Bangunan Tua Minangkabau Pewaris Sriwijaya Yang Kaya Budaya

Minangkabau tanah subur dan makmur yang mewarisi kejayaan kuno Sriwijaya dan Pagaruyung. Hampir semua orang tahu bagaimana Sriwijaya tumbuh menjadi kekuatan besar yang membuat gentar negeri-negeri tetangganya. Begitu juga pada masa setelahnya ketika Kerajaan Pagaruyung berdiri. Hingga saat ini, sisa-sisa peninggalan masa silam masih ada yang bisa dinikmati dan akan membuat anganmu melayang ke masa lampau di mana zaman masih belum seperti sekarang.

Selain peninggalan Sriwijaya maupun Pagaruyung, Kawasan Suku Minangkabau yang meliputi daratan Sumatera Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pantai barat Sumatera Utara, barat daya Aceh, hingga Negeri Sembilan di Malaysia juga menyimpan bangunan-bangunan tua lain yang sangat bernilai sebagai saksi bisu perjalanan panjang Tanah Minang hingga sekarang menjadi bagian dari Nusantara. Penasaran bangunan apa saja yang memiliki riwayat sejarah di Minangkabau? Berikut ini ulasan selengkapnya

Istano Silinduang Bulan

Layaknya kerajaan pada umumnya, Dinasti pendiri Pagaruyung juga memiliki pusat pemerintahan dan tinggal di istana. Salah satu bangunan istana yang menunjukkan jejak kejayaan Pagaruyung adalah Istana Silinduang Bulan. Sebenarnya ada satu lagi istana utama bernama Istana Basa, namun bangunan aslinya telah habis terbakar dan yang berdiri saat ini adalah replikanya. Istana Silinduang Bulan letaknya berdekatan dengan Istana Basa, tepatnya di kawasan Batusangkar, Sumatera Barat.

Istana-Silinduang-Bulan

Istana berbentuk bangunan Rumah Gadang yang khas. Di dalamnya kamu akan menemukan berbagai koleksi kerajaan yang berhasil di selamatkan dari bencana kebakaran. Musibah tersebut sempat  melahap habis bangunan istana. Terakhir Istana Slinduang Bulan mengalami kebakaran pada tahun 2010.

Rumah Gadang Mande Rubiah

Rumah Gadang adalah bangunan adat yang saat ini tetap dilestarikan dan menjadi kebanggaan masyarakat Minangkabau. Selain Istana Kerajaan Pagaruyung, ada satu lagi bangunan yang dipercaya dulunya difungsikan sebagai istana oleh Mande Rubiah, yaitu anggota Kerajaan Pagaruyung yang melarikan diri ke daerah Lunang, kawasan yang saat ini adalah bagian dari  Kecamatan Pancung Soal, Kabupaten Pesisir Selatan.

Rumah-Mande-Rubiah

Bangunan Rumah Gadang Mande Rubiah diperkirakan sudah ada sejak abad 14 hingga 15 Masehi. Karena memiliki nilai sejarah yang berharga, pihak pemerintah membuka Rumah Gadang Lunang Sebagai Museum dan tempat wisata .  Bangunan rumah kental dengan corak pesisir dan di dalamnya tersimpan beberapa benda penting yang berhubungan dengan sejarah Minangkabau dan masyarakat Lunang.

Benteng Fort de Kock

Setelah kejatuhan kerajaan-kerajaan di tanah Minang, bumi Nusantara termasuk juga Sumatera dikuasai oleh penjajah. Bangsa asing itu begitu kuat menancapkan pengaruhnya demi bisa meraup keuntungan dan memanfaatkan penduduk pribumi. Saat itu, Minangkabau adalah daratan penting yang menyuguhkan hasil alam yang melimpah, mulai dari tambang hingga perkebunan. Alhasil, untuk mempertahankan keberadaannya, Belanda membangun beberapa sarana. Mulai dari benteng hingga kantor dagang. Salah satu benteng peninggalan Belanda yang bisa dikunjungi sebagai tempat wisata adalah Fort de Kock.

Benteng-Fort-de-Kock

Bangunan tua khas Eropa tersebut sudah ada sejak tahun 1825. Pendirinya adalah Kapten Bouer. Keberadaan benteng ini sangat penting bagi Belanda setelah meletus Perang Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol sekitar tahun 1821-1837. Kamu bisa menikmati bangunan tua tersebut dengan datang ke lokasi yang berada di Jl. Yos Sudarso, Benteng Ps. Atas, Guguk Panjang, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Ada beberapa Meriam dan peninggalan penjajah yang berhasil di selamatkan dan melengkapi koleksi Benteng Fort De Kock.

Masjid Tuo Kayu Jao

Masyarakat suku Minangkabau sangat kental dengan Islam. Bahkan dalam menjalankan hukum adatnya juga berdasar aturan Islam. Itulah mengapa ada banyak sekali masjid-masjid yang berusia tua. Salah satunya adalah Masjid Tuo Kayu Jao yang berada di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Bangunan masjid mirip dengan  yang ada di Demak. Namun masih tetap memunculkan ciri khas Minang. Tentu saja sampai sekarang Masjid Tuo kayu Jao telah mengalami beberapa perbaikan. Namun masih ada beberapa bagian yang asli. Diperkirakan tempat ibadah tersebut telah berusia sekitar 400 tahun.

Masjid-Tuo-Kayu-Jao

Bentuk asli bisa dilihat dari atap Masjid yang masih menggunakan Ijuk. Bedug dan Mihrab di dalam masjid juga merupakan peninggalan sejarah yang sangat berharga dan masih utuh hingga saat ini.  Selain Masjid Tuo Kayu Jao  masih ada beberapa bangunan masjid lain yang memiliki nuansa sejarah karena sudah ada sejak zaman dulu. Sebut saja Masjid Tuanku Pamansiangan, Masjid Taluak,  Masjid Tuo Koto Baru, Surau Atap Ijuk Sicincin, hingga Surau Lubuk Bauk.

Jam Gadang

Jam Gadang adalah bangunan ikonik kebanggaan Masyarakat Sumatera barat. Bangunannya menjulang tinggi dengan bagian puncak memiliki atap khas Rumah Gadang. Letaknya ada di Bukittinggi. Tepatnya ada di Bukit Kandang Kerbau. Kamu bisa masuk ke dalam dan menuju ruangan yang ada di puncak menara sambil menyaksikan pemandangan Kota Bukittinggi dari ketinggian.

Jam-Gadang-e1470990462109

Jam Gadang dibuat pada masa Pemerintahan Belanda tahun 1827. Uniknya, Jam Gadang memiliki mesin yang sama dengan jam di Menara Big Ben, London. Dari atas menara pemandangan yang bisa kamu nikmati meliputi Gunung Merapi, Gunung Singgalang, Gunung Sago dan Ngarai Sianok.

Itulah beberapa bangunan tua di Minangkabau yang dibuka sebagai tempat wisata. Selain itu, ada beberapa bangunan kuno lain yang saat ini difungsikan sebagai kantor perusahaan. Misalnya saja Kantor PT Bukit Asam, dan Gedung Pegadaian yang  dulunya digunakan sebagai tempat pertunjukkan.

Sumber: https://travelingyuk.com/bangunan-tua-minangkabau/18871/

Advertisements

Satu Lagi Bukti Siwijaya Adalah Kerajaan Minangkabau

runtuhnya-kerajaan

Terdapat banyak indikasi, bukti, dan juga logika, yang dapat mengarahkan kita untuk berkeyakinan bahwa Kerajaan Siwijaya merupakan Kerajaan milik persukuan Minangkabau yang mendiami alam Sumatera Tengah. Prasasti kedukan bukit telah dengan sendirinya menjadi bukti dan pernyataan dari Dapunta Hyang sendiri bahwa Kerajaan Siwijaya merupakan Kerajaan yang diperintah oleh orang-orang dari persukuan Minangkabau. Memang benar bahwa Kerajaan Siwijaya berlokasi di Palembang, Sumatera selatan, menurut pendapat beberapa ahli, namun hal tersebut tidak otomatis berarti bahwa Kerajaan maritim tersebut diperintah oleh orang Palembang sendiri, melainkan diperintah oleh orang Minangkabau.

Paragraph ilmiah di bawah ini yang berasal dari situs Wikipedia, benar-benar menjadi bukti bahwa Kerajaan Siwijaya adalah Kerajaan maritim di Palembang, yang pada mulanya diperintah oleh orang dari persukuan Palembang, akhirnya diambil alih dan diperintah oleh orang dari persukuan Minangkabau, tepatnya dari Kerajaan yang bertapak di Jambi, Sumatra Tengah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pada akhirnya Kerajaan Siwijaya diperintah dan dibesarkan oleh orang-orang dari persukuan Minangkabau – Jambi.

Dan tampak sekali, bahwa keakuratan dari paparan Wikipedia ini benar-benar kuat, sehingga tidak bisa lagi dibantah bahwa memang benar Kerajaan Siwijaya adalah milik orang dari persukuan Minangkabau – Jambi. Demikian Wikipedia menulis,

Tahun 500 M Pulau Sumatera dikuasai dua Kerajaan kuat, yaitu Kerajaan Pali (Utara) dan Kerajaan Melayu Sribuja (di timur) yang beribukota Palembang. Sedangkan Kerajaan Siwijaya baru merupakan Kerajaan kecil di Jambi. Tahun 676 M Kerajaan Pali dan Mahasin (Singapura) ditaklukan Siwijaya. Tahun 683 M, Kerajaan Siwijaya berhasil menaklukan Kerajaan Melayu. Ekspansi Siwijaya terhadap Kerajaan Melayu yang masih memiliki kekerabatan dengan Kalingga tentu sangat mengganggu hubungan dengan Kalingga. Maka, Siwijaya mencoba mencairkan hubungan dengan Kerajaan Sunda dan Kalingga. Langkah diplomatik dilakukan antara Kerajaan Siwijaya dengan Kerajaan Sunda yang sama-sama, sebagai menantu Maharaja Linggawarman dalam sebuah prasasti yang ditulis dalam dua bahasa, Melayu dan Sunda, jalinan persaudaraan dan persahabatan kemudian dikenal dengan istilah Mitra Pasamayan (inti isi perjanjiannya, untuk tidak saling menyerang dan harus saling membantu).

Sumber, https://id.wikipedia.org/wiki/Ratu_Shima …… Diakses tanggal 12 November 2017.

Paparan Wikipedia tersebut memaparkan, bahwa nama Kerajaan yang bertapak di Palembang pada mulanya adalah Kerajaan Melayu Sribuja, bukan Siwijaya. Namun di suatu tempat di Sumatra Tengah, yaitu di Jambi, terdapat Kerajaan yang bernama Siwijaya. Jadi, Siwijaya adalah nama Kerajaan yang bertapak di Sumatra Tengah, murni milik orang dari persukuan Minangkabau – Jambi.

Kemudian, Kerajaan Siwijaya Jambi yang masih kecil ini, lambat laun memperlihatkan keperkasaannya, dengan menganeksasi Kerajaan lain yaitu Kerajaan Pali dan Kerajaan Mahasin Singapura. Setelah sukses menaklukkan kedua Kerajaan tersebut, Kerajaan Siwijaya Jambi ini melanjutkan keperkasaannya dengan menaklukkan Kerajaan Sribuja Palembang, dan kemudian mengganti namanya, dari Kerajaan Sribuja menjadi Kerajaan Siwijaya.

Secara logika, pastilah orang-orang dari Kerajaan Siwijaya Jambi ini, yang telah sukses menguasai Kerajaan sribuja Palembang, mengganti orang-orang Palembang dengan orang-orang dari Jambi / Minangkabau, sehingga Kerajaan Siwijaya Palembang (yang semula Kerajaan Sribuja Palembang) seutuhnya dipegang oleh orang-orang Jambi / Minangkabau.

Pada akhirnya, paragraph kecil dari paparan Wikipedia ini menjadi kata kunci yang menuntaskan silang pendapat, bahwa terbukti sudah bahwa Kerajaan maritim Siwijaya Palembang benar-benar Kerajaan yang dikuasai orang-orang dari persukuan Sumatra Tengah, dalam hal ini orang Jambi – Minangkabau.

Catatan,

“ ……. bahwa penumpasan PRRI dibarengi dengan pemecahan provinsi Sumatera Tengah menjadi tiga, yaitu Riau, Sumatera Barat, dan Jambi. Akan tetapi, Sumatera Barat tidak diperbolehkan menggunakan nama ‘Minangkabau’ sebagai nama provinsinya, dan sebagian kawasan Minangkabau harus dilepaskan kepada provinsi baru …..”.

Sumber, https://id.wikipedia.org/wiki/Portal:Minangkabau/Tahukah_Anda …… Diakses 12 November 2017

Paragraph dari Wikipedia portal di atas mengemukakan bahwa semula alam Minangkabau itu meliputi seluruh Sumatra Tengah, yang meliputi Sumatra barat sekarang, Jambi, dan Riau. Bahkan sebenarnya Bengkulu dan Mandailing juga termasuk alam Minangkabau. Jadi, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa orang-orang Jambi diperkatakan orang Minangkabau, karena asalnya mereka adalah memang demikian. Barulah ketika pemerintah NKRI yang berpusat di Jawa memecah-mecah provinsi Sumatra Tengah, Jambi dan Riau tidak diperkenankan menyebut diri mereka sebagai Minangkabau. Akibatnya sekarang orang-orang Jambi (dan Riau) tidak pernah mengaku sebagai Minangkabau, melainkan orang Jambi dan orang Riau semata.

Wallahu a’lam bishawab.

Ketangguhan Prajurit Minangkabau Dalam Sejarah

putraminanggagahberani

Sriwijaya terbentuk di Palembang tahun 683 M di Kedukan Bukit tertera “Dapunta Hyang dari Minanga Tamwan membawa bala tentara dua laksa (dua puluh ribu orang) menuju pelimpang (Palembang) dan membuat wanua (kota)”.

Minanga ini menurut orang Palembang adalah Pasemah dengan Bukit Siguntang Nahameru, sebagian sejarahwan Palembang mengatakan orang Palembang sendiri yang melakukan ekspedisi militer, bukan sebaliknya, tetapi para arkeolog (Purbacaraka yang sejarahwan Jawa, Westenenk sejarawan Belanda) menyatakan bahwa yang dimaksud “MINANGA” adalah daerah antara pertemuan sungai Kampar kiri dan kanan di perbatasan Sumbar, Riau dan Sumut.

Dan tidak mungkin Prasasti ditegakkan di tempat awal mula sebuah ekspedisi perjalanan Militer, tetapi mesti di tempat keberhasilan ekspedisi tersebut.

Minanga itu adalah daerah Minangkabau Timur semasa Dapunta  Hyang melakukan ekspedisi militer ke Palembang. Artinya ORANG MINANGKABAU DAN MELAYU RIAU MELAKUKAN EKSPEDISI MILITER untuk menundukkan Palembang dan mendirikan kerajaan di sana, itulah yang dinamakan ”SRIWIJAYA”.

Sekarang kita ke sejarah Majapahit, tahun 1275 M prajurit Singosari melakukan Ekspedisi Pamalayu dan mengadakan persekutuan Militer dengan Melayu, lalu melawatlah dua Putri Melayu ke Jawa yaitu Dara Petak dan Dara Jingga asal Kerajaan Darmasraya Minangkabau untuk dipilih oleh Penguasa Singosari jadi Permaisuri demi mengikat persaudaraan. Dara Jingga diper-sunting Raden Wijaya dan dijadikan permaisuri utama, lahirlah Jayanegara selaku Raja Majapahit yang ke 2. Dia adalah blasteran darah Jawa dan Minangkabau.

Artinya ada RAJA MAJAPAHIT BERDARAH MELAYU MINANGKABAU dan kala itu Majapahit mulai melakukan ekspansi militer keberbagai daerah seperti Pahang, Dompo, Borneo, Pasai, Palembang, Bali, Celebes, Irian, Timor.

Siapa yang melakukan? Yaitu Gajah Mada yang bertekad ”Sumpah Palapa” dengan prajurit Jawa, Madura dan  dengan bantuan MANGGALAYUDHA ADITIYAWARMAN YANG JAWA MINANGKABAU dengan barisan-barisan Melayu, Minangkabau dan Palembang membantu Jawa meluaskan kekuasaan ke segenap penjuru Nusantara.

Artinya: KONTRIBUSI PETARUNG MILITER MINANGKABAU MEMBERI ANDIL BAGI MELUASNYA KEKUASAAN MAJAPAHIT .

Ini yang tidak diketahui kebanyakan orang yang mengira Majapahit hanyalah usaha orang Jawa semata tanpa bantuan siapa-siapa. Bahkan ketika terjadi pemberontakan Sadeng dan Kuti di Jawa, prajurit asal Melayu dan Minangkabau dikerahkan untuk menumpas, sedang prajurit Majapahit sudah tidak sanggup mengatasi.

Aditiawarman kembali pulang ke tanah leluhur yaitu Minangkabau dan mendirikan kerajaan baru yaitu PAGARUYUNG. Tetapi Majapahit mulai berusaha mencengkram lebih keras Pagaruyung  YANG AWALNYA ADALAH PARTNER DAN SEKUTU yang semula dipimpin oleh Aditiawarman yang berjasa besar bagi Majapahit.

Selanjutnya apa yang terjadi? Majapahit perang dengan Minangkabau dan melakukan invasi militer ke Pagaruyung pada tahun 1300an dan dihadang di daerah dekat Sawah Lunto Sijunjung.

HASILNYA: PRAJURIT MAJAPAHIT HANCUR BINASA.

Daerah itu begitu busuknya oleh mayat prajurit Jawa, akhirnya dinamakan PADANG SIBUSUK (Aditiawarman sudah lama meninggal kala perang terjadi). ARTINYA INVASI MILITER MAJAPAHIT GAGAL TOTAL DI TANAH MINANG.

Nah, mulailah berdatangan pelaut-pelaut asing yaitu Portugis, Belanda,  Inggris dan Prancis ke wilayah Nusantara. Minangkabau yang berjiwa  pelayar mulai mendapat saingan dagang dari orang asing, termasuk Padang mulai dilirik VOC Belanda, dan tahun 1665 VOC dengan bantuan orang Bugis Makassar melakukan tindakan militer di Padang, dan ditantang oleh orang Pauh Minang dengan sokongan pelaut Aceh. Belanda berhasil di Padang tetapi apa yang terjadi?

Apa Belanda enak dapat hasil jajahan di Padang? Tidak, yang muncul adalah PERANG TERUS-MENERUS SELAMA LEBIH 1 ABAD DENGAN PENDEKAR-PENDEKAR PAUH, KOTO TENGAH, PARIAMAN, PAINAN DAN AIRBANGIS.

Perang skala menengah itu terjadi lebih dari 25 kali dari tahun 1665 hingga 1789 demi merebut kembali Padang, Pariaman, Painan dari tangan Belanda VOC. Usaha ini gagal-berhasil lalu gagal, memang, tapi hal ini menunjukkan ada SEMANGAT PERANG TINGGI DARI ORANG MINANG SELAMA VOC BERKUASA.

Lalu VOC bubar dan diganti dengan Hindia Belanda abad ke 18. Paderi Islam fanatik berkuasa di pedalaman Minang sejak tahun 1803, dan ini membuat Belanda iri dan bersekutu dengan kaum Adat untuk menyerang basis militer Paderi tahun 1821. Maka pecahlah perang yang berlangsung selama 24 tahun hingga 1845, sedang benteng Bonjol pertahanan terkuat Paderi telah jatuh tahun 1837, jadi bukan 16 tahun perang berlangsung namun 24 tahun yang merupakan SALAH SATU PERANG PALING BERAT BAGI BELANDA SELAMA PERLUASAN KEKUASAAN DI NUSANTARA.

Ada 3 medan perang yang berat bagi Belanda dan bisa menghancurkan kekuatan Militer Hindia Belanda yaitu:

  • Perang Aceh dari tahun 1873-1904 bahkan hingga kejatuhan Belanda dari Jepang.
  • Perang Jawa dari tahun 1825 hingga 1830, yang memakan korban 15ribu tewas di pihak Belanda.
  • Perang Paderi di Minangkabau yang dengan susah payah dan kalah- menang, juga perlu kerahkan kekuatan penuh selama 24 tahun akhirnya Belanda baru berhasil menguasai seluruhnya.

Semasa Perang Paderi, Belanda perlu mengerahkan tentara Eropa (Tentara Belanda sendiri, bekas serdadu Napoleon di Jawa, serdadu Inggris bekas bawahan Raffles, serdadu bayaran dari Jerman, Prancis, Luxemburg, Belgia dll), serdadu AfriKa (Ghana dan Africa Selatan) dan plus petarung dari daratan Jawa (barisan Sentot), Pelaut dan warrior Bugis, Ambon, Madura, Batak Animisme dan kaum Adat Minang sekutu Belanda. Sedang di pihak Paderi Islam barisan Tuanku Imam Bonjol dibantu Kaum Adat berpihak ke Paderi, lalu pelaut Aceh, barisan Batak Nandailing Islam di bawah kepemimpinan Tuanku Rao, barisan Riau dipimpin Tuanku Tambusai, dan sebagian dari barisan Sentot asal Jawa yang berpihak ke Paderi.

Belanda harus mengerahkan 25000 sd 35000 pasukan baik reguler, campuran dan pribumi Nusantara dan harus menurunkan 5 jenderalnya demi menundukkan Minang-kabau yaitu Kom Jend Van Den Bosch (si tanam paksa), Letnan Jend Riesz (jagoan perang Diponegoro), Jend Major Clearens (yang menangkap Diponegoro) dan Jend major Coghius (panglima paling tinggi Angkatan Darat Hindia Belanda) dan Jend Major Hendriks.

Barulah di tangan Jend Major Coghius, Belanda berhasil merebut benteng Bonjol tahun 1837, dan perang masih berlanjut dapat skala kecil hingga tahun 1845 dengan Jend Major Hendriks selaku pimpinan Militer.

Artinya PETARUNG MINANG TELAH MEMPERLIHATKAN KEBOLEHAN PERANG SELAMA 24 TAHUN WALAU MENGHADAPI KEKUATAN GABUNGAN EROPA, AFRIKA DAN PRIBUMI NUSANTARA. APAKAH 24 TAHUN PERANG ADALAH BUKTI TIDAK ADANYA POTENSI PERANG ORANG MINANG?

VOC berkuasa di Sulawesi Selatan tanahnya Bugis Makassar. Kemenangan VOC dibantu Arung Palakka menguasai Kerajaan Goa Sultan Hasanuddin tahun 1669, maka dimulailah diaspora dan pelayaran pelaut Bugis keluar dari GOA yang menjadikan mereka seperti pelaut kalap dan garang di lautan Nusantara. Pelaut Bugis Makassar menjadi warrior yang menakutkan di lautan Nusantara, termasuk di Semenanjung Malaysia. Pelaut Bugis mencari daerah baru untuk dikuasai, dan ketahuilah agressi Bugis ini mendapat tantangan dari Orang-orang Minangkabau.

Di Semenanjung, tepatnya di Johor terjadi bentrokan keras antara Bugis dan Minang, juga di Selangor, Trengganu, Pahang, Negeri Sembilan dan Pulau Penang. Warrior mengerikan Bugis yang begitu ditakuti berhasil dibersihkan oleh orang Minang dari Negeri Sembilan dan Pulau Penang, tetapi wilayah Johor, Trengganu dan Pahang, Bugislah yang pegang kendali. Perseteruan Minangkaba-Bugis dalam menguasai Semenanjung menjadikan dua suku bangsa ini sebagai tukang perang di Sumatera dan Malaysia selama abad ke 17 dan 18.

Ada 5-6 suku bangsa di Nusantara ini yang dikenal tukang perang di abad pertengahan yaitu,

  1. Jawa yang terus bergolak sejak abad ke 6 dalam perang saudara, perang agresi, perang pertahanan wilayah plus konfrontasi dengan Belanda,
  2. Aceh yang adalah agressor perang di Semenanjung Malaya juga pantai-pantai Sumatera melawan Belanda dan Portugis,
  3. Bugis dengan pelaut-pelaut warrior menakutkan yang melayari lautan Nusantara,
  4. Lalu Ambon yang berperang dengan beringas di pihak Belanda.
  5. Berikutnya Madura dengan keahlian perang istimewa yang membuat mereka menjadi pasukan bayaran Hindia Belanda.
  6. Minangkabau yang sejak era Sriwijaya adalah petarung-petarung beladiri yang dipakai Sriwijaya, Majapahit saat perluasan wilayah Nusantara, Aceh semasa menyerbu Portugis di Malaka, Sultan Hasannuddin ketika mempertahankan GOA dalam gabungan aliansi Bugis GOA-Melayu, juga Perang di Palembang ketika Sultan Badarruddin perang dengan Belanda tahun 1825 dan mengandalkan gabungan prajurit Palembang dan pendekar perantau Minang di sungai musi, termasuk perang Pasemah di SumSel ketika Tuanku Imam Perdipo dengan barisan Paderi Mminang dan penduduk setempat mempertahankan Pasemah, dan perlawanan Sisingamangaraja di tanah Batak dengan bantuan petarung Minang kerja sama dengan Aceh, dan Perang Aceh di mana perantau Minang keturunan Aceh-Minang yaitu Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien yang berdarah Minang.

Sekarang di masa perjuangan kemerdekaan, terlihat orang Minang banyak yang telibat perjuangan politik yaitu Hatta, Syahrir, Tan Malaka dan H Agus Salim. Terlihat tidak ada perjuangan bersenjata yang dilakukan orang Minang.  Apa tidak ada  sama sekali perang kemerdekaan di Minangkabau? Orang hanya tahu perang mulut diplomatik dilakukan pejuang Minang, tetapi sejarah tidak menuliskan apa-apa tentang perjuangan bersenjata di Sumatera Barat. Mengapa?

JAWABANNYA ADALAH STRATEGI POLITIK PEMERINTAH PUSAT KEKUASAAN .

Fakta sejarah di Minangkabau adalah perjuangan bersenjata tidak kalah dengan perjuangan mulut diplomatik Politis. Semasa Agresi Militer Belanda I tanggal 21 Juni 1947, tentara RI di Minangkabau justru berhasil menghadang laju perluasan wilayah di tiga front sekaligus, yaitu

  • Padang luar kota daerah Kepala Datar,
  • Siguntur Pesisir Selatan
  • Lubuk Alung di Padang pariaman.

Bahkan tanggal 27 Juni 1947 DI KEPALA DATAR DEKAT PABRIK SEMEN PADANG, TENTARA BELANDA MENGALAMI KEHAN-CURAN MASSIF dan terpaksa kembali ke kota Padang dengan sisa-sisa kekuatan.

MENGAPA  PRESTASI MILITER ORANG MINANG ini tidak tercatat dalam buku pelajaran sejarah Umum Pelajar kita? Mengapa kekalahan Belanda di Ambarawa tahun 1947 di tangan Jend. Sudirman dijadikan hafalan dalam buku pelajaran sejarah? Mengapa sejarah kota Pahlawan Surabaya begitu berkibar?

JAWABANNYA ADALAH SENTRA KEKUASAAN DI JAWA TIDAK INGIN DAERAH, TERKHUSUS MINANG-KABAU, TERLIHAT MENONJOL DALAM SEJARAH MILITER.

Agresi militer Belanda II dilancarkan pada tanggal 18 Desember 1948, dan jatuhlah Jogja dalam tempo 4 jam saja dalam sebuah penyerbuan sistem blitzkriek (serbuan kilat), dan di Sumatera Barat yang pusat ibukota Sumatera, Bukittinggi yang diserbu pada tanggal yang sama dan sistem serbu yang sama (blitzkriek) baru jatuh ke tangan Belanda tanggal 24 Desember 1948. Artinya  Bukittinggi DIPERTAHANKAN 4 HARI LEBIH LAMA oleh Divisi XI Banteng dikomandoi Letkol Dahlan Djambek, dibanding Ibukota Negara Jogja yang terdapat Divisi Diponegoro yang kesohor dengan  Letkol Soeharto ada di sana.  Jogja jatuh hanya 4 jam penyerbuan kilat lewat udara dan darat, sedang Bukittinggi jatuh 4 hari dengan upaya mati-matian Belanda lewat darat dan udara, padahal segi persenjataan kalah jauh dibanding mesin-mesin Perang Belanda. Apakah ini bukan prestasi lagi? Mengapa tidak dijadikan hafalan anak sekolah?

JAWABNYA SENTRA KEKUASAAN DI JAWA TIDAK INGIN TERLIHAT LEMAH DALAM SEJARAH MILITER DIBANDING DAERAH. Maka didiamkan saja fakta keras ini.

Lalu Soekarno, Hatta dan Syahrir tertawan dan dikirim ke Rantau Prapat dekat Toba Samosir. Mengapa kok ke daerah Sumatera utara? Jawabnya sebab di daerah sekitar danau Toba dan Prapat aman dari serangan gerilyawan Republik, yang berarti juga tidak ada perlawanan gerilya berarti di Sumatera Utara oleh Pejuang-pejuang Medan sekitarnya. Arti lainnya adalah bahwa tidak ada perlawanan berarti di Sumatera utara. Lho kan orang Batak jago perang? Di Film NagaBonar terlihat orang Batak begitu garang berperang dengan Belanda.

Fakta keras adalah bahwa gerilyawan di tanah Batak sibuk perang sesama mereka, bukannya berjuang melawan Belanda. Barisan Mayor Malao dengan barisan Mayor Bejo dan Saragih Ras juga Gerombolan Naga terbang di Sumatera Utara saling serbu dan menghambur-hamburkan peluru sesama mereka, sehingga Belanda menjadi gampang mengatasi gerilyawan Batak. Dan yang lebih aneh lagi justru  banyak orang Batak yang diangkat jadi jenderal semasa Soekarno dan Soeharto, diantaranya AH Nasution yang Jend bintang 5 setara dengan Sudirman dan Soeharto sendiri, lalu TB Simatupang jendral penuh, Maraden Pangabean dan Feisal Tanjung jendral penuh.

Beda dengan di Sumatera Barat yang ibukota Sumatera kala itu, perjuangan gerilya begitu gencarnya sejak agresi ke II Belanda tanggal 18 Desember 1948 hingga akhir Oktober 1949, perjuangan bersenjata di sini membuat Belanda PUTUS ASA, sebabnya kesatuan orang Minang begitu solid dengan tekad mempertahankan PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) yang berpusat di daerah Koto Alam 50 Kota. Sementara itu Pemerintahan RI sudah ditawan Belanda. Maka Militer Minangkabau Divisi IX Banteng begitu keras dalam berupaya mengacaukan formasi Belanda di Minangkabau, dan Belanda tidak mampu membangun Negara Boneka di Minangkabau sebagaimana di daerah lain:

  • Di Jawa terdapat Negara Pasundan, dan Negara Jawa Timur.
  • Di Sumatera: Negara Sumatera Timur dengan Medan pusatnya,
  • Negara Sumatera Selatan dengan Palembang ibukotanya.

Akan tetapi di Minangkabau, Belanda gagal total sebab perjuangan Gerilya begitu gencar dan upaya Politik gagal diterapkan. Apakah ini bukan Prestasi militer? Mengapa tidak dihafalkan di buku sejarah umum pelajar kita?

Jawabnya: SENTRA KEKUASAAN DI JAWA TIDAK INGIN TERLIHAT TIDAK BERDAYA SECARA MILITER DIBANDING MINANGKABAU.

Lalu datang masa kemerdekaan. Pemerintahan Soekarno dalam tawanan Belanda lebih disambut rakyat daripada Pemerintahan darurat PDRI dalam Gerilya bersenjata, perjanjian Roem-Royen menghasilkan dikembalikannya pemerintahan Jogja dan PDRI dipandang sebelah mata. Lalu Divisi tangguh Minang yaitu Divisi IX Banteng dibubarkan sebab karena ketakutan Pusat pada Minangkabau jika Militer Minang terlalu kuat nantinya.

Dari 23000 Militer Minang sekarang disusutkan jadi hanya 4000 tentara dalam 4 batalyon saja, lalu AH Nasution memutuskan Minangkabau di bawah Militer Medan yang tidak mampu berperang dengan Belanda kecuali perang sesama mereka dan ditempatkan di bawah Medan dalam Divisi Bukit Barisan. Orang Minang yang bertempur pahit-getir dan mengakibatkan banyak korban tewas di pihak Belanda justru ditempatkan di bawah Medan yang hanya bisa perang dengan sesama Batak. APA INI BUKAN PENGHINAAN?

Maka muncullah Gerakan PRRI tahun 1958 sebagai akibat ketidak-puasan atas keputusan Pemerintahan Pusat Soekarno yang otoriter tanpa ingat jasa Militer Minang mempertahankan Pemerintahan Darurat( PDRI) semasa Soekarno dalam tawanan Belanda. Apalagi Bung Hatta mengundurkan diri tahun 1956 akibat sikap Soekarno yang cenderung Diktator totaliter, juga bangkitnya PKI yang jelas pernah menikam RI dari belakang dengan pemberontakan PKI di Madiun, membuat Militer Minang bangkit kembali dan menantang pemerintahan Soekarno supaya membubarkan Kabinet Djuanda yang sarat orang Komunis dan Hatta diminta kembali ke Pemerintahan.

Militer Minang sebetulnya tidak sungguh-sungguh dalam menantang Pusat, pernyataan PRRI lebih kepada gerakan moral dan gertakan Politik dibanding pemberontakan bersenjata.. Tahun 1958 itu lahirlah Ultimatum PRRI oleh Syafruddin Prawiranegara dan Ahmad Hussein selaku pimpinan Militer yang marah pada Soekarno, sebab ketika Pemerintahan darurat PDRI semasa perang gerilya tahun 1949 bertempur dengan darah, keringat dan rasa sakit menghadapi agresi Belanda, sementara Soekarno asyik nyanyi-nyanyi dalam tawanan Belanda dan tidak bersedia berkeringat memanggul senjata.

Akhirnya PRRI direaksi Pemerintahan Soekarno dengan mengirim Tentara dari pusat sebanyak 7500-10.000 tentara dari Kodam Diponegoro, Siliwangi, Brawijaya dan elit Banteng Raiders juga KKO khusus Marinir AL ke Minangkabau dengan 5-7 Kapal Perang juga Pesawat Tempur peninggalan Belanda dengan Kolonel Ahmad Yani selaku pimpinan tempur dengan sandi Operasi 17 Agustus. Artinya ultimatum atau tepatnya “gertakan” PRRI akan dijawab dengan serbuan dari darat, laut dan udara dengan segala  peralatan militer Pusat.

APA YANG TERJADI DI TANAH MINANG?  Terjadi perpecahan dan keragu-raguan apakah orang Minang akan memerangi tentara Pusat, atau bagaimana? Yang diperangi adalah rekan seperjuangan semasa invasi Belanda.

Sebagian tentara Sumatera Barat lantas mengundurkan diri dari PRRI dan berpihak pada Pusat, termasuk Kepala Kepolisian Sumbar berpihak pada Pusat di Jawa. Sementara itu yang siap perang justru mundur sebab tidak tega membunuh sesama orang Indonesia. Teluk Bayur dibiarkan dimasuki tentara Pusat tanpa ada letusan senjata sama sekali dari pihak PRRI, sebab tidak ada pembenaran moril untuk membunuh tentara RI. Padang dan Bukittinggi juga demikian, dikosongkan pihak pemberontak dan dimasuki Tentara pusat tanpa ada perlawanan sama sekali.

APA LANTAS ORANG MINANG DI-CAP TIDAK BERANI PERANG???  Bukan!!!

Ketidak-tegaan itulah yang jadi alasan mundurnya tentara pemberontak kepedalaman Minangkabau. Tentara PRRI  tidak tega membunuh sesama tentara Nasional sebab PRRI adalah gerakan yang terburu-buru (prematur) tanpa ada kebenaran moril: untuk apa perang? Untuk apa menumpahkan darah?? Buat apa memecah kesatuan Militer Nasional? Apa gunanya merobek kesatuan Republik? Akhirnya pemberontak PRRI mengalah dan seluruh Sumatera Barat dikuasai Pusat tanpa ada perlawanan berarti. Inilah fakta keras bukan omongan estafet! Dan pemberontakan ini menghasilkan kemunduran spirit Politik dan Militer orang Minang hingga kini.

Lalu anda, Pak Amir, men-cap orang Minang tidak berani perang? Betul-betul membuat memori saya bekerja lumayan keras membuka sejarah perang orang Minang sejak awal Peradaban nusantara ini. Terima kasih atas komentar kontroversial anda. Saya tidak menyalahkan anda dan tidak akan meminta anda mohon maaf pada orang Minang. TIDAK! Hanya saya minta bapak lebih teliti kalau mengomentari sejarah, kalau perlu disertai bahan-bahan sejarah yang valid.

OK! Tulisan lumayan panjang ini khusus untuk menjawab statement anda, bukan untuk menyalahkan tetapi untuk menjernihkan saja. Saya selaku putra Minang asli punya kewajiban untuk menegakkan benang basah dan meletakkan sejarah Minang ke tempat yang semestinya.  Maaf bagi suku bangsa yang saya tulis dengan tidak menjadikan ini selaku SARA yang memecah-belah, dan thanks  jika ada tanggapan (Sumber Sang).

Tanggapan

-1- Dari Tole

Saya sependapat dengan Sdr. Sang. Saya dari Manado. Sepengetahuan saya apa yang sdr. Sang paparkan adalah kebenaran sejarah yang tidak bisa dipungkiri. Di daerah saya ada satu kawasan pemakaman pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol bersama para laskar pendamping setianya yang dibuang oleh penjajah Belanda ke daerah Minahasa. Jumlah makamnya mencapai ratusan. Dari situ saja kita bisa mengambil kesimpulan bahwa apa yang “Pak Amir” sampaikan di atas adalah kesimpulan yang sangat dangkal dan sifatnya pribadi. Terlalu naif dan dangkal kalau kita mengambil kesimpulan mengenai sesuatu hal yang krusial & besar hanya dari sumber cerita mulut ke mulut. Indonesia adalah Negara Besar jika rakyatnya yang beragam mempunyai satu pemahaman mengenai ke “Bhinekaan”.

-2- Dari Guzza

Kalau kita bandingkan perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro dan Perang Padri yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol. ternyata Perang Jawa hanya berlangsung 5 tahun yaitu 1825-1830, sedagkan perang Padri berlangsung 24 tahun yaitu 1813- 1837.

Sementara itu jumlah penduduk Jawa jauh lebih banyak dari penduduk Minangkabau. Dari sisi ini saja sudah terlihat bahwa orang Minang adalah pengelola dan petarung hebat dibandingkan orang Jawa.

Dan memang pada zamannya Orde Baru, putra Minang memang dihalangi untuk menjadi militer, karena sifat dasar orang Minang adalah Pemikir dan Petarung yang egaliter, dan kalau dibiarkan berkembang akan menjadi ancaman yang serius bagi penguasa sat itu.

-3- Dari Ajo

Betul kata dunsanak, inti nya mereka iri pada kita, karena kita orang Minang   sudah dari sananya punya prinsip hidup yang kuat, komitmen dan egaliter, walaupun tetap kita punya kelemahan, karena tidak ada yang sempurna orang hidup. Kelebihan orang Minang itu membuat orang lain iri melihatnya. Coba  kawan-kawan lihat di kota-kota besar di indonesia, tempat perdagangan sebagian besar dikuasai Urang Awak dan orang Tionghoa, padahal Urang Awak sudah lama dipinggirkan oleh Orde Baru yang lebih memihak kaum Tionghoa karena mereka bisa jadi “partner” oleh pemerintah Orde Baru waktu itu. Tapi kita Urang Awak punya rasa solidaritas sesama Urang Awak dan persatuan yang sangat solid sehingga sampai sekarang dampaknya dapat kita lihat. Banyak kontribusi Urang Awak kalau mau dipaparkan satu-satu tapi nggak cukup rasanya tempat untuk memaparkannya.

Dan jangan lupa, 3 dari 4 pendiri negara kita ini adalah orang Minang, dan 6 dari 10 tokoh penting Indonesia di abad ke-20 merupakan orang Minang. Saya  juga orang Minang, saya lahir besar di jakarta, dan sebenarnya tidak suka memihak kesukuan, tapi coba saya lihat dari sisi yang seobyektif mungkin. Intinya kita semua sudah dilahirkan berbeda suku dan karakter dan tidak mungkin sama. Oleh karena itu kita saling toleransi, jika ada orang yang menjelek-jelekkan pihak lain sudah pasti lah itu orang itu adalah orang yang iri dengki di hatinya.

-4- Dari joe

Berdasar tulisan ini, kemudian saya cek ke buku sejarah, memang tidak ada dalam buku pelajaran anak sekolah kita. Sejarah hanya menulis peristiwa 10 Nopember di Surabaya, Bandung Lautan Api, atau Agresi Belanda 1 dan 2.

Lalu saya telusuri dan ketemu hal mengagetkan ini, bahwa pada Agresi Belanda I, ternyata di Sumatera Barat tentara Belanda tidak berkutik. Tentara RI di bawah komanda Dahlan Djambek berhasil menahan laju Agresi Belanda di tiga tempat. Tentara Belanda hanya mampu melaju sejauh 13 km dari pusat kota padang,

Di dekat Indarung, daerah Kepala Datar, Belanda mengalami kekalahan telak dan terpaksa kembali ke kota Padang dengan sisa-sisa kekuatan. Mengarah ke kota Bukittinggi, tentara Belanda berhasil dihadang di wilayah Pasar Usang, Padang Pariaman. Kapal terbang dan Tank baja Belanda tidak mampu mendesak mundur tentara RI di Sumatera Barat, sementara Tentara Belanda dibuat kucar kacir oleh taktik gerilya Tentara RI di Sumbar.

Peristiwa kekalahan ini saat Agresi Belanda 1 menjadikan Sumatera Barat satu-satunya wilayah perang di Indonesia yang Tentara Belanda tidak mampu melaju melebarkan penguasaan wilayah. Sementara di Jawa, banyak wilayah jatuh dengan cepat ke tangan Belanda. Kalimantan -Sulawesi dikuasai hampir semua, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan hampir sepenuhnya juga terkuasai.

Sementara di Sumatera Barat, Belanda gagal total dengan hanya mampu melaju sejauh 13 km dari pusat kota Padang.

Kesimpulanya bahwa wajarlah kemudian Wilayah Sumatera Barat kemudian dijadikan alternatif Ibukota Negara saat Jawa hampir sepenuhnya terkuasai kala itu. Hal ini tersebab solidnya tentara di Sumatera Barat kala itu. Juga kompaknya tekad politisi di sana untuk menghadang Belanda.

Hanya sayang , tersebab peristiwa PRRI tahun 1957, kisah heroik semasa Agresi Belanda menjadikan sejarah peperangan yang berlangsung di Sumatera Barat terhapus dalam buku-buku sejarah anak bangsa.

Sumber,

http://mmerantau.blogspot.co.id/p/blog-page_13.html?m=1

logominangelMinangel,

Artikel di atas mengusung beberapa gagasan yang menarik, namun situs Minangel hanya fokus pada satu gagasan yang luar biasa, yaitu betapa gagah beraninya putra-putra Minangkabau di dalam berjuang untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar di seluruh Nusantara. Artikel ini mengungkapkan betapa Sriwijaya merupakan Kerajaan milik persukuan Minangkabau, pun kebanyakan perang dan balatentara tempur yang berkiprah pada masa kerajaan tidak luput dari peran-serta putra-putra Minangkabau yang gagah perwira. Hal ini adalah fakta sejarah, dan fakta ini benar-benar melukiskan betapa persukuan Minangkabau mendapatkan inspirasi yang melimpah supaya berkiprah semakin hebat lagi untuk memegahkan NKRI tercinta ini. Amin.

Wallahu a’lam bishawab.

Indikasi Raja Raja Melayu dan Sriwijaya berdari Minangkabau

Gunung-marapi

Benarkah Raja Raja Melayu Dan Sriwijaya berasal dari Minangkabau???

Silek kato mengungkap misteri silsilah sejarah MINANGKABAU dan rantaunya

“ ………… Dapunta Hyang Sailendra, antara Datuak di Ngalau dan Hyang Indojati menurunkan dinasti Raja-Raja Melayu dan Sriwijaya dari Galundi Nan Baselo di lereng Gunung Merapi, Istana Linggapuri …………”

Berbagai pendapat yang muncul menjelaskan Melayu dan Sriwijaya tentang letak dan nama Raja-Rajanya masih menjadi pertanyaan karena simpang-siurnya informasi. Sebagai contoh yang menarik dan menjadi kunci pembuka bagi uraian-uraian selanjutnya adalah nama Raja San-Fo-Tsi tahun 1998 M berdasarkan kronik Cina disebut sebagai Se-Li-Ma-La-Pi. Se-li-ma-la-pi Melayu, Sriwijaya dan Puti Gunung Marapi. Tulisan ini ditemukan dalam kronik Sung Shih yang menceritakan sejarah Dinasti Sung di Cina. Kronik Cina Sung Shih dikenal sebagai buku 489, yang menulis catatan bahwa Raja San Fo Tsi tahun 1003 M bernama Se-Li-Ma-La-Pi.

Sementara itu Nia Kurnia (1882:79) menyatakan bahwa berdasarkan catatan dan pemberitaan sumber-sumber sejarah dari India, Tibet dan Nepal diketahui bahwa pada permulaan abad ke 11 Kerajaan Sriwijaya masih berdiri dan masih merupakan kejayaan kekuasaan di Sumatera.

Sumber-sumber sejarah itu tercantum pada sebuah prasasti dari Bengala, India. Prasasti itu dikenal sebagai Piagam Leidan yang menyebutkan bahwa: “pada tahun 1006M, Raja Sriwijaya dan Kedah yang bernama Marawijayatunggawarman dari keluarga Sailendra menghadiahkan sebuah desa sebagai persembahan kepada Sang Buddha, dalam wihara yang dibangun ayahnya Cudawaniwarman di Nagipattanna”.

Keterangan ini didukung oleh sebuah mansukrip Nepal, abad ke 11 yang memuji negara Sriwijaya sebagai pusat kegiatan agama Buddha, dan memiliki area indah Lokananantha di Sriwayapura. Dan sebuah kronik Tibet yang ditulis pada abad ke 11 bernama Durbodhaloka menyebutkan pula nama Maharaja Sri Cudamanirwarman dari Sriwijayanagara di Suwardawipa. (Nia, 1982, ibid).

Dapat dipahami bahwa “se-li-chu-la-wu-ni-fu-a-tiau-hwa” adalah sebutan Cina untuk Maharaja Sri Cudamaniwarmandewa yang kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Marawijayatunggawarman tahun 1008 M.

Maharaja Sri Marawijayatunggawarman inilah yang namanya secara praktis ditransliterasikan Cina sebagai se-li-ma-la-pi. Tetapi orang Minangkabau akan lebih mudah meluruskan bacaannya menjadi “se-ri-ma-rap-pi” atau “sri marapi” yang artinya “cahaya gunung marapi” atau “Raja Gunung Marapi” atau julukan kebesaran nama Maharaja Sri Marawijayatunggawarman sebagai Sri Maharaja Gunung Marapi dari sebuah negeri cikal bakal negara (bijanegara) Srijayanagara di Suwarnadwipa.

Tidak salah bila Charles Otto Blagden (1920) lebih mempopulerkan nama Sriwijaya (dari Sriwijayanagara) melalui karangannya “The Empire Of The Maharaja, King Of The Mountains, And Lord Of The Isles“. Kemudian disusul pula oleh Gabriel Ferrand (1922) tentang Sriwijaya dengan judul buku “L Empire Sumatranains De Sriwijaya“.

Sampai sekarang para ahli sejarah masih mempertanyakan tentang kerajaan besar yang pernah ada di Nusantara ini. Banyak pertanyaan yang mengganjal tentang keberadaan Sriwijaya itu sendiri, antara lain:

Apakah Sriwijaya itu nama Raja, nama sebuah Negeri atau nama sebuah Kerajaan?  Seperti yang dipertanyakan oleh Hendrik Kern (1913) ketika mentranskripsikan Prasasti Kota Kapur, yang menganggap bahwa nama itu adalah nama seorang Raja Sriwijaya. Sementara itu pada tahun 1918 George Coedes dari Perancis menolak anggapan Kern tersebut, dan mengungkapkan bahwa Sriwijaya adalah nama sebuah Negeri atau Kerajaan.

Di manakah sebenarnya pusat Kerajaan Sriwijaya? Kalau memang diakui sebagai Maharaja Gunung (the king of mountains), dimanakah Gunungnya? Dan apa saja bentuk warisan budaya sebagai bukti kebesarannya? Bagaimana dan di mana?

Apabila memang orang Minagkabau sangat menghargai Tambo Minangkabau sebagai litere nenek moyangnya yang berisi sejarah (Edward Djamiris,1980;1) maka sejauh mana Tambo Minangkabau dapat memberi konstribusi yang dipahami baik oleh generasi muda pendukung kebudayaan sendiri maupun oleh dunia luar berkenaan dengan informasi sejarah Minangkabau itu.

SAILENDRA berasal dari kata Saila dan Indra.

  • Saila adalah nama suku yang mendiami wilayah sekitar Gunung Mahendragiri di India Selatan. Mahendragiri terdiri atas kata mahaindra dan giri. Mahaindra adalah nama dewa indra yang tertinggi dan bersemayam di puncak gunung. Diucapkan Mahendra, kemudian menjadi Mandra, Manduro nama salah satu puncak gunung Marapi yang disebut Puncak Manduro, penduduk sekitar lereng Gunung Marapi menyebutnya Bukit Manduro.
  • Saila menjadi Sila atau Selo yang artinya kemudian menjadi salah satu cara duduk atau kedudukan yang disebut bersila atau baselo sebuah kerajaan awal di lereng Gunung Marapi. Oleh Tambo Minangkabau disebut sebagai Kerajaan Galundi Nan Baselo.

Kerajaan Galundi telah mengukir namanya dengan gemilang dalam catatan sejarah tradisi sejak abad ke 11 SM sampai abad ke 10 SM. Menurut keterangan tambo rajo-rajo di Gunung Marapi, salah seorang rajanya menjadi duli yang dipertuan masa itu, kemudian memindahkan tempat kedudukannya dan mendirikan pusat kediamannya yang baru yang disebut  pasumayam, tempat persumayaman Raja dengan bangunan-bangunan yang terdiri dari batu-batu.

Karena itu komplek tersebut disebut Pasumayam Koto Baru. Terletak di sekitar ulu sungai una di sekitar lereng Gunung Marapi. Dalam perkem-bangannya kemudian berdiri pula perkampungan baru di sekitarnya untuk kedudukan raja-raja yaitu Sandi Laweh dan Padang Panjariangan. Pada awalnya hanya merupakan perkampungan raja dan tempat tinggal para pertapa yang melakukan ibadah ritual bagi pemuja para dewa dari tempat-tempat yang tinggi.

Lereng Gunung Marapi yang subur, serta sumber-sumber kehidupan yang menguntungkan membuat mereka betah untuk menetap, dan ramai dikunjungi oleh pendatang-pendatang baru sehingga membuat negeri di lereng Gunung Marapi menjadi terkenal. Sebuah syair dari India yang termasyur dari abad ke-3 SM menyebutkan bahwa di sebelah timur ada negeri yang disebut trikuta nilaya. Negeri ini terletak di kawasan tiga puncak gunung. Salah satu puncaknya disebut Manduro atau Mandara salah satu dari himpunan perbukitan di bagian selatan Gunung Marapi.

Kosakata Manduro atau Mandara berasal dari  kata Maha Indra, oleh karena itu Manduro menjadi terkenal di zamannya dan menjadi nama lain dari Galundi Nan Baselo, sesuai dengan nama bukit yang di dekatnya. Manduro juga digunakan untuk menyebut nama Gunung Marapi secara keseluruhan. Tetapi juga memiliki nama lain yang dipakai untuk menyebut Gunung Marapi dengan nama Mahameru. Bahkan masih dipakai sampai abad ke 13 seperti yang tertulis pada Prasasti Saruaso.

Itu sebabnya mereka memberi nama salah satu puncak bukit yang menjadi bagian tertinggi dari puncak Gunung Marapi dengan nama Mahendragiri, yang artinya Gunung Maha Indra, sesuai dengan nama gunung yang mereka tinggalkan dari negeri asal mereka. Dan sebuah sungai yang berhulu dari gunung ini mengalir ke pesisir timur bernama Indragiri. Sungai yang mengalir dari Gunung Indra ini diberi nama Batang Indragiri.

Mahendragiri sebagai nama puncak Gunung Marapi yang terletak di pusat pulau Sumatera bagian tengah tidaklah begitu populer, tetapi bukit Manduro yang merupakan nama salah satu puncak Gunung Marapi cukup dikenal oleh masyarakat yang tinggal di sekitar lereng Gunung Marapi. Di sekitar lereng Gunung Marapi terdapat perkampu-ngan-perkampungan seperti Batur, Sungai Jambu, Bulan Sariak, Jambak Ulu dan Lubuak Antan sampai sekarang.

Sementara puncak yang lain dari Gunung Marapi disebut Bukit Siguntang-guntang Marapi yang juga berada pada lokasi perkampungan Galundi Nan Baselo. Walaupun kemudian berabad-abad lamanya tenggelam dalam kabut sejarah. Perkampungan tertua seperti Sandi Laweh, Padang Panjariangan dan Galundi Nan Baselo, Pasumayam Koto Baru, Batur dan lain-lainnya itu hilang dari berita-berita sejarah. Sementara Prasasti Saruaso hanya menyebut adanya dua pemimpin pada zaman itu yang bernama Perpatih Tundang dan Tumenggung Kudawira.

Galundi Nan Baselo muncul kembali pada abad ke 14 ketika lahirnya tokoh pembaharuan Datuak Suri Dirajo yang menjadi Penghulu di lereng puncak Gunung Marapi bersama dua kemenakannya Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatih Nan Sabatang.

Kelak kemudian dikenal sebagai pimpinan dan pemikir sejati yang melahirkan konsep tatanan sosial hidup berdampingan secara damai dan demokratis dengan karakter khas dan spesifik, yang terkenal dengan Sistem Kelarasan Koto Piliang menurut konsep Datuak Katumanggungan, dan Bodi Caniago menurut konsep Datuak Perpatih Nan Sabatang. Hubungan yang dinamis antara kedua sistem ini melahirkan Tatanan Adat Alam Minangkabau.

Perkampungan baru dari Galundi Nan Baselo yang disebut juga Bukit Siguntang-guntang Gunung Marapi atau Bukit Siguntang-guntang Mahameru sekitar abad ke-14 telah berkembang sampai ke hilirnya dengan nama yang sampai sekarang disebut Batur.

Sandi Laweh dan Padang Panjariangan kemudian ditinggalkan penduduknya, demikian juga dengan perkampungan lama Galundi Nan Baselo yang disebut Bukit Siguntang-guntang tidak saja menjadi desa Batur, tetapi berkembang menjadi nagari Sungai Jambu yang terdiri dari koto-koto Sungai Jambu, Batur, Bulan Sariak, Jambak Ulu dan Lubuak Antan. Itulah yang sekarang bernama Nagari Sungai Jambu, dengan koto-kotonya yang berada di bahu Gunung Marapi.

Dari Batur terlihat Gunung Marapi dengan salah satu puncaknya yang terletak di selatan dengan nama Gunung (Bukit) Manduro. Di bawah lerengnya pada ketinggian lebih kurang 1000m terdapat perkampu-ngan Sandi Laweh dan sebuah bukit yang disebut Gunung Ranjani dengan perkampungan Padang Panjariangan.

Di sebelah kiri akan terlihat jelas Bukit Siguntang-guntang dan bawahnya terletak bekas perkampungan Galundi Nan Baselo yang juga dikenal sebagai perkampungan Bukit Siguntang-guntang secara keseluruhan.  Itulah Puncak Gunung Marapi Pusat Jala Alam Minangkabau yang penuh misteri

Sumber,

https://groups.google.com/forum/m/#!topic/rantaunet/qRmG9KmGTiw

logominangelMinangel,

Paparan di atas mengetengahkan beberapa point yang mengindikasikan bahwa Kerajaan Sriwijaya merupakan Kerajaan Minangkabau. Dan dengan sendirinya, paparan ini menjadi salah satu indikasi dari sekian indikasi yang dimiliki dunia literatur yang membuktikan bahwa Kerajaan Sriwijaya adalah Kerajaan yang didirikan oleh persukuan Minangkabau.

Minangel tidak mempunyai data spesifik mengenai tingkat keilmiahan atas paparan ini, namun sungguh pun demikian, paparan ini sedikit banyak memberi masukan yang sangat berarti untuk membuktikan jatidiri Kerajaan Sriwijaya. Memang sudah pada logika-nyalah bahwa Kerajaan Sriwijaya merupakan Kerajaan milik persukuan Minangkabau, bukan persukuan yang lain.

Dan pada akhirnya, semoga paparan ini dapat menjadi inspirasi bagi seluruh warga Minangel untuk berkarya lebih hebat lagi bagi kejayaan NKRI yang megah ini. Amin.

Wallahu a’lam bishawab.

Mengungkap Rencana Keistimewaan Sumatera Barat

sumbaristimewa

TERKUAKNYA rencana Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) akan menjadikan Sumbar daerah istimewa, saat pertemuan para ninik mamak yang mempertanyakan tanah ulayat di kantor Bupati Dharmasraya beberapa waktu lalu. Dimana dalam dialog ninik mamak Gunung Medan dengan Bupati Dharmasraya, Sekretaris LKAM Dharmasraya Abdul Rahman Bagindo Latif meminta doa restu kepada Bupati Dharmasraya dalam waktu dekat LKAM se Provinsi Sumatera Barat akan bertemu Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi untuk membicarakan terkait Sumatera Barat layak menjadi daerah istimewa sama seperti daerah istimewa yang ada di Indonesia. “Kita akan berjuang bersama LKAM yang ada di Provinsi Sumatera Barat untuk menjadikan Sumatera Barat daerah istimewa, sebab Sumbar memiliki sejarah kerajaan yang patut dijadikan daerah istimewa”, jelasnya pada dialog bersama Bupati Dharmasraya.

Lantas yang menjadi pertanyaan mungkinkah Sumatera Barat bisa menjadi daerah istimewa? Sebatas mana pembicaraan mengenai rencana daerah istimewa Sumatera Barat ini atau hanya sebatas pembicaraan dan angan-angan saja, sebab hingga saat ini perjuangan dalam menjadikan Sumatera Barat sebagai daerah istimewa belum nampak. Beberapa opini muncul dalam rencana keinginan Sumatera Barat akan menjadikan daerah istimewa Minangkabau, seperti opini yang dituliskan Indra Dewata Kepala Bappeda Kota Padang dan sekaligus dosen UNP pada harian pagi Padang Ekspres halaman 4 kolom 2 opini dengan judul “DAERAH ISTIMEWA MINANGKABAU”. Namun opini ini belum memberikan solusi untuk Sumatera Barat bisa menjadikan daerah istimewa. Lantas seperti apa sebenarnya solusi agar Sumatera Barat, benar-benar bisa menjadikan daerah istimewa?

Melihat Sejarah Sumatera Barat

Kalau kita berbicara terkait masalah sejarah berdirinya Sumatera Barat sesuai dengan data yang ada di Kementiran Dalam Negeri Republik Indonesia, mungkin Sumatera Barat bisa menjadi solusi dalam pembuatan daerah istimewa sebab keistimewaan Sumatera Barat ini nampak dari nilai budaya dari Sumatera Barat itu sendiri. Sehingga Sumatera Barat bisa dijadikan daerah khusus yang memiliki bermacam budaya. Dalam data Kemendagri dimana dari jaman prasejarah sampai kedatangan orang Barat, sejarah Suma­tera Barat dapat dikatakan identik dengan sejarah Minangkabau. Walau­pun masyarakat Mentawai diduga te­lah ada pada masa itu, tetapi bukti-bukti tentang keberadaan mereka masih sa­ngat sedikit.

Pada periode kolonialisme Belanda, nama Suma­tera Barat muncul sebagai suatu u­nit administrasi, sosial-budaya, dan po­litik. Nama ini a­dalah terjemahan dari bahasa Belanda de Westkust van Sumatra atau Sumatra’s Westkust, yaitu suatu daerah bagian pe­sisir barat pulau Sumatera.

Memasuki abad ke-20 persoalan yang dihadapi Sumatera Barat menja­di semakin kompleks. Sumatera Barat tidak lagi identik dengan daerah budaya Minangkabau dan telah berubah menjadi sebuah mini Indonesia. Di daerah ini bermukim sejumlah besar suku bangsa Minangkabau penganut sistem matrilineal, suku bangsa Ta­panuli dengan sistem patrilinealnya dan suku bangsa Jawa dengan sistem parentalnya. Di samping itu   juga  ada masyarakat Mentawai, Nias, Cina, A­rab, India serta berbagai kelompok masyarakat lainnya dengan berbagai latar belakang budaya yang beraneka ragam.

Di Sumatera Barat banyak ditemukan peninggalan jaman prasejarah di Kabupaten 50 Koto, di daerah Solok Selatan dan daerah Taram. Sisa-sisa peninggalan tradisi barn besar ini berwujud dalam berbagai bentuk; bentuk barn dakon, barn besar berukir, barn besar berlubang, barn rundell, kubur barn, dan barn altar, namun ben­tuk yang paling dominan adalah bentuk menhir. Peninggalan jaman prasejarah lainnya yang juga ditemukan adalah gua-gua alam yang dijadikan sebagai tempat hunian.

Bukti-bukti arkeologis yang ditemukan di atas bisa memberi indikasi bahwa daerah-daerah sekitar Kabupaten 50 Koto merupakan daerah atau kawasan Minangkabau yang pertama dihuni oleh nenek moyang orang Sumatera Barat. Penafsiran ini rasanya beralasan, karena dari daerah 50 Koto ini mengalir beberapa sungai besar yang akhirnya bermuara di pantai timur pulau Sumatera. Sungai-sungai ini dapat dilayari dan memang menjadi sarana transportasi yang penting dari jaman dahulu hingga akhir abad yang lalu. Nenek moyang orang Minangkabau diduga datang melalui rute ini. Mereka berlayar dari daratan Asia (IndoCina) mengarungi laut Cina Selatan, menyeberangi Selat Malaka dan kemudian memudiki sungai Kampar, Siak, dan Indragiri (atau; Kuantan). Sebagian di antaranya tinggal dan mengembangkan kebudayaan serta peradaban mereka di sekitar Kabupaten 50 Koto sekarang.

Percampuran dengan para pendatang pada masa-masa berikutnya menyebabkan tingkat kebudayaan mereka jadi berubah dan jumlah mereka jadi bertambah. Lokasi pemukiman mereka menjadi semakin sempit dan akhirnya mereka menyebar ke berbagai bagian Sumatera Barat yang lainnya. Sebagian pergi ke daerah kabupaten Agam dan sebagian lagi sampai ke Kabupaten Tanah Datar sekarang. Dari sini penyebaran dilanjutkan lagi, ada yang sampai ke utara daerah Agam, terutama ke daerah Lubuk Sikaping, Rao, dan Ophir. Banyak di antara mereka menyebar ke bagian barat terutama ke daerah pesisir dan tidak sedikit pula yang menyebar ke daerah selatan, ke daerah Solok, Selayo, sekitar Muara, dan sekitar daerah Sijunjung.

Sejarah daerah Propinsi Sumatera Barat menjadi lebih terbuka sejak masa pemerintahan Raja Adityawarman. Raja ini cukup banyak meninggalkan prasasti mengenai dirinya, walaupun dia tidak pernah mengatakan dirinya sebagai Raja Minangkabau. Adityawarman memang pernah memerintah di Pagaruyung, suatu negeri yang dipercayai warga Minangkabau sebagai pusat kerajaannya. Adityawarman adalah tokoh penting dalam sejarah Minangkabau. Di samping memperkenalkan sistem pemerintahan dalam bentuk kerajaan, dia juga membawa sumbangan yang besar bagi alam Minangkabau. Kontribusinya yang cukup penting itu adalah penyebaran agama Budha. Agama ini pernah punya pengaruh yang cukup kuat di Minangkabau. Terbukti dari nama beberapa nagari di Sumatera Barat dewasa ini yang berbau Budaya atau Jawa seperti Saruaso, Pariangan, Padang Barhalo, Candi, Biaro, Sumpur, dan Selo.

Sejarah Sumatera Barat sepeninggal Adityawarman hingga pertengahan abad ke-17 terlihat semakin kompleks. Pada masa ini hubungan Sumatera Barat dengan dunia luar, terutama Aceh semakin intensif. Sumatera Barat waktu itu berada dalam dominasi politik Aceh yang juga memonopoli kegiatan perekonomian di daerah ini. Seiring dengan semakin intensifnya hubungan tersebut, suatu nilai baru mulai dimasukkan ke Sumatera Barat. Nilai baru itu akhimya menjadi suatu fundamen yang begitu kukuh melandasi kehidupan sosial-budaya masyarakat Sumatera Barat. Nilai baru tersebut adalah Islam. Syekh Burhanuddin dianggap sebagai penyebar pertama Islam di Sumatera Barat. Sebelum mengembangkan agama Islam di Sumatera Barat, ulama ini pernah menuntut ilmu di Aceh.

Pengaruh politik dan ekonomi A­ceh yang demikian dominan membuat warga Sumatera Barat tidak senang kepada Aceh. Rasa ketidak­puasan ini akhirnya diungkapkan de­ngan menerima kedatangan orang Be­landa. Namun kehadiran Belanda ini juga membuka lembaran baru sejarah Sumatera Barat. Kedatangan Belanda ke daerah ini menjadikan Sumatera Ba­rat memasuki era kolonialisme dalam arti yang sesungguhnya.

Orang Barat pertama yang datang ke Sumatera Barat adalah seorang pelan­cong berkebangsaan Prancis yang ber­nama Jean Parmentier yang datang sekitar tahun 1523. Namun bangsa Ba­rat yang pertama datang dengan tu­juan ekonomis dan politis adalah bang­sa Belanda. Armada-armada dagang Belanda telah mulai kelihatan di pan­tai barat Sumatera Barat sejak tahun 1595-1598, di samping bangsa Belan­da, bangsa Eropa lainnya yang datang ke Sumatera Barat pada waktu itu ju­ga terdiri dari bangsa Portugis dan Ing­gris.

Memiliki Banyak Nilai Budaya

Kebudayaan yang hidup dalam Propinsi Sumatera Barat disebut kebu­dayaan Minangkabau. Berdasarkan pengamatan dan penelitian, kebuda­yaan ini cukup kaya, bersumber dari ni­lai-nilai luhur yang ditinggalkan atau diwariskan para nenek moyang. Kebu­dayaan ini pernah mengalami puncak keemasannya pada jaman kejayaan Kerajaan Pagaruyung, khususnya se­masa kepemimpinan Raja Adityawar­man. Dewasa ini masyarakat Minang­kabau yang terkenal teguh dalam me­megang adat berusaha untuk memeli­hara khasanah budaya peninggalan para lelu­hur.

Propinsi Sumatera Barat memiliki satu lembaga adat yang amat berwibawa, yang terkenal dengan nama Lembaga Kera­patan Adat Alam Minangkabau atau LKAAM. Lembaga ini memiliki wewe­nang besar dalam menentukan masa­lah-masalah adat dan kebudayaan dalam masyarakat Minangkabau. Karena itu sungguh tidak menghe­rankan kalau seseorang yang diper­cayakan untuk memimpin lembaga ini dianggap memiliki satu kelebihan ter­sendiri sebagai seorang tokoh yang di­terima kaum adat.

Pada umumnya hal-hal yang ber­kenaan dengan kebudayaan itu dapat dikategorikan dalam empat bidang. Pertama adalah bidang kesejarahan serta permuseuman, kedua adat-istia­dat, bahasa dan sastra, ketiga keseni­an, dan keempat perbukuan atau per­pustakaan. Bangunan bersejarah di Sumatera Barat antara lain meliputi: Istana Paga­ruyung, museum Taman Bundo Kan­duang di Bu­kittinggi, museum perjuangan rakyat, rumah gadang di Koto Nan Ampek, rumah gadang di Padang Lawas, balairung sari di Tabek serta mesjid di Ampang Gadang dan situs kepurbakalaan di Tanah Datar.

Terbuka Menjadi Istimewa

Untuk menjadikan sebuah daerah menjadi istimewa itu tidaklah gampang, namun putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara uji materi Undang-Undang Otonomi Khusus Papua terkait dengan mekanisme pemilihan gubernur membuka kemungkinan bisa ditetapkannya gubernur-wakil gubernur di daerah yang diakui sebagai daerah istimewa, seperti Yogyakarta. Kesimpulan ini terlihat di dalam pertimbangan hukum MK halaman 38 putusan bernomor 81/PUU-VIII/2010.

Dalam putusan MK tersebut, bisa menjadikan sebuah daerah yang menginginkan daerahnya menjadi istimewa, seperti dalam pasal 18 B Ayat (1) UUD 1945 menyatakan, ”Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat Khusus atau bersifat Istimewa yang diatur dengan Undang-Undang”. Dalam pasal tersebut menurut Mahkamah Konstitusi (MK), pengakuan adanya keragaman itu mencakup sistem pemerintahan serta hak dan kewenangan yang melekat di dalamnya, adat istiadat, serta budaya daerah yang dijamin dan dihormati melalui penetapan UU.

Menurut MK, pengakuan itu termasuk pengakuan atas hak asal usul yang melekat pada daerah yang bersangkutan berdasarkan kenyataan sejarah dan latar belakang daerah tersebut. ”Artinya, menurut Mahkamah, jika dapat dibuktikan dari asal usul dan kenyataan sejarah, daerah tersebut memiliki sistem pemerintahan sendiri yang tetap hidup dan ajek, tetap diakui dan dihormati yang dikukuhkan dan ditetapkan dengan undang-undang (UU),” demikian terungkap dalam putusan MK tersebut. Dari keputusan MKtersebut, sesuai dengan sejarah Sumatera Barat yang telah diungkap penulis diatas dan adanya keberagaman budaya daerah bisa membuka Sumatera Barat menjadi daerah istimewa, tinggal meyakinkan perjuangan dari tokoh-tokoh Sumatera Barat yang memiliki kompetensi untuk memperjuangkan Sumatera Barat layak atau tidak untuk menjadi daerah istimewa. Kita tunggu saja perjuanganrencana dari LKAAM se Sumatera Barat, untuk bertatap muka dengan Mendagri Gamawan Fauzi terkait membicarakan keistimewaan Sumatera Barat.

Di satu sisi, kalau kita kembali mentalaah pernyataan Ketua LKAAM Sayuti di Harian Pagi Dharmasraya Ekspres 28 April 2011 lalu terkait permasalahan perjuangkan nagari bersifat istimewa dimanaKetua LKAAM menanggapi pendapat yang dikemukakan Hermanto, yang menyatakan Revisi UU No 32/2004, berpotensi rugikan sumbar. Apa yang dikatakan anggota Komisi II DPR-RI itu ada benarnya bila pembangunan nagari selalu diukur dengan uang. Jika pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp1 miliar untuk satu desa atau nama lainnya nagari, maka Sumbar akan dapat bantuan lebih kurang Rp600 miliar.

Tetapi jika jorong ditetapkan sebagai desa, maka Sumbar mendapat alokasi bantuan kurang lebih Rp3,6 triliun. Ini dihitung dari nagari yang jumlahnya 628 nagari sementara jorong / korong / kampuang berjumlah 3.625. Namun permasalahan ini tidak akan selesai selagi pemerintah dan masyarakat Sumbar tidak memperjuangkan nagari bersifat istimewa. Dalam penjelasan Pasal 18 dinyatakan pada angka dua Romawi ”Dalam teritori negara Indonesia terdapat lebih kurang 250 Zelfbesturende landschappen dan Volksgemeenchappen, seperti desa di Jawa dan Bali, nageri di Minangkabau, dusun dan marga di Palembang dan sebagainya.

Daerah-daerah itu mempunyai susunan asli, dan oleh karenanya dapat dianggap sebagai daerah yang bersifat istimewa. UUD 45 ini harus menjadi landasan hukum dasar bagi pengurus negara. Tidak boleh undang-undang atau peraturan yang lebih rendah bertentangan dengan peraturan dan perundang-undangan yang lebih tinggi. Dalam prinsip stratum hukum di dunia disebutkan Lex Superior Derogat Legi Inferiori (undang-undang yang lebih tinggi mengalahkan undang-undang yang lebih rendah).

Jadi, kalau ada orang bertanya apa dasar pembentukan pemerintahan nagari di kabupaten dan kota, maka orang itu sudah bisa ditebak belum memahami prinsip strata hukum dan UUD 1945. Dasar pembentukan pemerintahan nagari itu adalah UUD 1945. Sedangkan dasar hukum tidak tertulis adalah hukum adat itu sendiri. Hukum adat yang tidak tertulis itu termasuk hukum positif di Indonesia. Dengan kata lain belum ada negara kesatuan RI ini negeri di Minangkabau sudah mempunyai sistem yang efektif dan mandiri. Kembali ke sistem pemerintahan nagari itu adalah totalitas dan jangan mendua hati.  Stibbe (1850) menyebutkan bahwa, ”nagari merupakan masyarakat di sesuatu daerah yang berdiri sendiri dengan alat-alat perwakilan, hak milik, kekayaan, dan tanah-tanah sendiri. Berlainan dengan desa dan lurah di Jawa, telah berdiri sendiri sebelum kedatangan kita (orang-orang Belanda) di Sumatera”.

Lurah dan Desa  milik Jawa. Nagari milik Minangkabau. Asal mula nagari ini dengan jelas dan historis dapat kita selidiki secara seksama. Menurut ahli adat dari Belanda yang bernama Rooy (1890) dalam buku De positie van de volkshoofden in een Gedeelte der Padangsche Bovenlanden, orang-orang yang pertama mendirikan beberapa nagari, dapat diusut sampai ke Nagari Pariangan dan Nagari Padangpanjang di kaki sebelah selatan Gunung Merapi; di sana mereka berhenti sebelum sampai ke tujuan terakhir yang dengan jelas sekali dapat kita lihat.

Prof Mr Muhammad Yamin pernah berpidato di Parlemen pada 1957 dalam rapat dengar pendapat dengan Pemerintah Kabinet Sastroamijoyo ke-II yang berjudul ”Dewan Banteng Contra Neo Ningrat”, yang mengatakan bahwa kepemimpinan nagari akan kontra dengan kepemimpinan neo ningrat di desa dan lurah. Nagari dikatakan bersifat istimewa dengan beberapa alasan.

  • Pertama, sebelum ada negara, nagari sudah tersusun menurut asal asul dan susunan aslinya, tetapi tentram dan makmur.
  • Kedua, anak nagari menganut sistem kekerabatan matriliniel.
  • Ketiga, landasan kemasyarakatannya adalah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
  • Keempat, hukum adatnya dapat menjawab pertanyaan sepanjang masih ada.
  • Kelima, pemimpinnya yang disebut ninik mamak pemangku adat dapat menjawab pertanyaan sepanjang masih ada, artinya masih ada.
  • Keenam, wilayah adatnya yang disebut tanah ulayat dapat menjawab pertanyaan sepanjang masih ada, artinya masih ada;
  • Ketujuh, rakyatnya yang setia dengan Pancasila,UUD 1945, dan NKRI tetap dapat menjawab pertanyaan sepanjang masih ada, artinya masih ada.

Dari tujuh alasan itu tidak ada alasan pemerintah pusat tidak mau memberikan nagari bersifat istimewa. Kalau dilihat dari pernyataan ketua LKAAM Sumatera Barat berdasarkan historis dan sejarah yang ada maka Sumatera Barat Layak untuk dijadikan Daerah Istimewa.(***)

Selengkapnya :

http://www.kompasiana.com/muhammadsamin/menggugat-rencana-keistimewaan-sumatera-barat_551260e6a33311f056ba8468

Rao Pasaman Dan Kerajaan Padang Nunang

raopasaman

Oleh: Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo[1]

Rao dan Pasaman umumnya dalam subkultur Minang merupakan rantau Luhak Agam yang kental menganut adat kelarasan Koto Piliang yang didirikan Datuk Ketumanggungan. Justru dalam tata pemerintahan masa Belanda, Pasaman (Ophir dan Lubuk Sikaping) adalah bagian integral wilayah Afdeling Agam yang controleur-nya ketika itu berkedudukan di Onder Afdeling Ophir yakni di Talu. Sebab itu pula sampai sekarang, dalam pemerintahan adatnya terutama pada jejak kerajaan Sapiah Balahan Pagaruyung  yang ada di Pasaman (misalnya Kerjaan Padang Nunang Rao, Kerajaan Talu, Kerajaan Parik Batu Simpang Ampat, Kerajaan Kinali, Kerajaan Sontang [2] dsb) kental menganut aturan dan paham ketatanegaraan Koto Piliang. Kelarasan ini berpandangan bahwa lembaga raja, mulai dari Rajo Tigo Selo, amat dihormati dan status (kedudukan)-nya berada di atas segalanya.

Kepopuleran Rao, di antaranya tidak bisa dilepaskan dari sejarah kebesaran kerajaan lama Padang Nunang – Rao, di samping nama besar tokoh Tuanku Rao (1790 – 1833). Tuanku Rao ini, ayahnya berasal dari Tarungtarung Rao dan ibu-nya dari Padangmantinggi, kemudian dikenal sebagai  seorang tokoh Paderi (1821 – 1837) terkemuka dan panglima perang, disebut amat gigih memerangi Belanda di wilayah Pasaman, Kotanopan, Padanglawas, dan di Padangsidempuan.

Ia juga seorang ulama penyebar Islam di Tanah Batak, yang masa remajanya belajar ilmu agama Islam di surau Tuanku Nan Tuo, Koto Tuo (Agam), kemudian mendalaminya dengan Bonjol bidang fiqh al-Islam (jurisprudensi Islam) sampai dianugerahi gelar Fakih Muhammad. Diceritakan ia menikah dengan seorang wanita bangsawan, puteri Yang Dipertuan Rao. Ia bertentangan mazhab dengannya (ia berpaham Wahabi), juga mertuanya tidak menunjukkan perlawanan terhadap Belanda, karenanya mengambil alih pemerintahan di Rao dan bergelar Tuanku Rao.

Kerajaan Padang Nunang, Rao jelas-jelas kerajaan kerabat Pagaruyung [3]. Razak banyak menceritakan perihal kerajaan ini bersumber dari ninik Mukti bin Abdullah di Sumur Rao.

Yang Dipertuan Rao, bersemayam di Koto Rao, Rao Mapat Tunggul. Kawasan  tapak istana tersebut boleh dilihat dari jambatan Sungai Asik, yang merupakan sempadan antara Nagari Lubuak Layang, Mapat Cancang dan Lubuak Godang, Mapat Tunggul.

Kerajaan ini mulai mundur dari kejayaannya disebabkan terjadi konflik dalam tubuh kerajaan. Raja-raja Rao melakukan musyawarah mencari  solusi penyelesaian. Saat itu Yang Dipertuan Rao sudah wafat menjadi korban Perang Padri. Keputusan musyawarah mengamanatkan perlu menjemput dan mengangkat seorang Raja dari istana Kerajaan Pagaruyung dengan memberi gelar Yang Dipertuan sebagai safety valve (katup pengaman) konflik kerajaan. Lalu disepakati tiga orang raja sebagai wakil Raja-Raja Rao untuk menghadap Raja Alam di istana Kerajaan Pagaruyung. Tiga orang Raja itu ialah:

(1) Sutan Komalo dari Padang Bariang,

(2) Sutan Nadil dari Koto Panjang,

(3) Sutan Rajo Lelo dari  Tanjung  Boda.

Ada juga catatan termasuk Dato’ Rajo Malintang, Lubuok Layang sebagai wakil utusan.

Sesampai di istana, wakil Padang Nunang diperkenankan memilih salah seorang kerabat yang ketika itu raja perempuan, terpilih yang tercantik. Kemudian Raja pilihan dari Pagaruyung itu dikukuhkan dengan diberi gelar Yang Dipertuan di wilayah Koto Rajo, Mapattunggul. Pada upacara pengukuhan itu semua Raja Rao menyatakan kesetiaan kepada raja yang baru dikukuhkan itu.

Malang tidak dapat ditolak, raja yang baru dikukuhkan itu rebah di singgasana kerajaan. Diperiksa, ternyata ia sudah wafat. Dari suara-suara, disebabkan oleh €œketulahan€, sebuah mitos Minang, diperkirakan derajatnya rendah atau bukan keturunan raja, dan tidak bebannya yang dipikul.

Wakil Raja Rao yang bertiga mengantarkan raja yang mangkat itu ke istana Pagaruyung, mengabarkan perihal kewafatannya

Sekembalinya di Rao, Raja-Raja Rao kembali mengadakan musyawarah. Ketiga wakil Raja Rao tadi diminta untuk pergi sekali lagi ke istana Pagaruyung, untuk mencari ganti raja perempuan yang wafat. Wakil Raja Rao membuat strategi sebelum menghadap Raja Pagaruyung. Mereka mengambil langkah diam-diam betemu dengan ketua protokoler (pengawal) istana Pagaruyung. Di sana mereka mendapatkan informasi menarik.

Ada seorang perempuan derajatnya tinggi, ia keturunan raja langsung dari isterinya yang lain, tetapi dimarjinalkan, disisihkan dalam pergaulan istana, karena lahir dengan paras kurang cantik. Sering dimarahi dan tidak dihormati, tetapi siapa pun yang memarahinya langsung sakit. Sakitnya tidak akan pernah sembuh, kalau tidak diobati dengan air basuh kaki perempuan keturunan raja itu.

Pada saatnya wakil Rao itu meminta perempuan yang di dapur itu di Balai menghadap Raja Pagaruyung dan Raja memperkenankannya dibawa utusan dan diselenggarakan upacara naik nobat menjadi Yang Dipertuan Padang Nunang di Rao.

Yang Dipertuan dibangunkan istana baru. Istana lama di pindahkan. Rajo Malintang penguasa Lubuak Layang, berkenan memberikan sebidang tanah yang disebut Padang Nunang, Lubuk Layang; di situ dibangun istana baru. Kemudian gelar Yang Dipertuan ditukar dengan Yang Dipertuan Padang Nunang.

Razak dari sumber ayahnya, mengisahkan, Yang Dipertuan Padang Nunang ini (Rajo perempuan dari Pagaruyung tadi) bertemu jodoh dengan keturunan  bangsawan  Mandailing.***

Padang, 2012

Catatan Akhir:

[1]Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo, Ketua V Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar, Dosen Fakultas Ilmu Budaya €“ Adab IAIN Imam Bonjol, Peneliti banyak menulis tentang kebudayaan terutama Minangkabau serta Kerajaan Sapiah Balahan Pagaruyung (Kerabat Minangkabau). Sekarang sedang menulis buku tentang Talu, Pasaman.

Blogg: http://www.wawasanislam.wordpress.com, e-mail: yy_datuk@yaho.com dan facebook: datukyuyu@yahoo.com.

[2] Yulizal Yunus, Kerajaan Pagaruyung, Alam Minangkabau dan Kerajaan-Kerajaan Kerabat, Makalah Pertemuan Pemangku Adat, Balaiselasa: STAI, 2002). Baca juga Yulizal Yunus, Kesultanan Indrapura dan Mandeh Rubiyah di Lunang, Spirit Sejarah dari Kerajaan Bahari hingga Semangat Melayu Dunia. Padang: Pemkab Pessel  IAIN-IB Press, 2002.

[3]Kerajaan Padang Nunang Rao tidak banyak historika dokumenta yang berbicara dan akurat, namun fakta sosial cukup banyak bahkan sampai ke dunia maya cukup menyebar dan diperdebatkan cukup alot. Razak Rao (dalam http://razakrao.multiply.com/), menayangkan cerita lama itu, tetapi diakuinya tidak mu’tamad (akurat), karena informasi diperoleh dari arwah ninik (cerita sejarah dari arawah).

Riza Syahran Ganie gelar Sutan Khalifah juga member tanggapan dengan menambah informasi tentang Kerajaan Pasaman Kehasilan Kalam. Nurul Wahyu Sanjaya (wahyuraorao@yahoo.co.id) lebih serius memberi tanggapan, dengan mengemukakan fakta sosial baru dan menarik terutama tentang kisah raja-rajanya. Ia menyebut Rajo Rao, di antaranya Sutan Maha Lebihi beserta keempat anaknya, yang masing-masing bergelar Ja Pardanonan (Raja Lumbung), Ja Kinari (Raja Sinar), Ja Suaro (Raja Suara), dan Maha Raja Lelo (Manga Raja Lelo) memindahkan istananya dari Rao ke Batang Natal (Muara Soma). Dari sharing informasi itu terbetik cerita teller history raja yang sulit dibuktikan (mitos) berkaitan dengan Nabi Suleman dan Ratu Bulkis, orang Minang popular dengan sebutan Balukih (seperti lukisan cantiknya) sukunya Nur yang berarti cahaya dan Minang. Nabi Sulaiman mengambil emas, kemenyan dan lada di Gunung Ophir sebutan untuk Gunung Pasaman sekarang, di situ pula ia mempersunting Bulkis Ratu Kerajaan Saba.

http://guguak8koto.blogspot.co.id/2013/09/rao-pasaman-dan-kerajaan-padang-nunang.html?m=1

Hikayat Datuk Nyato Dirajo Diplomat Ulung Kampar Kiri

kamparkiri

Datuk Nyato Dirajo adalah pucuk rantau Negeri Domo Kekhalifaan Kuntu. Pada masa kurun abad ke 16 Masehi pucuk Rantau Negeri Domo bernama Datuk Andomo. Pada masa ini Datuk-datuk Serantau Kampar Kiri sudah bersepakat untuk berdiri sendiri dalam wadah suatu kerajaan. Setelah kesepakatan dibuat maka para datuk bersepakat untuk meminta seorang anak Raja Asli dari Raja Pagaruyung untuk dirajakan di rantau Kampar Kiri.

Maka Datuk Sanjayo, Penjaga Batas Rantau Kampar Kiri, menjadi delegasi dari Luak Subayang untuk menghadap ke Istana raja Pagaruyung. Setiba di istana raja maka disampaikanlah maksud dan tujuan kedatangan kedua bangsawan Kampar Kiri ini, yaitu untuk meminta seorang anak raja yang asli keturunan Daulat Raja Pagaruyung, di mana anak tersebut akan menjadi “Bijo” atau cikal Raja bagi kerajaan Gunung Sailan.

Setelah mendengar maksud kedatangan delegasi Pembesar Rantau Kampar Kiri yang dikepalai Maka Datuk Sanjayo, Penjaga Batas Rantau Kampar Kiri, Maka Raja Pagaruyung kemudian mengiyakan dan merestui keinginan Datuk-datuk dari Kampar Kiri tersebut.

Adapun mengenai permintaan untuk membawa seorang anak raja yang asli (laki-Laki) ke Rantau Kampar Kiri, Raja Pagaruyung waktu itu juga memberikan restunya, silakan ambil dan bawalah ke Kampar Kiri. Kemudian Raja Pagaruyung menunjuk kepada halaman istana Pagaruyung waktu itu dan berkata “di sana ada sekumpulan anak-anak raja Pagaruyuag, ambillah satu dan bawalah ke Negeri Tuan-tuan.

Menurut hikayat para tetua adat, pada waktu itu di halaman istana ada sekitar 40 orang anak laki-laki yang sedang bermain, maka Raja Pagaruyung mempersilakan untuk mencari dan memilih sendiri anak mana yang disukai oleh para Datuk untuk dijadikan Raja di Kampar Kiri. Melihat kesempatan ini maka Datuk Besar ketua delegasi Masyarakat Kampar Kiri memilih seorang anak Raja yang paling bagus dan elok raut mukanya.

Anak tersebut diambil lalu dibawa ke Rantau Kampar Kiri, lalu di dudukkan di atas tahta di Negeri Gunung Sailan. Sebelum dinobatkan menjadi Raja, maka anak raja yang dijemput tadi dilakukan upacara sembah raja, di mana seluruh Datuk pembesar rantau menyembah anak raja tersebut, sebagai wujud Baiat mereka atas kepemimpinan Raja baru.

Akan tetapi setelah dilakukan upacara sembah Raja, Sang Anak Bijo Raja tersebut tiba-tiba sakit, tidak beberapa lama kemudian sang anak meninggal dunia. Kejadian ini membuat gempar Rakyat serantau Kampar Kiri, di mana raja yang dijemput ke Pagaruyung tiba-tiba wafat tak tahan sembah.

Maka bermusyarahlah kembali para datuk Pembesar Rantau di mana dalam Musyawarah itu didapat kata sepakat bahwa jika anak Raja tersebut wafat tak tahan sembah, berarti anak tersebut bukan anak raja yang asli dari kerajaan Pagaruyung.

Diutuslah delegasi kedua yang dikepalai oleh Datuk Singo Rajo Babandiang kembali menghadap Raja Daulat Pagaruyung, dengan maksud yang sama yakni meminta anak raja yang asli untuk dijadikan raja di Gunung Sailan. Setiba di istana Raja Pagaruyung jawaban Raja tetap sama yakni silahkan dipilih dari sekumpulan anak raja Pagaruyung yang ada.

Kemudian Datuk Godang kembali memilih seorang anak yang menurut hemat dan pertimbangan beliau ini adalah anak raja yang asli. Setelah dapat maka dibawalah ke Rantau Kampar Kiri, sebelum sampai di Gunung Sailan di suatu tempat maka berhentilah Datuk Singo Rajo Babandiang dan pengiringnya dan kemudian menghampiri sang Raja Muda Pagaruyung tersebut, kemudian bertanya apakah tuan muda adalah anak raja Pagaruyung ….? Sang anak mengangguk. Lalu Datuk Singo Rajo Babandiang kembali memastikan agar kejadian pertama tidak terulang, apakah Tuan Muda, benar-benar anak Raja asli / kontan raja Pagaruyung.

Mendengar pertanyaan tersebut maka Tuan Muda dari Pagaruyung ini kemudian menggeleng. Mendengar jawaban sang Tuan Muda dari Pagaruyung maka bingunglah Datuk Singo Rajo Babandiang, maka tuan Muda ini diberi gelar “ Rajo Ongguak –Geleng”.

Untuk memastikan bahwa anak ini bisa dijadikan Raja di Kampar Kiri, maka diadakanlah kembali upacara “sembah Raja” jika benar dia anak Raja asli Pagaruyung pasti tahan sembah, kata sang Datuk. Setelah upacara sembah raja, tidak berapa lama sang tuan muda menderita sakit perut, tidak lama kemudian tuan Muda dari Pagaruyung ini juga meninggal dunia. Bertambah bingunglah para pembesar Rantau Kampar Kiri, dua kali menjemput Raja, kedua-duanya berakhir dengan kegagalan.

Dengan tekad bulan, sekali layar terkembang, pantang surut kebelakang, maka diadakan musyawarah kembali dan dibentuklah delegasi ketiga. Untuk memimpin delegasi ketiga ini kemudian diserahkan kepada Datuk Andomo, yakni pucuk Rantau Negeri Domo, Kekhalifaan Kuntu.

Berangkatlah sang Datuk pembesar rantau Kampar Kiri ini kembali ke Istana Raja Pagaruyung dengan tekad mendapatkan seorang anak Raja yang asli keturunan Raja Pagaruyung. Setelah sampai di Pagaruyung, sang Datuk Andomo tidak langsung ke istana Raja, tetapi sang datuk pergi ke pasar dan membeli setandan pisang. Lalu dipikullah pisang tersebut ke istana Raja Pagaruyung.

Setelah tiba di halaman istana, maka dipanggillah semua anak-anak yang bermain di halaman istana dan diberikan pisang (diumbuok dengan pisang). Anak-anak kemudian ramai berebut pisang sang datuk, sambil membagikan pisang sang datuk mengajukan pertanyaan kepada anak-anak tersebut, mana anak raja Pagaruyung yang sebenarnya. Anak-anak tersebut dengan polosnya menunjuk kepada seorang anak laki-laki yang sedang duduk di pinggir halaman istana. Anak tersebut tidak ikut berebut pisang sang datuk.

Datuk Andomo memperhatikan gaya anak-anak istana ini memakan pisang, ada yang langsung dibuka dan dibuang kulitnya. Kemudian buah pisang langsung dimakan oleh anak-anak tersebut, beragam cara memakan pisang anak-anak istana ini.

Kemudian sang datuk mendatangi anak yang duduk di pinggir halaman dan memperhatikan sang anak. Secara lahiriah sang anak terkesan biasa-biasa saja, bahkan dilihat dari kulit sang anak berwarna agak hitam dan rupa yang tidak terlalu tampan. Secara lahiriah tentu sang Datuk tidak begitu yakin jika sang anak ini Tuan Muda yang sebenarnya dari kerajaan Pagaruyung. Sang Datuk Andomo kemudian mempersembahkan buah pisang yang dibawanya kepada tuan muda Pagaruyung ini.

Pemberian sang datuk diterima oleh si anak. Kemudian sang tuan muda ini membuka kulit pisang selembar demi selembar dan menyisahkan bahagian bawahnya, karena bagian bawah itu adalah tempat untuk memakan pisang secara berlahan. Cara ini disebut dengan tatacara santap istana yakni disebut “Kubak Ajo”.

Melihat tatakrama sang tuan muda Pagaruyung ini maka yakinlah sang Datuk Kampar Kiri bahwa memang tuan bujang hitam inilah anak Raja yang asli dari Dinasti Raja Pagaruyung.

Kemudian sang Datuk Kampar Kiri ini, kembali menemui Raja Pagaruyung dengan tujuan yang sama dengan dua delegasi terdahulu yakni untuk meminta seorang anak raja yang asli keturunan langsung dari Raja Pagaruyung untuk dirajakan di Kampar Kiri. Sebagaimana jawaban terdahulu seperti itulah jawaban Raja Pagaruyung yakni mempersilahkan Datuk Andomo untuk memilih seorang anak dari halaman istana Pagaruyung.

Dengan diberikan izin tersebut, dengan cekatan Datuk Andomo bergerak menuju tuan Muda Hitam tersebut mengapit tangannya dan membawa si anak ke hadapan Raja Pagaruyung, sambil berkata bahwa dia akan membawa anak ini ke Gunung Sailan untuk dijadikan Raja di kampar Kiri.

Melihat kejadian ini maka terkejutlah sang Raja Pagaruyung, melihat anak laki-laki satu satunya sudah berada dalam gengaman tangan Datuk Andomo dari Kampar Kiri. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, kata izin telah keluar dari mulut Tuanku Raja, tentu pantang untuk menjilat ludah yang telah terlanjur dibuang. Maka Sang Raja mengiyakan permintaan Datuk Andomo dari Kampar Kiri.

Kemudian setelah semua perlengkapan sudah siap di depan Istana Pagaruyung maka Datuk Andomo akan turun dari istana Pagaruyung membawa sang Tuan Muda untuk dijadikan Raja di Rantau. Melihat kejadian tersebut terseraklah tangis di tengah istana, di mana ibu sang Raja Bujang menangis meraung menyaksikan putra tunggalnya di jemput terbawa oleh Datuk-datuk dari Kampar Kiri.

Melihat kejadian tersebut bertambah yakinlah Sang Datuk Andomo bahwa yang terbawa adalah Anak Raja Asli Pagaruyung. Dengan senyum kemenangan Sang Datuk Andomo meninggalkan Istana Pagaruyung kembali Ke Gunung Sailan.

Setiba di Gunung Sailan Kampar Kiri, segeralah diadakan acara Nobat Raja melalui acara sembah Raja dan pembacaan Sumpah setia di Muarabio tepatnya di pulau Angkako. Jadilah Tuan Bujang Pagaruyung sebagai Raja Pertama Kerajaan Gunung Sailan Kampar Kiri.

Kecerdikan Datuk Andomo dalam bersiasat untuk mendapatkan anak raja yang asli dari Pagaruyung ini menjadi legenda turun temurun di Rantau Kampar Kiri, sehingga Datuk Andomo pucuk Rantau Negeri Domo memperoleh kehormatan sebagai orang Besar Raja Gunung Sailan dengan gelar Datuk Nyato Dirajo.

http://rantaukamparkiriculturecenter.blogspot.co.id/2016/04/hikayat-datuk-nyato-dirajodiplomat.html?m=1