Hikayat Datuk Nyato Dirajo Diplomat Ulung Kampar Kiri

kamparkiri

Datuk Nyato Dirajo adalah pucuk rantau Negeri Domo Kekhalifaan Kuntu. Pada masa kurun abad ke 16 Masehi pucuk Rantau Negeri Domo bernama Datuk Andomo. Pada masa ini Datuk-datuk Serantau Kampar Kiri sudah bersepakat untuk berdiri sendiri dalam wadah suatu kerajaan. Setelah kesepakatan dibuat maka para datuk bersepakat untuk meminta seorang anak Raja Asli dari Raja Pagaruyung untuk dirajakan di rantau Kampar Kiri.

Maka Datuk Sanjayo, Penjaga Batas Rantau Kampar Kiri, menjadi delegasi dari Luak Subayang untuk menghadap ke Istana raja Pagaruyung. Setiba di istana raja maka disampaikanlah maksud dan tujuan kedatangan kedua bangsawan Kampar Kiri ini, yaitu untuk meminta seorang anak raja yang asli keturunan Daulat Raja Pagaruyung, di mana anak tersebut akan menjadi “Bijo” atau cikal Raja bagi kerajaan Gunung Sailan.

Setelah mendengar maksud kedatangan delegasi Pembesar Rantau Kampar Kiri yang dikepalai Maka Datuk Sanjayo, Penjaga Batas Rantau Kampar Kiri, Maka Raja Pagaruyung kemudian mengiyakan dan merestui keinginan Datuk-datuk dari Kampar Kiri tersebut.

Adapun mengenai permintaan untuk membawa seorang anak raja yang asli (laki-Laki) ke Rantau Kampar Kiri, Raja Pagaruyung waktu itu juga memberikan restunya, silakan ambil dan bawalah ke Kampar Kiri. Kemudian Raja Pagaruyung menunjuk kepada halaman istana Pagaruyung waktu itu dan berkata “di sana ada sekumpulan anak-anak raja Pagaruyuag, ambillah satu dan bawalah ke Negeri Tuan-tuan.

Menurut hikayat para tetua adat, pada waktu itu di halaman istana ada sekitar 40 orang anak laki-laki yang sedang bermain, maka Raja Pagaruyung mempersilakan untuk mencari dan memilih sendiri anak mana yang disukai oleh para Datuk untuk dijadikan Raja di Kampar Kiri. Melihat kesempatan ini maka Datuk Besar ketua delegasi Masyarakat Kampar Kiri memilih seorang anak Raja yang paling bagus dan elok raut mukanya.

Anak tersebut diambil lalu dibawa ke Rantau Kampar Kiri, lalu di dudukkan di atas tahta di Negeri Gunung Sailan. Sebelum dinobatkan menjadi Raja, maka anak raja yang dijemput tadi dilakukan upacara sembah raja, di mana seluruh Datuk pembesar rantau menyembah anak raja tersebut, sebagai wujud Baiat mereka atas kepemimpinan Raja baru.

Akan tetapi setelah dilakukan upacara sembah Raja, Sang Anak Bijo Raja tersebut tiba-tiba sakit, tidak beberapa lama kemudian sang anak meninggal dunia. Kejadian ini membuat gempar Rakyat serantau Kampar Kiri, di mana raja yang dijemput ke Pagaruyung tiba-tiba wafat tak tahan sembah.

Maka bermusyarahlah kembali para datuk Pembesar Rantau di mana dalam Musyawarah itu didapat kata sepakat bahwa jika anak Raja tersebut wafat tak tahan sembah, berarti anak tersebut bukan anak raja yang asli dari kerajaan Pagaruyung.

Diutuslah delegasi kedua yang dikepalai oleh Datuk Singo Rajo Babandiang kembali menghadap Raja Daulat Pagaruyung, dengan maksud yang sama yakni meminta anak raja yang asli untuk dijadikan raja di Gunung Sailan. Setiba di istana Raja Pagaruyung jawaban Raja tetap sama yakni silahkan dipilih dari sekumpulan anak raja Pagaruyung yang ada.

Kemudian Datuk Godang kembali memilih seorang anak yang menurut hemat dan pertimbangan beliau ini adalah anak raja yang asli. Setelah dapat maka dibawalah ke Rantau Kampar Kiri, sebelum sampai di Gunung Sailan di suatu tempat maka berhentilah Datuk Singo Rajo Babandiang dan pengiringnya dan kemudian menghampiri sang Raja Muda Pagaruyung tersebut, kemudian bertanya apakah tuan muda adalah anak raja Pagaruyung ….? Sang anak mengangguk. Lalu Datuk Singo Rajo Babandiang kembali memastikan agar kejadian pertama tidak terulang, apakah Tuan Muda, benar-benar anak Raja asli / kontan raja Pagaruyung.

Mendengar pertanyaan tersebut maka Tuan Muda dari Pagaruyung ini kemudian menggeleng. Mendengar jawaban sang Tuan Muda dari Pagaruyung maka bingunglah Datuk Singo Rajo Babandiang, maka tuan Muda ini diberi gelar “ Rajo Ongguak –Geleng”.

Untuk memastikan bahwa anak ini bisa dijadikan Raja di Kampar Kiri, maka diadakanlah kembali upacara “sembah Raja” jika benar dia anak Raja asli Pagaruyung pasti tahan sembah, kata sang Datuk. Setelah upacara sembah raja, tidak berapa lama sang tuan muda menderita sakit perut, tidak lama kemudian tuan Muda dari Pagaruyung ini juga meninggal dunia. Bertambah bingunglah para pembesar Rantau Kampar Kiri, dua kali menjemput Raja, kedua-duanya berakhir dengan kegagalan.

Dengan tekad bulan, sekali layar terkembang, pantang surut kebelakang, maka diadakan musyawarah kembali dan dibentuklah delegasi ketiga. Untuk memimpin delegasi ketiga ini kemudian diserahkan kepada Datuk Andomo, yakni pucuk Rantau Negeri Domo, Kekhalifaan Kuntu.

Berangkatlah sang Datuk pembesar rantau Kampar Kiri ini kembali ke Istana Raja Pagaruyung dengan tekad mendapatkan seorang anak Raja yang asli keturunan Raja Pagaruyung. Setelah sampai di Pagaruyung, sang Datuk Andomo tidak langsung ke istana Raja, tetapi sang datuk pergi ke pasar dan membeli setandan pisang. Lalu dipikullah pisang tersebut ke istana Raja Pagaruyung.

Setelah tiba di halaman istana, maka dipanggillah semua anak-anak yang bermain di halaman istana dan diberikan pisang (diumbuok dengan pisang). Anak-anak kemudian ramai berebut pisang sang datuk, sambil membagikan pisang sang datuk mengajukan pertanyaan kepada anak-anak tersebut, mana anak raja Pagaruyung yang sebenarnya. Anak-anak tersebut dengan polosnya menunjuk kepada seorang anak laki-laki yang sedang duduk di pinggir halaman istana. Anak tersebut tidak ikut berebut pisang sang datuk.

Datuk Andomo memperhatikan gaya anak-anak istana ini memakan pisang, ada yang langsung dibuka dan dibuang kulitnya. Kemudian buah pisang langsung dimakan oleh anak-anak tersebut, beragam cara memakan pisang anak-anak istana ini.

Kemudian sang datuk mendatangi anak yang duduk di pinggir halaman dan memperhatikan sang anak. Secara lahiriah sang anak terkesan biasa-biasa saja, bahkan dilihat dari kulit sang anak berwarna agak hitam dan rupa yang tidak terlalu tampan. Secara lahiriah tentu sang Datuk tidak begitu yakin jika sang anak ini Tuan Muda yang sebenarnya dari kerajaan Pagaruyung. Sang Datuk Andomo kemudian mempersembahkan buah pisang yang dibawanya kepada tuan muda Pagaruyung ini.

Pemberian sang datuk diterima oleh si anak. Kemudian sang tuan muda ini membuka kulit pisang selembar demi selembar dan menyisahkan bahagian bawahnya, karena bagian bawah itu adalah tempat untuk memakan pisang secara berlahan. Cara ini disebut dengan tatacara santap istana yakni disebut “Kubak Ajo”.

Melihat tatakrama sang tuan muda Pagaruyung ini maka yakinlah sang Datuk Kampar Kiri bahwa memang tuan bujang hitam inilah anak Raja yang asli dari Dinasti Raja Pagaruyung.

Kemudian sang Datuk Kampar Kiri ini, kembali menemui Raja Pagaruyung dengan tujuan yang sama dengan dua delegasi terdahulu yakni untuk meminta seorang anak raja yang asli keturunan langsung dari Raja Pagaruyung untuk dirajakan di Kampar Kiri. Sebagaimana jawaban terdahulu seperti itulah jawaban Raja Pagaruyung yakni mempersilahkan Datuk Andomo untuk memilih seorang anak dari halaman istana Pagaruyung.

Dengan diberikan izin tersebut, dengan cekatan Datuk Andomo bergerak menuju tuan Muda Hitam tersebut mengapit tangannya dan membawa si anak ke hadapan Raja Pagaruyung, sambil berkata bahwa dia akan membawa anak ini ke Gunung Sailan untuk dijadikan Raja di kampar Kiri.

Melihat kejadian ini maka terkejutlah sang Raja Pagaruyung, melihat anak laki-laki satu satunya sudah berada dalam gengaman tangan Datuk Andomo dari Kampar Kiri. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, kata izin telah keluar dari mulut Tuanku Raja, tentu pantang untuk menjilat ludah yang telah terlanjur dibuang. Maka Sang Raja mengiyakan permintaan Datuk Andomo dari Kampar Kiri.

Kemudian setelah semua perlengkapan sudah siap di depan Istana Pagaruyung maka Datuk Andomo akan turun dari istana Pagaruyung membawa sang Tuan Muda untuk dijadikan Raja di Rantau. Melihat kejadian tersebut terseraklah tangis di tengah istana, di mana ibu sang Raja Bujang menangis meraung menyaksikan putra tunggalnya di jemput terbawa oleh Datuk-datuk dari Kampar Kiri.

Melihat kejadian tersebut bertambah yakinlah Sang Datuk Andomo bahwa yang terbawa adalah Anak Raja Asli Pagaruyung. Dengan senyum kemenangan Sang Datuk Andomo meninggalkan Istana Pagaruyung kembali Ke Gunung Sailan.

Setiba di Gunung Sailan Kampar Kiri, segeralah diadakan acara Nobat Raja melalui acara sembah Raja dan pembacaan Sumpah setia di Muarabio tepatnya di pulau Angkako. Jadilah Tuan Bujang Pagaruyung sebagai Raja Pertama Kerajaan Gunung Sailan Kampar Kiri.

Kecerdikan Datuk Andomo dalam bersiasat untuk mendapatkan anak raja yang asli dari Pagaruyung ini menjadi legenda turun temurun di Rantau Kampar Kiri, sehingga Datuk Andomo pucuk Rantau Negeri Domo memperoleh kehormatan sebagai orang Besar Raja Gunung Sailan dengan gelar Datuk Nyato Dirajo.

http://rantaukamparkiriculturecenter.blogspot.co.id/2016/04/hikayat-datuk-nyato-dirajodiplomat.html?m=1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s