarga di luar Minangkabau tidak pernah berbuat demikian. Bahkan bisa dikatakan, bahwa saudara-saudara dari daerah lain pun ikut mengkopi-paste nuansa pelaminan Minangkabau secara totalitas, mulai dari motif sulaman benang emas, ornamen gantungan di atap-atap pelaminan, dominasi warna, dsb, adalah murni berkiblat kepada Minangkabau.

Jadi, yang di-kopas dari suku Minangkabau ada dua hal. Pertama, menghubungkan antara resepsi nikah dengan penggelaran adat kedaerahan. Kedua, mengkopas habis-habisan seluruh ornamen pelaminan bergaya Minangkabau kepada pelaminan suku lainnya.

Mudah-mudahan saya tidak salah.

Keenam. Balado vs asampadeh.

Siapa yang tidak kenal istilah balado, dan juga asampadeh? Semua ibu-ibu khususnya di Jakarta pasti sudah mengenal kedua istilah ini, yang sejatinya berasal dari Minangkabau.

Balado adalah teknik memasak, yang pada intinya adalah, membuat masakan yang digoreng (seperti telur yang digoreng, tempe / tahu yang digoreng, ikan yang digoreng, dsb) dibaluri cabe giling, caranya dengan dimasak lagi dengan menggunakan minyak goreng, sehingga antara masakan yang digoreng itu dengan cabe giling, menjadi satu kesatuan dengan sempurna.

Sementara itu, asampadeh adalah paket bumbu yang biasanya digunakan untuk mengolah dan menyajikan hidangan ikan, dan kemudian diberikan rasa asam, mungkin dari asam Jawa mau pun dari asam kandis.

Tidak pelak lagi, kedua istilah (teknik mau pun bumbu) tersebut berasal dari Minangkabau, dan penggunaan balado mau pun asampadeh ini sudah benar-benar meluas di tengah masyarakat Indonesia. Lihat saja, di seluruh warteg sudah tersedia hidangan dengan embel-embel kata balado ini, seperti telur balado, ikan goreng balado, cumi balado, tahu balado, dsb.

Di-adopsinya teknik balado ini oleh orang luar Minangkabau, sebenarnya seiring dengan di-adopsi-nya juga selera citarasa pedas, karena balado sudah pasti berasa pedas. Kalau publik luas di luar Minangkabau sudah keranjingan citarasa pedas yang berasal dari suku Minangkabau, maka mau-tidak-mau teknik balado menjadi kelumrahan juga. Semakin pedas balado-nya, semakin enak, itu kata mereka.

Hal ini benar-benar menunjukkan, bahwa Minangkabau adalah kiblat kuliner Indonesia.

Ketujuh. Kecap pemanis vs citarasa pedas.

Di tahun 70-an, 80-an, dan 90-an, saya / kita masih ingat bahwa publik luas di luar Minangkabau (seperti orang Jawa, sunda, betawi dsb) tidak bisa jauh dari kecap pemanis untuk kuliner mereka, yang mana ini berarti kebutuhan kecap begitu tinggi di tengah masyarakat. Pun setiap rumah dan keluarga kala itu, pasti selalu tersedia kecap manis, karena citarasa manis merupakan satu-satunya kelumrahan. Ini artinya, penjual dan pedagang kecap pasti kayaraya, karena dagangan mereka selalu diburu habis oleh publik luas tersebut.

Namun apakah sekarang keadaannya masih seperti demikian? Saya rasa tidak. Coba perhatikan di warteg. Bukankah kebanyakan hidangan yang mereka sajikan sudah didominasi citarasa pedas? Dan bukankah citarasa pedas sejatinya berasal dari suku Minangkabau?

Sekarang kepopuleran kecap pemanis tampaknya sudah tergeser secara signifikan oleh dominasi citarasa pedas, sehingga bisa dikatakan bahwa ‘peran’ kecap hanya sebatas pelengkap kecil saja. Dengan demikian nasib kecap sudah benar-benar jungkir-balik, tidak seperti puluhan tahun yang lalu: kecap dijungkir-balikkan oleh citarasa pedas-nya Minangkabau ini. Sebagai perbandingan saja, coba perhatikan warung mie-rebus. Di meja makannya, disediakan baik botol kecap dan juga botol saus pedas. Manakah yang paling banyak diambil oleh pelanggan?

Ya, benar sekali. Kebanyakan bahkan seluruh pelanggan justru hanya melirik ke botol saus pedas ini, dan kemudian membubuhi mie-rebus mereka dengan saus pedas ini banyak-banyak. Sementara kecap? Tidak dilirik sama sekali. Kecap benar-benar sudah tidak dilirik lagi.

Apalagi dengan populernya konsep balado dari Minangkabau, semakin menjungkalkan kesaktian kecap. Jadi dengan di-adopsinya citarasa pedas dan balado-nya, maka dominasi kecap sebagai pemanis mulai bergeser secara signifikan.

Hal ini menunjukkan, bahwa tampaknya, publik telah ‘insaf’, bahwa kuliner yang nikmat dan ‘waras’ itu adalah kuliner yang pedas, bahkan superpedas, bukannya yang serba manis. Buktinya, kecap sekarang sudah mulai ditinggalkan. Dan ini berarti, tampaknya publik sudah merasa bahwa kalau pada masa lalu mereka keranjingan kecap, maka itu adalah suatu ‘kesalahan’. Dan satu-satunya hal yang membuat mereka menyadari kesalahan itu adalah, kehadiran perantau Minangkabau yang memperkenalkan citarasa pedas ini.

Intinya, jaman sekarang ini, kalau orang Minangkabau pergi ke mana pun, dia tidak usah khawatir lagi, karena kemana pun ia pergi, makanan dengan citarasa pedas selalu tersedia di warung makan mana pun …..

Minangkabau memang benar-benar kiblat nusantara, khususnya di dalam hal kuliner. Sekarang sudah bisa dikatakan, bahwa tidak ada lagi bedanya antara orang Minangkabau dengan non-Minangkabau, karena hidangan dan kegemaran makan mereka sama, yaitu sama-sama doyan pedas, bukan manis, seperti tempo hari itu.

Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s