Legenda Bujang Sambilan

Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Danau dengan luas sekitar 99,5 km2 dengan kedalaman mencapai 495 meter ini merupakan danau terluas kesebelas di Indonesia, dan terluas kedua di Sumatra Barat. Menurut cerita, Danau Maninjau pada awalnya merupakan gunung berapi yang di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas. Oleh karena ulah manusia, gunung berapi itu meletus dan membentuk sebuah danau yang luas. Apa gerangan yang menyebabkan gunung berapi itu meletus dan berubah menjadi danau? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Asal Usul Danau Maninjau berikut ini!

Alkisah, di sebuah daerah di Sumatra Barat ada sebuah gunung berapi yang amat tinggi bernama Gunung Tinjau. Di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas, dan di kakinya terdapat beberapa perkampungan. Penduduknya hidup makmur dan sejahtera, karena mereka sangat rajin bertani. Di samping itu, tanah yang ada di sekitar Gunung Tinjau amat subur, karena sering mendapat pupuk alami berupa abu gunung.

Di salah satu perkampungan di kaki Gunung Tinjau itu tinggal sepuluh orang bersaudara yang terdiri dari sembilan lelaki dan seorang perempuan. Penduduk sekitar biasa memanggil mereka Bujang Sembilan. Kesepuluh orang bersaudara tersebut adalah Kukuban, Kudun, Bayua, Malintang, Galapuang, Balok, Batang, Bayang, dan lelaki termuda bernama Kaciak. Sementara adik mereka yang paling bungsu adalah seorang perempuan bernama Siti Rasani, akrab dipanggil Sani. Kedua orangtua mereka sudah lama meninggal, sehingga Kukuban sebagai anak sulung menjadi kepala rumah tangga. Semua keputusan ada di tangannya.

Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di sebuah rumah peninggalan kedua orangtua mereka. Untuk memenuhi kebutuhannya, mereka menggarap lahan pertanian yang cukup luas warisan kedua orangtua mereka. Mereka sangat terampil bertani, karena mereka rajin membantu ayah dan ibunya ketika keduanya masih hidup. Di samping itu, mereka juga dibimbing oleh paman mereka yang bernama Datuk Limbatang, yang akrab mereka panggil Engku.

Datuk Limbatang adalah seorang mamak di kampung itu dan mempunyai seorang putra yang bernama Giran. Sebagai mamak, Datuk Limbatang memiliki tanggungjawab besar untuk mendidik dan memerhatikan kehidupan warganya, termasuk kesepuluh orang kemenakannya tersebut. Untuk itu, setiap dua hari sekali, ia berkunjung ke rumah Kukuban bersaudara untuk mengajari mereka keterampilan bertani dan berbagai tata cara adat daerah itu. Tak jarang pula Datuk Limbatang mengajak istri dan putranya ikut serta bersamanya.

 

Pada suatu hari, ketika Datuk Limbatang bersama istri dan Giran berkunjung ke rumah Bujang Sembilan, secara tidak sengaja Sani saling berpandangan dengan Giran. Rupanya, kedua pemuda dan gadis itu sama-sama menaruh hati. Giran pun mengajak Sani untuk bertemu di sebuah ladang di pinggir sungai. Dengan hati berdebar, Giran pun mengungkapkan perasaannya kepada Sani.

“Dik, Sani! Wajahmu cantik nan elok, perangai baik nan berhati lembut. Maukah engkau menjadi kekasih Abang?” tanya Giran.

Pertanyaan itu membuat jantung Sani berdetak kencang. Dalam hatinya, ia juga suka kepada Giran. Maka ia pun membalasnya dengan untaian pantun.

Alangkah senang hati Giran mendengar jawaban dari Sani. Ia benar-benar merasa bahagia karena cintahnya bersambut.

Maka sejak itu, Giran dan Sani menjalin hubungan kasih. Pada mulanya, keduanya berniat untuk menyembunyikan hubungan mereka. Namun karena khawatir akan menimbulkan fitnah, akhirnya keduanya pun berterus terang kepada keluarga mereka masing-masing. Mengetahui hal itu, keluarga Giran dan Sani pun merasa senang dan bahagia, karena hal tersebut dapat mempererat hubungan kekeluargaan mereka. Sejak menjalin hubungan dengan Sani, Giran seringkali berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. Bahkan, ia sering membantu Bujang Sembilan bekerja di sawah.

Ketika musim panen tiba, semua penduduk kampung memperoleh hasil yang melimpah. Untuk merayakan keberhasilan tersebut, para pemuka adat dan seluruh penduduk bersepakat untuk mengadakan gelanggang perhelatan, yaitu adu ketangkasan bermain silat. Para pemuda kampung menyambut gembira acara tersebut. Dengan semangat berapi-api, mereka segera mendaftarkan diri kepada panitia acara. Tidak ketinggalan pula Kukuban dan Giran turut ambil bagian dalam acara tersebut.

Pada hari yang telah ditentukan, seluruh peserta berkumpul di sebuah tanah lapang. Sorak sorai penonton pun terdengar mendukung jagoannya masing-masing. Beberapa saat kemudian, panitia segera memukul gong pertanda acara dimulai. Rupanya, Kukuban mendapat giliran pertama tampil bersama seorang lawannya dari dusun tetangga. Tampak keduanya saling berhadap-hadapan di tengah arena untuk saling adu ketangkasan. Siapa pun yang menang dalam pertarungan itu, maka dia akan melawan peserta berikutnya. Ternyata, Kukuban berhasil mengalahkan lawannya. Setelah itu, peserta berikutnya satu per satu masuk ke arena gelanggang perhelatan untuk melawan Kukuban, namun belum seorang pun yang mampu mengalahkannya. Masih tersisa satu peserta lagi yang belum maju, yakni si Giran. Kini, Kukuban menghadapi lawan yang seimbang.

“Hai, Giran! Majulah kalau berani!” tantang Kukuban.

 

“Baiklah, Bang! Bersiap-siaplah menerima seranganku!” jawab Giran dan langsung menyerang Kukuban.

Maka terjadilah pertarungan sengit antara Giran dan Kukuban. Mulanya, Giran melakukan serangan secara bertubi-tubi ke arah Kububan, namun semua serangannya mampu dielakkan oleh Kukubun. Beberapa saat kemudian, keadaan jadi terbalik. Kukuban yang balik menyerang. Ia terus menyerang Giran dengan jurus-jurus andalannya secara bertubi-tubi. Giran pun terdesak dan kesulitan menghindari serangannya. Pada saat yang tepat, Kukuban melayangkan sebuah tendangan keras kaki kirinya ke arah Giran. Giran yang tidak mampu lagi menghindar, terpaksa menangkisnya dengan kedua tangannya.

“Aduh, sakit…! Kakiku patah!” pekik Kukuban dan langsung berguling di tanah sambil menjerit kesakitan.

Rupanya, tangkisan Giran itu membuat kaki kirinya patah. Ia pun tidak mampu lagi melanjutkan pertandingan dan dinyatakan kalah dalam gelanggang tersebut. Sejak itu, Kukuban merasa kesal dan dendam terhadap Giran karena merasa telah dipermalukan di depan umum. Namun, dendam tersebut dipendamnya dalam hati.

Beberapa bulan kemudian, dendam Kukuban yang dipendam dalam hati itu akhirnya terungkap juga. Hal itu bermula ketika suatu malam, yakni ketika cahaya purnama menerangi perkampungan sekitar Gunung Tinjau, Datuk Limbatang bersama istrinya berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. Kedatangan orangtua Giran tersebut bukan untuk mengajari mereka cara bercocok tanam atau tata cara adat, melainkan ingin menyampaikan pinangan Giran kepada Sani.

“Maaf, Bujang Sembilan! Maksud kedatangan kami kemari ingin lebih mempererat hubungan kekeluargaan kita,” ungkap Datuk Limbatang.

“Apa maksud, Engku?” tanya si Kudun bingung.

“Iya, Engku! Bukankah hubungan kekeluargaan kita selama ini baik-baik saja?” sambung Kaciak.

“Memang benar yang kamu katakan itu, Anakku,” jawab Datuk Limbatang yang sudah menganggap Bujang Sembilan seperti anaknya sendiri.

“Begini, Anak-anakku! Untuk semakin mengeratkan hubungan keluarga kita, kami bermaksud menikahkan Giran dengan adik bungsu kalian, Siti Rasani,” ungkap Datuk Limbatang.

“Pada dasarnya, kami juga merasakan hal yang sama, Engku! Kami merasa senang jika Giran menikah dengan adik kami. Giran adalah pemuda yang baik dan rajin,” sambut si Kudun.

 

Namun, baru saja kalimat itu lepas dari mulut si Kudun, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang sangat keras dari Kukuban.

“Tidak! Aku tidak setuju dengan pernikahan mereka! Aku tahu siapa Giran,” seru Kukuban dengan wajah memerah.

“Dia pemuda sombong, tidak tahu sopan santun dan kurang ajar. Dia tidak pantas menjadi suami Sani,” tambahnya.

“Mengapa kamu berkata begitu, Anakku? Adakah perkataan atau perilakunya yang pernah menyinggung perasaanmu?” tanya Datuk Limbatang dengan tenang.

“Ada, Engku! Masih ingatkah tindakan Giran terhadapku di gelanggang perhelatan beberapa bulan yang lalu? Dia telah mematahkan kaki kiriku dan sampai sekarang masih ada bekasnya,” jawab Kukuban sambil menyingsingkan celana panjangnya untuk memperlihatkan bekas kakinya yang patah.

“Oooh, itu!” jawab Datuk Limbatang singkat sambil tersenyum.

“Soal kaki terkilir dan kaki patah, kalah ataupun menang dalam gelanggan itu hal biasa. Memang begitu kalau bertarung,” ujar Datuk Limbatang.

“Tapi, Engku! Anak Engku telah mempermalukanku di depan orang banyak,” sambut Kukuban.

“Aku kira Giran tidak bermaksud mempermalukan saudaranya sendiri,” kata Datuk Limbatang.

“Ah, itu kata Engku, karena ingin membela anak sendiri! Di mana keadilan Engku sebagai pemimpin adat?” bantah Kukuban sambil menghempaskan tangannya ke lantai.

Semua yang ada dalam pertemuan itu terdiam. Kedelapan saudaranya tak satu pun yang berani angkat bicara. Suasana pun menjadi hening dan tegang. Kecuali Datuk Limbatang, yang terlihat tenang.

“Maaf, Anakku! Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya mengatakan kebenaran. Keadilan harus didasarkan pada kebenaran,” ujar Datuk Limbatang.

“Kebenaran apalagi yang Engku maksud. Bukankah Giran telah nyata-nyata mencoreng mukaku di tengah keramaian?”

“Ketahuilah, Anakku! Menurut kesaksian banyak orang yang melihat peristiwa itu, kamu sendiri yang menyerang Giran yang terdesak dengan sebuah tendangan keras, lalu ditangkis oleh Giran. Tangkisan itulah yang membuat kakimu patah. Apakah menurutmu menangkis serangan itu perbuatan curang dan salah?” tanya Datuk Limbatang.

 

Kukuban hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Walaupun dalam hatinya mengakui bahwa apa yang dikatakan Datuk Limbatang adalah benar, tetapi karena hatinya sudah diselimuti perasaan dendam, ia tetap tidak mau menerimanya.

“Ketahuilah, Anakku! Menurut kesaksian banyak orang yang melihat peristiwa itu, kamu sendiri yang menyerang Giran yang terdesak dengan sebuah tendangan keras, lalu ditangkis oleh Giran. Tangkisan itulah yang membuat kakimu patah. Apakah menurutmu menangkis serangan itu perbuatan curang dan salah?” tanya Datuk Limbatang.

Kukuban hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Walaupun dalam hatinya mengakui bahwa apa yang dikatakan Datuk Limbatang adalah benar, tetapi karena hatinya sudah diselimuti perasaan dendam, ia tetap tidak mau menerimanya.

“Terserah Engku kalau tetap mau membela anak sendiri. Tapi, Sani adalah adik kami. Aku tidak akan menikahkan Sani dengan anak Engku,” kata Kukuban dengan ketus.

“Baiklah, Anakku! Aku juga tidak akan memaksamu. Tapi, kami berharap semoga suatu hari nanti keputusan ini dapat berubah,” kata Datuk Limbatang seraya berpamitan pulang ke rumah bersama istrinya.

Rupanya, Siti Rasani yang berada di dalam kamar mendengar semua pembicaraan mereka. Ia sangat bersedih mendengar putusan kakak sulungnya itu. Baginya, Giran adalah calon suami yang ia idam-idamkan selama ini. Sejak kejadian itu, Sani selalu terlihat murung. Hampir setiap hari ia duduk termenung memikirkan jalah keluar bagi masalah yang dihadapinya. Begitupula si Giran, memikirkan hal yang sama. Berhari-hari kedua pasangan kekasih itu berpikir, namun belum juga menemukan jalan keluar. Akhirnya, keduanya pun sepakat bertemu di tempat biasanya, yakni di sebuah ladang di tepi sungai, untuk merundingkan masalah yang sedang mereka hadapi.

“Apa yang harus kita lakukan, Dik?” tanya Giran.

“Entahlah, Bang! Adik juga tidak tahu harus berbuat apa. Semua keputusan dalam keluarga Adik ada di tangan Bang Kukuban. Sementara dia sangat benci dan dendam kepada Abang,” jawab Sani sambil menghela nafas panjang.

Beberapa lama mereka berunding di tepi sungai itu, namun belum juga menemukan jalan keluar. Dengan perasaan kalut, Sani beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba sepotong ranting berduri tersangkut pada sarungnya.

“Aduh, sarungku sobek!” teriak Sani kaget.

“Wah, sepertinya pahamu tergores duri. Duduklah Adik, Abang akan mengobati lukamu itu!” ujar Giran.

 

Giran pun segera mencari daun obat-obatan di sekitarnya dan meramunya. Setelah itu, ia membersihkan darah yang keluar dari paha Sani, lalu mengobati lukanya. Pada saat itulah, tiba-tiba puluhan orang keluar dari balik pepohonan dan segera mengurung keduanya. Mereka adalah Bujang Sembilan bersama beberapa warga lainnya.

“Hei, rupanya kalian di sini!” seru Kukuban.

Giran dan Sani pun tidak tahu harus berbuat apa. Keduanya benar-benar tidak menyangka jika ada puluhan orang sedang mengintai gerak-gerik mereka.

“Tangkap mereka! Kita bawa mereka ke sidang adat!” perintah Kukuban.

“Ampun, Bang! Kami tidak melakukan apa-apa. Saya hanya mengobati luka Sani yang terkena duri,” kata Giran.

“Dasar pembohong! Aku melihat sendiri kamu mengusap-usap paha adikku!” bentak Kukuban.

“Iya benar! Kalian telah melakukan perbuatan terlarang. Kalian harus dibawa ke sidang adat untuk dihukum,” sambung seorang warga.

Akhirnya, Giran dan Sani digiring ke kampung menuju ke ruang persidangan. Kukuban bersama kedelapan saudaranya dan beberapa warga lainnya memberi kesaksian bahwa mereka melihat sendiri perbuatan terlarang yang dilakukan oleh Giran dan Sani. Meskipun Giran dan Sani telah melakukan pembelaan dan dibantu oleh Datuk Limbatang, namun persidangan memutuskan bahwa keduanya bersalah telah melanggar adat yang berlaku di kampung itu. Perbuatan mereka sangat memalukan dan dapat membawa sial. Maka sebagai hukumannya, keduanya harus dibuang ke kawah Gunung Tinjau agar kampung tersebut terhindar dari malapetaka.

Keputusan itu pun diumumkan ke seluruh penjuru kampung di sekitar Gunung Tinjau. Setelah itu, Giran dan Sani diarak menuju ke puncak Gunung Tinjau dengan tangan terikat di belakang. Sesampainya di pinggir kawah, mata mereka ditutup dengan kain hitam. Sebelum hukuman dilaksanakan, mereka diberi kesempatan untuk berbicara.

“Wahai kalian semua, ketahuilah! Kami tidak melakukan perbuatan terlarang apa pun. Karena itu, kami yakin tidak bersalah,” ucap Giran.

Setelah itu, Giran menengadahkan kedua tanganya ke langit sambil berdoa.

“Ya Tuhan! Mohon dengar dan kabulkan doa kami. Jika kami memang benar-benar bersalah, hancurkanlah tubuh kami di dalam air kawah gunung yang panas ini. Akan tetapi, jika kami tidak bersalah, letuskanlah gunung ini dan kutuk Bujang Sembilan menjadi ikan!”

Usai memanjatkan doa, Giran dan Sani segera melompat ke dalam kawah. Keduanya pun tenggelam di dalam air kawah. Sebagian orang yang menyaksikan peristiwa itu diliputi oleh rasa tegang dan cemas. Jika Giran benar-benar tidak bersalah dan doanya dikabulkan, maka mereka semua akan binasa. Ternyata benar. Permohonan Giran dikabulkan oleh Tuhan. Beberapa saat berselang, gunung itu tiba-tiba bergetar dan diikuti letusan yang sangat keras. Lahar panas pun menyembur keluar dari dalam kawah, mengalir menuju ke perkampungan dan menghancurkan semua yang dilewatinya. Semua orang berusaha untuk menyelamatkan diri. Namun, naas nasib mereka. Letusan Gunung Tinjau semakin dahsyat hingga gunung itu luluh lantak. Tak seorang pun yang selamat. Bujang Sembilan pun menjelma menjadi ikan.

Demikian cerita Asal Usul Danau Maninjau dari Agam, Sumatra Barat, Indonesia. Konon, letusan Gunung Tinjau itu menyisakan kawah yang luas dan lama-kelamaan berubah menjadi danau. Oleh masyarakat sekitar, nama gunung itu kemudian diabadikan menjadi nama danau, yakni Danau Maninjau. Sementara nama-nama tokoh yang terlibat dalam peristiwa itu diabadikan menjadi nama nagari di sekitar Danau Maninjau, seperti Tanjung Sani, Sikudun, Bayua, Koto Malintang, Koto Kaciak, Sigalapuang, Balok, Kukuban, dan Sungai Batang.

Cerita di atas termasuk kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik, yaitu akibat buruk yang ditimbulkan oleh sifat dendam. Dendam telah menjadikan Kukuban tega menfitnah Giran dan Sani telah melakukan perbuatan terlarang. Dari hal ini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa sifat dendam dapat mendorong seseorang berbuat aniaya terhadap orang lain, demi membalaskan dendamnya. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat dendam ini sangat dipantangkan.

_____________

Sumber http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/17/asal-usul-danau-maninjau-legenda-bujang-sambilan/  5 Okt 2011.

Umbut Muda

Dahulu, di salah satu daerah Riau, hiduplah seorang ibu dan anak gadis cantik jelita .Gadis itu bernama Umbut Muda. Setiap hari, ibu melayani Umbut Muda seperti melayani seorang putri Raja.

“Hari ini aku ingin makan telur goreng,Bu. Jangan sampai gosong ya,” pinta Umbut Muda pada suatu hari yang cerah.

Ibu tersenyum sambil mengangguk. Dengan tulus, dianpergi ke kandang ayam di samping rumah dan mengambil 2butir telur yang besar. Telur-telur itu lalu dikocok barsama bumbu lalu dimasak dengan hati-hati.
“Bu!!!panggil Umbut Muda tiba-tiba.
“Iya…,”jawab Ibu.
“Sisir Umbut dimana?”
“Ibu taruh diatas maja rias.

Once upon a time, in a region in Riau, lived a mother whit her beautiful daughter. The girl was called Umbud Muda.Every day, Mother served Umbut Muda as if she was a princess.
“I’d like to eat fried eggs today,mother. Don’t let it burn,”asked Umbud Muda in a one fine morning.
Morning smiled and nodded. Sincelery, she went to the chiken farm beside the house and took two big eggs. She mixed the eggs whit some spices and carefully cooked them.
“Mother!!!”yelled Umbut Muda suddenly.
“Yes…,”replied her Mother.
“Where is my hair brush.
“I put it near the dressing table.

Umbut Muda ingin menyisir rambut nya yang panjang terurai bagai kembang mayang.Akan tetapi,sisir itu tidak ada meski dia telah mencari nya kemana-mana. Di atas meja rias, diatas lemari, di atas kasur…
“Ibuuuu!!!”suara Umbut kembali terdengar.

Dengan terpogoh-pogoh, ibu mendatangi kamar Umbut Muda, “Maaf, Umbut, Ibu baru selesai menggoreng telur,” katanya .
“Menggoreng telur saja lama amat!” ujar Umbut Muda tak sabar. “Carikan sisir Umbut! Awas kalau tidak ketemu! Umbut mau makan dulu,” lanjutnya dengan kasar.
Ibu hanya mengangguk dan menahan dadanya yang sesak gara-gara perlakuan Umbut.

Umbut Muda wanted to brush her straight long beautiful hair. However, the hair brush cloudn’t be found though she had searched everywhere. She had searched the dressing table,the cupboard,the bed…
“Mother!!!”yelled Umbut Muda again.
Mother rushed into Umbut Muda’s room, “I’m sorry, Umbut, I’ve just finished cooking the fried eggs,” she said.
“What took you so long?! It’s just fried eggs!” said Umbut Muda impatiently.
“Go find my hair brush! You better find it! I’m going to eat,” said Umbut very rude.

Ibu pikir, sifat Umbut akan berubah setelah dia besar. Tetapi tenyata sama saja. Malah sekarang makin menjadi-jadi. Jika memikirkan hal itu, Ibu hanya bisa menangis. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa karena sejak kecil Umbut dimanjakan oleh Ayahnya. Ayah Umbut adalah seorang saudagar yang kaya. Ayahnya meniggal dunia saat Umbut masih remaja.
Umbut memiliki paras yang cantik jelita. Banyak yang memuji-muji kecantikan nya. Bahkan,konon, kecantikan nya terkenal hingga ke pelosok negeri dan tidak ada bandingannya.
Hal membuat umbut muda semakin besar kepala, culas, dan sama sekalai tidak menghargai Ibunya.

Mother thought that Umbut’s behavior all this time would change as she grew up. But there was no change. It was getting even worse. Mother cloud only cried if she remembered it.
Umbut’s mother couldn’t do anything because since Umbut was a little girl, she was spoiled by her father. Her father was a rich trader. He had passed away when Umbut was still a teenager. Umbut had a very beautiful face. Many people admired her beauty. It was even said that her beauty was well know to the whole region and no one could be compared to her.
That thing made Umbut became even more big-headed, mean, and didn’t respect her mother at all

Umbut Muda tidak ingin kecantikannya ditandingi siapa pun. Karena itulah setiap hari, kerjaannya hanya menyisir rambut, berdandan, serta membeli pakaian dan perhiasan. Untunglah kekayaan yang diwarisi Ayahnya cukup banyak.

Umbut tidak peduli ibunya hanya memiliki beberapa lembar pakaian. Satu kali pun dia tidak pernah membelikan Ibunya pakaian baru. Dia malah berpikir, ibunya tidak pantas menikmati harta peninggalan Ayahnya.
Umbut muda juga memperlakukan ibunya seperti seorang pembantu. Setiap pagi, ibunya disuruh membersihkan rumah, menyiapkan makan, mencuci pakaian, dan sebagainya.

Umbut wanted nobody to match hair beauty. Therefor, everyday, all she did was brushing her hair, dressing, and buying many dresses and jewel ries. Fortunately, her father inherited quite a fortune.
Umbut didn’t care about her mother who only had a few clothes. She never bought her mother any new clothes, not even once. Instead, she thought that her mother didn’t deserve to receive any of her father inheritance.
Umbut Muda also treated her mother like a servant. Every moning, she ordered her mother to clean the house, prepare the meal, wash the laundry, and so on.

Pada waktu senggang, ibu menenun songket. Dia menerima pesanan dari para penjual songket di pasar. Dengan menenun itulah, dia mengcukupi kehidupan hidup sehari–hari. Umbut Muda tidak pernah memberikan sepeser pun harta warisan Ayahnya kepada ibunya.
“Ibu kenapa masih menenun? bukankah harta warisan Ayah sangat banyak?”begitu jawabnya.
Sebetulnya dalam hati, ibu menangis. Tetapi, dia mencoba untuk tegar. Semua dia lakukan untuk kebaikan keluarganya dan juga Umbut Muda.

In her spare time, Umbut’s mother weaved songket. She accepted orders from songket traders in the market. By weaving, she could meet her daily needs. Umbut Muda never gave her any pence of the inheritance. “Why do you still weave, Ma’am? Your husband inherited a lot of fortune, right?” asked an attentive neighbor. Umbut Muda’s mother just shook her head, “weaving is my preoccupation. So I can’t just leaveit,”she said.
Actually, she was crying inside. But she tried be tough. She did it all for her family and Umbut Muda’s sake.

Suatu ketika, Umbut Muda meminta ibunya untuk memtik mangga di depan rumahnya yang sudah ranum. Karena tidak punys alat untuk mengambilnya, ibu memanjat pohon itu. Apa yang terjadi kemudian? Sebelum ibunya berhasil mengambil salah satu buahnya, ibu terejatuh. Bukannya ditolong, dia malah dimarahi.

“Memetik mangga saja jatuh,”kata Umbut Muda.”Makanya,malekukan apa pun itu harus ikhlas.Itulah hukuman untuk orang tua yang tidak pernah ikhlas malakukan sesuatu untuk anaknya!”sambungnya dengan amat menyakitkan.
Air mata ibu terus menetes, tetapi cepat-cepat dihapusnya. Dia tidak memedulikan perkataan Umbut Muda. Dia kembali naik ke pohon mangga dan memetik beberapa buah mangga untuk putrinya.

Once,Umbut Muda asked her mother to pick mango from the mango tree in front of their house. Because there was no tool to get it, she climbed the tree.
What happened next? before she could pick one of the fruit, she fell down. Instead of healping, Umbut was scolding her mother.
“how could you fell down for just picking a mango,”said Umbut Muda. “That’s why you have to do anything sincerely. That’s the punishment for a parent who something insincerelyfor her daughter!”Umdut said roughly.
There were tears in mother’s eyes,but she quikly wiped it out. She ignored Umbut Muda’s words. She climbed the tree again and picked some mangos for her daughter.

Suatu hari, seorang putri salah satu bangsawan di daerah tempat tinggal Umbut Muda menikah. Umbut Muda yang terkenal tentu saja mendapat undangan. “ibu pakai baju ini,” kata Umbut Muda. “ibu tidak perlu berpakaian yang bagus. Cukup pakai kebaya,selendang pelangi,dan kain batik kendah ini.ibu akan menjadi tukang payung Umbut,”lanjut nya panjang lebar.
Ibu hanya mengangguk dan mengenakan apa yang di perintah Umbut Muda. Sementara itu, Umbut Muda mengenakan pakaian paling bagus yang terbuat dari sutra paling halus, paling mahal, dan paling baik kualitas nya.dia berdandan bagaikan putrid raja. Untuk melengkapi busananya, Umbut Muda mengenakan segala macan perhiasan yang di miliki nya.Sungguh sangat berbeda dengan ibu nya

One day, there was daughter of a noble family in that region who would get married. The famous Umbut Muda was surely invited.
“you wear these, mother,”said Umbut Muda. “you don’t need to dress in beautiful clothes. Just wear this kebaya, rainbow scarf, and kedah fabric. You be my umbrella lady,” explained Umbut.
Her mother just nodded and wore what Umbut Muda had chosen for her. Meanwhile, Umbut Muda wore the smoothest, most expensive, best quality silk clothes. She dressed as if she was a princess.
To fit out dress, she wore all of her jewelries. Her appearance was so different front her mother.

“Bu,bagaimana penampilan Umbut?” Tanya Umbut Muda.
“kamu cantik sekali.Ibu yakin,tidak ada yang secantik kamu,Umbut,”jawab ibu.

Umbut tersenyum senang. Rona merah langsung menghiasi kedua belah pipi nya.Dia semakin yakin dengan penampilan nya. Pasti takkan ada orang yang menandingi kecantikan ku,pikir nya.
“ Kalau begitu kita berangkat sekarang,”sekarang kata Umbut Muda beberapa saat kemudian.

“How do I look,mother?” Umbut Muda asked.
“you’re so beautiful. I’m sure there’s no one who look as beautiful as you, Umbut,” her mother answered.
Umbut smiled happily. She was instantly blushing. She became more confident whit her appearance. I’m sure no one is as beautiful as me, she said in his mind.
“all right then, we will go now,”said Umbut Muda shortly after.

 Umbut Muda makin terlihat cantik saat berjalan.Dia berjalan di depan,sementara ibunya berjalan di belakang sambil memanyungi. panyung biru muda yang di penuhi rumbai itu berhias manik-manik kaca buatan Cina.
Semua yang melihat Umbut Muda berdecak kagum. Apalagi mereka mendapat senyum manis dari Umbut Muda.
“Bu,jalan nya agak cepat sedikit. Nanti terlambat,” kata Umbut Muda pelan.
“Iya,”jawab ibu. Tangannya agak keberatan karena membawa payung.
“Ingat ya,Bu,nanti jangan mengaku sebagai ibu Umbut. Ibu harus mengaku sebagai tukang payung Umbut,” sekali lagi Umbut Muda mengingatkan.
“Iya.” Jawab Ibu.

Umbut Muda looked even more beautiful when she walked. She walked in the front, while her mother walked behind her and hold the umbrella.The blue tasseled umbrella was ornamented with Chinese sequins.
Everybody who saw Umbut Muda was impressed.especially when Umbut Muda smliled at them.
“Mother, walk faster.We can’t belate,”Umbut Muda murmured.
“Yes,”answered her mother. Her hand wash a bith shaky because of the weight of the umbrella.
“Remember, mother, don’t claim yourself as my mother.you should claim yourself as my umbrella lady,”once again Umbut Muda reminded her.
“okay.”

Umbut Muda dan ibunya melewati jembatan diatas Sungai Siak. Jembatan itu sangat sempit. Dia berjalan pelan-pelan, di ikuti ibunya yang tetap memayunginya. Tetap di tengah-tengah jembatan, tiba-tiba saja 4 gelang yang di kenakan
Umbut Muda terlepas dan jatuh ke sungai. Umbut Muda menjerit.

“Bu,ambilkan gelang-gelang Umbut!”ujar Umbut Muda.
Ibu melongok ke bawah. Arus sungai mengalir dengan sangat deras.
“Ayo, Bu. Nanti keburu terbawa arus!”rengek Umbut.
“Arus sungai sangat deras, Nak. Ibu tidak berani,”kata ibu Umbut Muda.
“Tapi, Bu, itu gelang mahal. Ibu harus menolong Umbut!”
Ibu Umbut hanya terdiam menyaksikan gelang yang semakin jauh terbawa arus.

Umbut Muda and her mother crossed a bridge over Siak Riav. The brigde was really narrow.she stepped slowly, followed by her mother who still hold the umbrella. Right in the middle of the bridge,suddenly four bracelets in Umbut Muda ‘s wrist loose and fell into the river. Umbut Muda screamed.
“Mother,please go get my bracelets!” said Umbut Muda.
Her mother leant over the river. The current was steaming swiftly.
“Go on, mother.Before they are drifted!”cried Umbut.
“The current is very swift, Darling. I ‘m not brave enogh,” Umbut Muda’s mother said.
“But mother,those bracelets were expensive. You’ve got to help me!” Umbut Muda’s mother was just starting at the bracelets that were drifted farther

Melihat ibu yang hanya menatap sungai, Umbut Muda sangat marah. Lalu dengan tampa perasaan, dia merebut payung dari tangan ibu nya dan mendorong ibu nya ke sungai.

“Umbuuut!!!” jerit ibu ketika terjun ke sungai.
Plung! Blep! Ibu sekarang benar-benar berada di sungai dan terbawa arys. Dia mencoba berenang,tetapi tidak bias.
“Ibu harus ambilkan gelang Umbut. Sebelum ketemu, ibu tidak boleh keluar dari sungai !” teriak Umbut amat kasar.
Ibu terlihat timbul tenggelam di permainkan arus sungai. Boro-boro mau mencari gelang, untuk menolong dirinya pun tidak bisa. Akan tetapi, Umbut tidak peduli. Dia terus berteriak menyuruh Ibunya mensari gelang-gelang nya.

  1. Seeing her mother was just staring at the river, it drove Umbut Muda mad. Then ruthressly, she grabbed the umbrella in mother’s hand and pushed her mother into the river.
  2. “Umbut!!”cried her mother as she fallen down.
    Blung!Blep! her mother was now in the river and rifted. She tried to swim, but she cloudn’t.
    “you got to find my bracelets. Until then, you can’t come out of the river!” yelled Umbut ruthlessly.
    Her mother was floating around, played by the current. She cloudn’t even swim, let alone find.

Saat itulah, angin puting beliung datang dari arah belakang. Angin itu dating begitu saja dan bergulung-gulung munyelimuti Umbut Muda.
“Tolooong! Tolooong!” Umbut Muda berpegangan pada tepian jembatan. Dia sangat ketakutan.

Semakin keras Umbut Muda meminta tolong, semakin kencang pula angin putting beliung itu menyelimutinya.

“Tolooong! Tolooong!” satu per satu perhiasan yang dikenakan Umbut Muda terlepas.Dari mulai mutiara yang dikenakan di kepalnya, kalung, gelang, ronce di kedua kaki nya, dan juga cicin di jari tangan nya.
Sekarang,keadaa Umbut Muda sudah tidak karuan. Dia terus meminta tolong, tetapi angin puting beliung itu tidak mau melepaskan nya.

At the moment, there came a hurricane from behind. the hurricane came all of a sudden and twisted over Umbut Muda.

“Heeelp! Heeelp!” Umbut Muda was holding on the bridge rail. She was terribly scared. The louder she cried for help, the tighter the hurricane trwisted over her.
“Heeelp! Heeelp!” her jewelries flew everywhere one by one. Started from the pearl in her head, her necklace, bracelets, foot rings, and also the rings on her fingers.
She was now all messed up. She kept crying for help, but the hurricane didn’t let her go.

Tenaga Umbut Muda akhirnya habis. Cengkraman tangan nya terlepas dari tepian jembatan. Dengan sangat cepat, angin putting beliung membawanya terbang. Ia seperti di seret-seret ke udara.

Setelah itu, Umbut Muda terlempar ke sungai. Angin puting beliung bersama dengan arus sungai yang deras melemparkan badan nya kesana kemari. Sementara itu, ibu Umbut Muda seperti diangkat puting beliung ke atas dan didudukan di atas batu.
Ibu Umbut Muda tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menyaksikan anak kesayangan nya yang dipermainkan angin puting beliung. Dia hanya bisa berdoa supaya anak kesayangan nya bisa selamat yaitu Umbut Muda.

Her energy was finally used up. Her grip was detached of the bridge rail. Very quickly, the hurricane flew her away. She was like dragged around on the air.

After that, Umbut Muda was thrown into the river. Together with the stream, she was rolled everywhere by the hurricane. Meanwhile, her mother was lifted and put in the stone easily as if it was done by the hurricane.
She couldn’t do anything. She could only watch her beloved daughter rolled forward and backward by the hurricane. She could only prayed that Umbut Muda could survive.

“Ibuuu… tolooong!” itulah kalimat terakhir Umbut Muda. Saat itu, dia tengah digulung oleh angin puting beliung bersama lumpur sungai. Nafas nya amat sesak.

Ibu tidak tahan melihat penderitaan Umbut Muda. Ia menutupi matanya dengan kedua tangan nya. Saat matanya terbuka kembali, Umbut Muda sudah tak bernyawa. Saat itulah, kedua mata sayu sang ibu meneteskan air mata.

Hingga sekarang, sering terlihat akar-akaran berwarna hitam sedang di permainkan arus Sungi Siak. Pemandangan itu dipercayai penduduk setempat sebagai rambut Umbut Muda. Terkadang, angin puting beliung yang menggulung-gulung juga muncul diatas sungai. Ini menjadi peringatran bagi masyarakat setempat untuk selalu menghormati seorang Ibu.
Nah,apa kalian ingin mengikuti jejak Umbut Muda? Kalau aku, sama sekali tidak! Karena itulah,aku selalu menghormati ibuku.

“mother… heeelp!” that was Umbut Muda’s last sentence. At the time, she was rolled by the hurricane and the river mud. She was out of breath.
Her mother couldn’t stand to watch her suffer. She covered her eyes with her hands. When she opened her eyes again, Umbut Muda was already dead. At thet moment, tears rolled down her cheeks.
Up until now, there often appear some kind of black root that was played by the stream of Siak River. Locals belived that it was Umbut Muda’s hair. Sometimes, there also appeared hurricane twisted over the river. This was taken as a reminder for the people nearby to always respect mother.
Well, do you want to be like Umbut Muda? If you ask me, I absolutely don’t want to be like her.

Lidia Faiza Jasmine… “sebuah lagenda dari Jambi
Thank you, sumber: little serambi kepulauan Riau”

Malin Kundang

Pada suatu waktu, ada sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatera Barat. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang Ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas. Ayah Malin tidak pernah kembali ke kampung halamannya sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah.

Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.

Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar dapat menjadi kaya raya setelah kembali ke kampung halaman kelak.

Awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga tidak dibunuh oleh para bajak laut.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya, Malin Kundang beserta istrinya.

Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat bekas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. “Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?”, katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya, Malin Kundang menjadi marah meskipun ia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya.

Mendapat perlakukan seperti itu dari anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menyumpahkan anaknya, “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”.

Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Sampai saat ini Batu Malin Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai bernama pantai Aia Manih, di selatan kota Padang,, Sumatera Barat.

>>

Access from,

http://id.wikipedia.org/wiki/Malin_Kundang

Access date,

27 Okt 2010.