Keris Indonesia Adalah Berasal Dari Minangkabau

kerisawalKeris adalah budaya khas Indonesia, dan merupakan kebudayaan Indonesia asli yang sangat membanggakan. Keris sangat diagungkan di Indonesia, khususnya Indonesia bagian barat dan bagian tengah, bahkan juga diagungkan di Filiphina, Brunei dan Thailand. Dan jelas sekali, semua keris yang tersebar di Asia Tenggara tersebut, pastilah berasal dari Indonesia. Majapahit dianggap sebagai kekuatan yang menyebarkan tradisi keris ini ke seluruh Asia Tenggara.

Lembaga PBB telah mentahbiskan keris Indonesia sebagai warisan budaya yang harus dijaga. Ini berarti keberadaan keris sudah diapresiasi oleh dunia, dan menilainya sebagai suatu mahakarya yang agung di dunia, yang berasal dari Indonesia.

Sungguh pun demikian, para ahli sampai sekarang belum sampai pada kesepakatan mengenai asal mula keris ini, karena ketiadaan sumber sejarah mengenai hal ini. Para ahli hanya dapat menduga-duga mengenai asal mula keris ini, dan itu pun tidak memuaskan. Dari berbagai pages di internet mengenai sejarah dan asal mula keris Indonesia ini, tidak ada satu pun yang dapat mengemukakan asal mula keris.

Blogsite Minangel mempunyai pandangan lain mengenai asal mula keris di Indonesia ini, karena menurut hemat Minangel, terdapat satu sumber ilmiah yang dapat dijadikan argumentasi mengenai asal mula keris.

Artikel wikipedia mengenai Kerajaan Kandis, pada salah satu paragrafnya tertulis kalimat,

“ ………… Maharaja Diraja, pendiri kerajaan ini, sesampainya di Bukit Bakau membangun istana yang megah yang dinamakan Istana Dhamna. Putra nya Maharaja Diraja bernama Darmaswara bergelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal (lebih akrab dipanggil).

Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran yaitu keris berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih dipegang oleh Danial gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo. Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri yang bernama Bunda Pertiwi. Bunda Pertiwi bersaudara dengan Bunda Darah Putih. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu ……”, demikian wikipedia.

Menurut paparan wikipedia ini, pada abad pertama Sebelum Masehi telah berdiri Kerajaan Kandis di seputar Kuantan, Riau. Dilihat dari nama tokoh-tokoh Kerajaan ini dan hal lainnya, dapat dipastikan bahwa Kerajaan ini merupakan Kerajaan berdarah Minangkabau (untuk lebih lanjut mengenai status keminangan dari Kerajaan ini, silahkan baca artikel “Kerajaan Minangkabau Adalah Kerajaan Pertama NKRI”).

Lebih lanjut, wikipedia menulis bahwa sang raja dari Kerajaan Kandis mempunyai senjata kebesaran berupa keris yang berhulu kepala burung garuda. Ini menunjukkan, bahwa pada abad pertama sebelum Masehi, orang Minangkabau sudah mengenal dan menciptakan keris, dan memperlakukan keris sebagai sesuatu yang sangat ber-estetika (agung dan megah).

Kisah / paparan ini mengandung makna bahwa keris yang merupakan pusaka Indonesia sebenarnya berasal dari Minangkabau, terlihat dari kepemilikan raja dari Kerajaan Kandis ini atas keris, dan lengkap dengan perlakuan agung sang raja atas keris tersebut sebagai senjata kebesaran. Dengan demikian berarti keris sebagai pusaka Indonesia sudah tercipta di Minangkabau pada abad pertama sebelum Masehi.

Kalau disepakati bahwa tidak ada kerajaan lain yang mendahului eksistensi Kerajaan Kandis ini, maka praktis ini berarti bahwa keris pertama kali dikenal dan diciptakan oleh masyarakat Minangkabau. Dan dari Minangkabau inilah kemudian tradisi keris ini diadopsi oleh masyarakat lain di Indonesia bahkan Asia Tenggara.

Pada tahun 640an telah berdiri Kerajaan Minanga di Sumatera Tengah, yang mana Kerajaan ini juga merupakan Kerajaan Minangkabau (karena minimal bertapak di Sumatera Tengah, Minangkabau juga bertapak di Sumatera Tengah). Maka sudah pasti Kerajaan ini meneruskan tradisi keris yang telah dimulai oleh Kerajaan Kandis. Kemudian tidak lama, yaitu pada tahun 680-an berdiri Kerajaan Sriwijaya yang juga merupakan Kerajaan bersuku Minangkabau (baca Borobudur Adalah Warisan Minangkabau). Maka pastilah tradisi keris ini juga dipelihara, diteruskan dan dikembangkan oleh Kerajaan Sriwijaya.

Sejarah mencatat bahwa bangsawan Kerajaan Sriwijaya mendirikan kerajaan lain di tanah Jawa, seperti Kerajaan Mataram Kuno (yang kelak membangun Candi Borobudur, untuk lebih lanjut mengenai hubungan Borobudur dengan Minangkabau, baca Rumahgadang Minangkabau Dalam Relief Borobudur). Dengan demikian sudah dapat dipastikan bahwa Kerajaan Mataram Kuno ini juga melanjutkan dan mengembangkan tradisi keris ini di tanah Jawa, yang langkah awalnya dilakukan oleh Raja Minangkabau di Kerajaan Kandis pada abad pertama sebelum Masehi. Maka jadilah keris menyebar ke seluruh Nusantara dengan seluruh kemegahan dan keagungannya, seperti yang kita jiwai sekarang ini.

runutkeris

Keris Minangkabau dan Relief Candi Borobudur.

Candi Borobudur adalah Candi terbesar di dunia, yang merupakan Candi Buddha dan terletak di Jawa. Melalui beberapa penelaahan yang dapat dipertanggungjawabkan, dapat disimpulkan bahwa Candi Borobudur ini merupakan mahakarya masyarakat Minangkabau. Dengan kata lain, masyarakat Minangkabau adalah pemilik sah atas Candi Borobudur. Untuk lebih jauh mengenai hal ini, silahkan dibaca:

Kedua artikel tersebut dapat memberi pemahaman bahwa Candi Borobudur merupakan Candi peninggalan masyarakat Minangkabau, karena hal tersebut disokong oleh bukti dan argumentasi yang kuat dan ilmiah.

Berikutnya, patut juga untuk dipaparkan di sini bahwa pada relief Candi Buddha terbesar ini terdapat lukisan yang menggambarkan senjata keris. Tentunya hal tersebut bukanlah suatu kebetulan. Hal ini memberi satu bukti tambahan, bahwa keris memang berasal dan hasil olah-fikir masyarakat Minangkabau. Kalau Candi Borobudur merupakan hasil karya masyarakat Minangkabau, maka mau-tidak-mau panel relief yang menggambarkan keris juga berarti milik dan hasil kreativitas masyarakat Minangkabau.

Logikanya saja, kalau keris bukan hasil intelektual masyarakat Minangkabau –melainkan milik bangsa lain, maka mengapa masyarakat Minangkabau (yang membangun Candi Borobudur tersebut) melukiskan keris pada salah satu relief Candi Borobudur-nya?

Borobudur_Keris

Citra keris awal di Lembah Besemah

Terdapat suatu paragraf pada suatu situs yang menyatakan bahwa bentuk awal keris sebenarnya sudah ditemukan di Lembah Besemah, Sumatera Selatan. Demikian tulis paragraf tersebut,

** Sejarah mengenai pemakaian keris telah ada sejak zaman dahulu kala. Itu bisa diperkirakan dari prasasti-prasasti ataupun kitab serta pahatan arca di candi peninggalan Kerajaaan Hindu-Buddha Indonesia zaman dahulu. Yang paling menyerupai keris adalah peninggalan megalitikum dari lembah Basemah Lahat, Sumatera Selatan dari abad 10-5 SM yang menggambarkan kesatria sedang menunggang gajah dengan membawa senjata tikam (belati) sejenis dengan keris, hanya saja kecondongan bilah bukan terhadap ganja melainkan mempunyai kecondongan (derajat kemiringan) terhadap hulunya.

Selain itu satu panel relief Candi Borobudur (abad ke-9)  memperlihatkan seseorang memegang benda serupa keris tetapi belum memiliki derajat kecondongan -dan hulu / dedernya masih menyatu dengan bilah. **

Sumber, http://berbagaisejarahdidunia.blogspot.co.id/2013/03/sejarah-keris-indonesia.html?m=1

Paragraf ini mengetengahkan adanya suatu penemuan yang terdapat di Lembah Besemah yang berasal dari abad 10 – 5 SM yang melukiskan citra sesuatu yang ‘menyerupai’ keris. Apakah penemuan ini dapat dijadikan klaim atau bukti, bahwa keris berasal dari Lembah Besemah?

Kalau sejak awal diutarakan bahwa klaim permulaan keris terdapat pada Kerajaan Kandis (Kerajaan Minangkabau) yang berangka abad pertama sebelum Masehi, maka tentunya penemuan di Lembah Besemah mengenai keris ini adalah jauh lebih awal, yaitu abad 10 – 5 SM, yang mana ini berarti klaim permulaan keris justru terdapat di Lembah Besemah.

Minangel mempunyai pandangan lain. Apa yang ditemukan di Lembah Besemah, yang berasal dari abad 10 – 5 SM, sebenarnya tidak dapat dijadikan dasar awal perkerisan Indonesia, karena apa yang diperlihatkan pada Lembah Besemah tersebut adalah sesuatu hal ‘yang menyerupai keris’. Menyerupai keris, bukanlah keris itu sendiri. Dan pada dasarnya, senjata genggam apa pun yang ada di tengah masyarakat dapat saja diklaim sebagai awal keris, atau menyerupai keris, namun tetap pada akhirnya hal tersebut tidak dapat diperkatakan sebagai keris itu sendiri.

Di lain pihak, paparan yang disajikan wikipedia mengenai Kerajaan Kandis, jelas-jelas menuliskan kata keris (bukan ‘menyerupai’ keris), yang merupakan senjata kebesaran penguasa Kerajaan Kandis. Maka dari itu klaim asal mula keris hanya dapat diberikan kepada Kerajaan Kandis yang merupakan kerajaan Minangkabau.

Penutup.

Bukti-bukti sudah cukup memuaskan, bahwa senjata genggam yang berupa keris, yang merupakan mahakarya agung bangsa Indonesia, sebenarnya berasal dan mempunyai rahim pada masyarakat Minangkabau, tepatnya pada abad pertama sebelum Masehi, yaitu pada masa berdirinya Kerajaan Kandis di Kuantan. Sama halnya dengan kerambit yang merupakan senjata mendunia yang berasal dari masyarakat Minangkabau, maka keris (atau karih, di dalam bahasa Minangkabau) juga berasal dari masyarakat Minangkabau.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Kerambit Minangkabau Yang Mendunia.

the-KarambitKerambit adalah pisau genggam kecil berbentuk melengkung dari Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Malaysia, Pilipina. Dunia Barat menyebut pisau ini karambit, sedangkan di Minang disebut kurambiak / karambiak. Senjata ini termasuk senjata berbahaya karena dapat digunakan menyayat maupun merobek anggota tubuh lawan secara cepat dan tidak terdeteksi.

Asal mula

Berdasarkan sejarah tertulis, kerambit berasal dari Minangkabau, lalu kemudian dibawa oleh para perantau Minangkabau berabad yang lalu dan menyebar ke berbagai wilayah, seperti Jawa, Semenanjung Melayu dan lain-lain. Menurut cerita rakyat, bentuk kerambit terinspirasi cakar harimau yang memang banyak berkeliaran di hutan Sumatera pada masa itu. Senjata di sebagian besar kawasan Nusantara, pada awalnya merupakan alat pertanian yang dirancang untuk menyapu akar, mengumpulkan batang padi dan alat pengirikan padi. Namun berbeda dengan kerambit, ia sengaja dirancang lebih melengkung seperti kuku harimau, setelah melihat harimau bertarung dengan menggunakan cakarnya, hal ini sejalan dengan falsafah Minangkabau yang berbunyi Alam takambang jadi guru. Kerambit akhirnya tersebar melalui jaringan perdagangan Asia Tenggara hingga ke negara-negara, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina dan Thailand. Buku sejarah di Eropa mengatakan bahwa tentara di Indonesia dipersenjatai dengan keris di pinggang dan tombak di tangan mereka, sedangkan kerambit itu digunakan sebagai upaya terakhir ketika senjata lain habis atau hilang dalam pertempuran. Kerambit terlihat sangat jantan, sebab ia dipakai dalam pertarungan jarak pendek yang lebih mengandalkan keberanian dan keahlian bela diri. Para pendekar silat Minang, terutama yang beraliran silat harimau sangat mahir menggunakan senjata ini. Para prajurit Bugis Sulawesi juga terkenal untuk keahlian mereka dalam memakai kerambit. Saat ini kerambit adalah salah satu senjata utama silat dan umumnya digunakan dalam seni beladiri.

Keberadaan kerambit di dunia

Dengan makin populernya seni bela diri Pencak Silat, mulai tahun 1970-an, senjata inipun semakin populer walaupun berlangsung lambat. Puncaknya pada tahun 2005, beberapa perusahaan besar AS seperti Emerson Knives dan Strider Knives membuat pisau kerambit dalam jumlah banyak. Pelopor penggunaan kerambit adalah Steve Tarani yang mempunyai dasar kerambit dari Silat Cimande Sunda. Saat ini kerambit telah dikembangkan pihak Barat dengan banyak varian. Di Indonesia sendiri kerambit di pakai oleh Silat Sumatera seperti Silat Harimau / Silek Harimau Minangkabau dengan sebutan kurambiak / karambiak. Untuk kerambit asal Sumatera, catatan tertua yang ditemukan adalah penggunaan kerambit yang ditulis pada Asian Journal British, July – Dec 1827. Meskipun kerambit adalah senjata wajib personel US Marshal, tetapi di Indonesia sendiri kurang begitu populer. Hal ini dikarenakan senjata ini bersifat senjata rahasia yang mematikan serta tidak ada upaya pemerintah maupun militer Indonesia dalam hal ini TNI untuk menggunakan ataupun melestarikannya.

Penggunaan kerambit

Senjata dipegang dengan memasukkan jari pertama atau telunjuk ke dalam lubang di bagian atas pegangan sehingga lengkungan pisau mengarah ke depan dari bagian bawah kepalan tangan. Hal ini terutama digunakan dalam pemotongan dengan cara memutar tangan ketika kerambit telah masuk atau mengenai sasaran, sehingga bagian dalam dari sasaran, seperti urat, usus dan lainnya menjadi putus. Luka akibat kerambit terlihat kecil dari luar, namun di dalamnya, urat atau usus telah putus. Dengan masuknya jari telunjuk ke dalam lobang gagang kerambit, membuat lawan sulit untuk melucuti senjata tersebut dan memungkinkan kerambit untuk bermanuver di jari-jari tanpa kehilangan pegangan.

Kelebihan dari kerambit adalah:

  • Bentuknyah kecil dan mudah disembunyikan
  • Sulit untuk dilucuti dalam pertarungan
  • Jarak bisa berubah tanpa mengubah langkah
  • Bisa untuk dua serangan dalam satu gerakan tangan
  • Lebih membuat robekan besar untuk gerakan-gerakan tarikan yang mematikan
  • Serangan dapat lebih cepat dengan pegangan standart secara pukulan jab

Jenis kerambit Meski secara umum bentuk kerambit adalah sama yaitu melengkung dan memiliki lobang dibagian pegangannya, namun dalam perkembangannya kerambit memiliki beberapa varian. Dari bilah tajamnya terbagai menjadi dua yaitu tajam tunggal dan tajam ganda (double edges). Sedangkan di Indonesia sendiri, kerambit ada dua yaitu kerambit Jawa Barat dan kurambiak / karambiak Minang. Kerambit Jawa Barat biasanya memiliki lengkungan yang membulat, sedangkan kerambit Minang memiliki lengkungan siku.

Beberapa jenis kerambit di Nusantara:

  • Kuku Alang (kuku elang), Lawi ayam: Cakar elang / ayam dari Sumatera Barat
  • Kuku Harimau: Sumatera Barat, Jawa Barat dan Madura
  • Kuku Bima: Jawa Barat, Jawa Tengah
  • Kuku Hanoman: Jawa Barat
  • Kerambit Sumbawa: Pulau Sumba
  • Kerambit Lombok: Lombok

copy-logominangel.jpg:: Sumber wikipedia. Orang Minangkabau patut berbangga hati, karena dari berbagai fakta yang menunjukkan keagungan Minangkabau, di sini kita kembali mendapatkan pencerahan mengenai senjata Karambit yang merupakan asli karya putra Minang sejak ribuan tahun lalu, yang kini menjadi senjata legenda di seluruh dunia. Terkhusus lagi, seperti yang dipaparkan oleh artikel wiki ini, Tentara Amerika Serikat telah menjadikan senjata khas Minang ini sebagai senjata resmi organiknya. Bahkan sudah terdapat Perusahaan pembuat pisau senjata terkemuka di dunia yang me-release senjata khas Minangkabau ini sebagai salah satu produk kebanggaannya, dan mengembangkannya ke dalam berbagai varian.

Kita sebagai orang Indonesia, terkhusus lagi sebagai orang Minangkabau, patut berbangga dan berbesar hati dengan adanya pemberitaan mengenai pisau Karambit ini. Dengan adanya Karambit ini, maka semakin kukuhlah kontribusi Minangkabau terhadap keutuhan dan kemegahan Republik Indonesia yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Dan yang terpenting adalah, sudah pada tempatnya untuk menjadikan sumbangsih suku-bangsa Minangkabau ini sebagai inspirasi dan pensemangatan untuk membangun bangsa Indonesia, jauh lebih gigih lagi. Amin.

Rumahgadang Minangkabau Dalam Relief Borobudur

Borobudur, sebuah candi Buddha terbesar di Dunia yang terletak di tengah pulau Jawa, berkemungkinan besar merupakan warisan suku Minangkabau yang bertapak di Sumatera Barat. Seperti yang sudah dijelaskan melalui artikel Borobudur-AdalahWarisan-Minangkabau, candi terbesar di Dunia ini dibangun oleh suatu Kerajaan yang bernama Mataram Kuno, sementara Kerajaan ini sendiri merupakan sayap dari Kerajaan Sriwijaya yang bertapak di Sumatera Selatan. Di lain pihak, Kerajaan Srwijaya merupakan Kerajaan yang berdarah atau bersuku Minangkabau, karena pendirinya yaitu Dapunta Hyang diketahui berasal dari Minangkabau, yang di dalam Prasasti Kedukan Bukit disebut sebagai “berlepas dari Minanga”. Kata “Minanga” di sini besar kemungkinan berarti Minangkabau di jaman modern ini.

Pun juga, Raja terakhir dari Kerajaan Sriwijaya yaitu Sang Sapurba, seturunnya dari takhta Sriwijaya, pulang dan berdiam di kaki gunung Merapi, Sumatera Barat. Hal ini benar-benar mengindikasikan bahwa Sang Sapurba, Raja terakhir Kerajaan Sriwijaya, dengan seluruh leluhurnya, memang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat.

Terdapat bukti lain yang menguatkan pandangan bahwa Borobudur merupakan warisan suku Minangkabau, dan bukti tersebut terdapat pada Borobudur sendiri.

Pada salah satu relief candi Borobudur terdapat ukiran yang melukiskan rumah gadang, rumah khas suku Minangkabau. Hal ini menunjukkan bahwa Borobudur memang dibuat oleh orang-orang Minangkabau. Fakta ini diungkap secara ilmiah melalui buku yang berjudul “Borobudur – The Golden Tales of Buddhas”.

Berikut adalah printscreen dari “google books” yang mana menampilkan potret dari relief dimaksud, lengkap dengan analisa para ilmuwan yang mengklaim bahwa gambar pada relief tersebut melukiskan Rumahgadang di Minangkabau.

boro-minangel01Gambar 01.

boro-minangel02Gambar 02.

boro-minangel03Gambar 03.

Kalau sejak awal dapat dipastikan bahwa Sriwijaya merupakan Kerajaan berdarah Minangkabau dilihat dari asal tempat keberangkatan Dapunta Hyang yaitu Minanga, maka fakta bahwa pada candi Borobudur terdapat lukisan Rumahgadang – merupakan ‘pengujian terbalik’ untuk pandangan tersebut. Dengan kata lain, bukti kata ‘Minanga’ pada prasasti Kedukan Bukit di satu pihak, merupakan suatu klaim, sementara bukti adanya citra rumahgadang pada relief Borobudur di pihak lain, merupakan bukti: antara klaim dan bukti telah terjadi suatu paralelitas yang solid dan valid.

Kesimpulannya adalah, tidak ada satu pun bukti lain yang dapat meragukan atau mementahkan pandangan bahwa terdapat hubungan antara keagungan Borobudur dengan kearifan suku Minangkabau di abad kedelapan masehi. Dan bagi masyarakat Minangkabau sendiri, hal ini akan menjadi suatu tantangan untuk menjadi lebih baik lagi bagi bangsa Indonesia.

Untuk dapat melihat langsung sumber dari google books ini, silahkan di-klik link di bawah ini. Link google ini didapat dari hasil search google dengan kata kunci: “minangkabau borobudur” – dengan result di bawah judul “Borobudur: Golden Tales of the Buddhas – Google Books”.

http://books.google.co.id/books?id=jwzQAgAAQBAJ&pg=PT172&lpg=PT172&dq=borobudur+minangkabau&source=bl&ots=TtZ84oYaFj&sig=VDBLSAInSVuSJwoNiSGrfMPa7bg&hl=en&sa=X&ei=KqSzU93MMs2IuATCsoHoAQ&redir_esc=y#v=onepage&q=borobudur%20minangkabau&f=true

Natal Mandailing Adalah Minangkabau Punya

mandailingnatal

Kerajaan Natal

Berdirilah Kerajaan besar di bibir pantai Pulau Sumatera yang dipimpin oleh Raja Tuanku Besar Datuk Imam. Beliau adalah seorang pangeran dari Kerajaan yang bernama Ujung Gading yang sekarang adalah Kabupaten Pasaman propinsi Sumatera Barat. Pengembaraan Datuk Imam meninggalkan Kerajaan pimpinannya dengan maksud mencari dan menemukan daerah baru telah berhasil mendirikan sebuah Kerajaan besar dengan wilayah yang cukup luas di pesisir Barat Sumatera yang diberi nama “Ranah Nan Data”. Kelak nama ini akan berubah menjadi “Ranah Nata”, dan karena kedatangan para saudagar-saudagar asing akhirnya berganti menjadi Natal. Pengembaraan ini adalah tawaran dari pangeran Indra Sutan, seorang pangeran muda dari Kerajaan Pagaruyung (di Sumatera Barat) yang juga tengah mencari daerah baru untuk dijadikan Kerajaan.

Pangeran Indra Sutan dan Datuk Imam telah menjadi sahabat karib dalam pengembaraan dan pencarian mereka akan daerah baru tersebut hingga akhirnya mereka menemukan dataran luas yang cocok untuk dijadikan sebuah wilayah kerajaan. Setelah menemukan dan mulai mendirikan sebuah perkampungan, Pangeran Indra Sutan terus menyusuri wilayah sekitarnya ke arah hulu sungai hingga wilayah Kerajaan menjadi bertambah luas. Kemudian Pangeran Indra Sutan berniat untuk mendirikan lagi sebuah kerajaan baru di wilayah hulu Kerajaan Natal yang diberi nama Kerajaan Lingga Bayu. Sejak mendirikan dan memimpin Kerajaan Lingga Bayu, Pangeran Indra Sutan dan Datuk Imam membagi wilayah yang telah mereka kuasai itu menjadi dua bagian untuk dipimpin oleh masing-masing mereka sebagai Raja-nya.

Luas wilayah kekuasaan Kerajaan Natal pada mulanya meliputi 304.010 ha. Di sebelah timur berbatasan dengan Muara Sipongi, Hutanopan (Kotanopan) dan Panyabungan. Sebelah barat berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Pasaman (Sumatera Barat). Dan sebelah utara berbatasan dengan Sibolga (sekarang Kotamadya Sibolga).

Setelah Kerajaan Ranah Nata di ‘mekarkan’ menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Natal dan Kerajaan Lingga Bayu, dan juga karena kehadiran Belanda yang terus menciutkan wilayah kerajaan Natal. Disebutkan bahwa wilayah Kerajaan Natal bersepadan di sebelah timur dengan Muaro (muara) Sungai Batang Natal hingga ke Muaro Selayan (sekarang di Kelurahan Tapus, dan sekarang telah menjadi bagian dari wilayah kecamatan Lingga Bayu), sebelah utara berbatasan dengan Batang Panggautan (sebuah desa yg masih termasuk dalam kecamatan Natal sekarang ini, berjarak sekitar tiga kilometer dari Natal), sebelah selatan berbatasan dengan Batang Sinunukan (sekarang di Kecamatan Sinunukan), sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia di pinggir pantai barat Sumatera yang termasuk dalam propinsi Sumatera Utara.

Tuanku Besar Datuk Imam menetap dan memimpin Kerajaan Natal hingga akhir hayatnya. Ia mangkat di Natal. Belasan keturunannya meneruskan serta memimpin Kerajaan Natal hingga pada tahun 1947 saat terbentuknya Dewan Negeri yang menghapuskan daerah “Swatantra” atau daerah-daerah yang mengatur dirinya sendiri.

Dalam perkembangannya, Kerajaan Natal yang telah menjadi pusat perdagangan di pesisir barat Sumatera Utara yang telah disinggahi oleh saudagar-saudagar dari Cina, Arab, Portugis, India, kolonial Belanda, Aceh, Makasar, Jawa dan sebagainya. Perdagangan itu pada umumnya dilakukan dengan sistim barter (tukar-menukar). Hasil bumi penduduk ditukar dengan barang impor yang dibawa para saudagar seperti besi, kain, candu dan lainnya.

Antara Raja-Raja di Kerajaan Natal dengan pihak Kolonial sering berakhir dengan bentrokan besar, sikap pemerintah kolonial yang tidak selalu bersahabat menjadi penyabab utama, yang pada akhirnya Raja terguling ataupun diasingkan ke daerah lain dan tidak dapat lagi kembali ke Kerajaannya, bahkan juga banyak yang tewas dalam pembuangannya.

Pada tahun 1841, pemerintah kolonial Belanda menciptakan Residensi Tapanuli Selatan dengan ibukotanya Sibolga. Ketika itu belum ditetapkan apakah Natal termasuk dalam Residensi Tapanuli Selatan atau Residensi Padang. Pada tahun 1843 barulah diputuskan bahwa Natal masuk dalam Residensi Tapanuli Selatan oleh Gubernur Hindia Belanda yang berkedudukan di Padang, Sumatera Barat.

Dalam posisinya sebagai pusat jalur perdagangan, adat budaya Kerajaan Natal sedikit banyaknya juga dipengaruhi oleh adat budaya asing. Hal itu dapat terlihat dari beberapa jenis tarian Natal yang dipengaruhi oleh budaya Minang, Melayu dan Mandailing. Pakaian penarinya pun mendapat pengaruh dari budaya Cina, dan Portugis. Namun dalam prinsip keyakinan, masyarakat Natal mayoritas memeluk Islam.

Nama 13 Raja-Raja yang memerintah Kerajaan Natal:

  1. Tuanku Besar Datuk Imam; Tuanku Besar Datuk Imam mempunyai empat orang saudara perempuan. Dua orang di antaranya bernama Puti Ratiah dan Puti Rani (Puti artinya adalah putri, panggilan untuk putri keluarga bangsawan).
  2. Tuanku Besar Datuk Basa Nan Tuo; adalah putra dari Puti Ratiah yang diangkat menjadi Tuanku Besar (Raja) Natal ke-2 menggantikan pamannya, Tuanku Besar Datuk Imam. Tuanku Besar Datuk Basa Nan Tuo menikah dengan Puti Baruaci, cucu kemenakan dari Tuanku Besar Datuk Bandaro, Raja ke-2 dari Kerajaan Lingga Bayu, yang juga kemenakan Tuanku Besar Rajo Putih. Di masa pemerintahan Tuanku Besar Datuk Basa Nan Tuo, pusat kerajaan Natal dipindahkan ke Kampung Bukit yang letaknya jauh dari pantai.
  3. Tuanku Besar Datuk Basa Nan Mudo; adalah saudara Tuanku Besar Datuk Basa Nan Tuo.
  4. Tuanku Besar Tama Musi, bergelar Tuanku Nan Kusuik; adalah saudara sepupu dari Tuanku Besar Datuk Basa Nan Mudo.
  5. Tuanku Besar Sutan Sailan; Puti Rani mempunyai putri bernama Puti Tuo, Puti Tuo mempunyai tiga orang anak, Puti Tune, Puti Rumbuk dan Sutan Sailan, Puti Tune mempunyai putri bernama Puti Nan Kalam.
  6. Tuanku Besar Sutan Gembok; adalah anak dari Puti Nan Kalam atau cucu Puti Tune. Jadi Tuanku Besar Sutan Gembok adalah keturunan ke-5 dari Tuanku Besar Datuk Imam. Karena Tuanku Besar Sutan Gembok lebih tertarik pada masalah keagamaan, ia menduduki tahta Kerajaan hanya selama enam bulan untuk kemudian diserahkan kepada adiknya.
  7. Tuanku Besar Si Intan; adalah adik dari Tuanku Besar Sutan Gembok. Pada masa pemerintahan Tuanku Si Intan inilah perahu-perahu layar bangsa Portugis mulai singgah di Pelabuhan Natal untuk mencari lada dan emas. Tuanku Besar Si Intan mempunyai dua orang isteri, yaitu Putri Nai Mangatas dan Uci Siti. Putri Nai Mangatas berasal dari kerajaan Pidoli Lombang, sebuah kerajaan di daerah Mandailing. Setelah kawin, namanya diganti menjadi Puti Junjung. Ia melahirkan seorang putra bernama Sutan Mohammad Natal. Sedangkan Uci Siti berasal dari Jambua Aceh. Jambua adalah kelompok masyarakat atau suku tertentu di luar kerabat Diraja yang menempati salah satu kampung di Natal. Masyarakatnya dipimpin oleh seorang Datuk. Misalnya, Jambua Aceh untuk kelompok suku Aceh dipimpin oleh Datuk Aceh. Jambua Rao dipimpin oleh Datuk Rao. Pada 22 Mei 1823, Tuanku Besar Si Intan mangkat.
  8. Setelah mangkatnya Tuanku Besar Si Intan, putranya Sutan Mohammad Natal ketika itu masih kecil sehingga belum dapat menjalankan pemerintahan. Oleh sebab itu ibunya, Puti Junjung diangkat sebagai wali yang memegang tampuk kekuasaan memerintah Kerajaan Natal. Kemudian Puti Junjung menikah lagi dengan Sutan Salim. Sutan Salim selalu menyusahkan Belanda, sehingga ia tidak disukai pemerintah Belanda. Sutan Salim ditangkap dan dibuang ke Cianjur. Sutan Salim tidak pernah kembali ke Natal, ia meninggal dalam pembuangan.
  9. Tuanku Besar Sutan Mohammad Natal; adalah putra dari Tuanku Besar Si Intan, pada masa pemerintahan Sutan Mohammad Natal, daerah kekuasaannya diciutkan oleh Belanda yang mulai menancapkan kekuasaannya di wilayah Sumatera, termasuk Minangkabau. Karena Sutan Mohammad Natal sering bentrok dengan Belanda, ia bernasib sama dengan ayah tirinya, dibuang ke Sibolga. Sejak itu, tamatlah riwayat Tuanku-Tuanku Besar di Natal yang bebas dari pengaruh Belanda. Kemudian Belanda membagi kerajaan Natal menjadi tiga daerah yang masing-masing dikepalai oleh seorang Kuria yang diangkat oleh Belanda, ditempatkan di Nata, Singkuang dan Batahan. Kepala kuria yang pertama di Natal bernama Datuk Mohammad Saleh. Ia adalah Datuk suku Minangkabau atau Datuk Jambua Minangkabau.
  10. Tuanku Besar Rajo Hidayat; adalah putra Puti Junjung dengan Sutan Sailan.
  11. Tuanku Besar Mohammad Saleh.
  12. Tuanku Besar Sutan Marah Ahmad; diangkat pemerintah Belanda berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda yang waktu itu berkedudukan di Padang. Pada masa itu daerah kerajaan Natal semakin diciutkan oleh Belanda.
  13. Tuanku Besar Sutan Sridewa; adalah suami Puti Siti Zahara yang masih kemenakan Tuanku Besar Sutan Marah Ahmad. Tuanku Besar Sutan Sridewa adalah Raja Natal yang terakhir di zaman kolonial hingga terbentuklah Dewan Negeri yang menghapuskan daerah Swatantra.

Dari garis keturunan Tuanku Besar Si Intan, kelak lahir dua putra Indonesia yang menjadi tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka bernama Sutan Sjahrir dan Sutan Takdir Alisjahbana.

Sutan Kabidun, putra Tuanku Besar Si Intan dengan Puti Uci Siti pada waktu perang Padri (1821 – 1837), menikah dengan Puti Loni yang berasal dari Kerajaan kecil Batu Mundam yang berkedudukan di dekat perbatasan Sibolga. Puti Loni adalah putri Raja Pagaran Batu di Batu Mundam. Ketika Tuanku Besar Si Intan masih hidup, Sutan Kabidun memerintah daerah Tabayong sampai ke Batu Mundam. Dari perkawinannya dengan Puti Loni, Sutan Kabidun memperoleh empat anak bernama: Marah Palangai, Marah Darek, Puti Johar Maligan, dan Puti Malelo (Puti Lelo).

Puti Johar Maligan menikah dengan Sutan Sulaiman, mereka memperoleh seorang putri yang bernama Puti Siti Rabi’ah. Puti Siti rabi’ah menikah dengan Mangarajo Sutan yang waktu itu bekerja sebagai Kepala Jaksa di Medan. Mereka dikaruniai tujuh anak. Salah seorang anaknya diberi nama Sutan Sjahrir yang kelak menjadi Perdana Menteri indonesia pertama.

Puti Malelo (Lelo) adalah putri bungsu Sutan Kabidun yang menikah dengan Sutan Mohammad Zahab, saudara sepupunya sendiri. Puti Lelo dan Sutan Mohammad dikaruniai beberapa orang putra dan putri. Salah seorang cucu mereka diberi nama Sutan Takdir Alisjahbana yang dikenal sebagai tokoh Sumpah Pemuda, tokoh Pujangga Baru, Novelis dan Ahli Filsafat.***

Sumber, http://rizal-reyz.blogspot.com/2010/05/kerajaan-natal_26.html

Rumah Gadang Arsitektur Rumah Aman Gempa

gadanggempa

Para nenek moyang orang Minang ternyata berpikiran futuristik alias jauh maju melampaui zamannya dalam membangun Rumah. Konstruksi Rumah Gadang ternyata telah dirancang untuk menahan gempuran gempa bumi.

Rumah Gadang di Sumatera Barat membuktikan ketangguhan rekayasa konstruksi yang memiliki daya lentur dan soliditas saat terjadi guncangan gempa hingga berkekuatan di atas 8 skala richter.

Bentuk Rumah Gadang membuat Rumah Gadang tetap stabil menerima guncangan dari bumi. Getaran yang datang dari tanah terhadap bangunan terdistribusi ke semua bagian bangunan.

Rumah Gadang tidak menggunakan paku sebagai pengikat, tetapi berupa pasak sebagai sambungan yang membuat bangunan memiliki sifat sangat lentur.

Selain itu kaki atau tiang bangunan bagian bawah tidak pernah menyentuh bumi atau tanah. Tapak tiang dialas dengan batu sandi.

Batu ini berfungsi sebagai peredam getaran gelombang dari tanah, sehingga tidak mempengaruhi bangunan di atasnya. Kalau ada getaran gempa bumi, Rumah Gadang hanya akan berayun atau bergoyang mengikuti gelombang yang ditimbulkan getaran tersebut

Darmansyah, ahli konstruksi dari Lembaga Penanggulangan Bencana Alam, Sumatera Barat menyebutkan, dari sisi ilmu konstruksi bangunan Rumah Gadang jauh lebih maju setidaknya 300 tahun dibanding konstruksi yang ada di dunia pada zamannya.

Juru Masak Kerajaan Pagaruyung Masih Eksis

Jurumasak Istana Pagaruyung

Jurumasak Istana Pagaruyung

Maiyar (56th), pemimpin koki Pagaruyung dan timnya terbiasa memasak makanan untuk jamuan makan besar dengan tetamu VVIP yang bertandang ke Pagaruyung, seperti Presiden Megawati Soekarnoputri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Sultan Hamengku Buwono X, Raja Negeri Sembilan, Wakil Presiden Jusuf Kalla, sejumlah menteri, pejabat daerah, cendekia, musisi, dan penyanyi tenar.

Maiyar bercerita, bahwa makanan yang dihidangkan untuk pejabat tinggi negara biasanya diperiksa dulu oleh pasukan keamanan. ”Makanannya ditaruh sikit di mesin seperti periksa darah saja. Lalu, mereka coba sendiri makanannya. Nanti, sewaktu mau pulang, petugas keamanannya minta dibungkuskan rendang dan sarikayo. Boleh, asal sikit saja biar yang lain juga dapat,” kata Maiyar.

Rendang belut yang dimasak para koki Istana Silinduang Bulan itu adalah salah satu lauk pelengkap dalam jamuan makan resmi yang diadakan Kerajaan Pagaruyung. Lauk utamanya adalah rendang daging sapi / kerbau. ”Rendang daging itu yang utama dan harus ada,” ujar Rhauda, ahli waris takhta Pagaruyung.

Lauk pelengkap lainnya adalah sambal lado, pangek ikan, gulai kuning, perkedel, jariang (jengkol) yang dimasak dengan ikan bilih, dan sambal petai-cabai hijau. ”Pejabat yang diundang makan banyak juga yang suka jariang,” kata Maiyar.

Kemampuan memasak para koki Silinduang Bulan, kata Rhauda, tidak perlu diragukan lagi. Mereka pernah menyiapkan makanan untuk 500 orang ketika Silinduang Bulan kedatangan seorang pejabat partai. Kata Maiyar, saat itu 30 juru masak bekerja dengan tungku kayu bakar berderet-deret.

Warisan

Para koki Istana Silinduang Bulan adalah bagian dari jejak Kerajaan Pagaruyung yang berdiri abad ke-14. Kerajaan Pagaruyung merupakan kerajaan besar yang mencakup wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya. Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang Nurmatias menyebutkan, terdapat 75 wilayah kerajaan yang menginduk atau berhubungan dengan Pagaruyung, baik di Nusantara maupun luar negeri. Kerajaan Pagaruyung menjadi pemersatu bagi nagari-nagari yang memiliki sistem politik otonom.

Berpadu dengan kultur Melayu yang kaya perhelatan mulai dari perayaan siklus hidup, pengangkatan pejabat adat, hingga sejumlah hari raya keagamaan, selalu disertai dengan jamuan makan. Untuk kepentingan itu, di Kerajaan ada orang-orang khusus dalam struktur kekuasaan yang menjamin sajian lezat terhidang.

”Zaman dulu, dalam struktur rumah tangga istana ada Kambang Salayan Awan Nan Bamego yang ahli masak dan mengatur menu makanan di istana,” ujar Raudha.

Peran itu kini diemban Maiyar selaku keturunan ahli masak Kerajaan Pagaruyung. Dia dan juru masak lainnya diwarisi para leluhurnya ”rahasia kelezatan” masakan Istana Silinduang Bulan. Resep-resep masakan di Istana itu diturunkan tanpa catatan sehingga semuanya harus diingat dalam ingatan.

Maiyar belajar memasak dari ibunya sejak usia enam tahun. Masakan yang pertama-tama dipelajari adalah rendang daging. ”Kalau tidak bisa masak rendang, kita tidak dianggap perempuan Minang. Masakan lain yang dipelajari adalah gulai jariang longkang (jengkol yang mulai bertunas), kalio ayam, ikan goreng, aneka sambal, sayur, dan kue,” tutur Maiyar.

Setiap kali Istana Silinduang Bulan menggelar perhelatan, Maiyar dan pasukannya itulah yang menyiapkan masakan. Kalau tugas itu diberikan kepada orang lain, mereka bisa marah. Pasalnya, memasak untuk istana adalah sebuah kehormatan

kuliner.kompas.com

https://www.facebook.com/minang.official

Minangkabau Asal Pencaksilat Indonesia

minangel-20140220

Pencak Silat atau Silat (berkelahi dengan menggunakan teknik pertahanan diri) adalah seni beladiri Asia yang berakar dari budaya Melayu khususnya di Indonesia. Banyak ahli sejarah menyatakan bahwa Pencak-Silat pertama kali ditemukan di Riau pada jaman kerajaan Sriwijaya di abad VII walaupun dalam bentuk yang masih kasar. Seni beladiri Melayu ini kemudian menyebar ke seluruh wilayah Kerajaan Sriwijaya, Semenanjung Malaka, dan Pulau Jawa.

Di Indonesia sendiri terdapat dua istilah dasar untuk pencak silat, yaitu pencak dan silat. Istilah pencak biasanya digunakan oleh masyarakat yang mendiami pulau Jawa  khususnya Jawa Barat. Sedangkan silat sendiri sering digunakan oleh masyarakat yang berada di pulau Sumatera khususnya Sumatera Barat yang populer disebut silek atau basilek.

Keberadaan Pencak Silat baru tercatat dalam buku sastra pada abad XI. Dikatakan bahwa Datuk Suri Diraja dari Kerajaan Pahariyangan di kaki gunung Merapi, telah mengembangkan silat Minangkabau di samping bentuk kesenian lainnya. Silat Minangkabau ini kemudian menyebar ke daerah lain seiring dengan migrasi para perantau. Seni beladiri Melayu ini mencapai puncak kejayaannya pada jaman Kerajaan Majapahit di abad XVI. Kerajaan Majapahit memanfaatkan pencak-silat sebagai ilmu perang untuk memperluas wilayah teritorialnya.

Di kawasan Melayu dapat ditemukan beladiri pencak silat dengan mengunakan istilah bermacam-macam, seperti di Semananjung Malaysia dan Singapura di gunakan istilah bersilat, gayong, cekak. Di Thailand, di provinsi Pattani, Satun dan Narathiwat digunakan istilah bersilat juga. Sementara di Filipina Selatan digunakan istilah pasilat. Ini membuktikan bahwa beladiri ini bersumber dari Indonesia, karena bila diurutkan perkembangannya mereka meyakini pernah berguru dengan orang Indonesia.

Silek Minangkabau.

Silek Minangkabau adalah salah satu budaya leluhur yang berasal dari Ranah Minangkabau yang merupakan unsur beladiri, dan diwariskan secara turun temurun. Sebagai suku perantau tentunya para orang tua akan membekali anak-anak mereka dengan kemampuan bersilat yang handal untuk melindungi mereka di Negeri perantauan.

Sejarah.

Sangat sulit untuk dapat mengetahui sejarah silat Minangkabau ini, terlebih karena ketiadaan bukti tertulis. Oleh karena itu sejarah silat ini hanya didapat dari mulut ke mulut, dan penerima kisah hanya dapat menerimanya begitu saja.

Seorang guru silat pernah diwawancarai bahwa dia sama sekali tidak tahu siapa buyut gurunya. Seorang Tuo Silek dari Pauah, Kota Padang, mengatakan bahwa dahulu silat ini diwariskan dari seorang kusir bendi (andong) dari Limau Kapeh, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Seorang guru silek dari Sijunjung, Sumatera Barat mengatakan bahwa ilmu silat yang dia dapatkan berasal dari Lintau.

Ada lagi Tuo Silek yang dikenal dengan nama Angku Budua mengatakan bahwa silat ini beliau peroleh dari Koto Anau, Kabupaten Solok. Daerah Koto Anau, Bayang dan Banda Sapuluah di Kabupaten Pesisir Selatan, Pauah di Kota Padang atau Lintau pada masa lalunya adalah daerah penting di wilayah Minangkabau. Daerah Solok misalnya adalah daerah pertahanan kerajaan Minangkabau menghadapi serangan musuh dari darat, sedangkan daerah Pesisir adalah daerah pertahanan menghadapi serangan musuh dari laut. Tidak terlalu banyak guru-guru silek yang bisa menyebutkan ranji guru-guru mereka secara lengkap.

Jika dirujuk dari buku berjudul Filsafat dan Silsilah Aliran-Aliran Silat Minangkabau karangan Mid Djamal (1986), maka dapat diketahui bahwa para pendiri dari Silek (Silat) di Minangkabau adalah:

  • Datuak Suri Dirajo diperkirakan berdiri pada tahun 1119 Masehi di daerah Pariangan, Padang-panjang, Sumatera Barat.
  • Kambiang Utan (diperkirakan berasal dari Kamboja[?]),
  • Harimau Campo (diperkirakan berasal dari daerah Champa),
  • Kuciang Siam (diperkirakan datang dari Siam atau Thailand) dan
  • Anjiang Mualim (diperkirakan datang dari Persia[?]).

Di masa Datuak Suri Dirajo inilah silek Minangkabau pertama kali diramu dan tentu saja gerakan-gerakan beladiri dari pengawal yang empat orang tersebut turut mewarnai silek itu sendiri. Nama-nama mereka memang seperti nama hewan (Kambing, Harimau, Kucing dan Anjing), namun tentu saja mereka adalah manusia, bukan hewan menurut persangkaan beberapa orang. Asal muasal Kambiang Hutan dan Anjiang Mualim memang sampai sekarang membutuhkan kajian lebih dalam dari mana sebenarnya mereka berasal karena nama mereka tidak menunjukkan tempat secara khas. Mengingat hubungan perdagangan yang berumur ratusan sampai ribuan tahun antara pesisir pantai barat kawasan Minangkabau (Tiku, Pariaman, Air Bangis, Bandar Sepuluh dan Kerajaan Indrapura) dengan Gujarat (India), Persia (Iran dan sekitarnya), Hadhramaut (Yaman), Mesir, Campa (Vietnam sekarang) dan bahkan sampai ke Madagaskar di masa lalu, bukan tidak mungkin silat Minangkabau memiliki pengaruh dari beladiri yang mereka miliki. Sementara itu, dari pantai timur Sumatera melalui sungai dari Provinsi Riau yang memiliki hulu ke wilayah Sumatera Barat (Minangkabau) sekarang, maka hubungan beladiri Minangkabau dengan beladiri dari Cina, Siam dan Champa bisa terjadi karena jalur perdagangan, agama, ekonomi, dan politik. Beladiri adalah produk budaya yang terus berkembang berdasarkan kebutuhan di masa itu. Perpaduan dan pembauran antar beladiri sangat mungkin terjadi. Bagaimana perpaduan ini terjadi membutuhkan kajian lebih jauh. Awal dari penelitian itu bisa saja diawali dari hubungan genetik antara masyarakat di Minangkabau dengan bangsa-bangsa yang disebutkan di atas.

Jadi boleh dikatakan bahwa silat di Minangkabau adalah kombinasi dari ilmu beladiri lokal, ditambah dengan beladiri yang datang dari luar kawasan Nusantara. Jika ditelusuri lebih lanjut, diketahui bahwa langkah silat di Minangkabau yang khas itu adalah buah karya mereka. Langkah silat Minangkabau sederhana saja, namun di balik langkah sederhana itu, terkandung kecerdasan yang tinggi dari para penggagas ratusan tahun yang lampau. Mereka telah membuat langkah itu sedemikian rupa sehingga silek menjadi plastis untuk dikembangkan menjadi lebih rumit. Guru-guru silek atau pandeka yang lihai adalah orang yang benar-benar paham rahasia dari langkah silat yang sederhana itu, sehingga mereka bisa mengolahnya menjadi bentuk-bentuk gerakan silat sampai tidak hingga jumlahnya. Kiat yang demikian tergambar di dalam pepatah jiko dibalun sagadang bijo labu, jiko dikambang saleba alam (jika disimpulkan hanya sebesar biji labu, jika diuraikan akan menjadi selebar alam)

Penyebaran dan pengaruh silek di dalam negeri

Silek yang menyebar ke daerah rantau (luar kawasan Minangkabau) ada yang masih mempertahankan format aslinya, ada juga yang telah menyatu dengan aliran silat lain di kawasan Nusantara. Beberapa perguruan silat menyatukan unsur-unsur silat di Nusantara dan Silek Minang masuk ke dalam jenis silat yang memengaruhi gerakan silat mereka. Beberapa contoh yang dapat diberikan adalah:

  1. Silek 21 Hari atau dikenal juga dengan nama Silek Pusako Minang: Silat ini berkembang di wilayah perbatasan antara Pasaman dan Provinsi Riau. Silat ini masih jarang diungkapkan di dalam kajian Silek Minangkabau jadi keterangan tentang silat ini masih terbatas dan dalam penelitian. Silat ini lebih menekankan aspek spiritual dan berasal dari kalangan pengamal tarekat di Minangkabau. Saat ini masih ada keturunan Pagaruyung Minangkabau yang mengajarkan silat ini di beberapa kawasan di Provinsi Riau, seperti di Rokan Hulu (Kuntu Darussalam), Mandau Duri, Rokan Hilir, dan Perawang. Silat ini tergolong jenis yang ditakuti di daerah tersebut dan juga berkembang sampai ke Malaysia .
  2. Silat Sabandar dari Tanah Sunda dikembangkan oleh perantau Minangkabau yang bernama Mohammad Kosim di Kampung Sabandar, Jawa Barat. Silek ini disegani di Tanah Sunda. Seiring dengan perkembangan dan pembauran dengan tradisi silat di Tanah Sunda, silat ini telah mengalami variasi sehingga bentuknya menjadi khas untuk daerah tersebut.
  3. Silat Pangian di Kuantan Singgigi, Provinsi Riau, terdiri dari Silek Pangian Jantan dan Silek Pangian Batino. Silek Pangian ini asalnya dari daerah Pangian, Lintau, Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. Silek ini adalah silek yang legendaris dan disegani dari wilayah Kuantan. Di Kuantan tentu saja silek ini telah mengalami perkembangan dan menjadi ciri khas dari tradisi wilayah tersebut. Awalnya pendiri dari silek ini adalah petinggi dari kerajaan Minangkabau yang pergi ke daerah Kuantan.
  4. Silek Minangkabau menyebar ke daerah Deli (sekitar Medan) di Pesisir Timur Propinsi Sumatera Utara akibat migrasi penduduk Minangkabau di masa lalu. Saat sekarang tradisi silat itu masih ada.
  5. Perguruan Silat Setia Hati, adalah perguruan besar dari Tanah Jawa. Pada masa dahulunya, pendiri dari perguruan ini, Ki Ngabei Ageng Soerodiwirdjo banyak belajar dari silek Minangkabau di samping belajar dari berbagai aliran dari silat di Tanah Sunda, Betawi, Aceh, dan kawasan lain di Nusantara. Silek Minangkabau telah menjadi unsur penting dalam jurus-jurus Perguruan Setia Hati. Setidaknya hampir semua aliran silek penting di Minangkabau telah beliau pelajari selama di Sumatera Barat pada tahun 1894-1898. Beliau adalah tokoh yang menghargai sumber keilmuannya, sehingga beliau memberi nama setiap jurus yang diajarkannya dengan sumber asal gerakan itu. Beliau memiliki watak pendekar yang mulia dan menghargai guru.
  6. Silat Perisai Diri, yang didirikan oleh RM Soebandiman Dirdjoatmodjo atau dikenal dengan Pak Dirdjo, memiliki beberapa unsur Minangkabau di dalam gerakannya. Silat Perisai Diri memiliki karakter silat tersendiri yang merupakan hasil kreativitas gemilang dari pendirinya. Perisai Diri termasuk perguruan silat terbesar di Indonesia dengan cabang di berbagai negara.
  7. Satria Muda Indonesia, yang pada awalnya berasal dari Perguruan Silat Baringan Sakti yang mengajarkan silek Minangkabau, kemudian berkembang dengan menarik berbagai aliran silat di Indonesia ke dalam perguruannya.
  8. Silat Baginda di Sulawesi Utara adalah silat yang berasal dari pengawal Tuanku Iman Bonjol yang bernama Bagindo Tan Labiah (Tan Lobe) yang dibuang ke Manado pada tahun 1840. Tan Labiah meninggal dunia pada tahun 1888.

Penyebaran silek di luar negeri

  1. Singapura: Posisi Singapura atau dahulu disebut Tumasik yang strategis membuat wilayah ini dikunjungi oleh berbagai bangsa semenjak dahulu kala. Silek Minangkabau telah menyebar ke sana pada tahun 1160 dengan ditandainya gelombang migrasi bangsa Melayu dari Minangkabau.
  2. Malaysia: Penyebaran Silek Minangkabau di Negeri Malaysia terjadi terutama akibat migrasi penduduk Minangkabau ke Malaka pada abad ke 16 dan juga karena adanya koloni Minangkabau di Negeri Sembilan. Silek Pangian, Sitaralak, Silek Luncur juga berkembang di negeri jiran ini. Silat Cekak, salah satu perguruan silat terbesar di Malaysia juga memiliki unsur-unsur aliran silek Minangkabau, seperti silek Luncua, Sitaralak, kuncian Kumango dan Lintau di dalam materi pelajarannya. Posisi Malaysia yang rawan dari serangan berbagai bangsa terutama bangsa Thai membuat mereka perlu merancang sistem beladiri efektif yang merupakan gabungan antara beladiri Aceh dan Minangkabau. Beberapa perguruan silat menggunakan nama Minang atau Minangkabau di dalam nama perguruannya.
  3. Filipina: Penyebaran Islam ke Mindanao, yang dilakukan oleh Raja Baginda, keturunan Minangkabau dari Kepulauan Sulu pada tahun 1390. Penyebaran ini mungkin akan mengakibatkan penyebaran budaya Minangkabau, termasuk silat ke wilayah Mindanao. Bukti-buktinya masih perlu dikaji lebih dalam.
  4. Brunei Darussalam: Penyebaran Silek ke Brunei seiring dengan perjalanan bangsawan dan penduduk Minangkabau ke Negeri Brunei. Seperti yang sudah dijelaskan pada awal tulisan ini, bahwa silek adalah bagian dari budaya Minangkabau, oleh sebab itu mereka yang pergi merantau akan membawa ilmu beladiri ini ke mana pun, termasuk ke Brunei Darussalam. Kajian hubungan silek Minangkabau dan Brunei masih dibutuhkan, namun yang pasti, para pemuka kerajaan Brunei memiliki pertalian ranji dengan raja-raja di Minangkabau. Ada dugaan bahwa Awang Alak Betatar, pendiri Kerajaan  Brunei (1363-1402) yang gagah berani berasal dari Minangkabau karena gelar-gelar dari saudara-saudara beliau mirip dengan gelar-gelar dari Minangkabau, namun catatan tertulis diketahui bahwa migrasi masyarakat Minangkabau berawal dari pemerintahan Sultan Nasruddin Sultan Brunei ke-15 tahun 1690-1710 yang ditandai dengan tokoh yang bernama Dato Godam (Datuk Godam) atau Raja Umar dari keturunan Bandaro Tanjung Sungayang, Pagaruyung.
  5. Austria: Perguruan sileknya bernama PMG=Sentak, dikembangkan oleh Pandeka Mihar.
  6. Spanyol: Perguruan sileknya bernama Harimau Minangkabau, dikembangkan oleh Guru Hanafi di kota Basque.
  7. Belanda: (1) Silek Tuo dikembangkan oleh Doeby Usman, (2) Satria Muda, dikembangkan oleh Cherry dan Nick Smith pada 1971. Mereka adalah murid dari dari Guru W. Thomson, (3) Paulu Sembilan, Silat dari Pauh Sembilan Kota Padang,
  8. Hongkong: Perguruannya bernama Black Triangle Silat dikembangkan Pendekar Scott McQuaid. Pendekar Scott adalah termasuk dalam jalur waris dari guru Hanafi, sama dengan Guru de-Bordes di Ghana.
  9. Amerika Serikat: (1) Bapak Waleed adalah salah satu tokoh yang mengembangkan silek Minangkabau di USA, (2) Baringin Sakti yang dikembangkan oleh Guru Eric Kruk,

10. Perancis: Perguruannya bernama Saudara Kaum dikembangkan oleh Haji Syofyan Nadar. Perguruan ini juga memiliki guru mengajarkan silat dari Tanah Sunda seperti Maenpo Cianjur (Sabandar, Cikalong dan Cikaret) dan Silat Garis Paksi.

11. Ghana, Afrika: Perguruannya bernama Harimau Minangkabau dikembangkan oleh Guru de-Bordes yang belajar ke Guru Hanafi dengan permainan silat harimau. %$#

Sumber,

  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Silat_Minangkabau
  2. http://cyberiqro.wordpress.com/pencak-silat/
  3. http://silatindonesia.com/

-o0o-

copy-logominangel.jpgMinangel ~ Dari hasil penelusuran di internet, diketahui bahwa ternyata di Indonesia hanya ada dua silat yang kharismatik (yang sudah berumur ribuan tahun) di Indonesia, yaitu silat Minangkabau dan silat Cimande dari tanah Sunda. Ini menunjukkan salah satu keunggulan persukuan Minangkabau di Indonesia (selain suku Sunda tentunya). Bahkan situs http://kurn1451h.wordpress.com/aliran-dan-perguruan-pencak-silat-di-indonesia/ – menempatkan silat Minangkabau pada urutan pertama (Nomor 1) di dalam daftar perguruan pencak silat di Indonesia, di mana silat Cimande menempati urutan kedua.

Teks di atas betul-betul membangkitkan kebanggaan sebagai orang Minangel, mengingat pernyataan di atas dibuat oleh orang non-minangel – yang berarti mempunyai nilai objektivitasnya. Syukur Alhamdulillah.

Mudah-mudahan seluruh orang Minangel dapat mempertahankan reputasi unggul seperti yang dipaparkan di atas, dan juga yang terpenting dapat membuktikan reputasi tersebut dengan karya nyata untuk seluruh bangsa Indonesia yang permai ini. Amin.