Ketangguhan Prajurit Minangkabau Dalam Sejarah

putraminanggagahberani

Sriwijaya terbentuk di Palembang tahun 683 M di Kedukan Bukit tertera “Dapunta Hyang dari Minanga Tamwan membawa bala tentara dua laksa (dua puluh ribu orang) menuju pelimpang (Palembang) dan membuat wanua (kota)”.

Minanga ini menurut orang Palembang adalah Pasemah dengan Bukit Siguntang Nahameru, sebagian sejarahwan Palembang mengatakan orang Palembang sendiri yang melakukan ekspedisi militer, bukan sebaliknya, tetapi para arkeolog (Purbacaraka yang sejarahwan Jawa, Westenenk sejarawan Belanda) menyatakan bahwa yang dimaksud “MINANGA” adalah daerah antara pertemuan sungai Kampar kiri dan kanan di perbatasan Sumbar, Riau dan Sumut.

Dan tidak mungkin Prasasti ditegakkan di tempat awal mula sebuah ekspedisi perjalanan Militer, tetapi mesti di tempat keberhasilan ekspedisi tersebut.

Minanga itu adalah daerah Minangkabau Timur semasa Dapunta  Hyang melakukan ekspedisi militer ke Palembang. Artinya ORANG MINANGKABAU DAN MELAYU RIAU MELAKUKAN EKSPEDISI MILITER untuk menundukkan Palembang dan mendirikan kerajaan di sana, itulah yang dinamakan ”SRIWIJAYA”.

Sekarang kita ke sejarah Majapahit, tahun 1275 M prajurit Singosari melakukan Ekspedisi Pamalayu dan mengadakan persekutuan Militer dengan Melayu, lalu melawatlah dua Putri Melayu ke Jawa yaitu Dara Petak dan Dara Jingga asal Kerajaan Darmasraya Minangkabau untuk dipilih oleh Penguasa Singosari jadi Permaisuri demi mengikat persaudaraan. Dara Jingga diper-sunting Raden Wijaya dan dijadikan permaisuri utama, lahirlah Jayanegara selaku Raja Majapahit yang ke 2. Dia adalah blasteran darah Jawa dan Minangkabau.

Artinya ada RAJA MAJAPAHIT BERDARAH MELAYU MINANGKABAU dan kala itu Majapahit mulai melakukan ekspansi militer keberbagai daerah seperti Pahang, Dompo, Borneo, Pasai, Palembang, Bali, Celebes, Irian, Timor.

Siapa yang melakukan? Yaitu Gajah Mada yang bertekad ”Sumpah Palapa” dengan prajurit Jawa, Madura dan  dengan bantuan MANGGALAYUDHA ADITIYAWARMAN YANG JAWA MINANGKABAU dengan barisan-barisan Melayu, Minangkabau dan Palembang membantu Jawa meluaskan kekuasaan ke segenap penjuru Nusantara.

Artinya: KONTRIBUSI PETARUNG MILITER MINANGKABAU MEMBERI ANDIL BAGI MELUASNYA KEKUASAAN MAJAPAHIT .

Ini yang tidak diketahui kebanyakan orang yang mengira Majapahit hanyalah usaha orang Jawa semata tanpa bantuan siapa-siapa. Bahkan ketika terjadi pemberontakan Sadeng dan Kuti di Jawa, prajurit asal Melayu dan Minangkabau dikerahkan untuk menumpas, sedang prajurit Majapahit sudah tidak sanggup mengatasi.

Aditiawarman kembali pulang ke tanah leluhur yaitu Minangkabau dan mendirikan kerajaan baru yaitu PAGARUYUNG. Tetapi Majapahit mulai berusaha mencengkram lebih keras Pagaruyung  YANG AWALNYA ADALAH PARTNER DAN SEKUTU yang semula dipimpin oleh Aditiawarman yang berjasa besar bagi Majapahit.

Selanjutnya apa yang terjadi? Majapahit perang dengan Minangkabau dan melakukan invasi militer ke Pagaruyung pada tahun 1300an dan dihadang di daerah dekat Sawah Lunto Sijunjung.

HASILNYA: PRAJURIT MAJAPAHIT HANCUR BINASA.

Daerah itu begitu busuknya oleh mayat prajurit Jawa, akhirnya dinamakan PADANG SIBUSUK (Aditiawarman sudah lama meninggal kala perang terjadi). ARTINYA INVASI MILITER MAJAPAHIT GAGAL TOTAL DI TANAH MINANG.

Nah, mulailah berdatangan pelaut-pelaut asing yaitu Portugis, Belanda,  Inggris dan Prancis ke wilayah Nusantara. Minangkabau yang berjiwa  pelayar mulai mendapat saingan dagang dari orang asing, termasuk Padang mulai dilirik VOC Belanda, dan tahun 1665 VOC dengan bantuan orang Bugis Makassar melakukan tindakan militer di Padang, dan ditantang oleh orang Pauh Minang dengan sokongan pelaut Aceh. Belanda berhasil di Padang tetapi apa yang terjadi?

Apa Belanda enak dapat hasil jajahan di Padang? Tidak, yang muncul adalah PERANG TERUS-MENERUS SELAMA LEBIH 1 ABAD DENGAN PENDEKAR-PENDEKAR PAUH, KOTO TENGAH, PARIAMAN, PAINAN DAN AIRBANGIS.

Perang skala menengah itu terjadi lebih dari 25 kali dari tahun 1665 hingga 1789 demi merebut kembali Padang, Pariaman, Painan dari tangan Belanda VOC. Usaha ini gagal-berhasil lalu gagal, memang, tapi hal ini menunjukkan ada SEMANGAT PERANG TINGGI DARI ORANG MINANG SELAMA VOC BERKUASA.

Lalu VOC bubar dan diganti dengan Hindia Belanda abad ke 18. Paderi Islam fanatik berkuasa di pedalaman Minang sejak tahun 1803, dan ini membuat Belanda iri dan bersekutu dengan kaum Adat untuk menyerang basis militer Paderi tahun 1821. Maka pecahlah perang yang berlangsung selama 24 tahun hingga 1845, sedang benteng Bonjol pertahanan terkuat Paderi telah jatuh tahun 1837, jadi bukan 16 tahun perang berlangsung namun 24 tahun yang merupakan SALAH SATU PERANG PALING BERAT BAGI BELANDA SELAMA PERLUASAN KEKUASAAN DI NUSANTARA.

Ada 3 medan perang yang berat bagi Belanda dan bisa menghancurkan kekuatan Militer Hindia Belanda yaitu:

  • Perang Aceh dari tahun 1873-1904 bahkan hingga kejatuhan Belanda dari Jepang.
  • Perang Jawa dari tahun 1825 hingga 1830, yang memakan korban 15ribu tewas di pihak Belanda.
  • Perang Paderi di Minangkabau yang dengan susah payah dan kalah- menang, juga perlu kerahkan kekuatan penuh selama 24 tahun akhirnya Belanda baru berhasil menguasai seluruhnya.

Semasa Perang Paderi, Belanda perlu mengerahkan tentara Eropa (Tentara Belanda sendiri, bekas serdadu Napoleon di Jawa, serdadu Inggris bekas bawahan Raffles, serdadu bayaran dari Jerman, Prancis, Luxemburg, Belgia dll), serdadu AfriKa (Ghana dan Africa Selatan) dan plus petarung dari daratan Jawa (barisan Sentot), Pelaut dan warrior Bugis, Ambon, Madura, Batak Animisme dan kaum Adat Minang sekutu Belanda. Sedang di pihak Paderi Islam barisan Tuanku Imam Bonjol dibantu Kaum Adat berpihak ke Paderi, lalu pelaut Aceh, barisan Batak Nandailing Islam di bawah kepemimpinan Tuanku Rao, barisan Riau dipimpin Tuanku Tambusai, dan sebagian dari barisan Sentot asal Jawa yang berpihak ke Paderi.

Belanda harus mengerahkan 25000 sd 35000 pasukan baik reguler, campuran dan pribumi Nusantara dan harus menurunkan 5 jenderalnya demi menundukkan Minang-kabau yaitu Kom Jend Van Den Bosch (si tanam paksa), Letnan Jend Riesz (jagoan perang Diponegoro), Jend Major Clearens (yang menangkap Diponegoro) dan Jend major Coghius (panglima paling tinggi Angkatan Darat Hindia Belanda) dan Jend Major Hendriks.

Barulah di tangan Jend Major Coghius, Belanda berhasil merebut benteng Bonjol tahun 1837, dan perang masih berlanjut dapat skala kecil hingga tahun 1845 dengan Jend Major Hendriks selaku pimpinan Militer.

Artinya PETARUNG MINANG TELAH MEMPERLIHATKAN KEBOLEHAN PERANG SELAMA 24 TAHUN WALAU MENGHADAPI KEKUATAN GABUNGAN EROPA, AFRIKA DAN PRIBUMI NUSANTARA. APAKAH 24 TAHUN PERANG ADALAH BUKTI TIDAK ADANYA POTENSI PERANG ORANG MINANG?

VOC berkuasa di Sulawesi Selatan tanahnya Bugis Makassar. Kemenangan VOC dibantu Arung Palakka menguasai Kerajaan Goa Sultan Hasanuddin tahun 1669, maka dimulailah diaspora dan pelayaran pelaut Bugis keluar dari GOA yang menjadikan mereka seperti pelaut kalap dan garang di lautan Nusantara. Pelaut Bugis Makassar menjadi warrior yang menakutkan di lautan Nusantara, termasuk di Semenanjung Malaysia. Pelaut Bugis mencari daerah baru untuk dikuasai, dan ketahuilah agressi Bugis ini mendapat tantangan dari Orang-orang Minangkabau.

Di Semenanjung, tepatnya di Johor terjadi bentrokan keras antara Bugis dan Minang, juga di Selangor, Trengganu, Pahang, Negeri Sembilan dan Pulau Penang. Warrior mengerikan Bugis yang begitu ditakuti berhasil dibersihkan oleh orang Minang dari Negeri Sembilan dan Pulau Penang, tetapi wilayah Johor, Trengganu dan Pahang, Bugislah yang pegang kendali. Perseteruan Minangkaba-Bugis dalam menguasai Semenanjung menjadikan dua suku bangsa ini sebagai tukang perang di Sumatera dan Malaysia selama abad ke 17 dan 18.

Ada 5-6 suku bangsa di Nusantara ini yang dikenal tukang perang di abad pertengahan yaitu,

  1. Jawa yang terus bergolak sejak abad ke 6 dalam perang saudara, perang agresi, perang pertahanan wilayah plus konfrontasi dengan Belanda,
  2. Aceh yang adalah agressor perang di Semenanjung Malaya juga pantai-pantai Sumatera melawan Belanda dan Portugis,
  3. Bugis dengan pelaut-pelaut warrior menakutkan yang melayari lautan Nusantara,
  4. Lalu Ambon yang berperang dengan beringas di pihak Belanda.
  5. Berikutnya Madura dengan keahlian perang istimewa yang membuat mereka menjadi pasukan bayaran Hindia Belanda.
  6. Minangkabau yang sejak era Sriwijaya adalah petarung-petarung beladiri yang dipakai Sriwijaya, Majapahit saat perluasan wilayah Nusantara, Aceh semasa menyerbu Portugis di Malaka, Sultan Hasannuddin ketika mempertahankan GOA dalam gabungan aliansi Bugis GOA-Melayu, juga Perang di Palembang ketika Sultan Badarruddin perang dengan Belanda tahun 1825 dan mengandalkan gabungan prajurit Palembang dan pendekar perantau Minang di sungai musi, termasuk perang Pasemah di SumSel ketika Tuanku Imam Perdipo dengan barisan Paderi Mminang dan penduduk setempat mempertahankan Pasemah, dan perlawanan Sisingamangaraja di tanah Batak dengan bantuan petarung Minang kerja sama dengan Aceh, dan Perang Aceh di mana perantau Minang keturunan Aceh-Minang yaitu Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien yang berdarah Minang.

Sekarang di masa perjuangan kemerdekaan, terlihat orang Minang banyak yang telibat perjuangan politik yaitu Hatta, Syahrir, Tan Malaka dan H Agus Salim. Terlihat tidak ada perjuangan bersenjata yang dilakukan orang Minang.  Apa tidak ada  sama sekali perang kemerdekaan di Minangkabau? Orang hanya tahu perang mulut diplomatik dilakukan pejuang Minang, tetapi sejarah tidak menuliskan apa-apa tentang perjuangan bersenjata di Sumatera Barat. Mengapa?

JAWABANNYA ADALAH STRATEGI POLITIK PEMERINTAH PUSAT KEKUASAAN .

Fakta sejarah di Minangkabau adalah perjuangan bersenjata tidak kalah dengan perjuangan mulut diplomatik Politis. Semasa Agresi Militer Belanda I tanggal 21 Juni 1947, tentara RI di Minangkabau justru berhasil menghadang laju perluasan wilayah di tiga front sekaligus, yaitu

  • Padang luar kota daerah Kepala Datar,
  • Siguntur Pesisir Selatan
  • Lubuk Alung di Padang pariaman.

Bahkan tanggal 27 Juni 1947 DI KEPALA DATAR DEKAT PABRIK SEMEN PADANG, TENTARA BELANDA MENGALAMI KEHAN-CURAN MASSIF dan terpaksa kembali ke kota Padang dengan sisa-sisa kekuatan.

MENGAPA  PRESTASI MILITER ORANG MINANG ini tidak tercatat dalam buku pelajaran sejarah Umum Pelajar kita? Mengapa kekalahan Belanda di Ambarawa tahun 1947 di tangan Jend. Sudirman dijadikan hafalan dalam buku pelajaran sejarah? Mengapa sejarah kota Pahlawan Surabaya begitu berkibar?

JAWABANNYA ADALAH SENTRA KEKUASAAN DI JAWA TIDAK INGIN DAERAH, TERKHUSUS MINANG-KABAU, TERLIHAT MENONJOL DALAM SEJARAH MILITER.

Agresi militer Belanda II dilancarkan pada tanggal 18 Desember 1948, dan jatuhlah Jogja dalam tempo 4 jam saja dalam sebuah penyerbuan sistem blitzkriek (serbuan kilat), dan di Sumatera Barat yang pusat ibukota Sumatera, Bukittinggi yang diserbu pada tanggal yang sama dan sistem serbu yang sama (blitzkriek) baru jatuh ke tangan Belanda tanggal 24 Desember 1948. Artinya  Bukittinggi DIPERTAHANKAN 4 HARI LEBIH LAMA oleh Divisi XI Banteng dikomandoi Letkol Dahlan Djambek, dibanding Ibukota Negara Jogja yang terdapat Divisi Diponegoro yang kesohor dengan  Letkol Soeharto ada di sana.  Jogja jatuh hanya 4 jam penyerbuan kilat lewat udara dan darat, sedang Bukittinggi jatuh 4 hari dengan upaya mati-matian Belanda lewat darat dan udara, padahal segi persenjataan kalah jauh dibanding mesin-mesin Perang Belanda. Apakah ini bukan prestasi lagi? Mengapa tidak dijadikan hafalan anak sekolah?

JAWABNYA SENTRA KEKUASAAN DI JAWA TIDAK INGIN TERLIHAT LEMAH DALAM SEJARAH MILITER DIBANDING DAERAH. Maka didiamkan saja fakta keras ini.

Lalu Soekarno, Hatta dan Syahrir tertawan dan dikirim ke Rantau Prapat dekat Toba Samosir. Mengapa kok ke daerah Sumatera utara? Jawabnya sebab di daerah sekitar danau Toba dan Prapat aman dari serangan gerilyawan Republik, yang berarti juga tidak ada perlawanan gerilya berarti di Sumatera Utara oleh Pejuang-pejuang Medan sekitarnya. Arti lainnya adalah bahwa tidak ada perlawanan berarti di Sumatera utara. Lho kan orang Batak jago perang? Di Film NagaBonar terlihat orang Batak begitu garang berperang dengan Belanda.

Fakta keras adalah bahwa gerilyawan di tanah Batak sibuk perang sesama mereka, bukannya berjuang melawan Belanda. Barisan Mayor Malao dengan barisan Mayor Bejo dan Saragih Ras juga Gerombolan Naga terbang di Sumatera Utara saling serbu dan menghambur-hamburkan peluru sesama mereka, sehingga Belanda menjadi gampang mengatasi gerilyawan Batak. Dan yang lebih aneh lagi justru  banyak orang Batak yang diangkat jadi jenderal semasa Soekarno dan Soeharto, diantaranya AH Nasution yang Jend bintang 5 setara dengan Sudirman dan Soeharto sendiri, lalu TB Simatupang jendral penuh, Maraden Pangabean dan Feisal Tanjung jendral penuh.

Beda dengan di Sumatera Barat yang ibukota Sumatera kala itu, perjuangan gerilya begitu gencarnya sejak agresi ke II Belanda tanggal 18 Desember 1948 hingga akhir Oktober 1949, perjuangan bersenjata di sini membuat Belanda PUTUS ASA, sebabnya kesatuan orang Minang begitu solid dengan tekad mempertahankan PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) yang berpusat di daerah Koto Alam 50 Kota. Sementara itu Pemerintahan RI sudah ditawan Belanda. Maka Militer Minangkabau Divisi IX Banteng begitu keras dalam berupaya mengacaukan formasi Belanda di Minangkabau, dan Belanda tidak mampu membangun Negara Boneka di Minangkabau sebagaimana di daerah lain:

  • Di Jawa terdapat Negara Pasundan, dan Negara Jawa Timur.
  • Di Sumatera: Negara Sumatera Timur dengan Medan pusatnya,
  • Negara Sumatera Selatan dengan Palembang ibukotanya.

Akan tetapi di Minangkabau, Belanda gagal total sebab perjuangan Gerilya begitu gencar dan upaya Politik gagal diterapkan. Apakah ini bukan Prestasi militer? Mengapa tidak dihafalkan di buku sejarah umum pelajar kita?

Jawabnya: SENTRA KEKUASAAN DI JAWA TIDAK INGIN TERLIHAT TIDAK BERDAYA SECARA MILITER DIBANDING MINANGKABAU.

Lalu datang masa kemerdekaan. Pemerintahan Soekarno dalam tawanan Belanda lebih disambut rakyat daripada Pemerintahan darurat PDRI dalam Gerilya bersenjata, perjanjian Roem-Royen menghasilkan dikembalikannya pemerintahan Jogja dan PDRI dipandang sebelah mata. Lalu Divisi tangguh Minang yaitu Divisi IX Banteng dibubarkan sebab karena ketakutan Pusat pada Minangkabau jika Militer Minang terlalu kuat nantinya.

Dari 23000 Militer Minang sekarang disusutkan jadi hanya 4000 tentara dalam 4 batalyon saja, lalu AH Nasution memutuskan Minangkabau di bawah Militer Medan yang tidak mampu berperang dengan Belanda kecuali perang sesama mereka dan ditempatkan di bawah Medan dalam Divisi Bukit Barisan. Orang Minang yang bertempur pahit-getir dan mengakibatkan banyak korban tewas di pihak Belanda justru ditempatkan di bawah Medan yang hanya bisa perang dengan sesama Batak. APA INI BUKAN PENGHINAAN?

Maka muncullah Gerakan PRRI tahun 1958 sebagai akibat ketidak-puasan atas keputusan Pemerintahan Pusat Soekarno yang otoriter tanpa ingat jasa Militer Minang mempertahankan Pemerintahan Darurat( PDRI) semasa Soekarno dalam tawanan Belanda. Apalagi Bung Hatta mengundurkan diri tahun 1956 akibat sikap Soekarno yang cenderung Diktator totaliter, juga bangkitnya PKI yang jelas pernah menikam RI dari belakang dengan pemberontakan PKI di Madiun, membuat Militer Minang bangkit kembali dan menantang pemerintahan Soekarno supaya membubarkan Kabinet Djuanda yang sarat orang Komunis dan Hatta diminta kembali ke Pemerintahan.

Militer Minang sebetulnya tidak sungguh-sungguh dalam menantang Pusat, pernyataan PRRI lebih kepada gerakan moral dan gertakan Politik dibanding pemberontakan bersenjata.. Tahun 1958 itu lahirlah Ultimatum PRRI oleh Syafruddin Prawiranegara dan Ahmad Hussein selaku pimpinan Militer yang marah pada Soekarno, sebab ketika Pemerintahan darurat PDRI semasa perang gerilya tahun 1949 bertempur dengan darah, keringat dan rasa sakit menghadapi agresi Belanda, sementara Soekarno asyik nyanyi-nyanyi dalam tawanan Belanda dan tidak bersedia berkeringat memanggul senjata.

Akhirnya PRRI direaksi Pemerintahan Soekarno dengan mengirim Tentara dari pusat sebanyak 7500-10.000 tentara dari Kodam Diponegoro, Siliwangi, Brawijaya dan elit Banteng Raiders juga KKO khusus Marinir AL ke Minangkabau dengan 5-7 Kapal Perang juga Pesawat Tempur peninggalan Belanda dengan Kolonel Ahmad Yani selaku pimpinan tempur dengan sandi Operasi 17 Agustus. Artinya ultimatum atau tepatnya “gertakan” PRRI akan dijawab dengan serbuan dari darat, laut dan udara dengan segala  peralatan militer Pusat.

APA YANG TERJADI DI TANAH MINANG?  Terjadi perpecahan dan keragu-raguan apakah orang Minang akan memerangi tentara Pusat, atau bagaimana? Yang diperangi adalah rekan seperjuangan semasa invasi Belanda.

Sebagian tentara Sumatera Barat lantas mengundurkan diri dari PRRI dan berpihak pada Pusat, termasuk Kepala Kepolisian Sumbar berpihak pada Pusat di Jawa. Sementara itu yang siap perang justru mundur sebab tidak tega membunuh sesama orang Indonesia. Teluk Bayur dibiarkan dimasuki tentara Pusat tanpa ada letusan senjata sama sekali dari pihak PRRI, sebab tidak ada pembenaran moril untuk membunuh tentara RI. Padang dan Bukittinggi juga demikian, dikosongkan pihak pemberontak dan dimasuki Tentara pusat tanpa ada perlawanan sama sekali.

APA LANTAS ORANG MINANG DI-CAP TIDAK BERANI PERANG???  Bukan!!!

Ketidak-tegaan itulah yang jadi alasan mundurnya tentara pemberontak kepedalaman Minangkabau. Tentara PRRI  tidak tega membunuh sesama tentara Nasional sebab PRRI adalah gerakan yang terburu-buru (prematur) tanpa ada kebenaran moril: untuk apa perang? Untuk apa menumpahkan darah?? Buat apa memecah kesatuan Militer Nasional? Apa gunanya merobek kesatuan Republik? Akhirnya pemberontak PRRI mengalah dan seluruh Sumatera Barat dikuasai Pusat tanpa ada perlawanan berarti. Inilah fakta keras bukan omongan estafet! Dan pemberontakan ini menghasilkan kemunduran spirit Politik dan Militer orang Minang hingga kini.

Lalu anda, Pak Amir, men-cap orang Minang tidak berani perang? Betul-betul membuat memori saya bekerja lumayan keras membuka sejarah perang orang Minang sejak awal Peradaban nusantara ini. Terima kasih atas komentar kontroversial anda. Saya tidak menyalahkan anda dan tidak akan meminta anda mohon maaf pada orang Minang. TIDAK! Hanya saya minta bapak lebih teliti kalau mengomentari sejarah, kalau perlu disertai bahan-bahan sejarah yang valid.

OK! Tulisan lumayan panjang ini khusus untuk menjawab statement anda, bukan untuk menyalahkan tetapi untuk menjernihkan saja. Saya selaku putra Minang asli punya kewajiban untuk menegakkan benang basah dan meletakkan sejarah Minang ke tempat yang semestinya.  Maaf bagi suku bangsa yang saya tulis dengan tidak menjadikan ini selaku SARA yang memecah-belah, dan thanks  jika ada tanggapan (Sumber Sang).

Tanggapan

-1- Dari Tole

Saya sependapat dengan Sdr. Sang. Saya dari Manado. Sepengetahuan saya apa yang sdr. Sang paparkan adalah kebenaran sejarah yang tidak bisa dipungkiri. Di daerah saya ada satu kawasan pemakaman pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol bersama para laskar pendamping setianya yang dibuang oleh penjajah Belanda ke daerah Minahasa. Jumlah makamnya mencapai ratusan. Dari situ saja kita bisa mengambil kesimpulan bahwa apa yang “Pak Amir” sampaikan di atas adalah kesimpulan yang sangat dangkal dan sifatnya pribadi. Terlalu naif dan dangkal kalau kita mengambil kesimpulan mengenai sesuatu hal yang krusial & besar hanya dari sumber cerita mulut ke mulut. Indonesia adalah Negara Besar jika rakyatnya yang beragam mempunyai satu pemahaman mengenai ke “Bhinekaan”.

-2- Dari Guzza

Kalau kita bandingkan perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro dan Perang Padri yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol. ternyata Perang Jawa hanya berlangsung 5 tahun yaitu 1825-1830, sedagkan perang Padri berlangsung 24 tahun yaitu 1813- 1837.

Sementara itu jumlah penduduk Jawa jauh lebih banyak dari penduduk Minangkabau. Dari sisi ini saja sudah terlihat bahwa orang Minang adalah pengelola dan petarung hebat dibandingkan orang Jawa.

Dan memang pada zamannya Orde Baru, putra Minang memang dihalangi untuk menjadi militer, karena sifat dasar orang Minang adalah Pemikir dan Petarung yang egaliter, dan kalau dibiarkan berkembang akan menjadi ancaman yang serius bagi penguasa sat itu.

-3- Dari Ajo

Betul kata dunsanak, inti nya mereka iri pada kita, karena kita orang Minang   sudah dari sananya punya prinsip hidup yang kuat, komitmen dan egaliter, walaupun tetap kita punya kelemahan, karena tidak ada yang sempurna orang hidup. Kelebihan orang Minang itu membuat orang lain iri melihatnya. Coba  kawan-kawan lihat di kota-kota besar di indonesia, tempat perdagangan sebagian besar dikuasai Urang Awak dan orang Tionghoa, padahal Urang Awak sudah lama dipinggirkan oleh Orde Baru yang lebih memihak kaum Tionghoa karena mereka bisa jadi “partner” oleh pemerintah Orde Baru waktu itu. Tapi kita Urang Awak punya rasa solidaritas sesama Urang Awak dan persatuan yang sangat solid sehingga sampai sekarang dampaknya dapat kita lihat. Banyak kontribusi Urang Awak kalau mau dipaparkan satu-satu tapi nggak cukup rasanya tempat untuk memaparkannya.

Dan jangan lupa, 3 dari 4 pendiri negara kita ini adalah orang Minang, dan 6 dari 10 tokoh penting Indonesia di abad ke-20 merupakan orang Minang. Saya  juga orang Minang, saya lahir besar di jakarta, dan sebenarnya tidak suka memihak kesukuan, tapi coba saya lihat dari sisi yang seobyektif mungkin. Intinya kita semua sudah dilahirkan berbeda suku dan karakter dan tidak mungkin sama. Oleh karena itu kita saling toleransi, jika ada orang yang menjelek-jelekkan pihak lain sudah pasti lah itu orang itu adalah orang yang iri dengki di hatinya.

-4- Dari joe

Berdasar tulisan ini, kemudian saya cek ke buku sejarah, memang tidak ada dalam buku pelajaran anak sekolah kita. Sejarah hanya menulis peristiwa 10 Nopember di Surabaya, Bandung Lautan Api, atau Agresi Belanda 1 dan 2.

Lalu saya telusuri dan ketemu hal mengagetkan ini, bahwa pada Agresi Belanda I, ternyata di Sumatera Barat tentara Belanda tidak berkutik. Tentara RI di bawah komanda Dahlan Djambek berhasil menahan laju Agresi Belanda di tiga tempat. Tentara Belanda hanya mampu melaju sejauh 13 km dari pusat kota padang,

Di dekat Indarung, daerah Kepala Datar, Belanda mengalami kekalahan telak dan terpaksa kembali ke kota Padang dengan sisa-sisa kekuatan. Mengarah ke kota Bukittinggi, tentara Belanda berhasil dihadang di wilayah Pasar Usang, Padang Pariaman. Kapal terbang dan Tank baja Belanda tidak mampu mendesak mundur tentara RI di Sumatera Barat, sementara Tentara Belanda dibuat kucar kacir oleh taktik gerilya Tentara RI di Sumbar.

Peristiwa kekalahan ini saat Agresi Belanda 1 menjadikan Sumatera Barat satu-satunya wilayah perang di Indonesia yang Tentara Belanda tidak mampu melaju melebarkan penguasaan wilayah. Sementara di Jawa, banyak wilayah jatuh dengan cepat ke tangan Belanda. Kalimantan -Sulawesi dikuasai hampir semua, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan hampir sepenuhnya juga terkuasai.

Sementara di Sumatera Barat, Belanda gagal total dengan hanya mampu melaju sejauh 13 km dari pusat kota Padang.

Kesimpulanya bahwa wajarlah kemudian Wilayah Sumatera Barat kemudian dijadikan alternatif Ibukota Negara saat Jawa hampir sepenuhnya terkuasai kala itu. Hal ini tersebab solidnya tentara di Sumatera Barat kala itu. Juga kompaknya tekad politisi di sana untuk menghadang Belanda.

Hanya sayang , tersebab peristiwa PRRI tahun 1957, kisah heroik semasa Agresi Belanda menjadikan sejarah peperangan yang berlangsung di Sumatera Barat terhapus dalam buku-buku sejarah anak bangsa.

Sumber,

http://mmerantau.blogspot.co.id/p/blog-page_13.html?m=1

logominangelMinangel,

Artikel di atas mengusung beberapa gagasan yang menarik, namun situs Minangel hanya fokus pada satu gagasan yang luar biasa, yaitu betapa gagah beraninya putra-putra Minangkabau di dalam berjuang untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar di seluruh Nusantara. Artikel ini mengungkapkan betapa Sriwijaya merupakan Kerajaan milik persukuan Minangkabau, pun kebanyakan perang dan balatentara tempur yang berkiprah pada masa kerajaan tidak luput dari peran-serta putra-putra Minangkabau yang gagah perwira. Hal ini adalah fakta sejarah, dan fakta ini benar-benar melukiskan betapa persukuan Minangkabau mendapatkan inspirasi yang melimpah supaya berkiprah semakin hebat lagi untuk memegahkan NKRI tercinta ini. Amin.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Indikasi Raja Raja Melayu dan Sriwijaya berdari Minangkabau

Gunung-marapi

Benarkah Raja Raja Melayu Dan Sriwijaya berasal dari Minangkabau???

Silek kato mengungkap misteri silsilah sejarah MINANGKABAU dan rantaunya

“ ………… Dapunta Hyang Sailendra, antara Datuak di Ngalau dan Hyang Indojati menurunkan dinasti Raja-Raja Melayu dan Sriwijaya dari Galundi Nan Baselo di lereng Gunung Merapi, Istana Linggapuri …………”

Berbagai pendapat yang muncul menjelaskan Melayu dan Sriwijaya tentang letak dan nama Raja-Rajanya masih menjadi pertanyaan karena simpang-siurnya informasi. Sebagai contoh yang menarik dan menjadi kunci pembuka bagi uraian-uraian selanjutnya adalah nama Raja San-Fo-Tsi tahun 1998 M berdasarkan kronik Cina disebut sebagai Se-Li-Ma-La-Pi. Se-li-ma-la-pi Melayu, Sriwijaya dan Puti Gunung Marapi. Tulisan ini ditemukan dalam kronik Sung Shih yang menceritakan sejarah Dinasti Sung di Cina. Kronik Cina Sung Shih dikenal sebagai buku 489, yang menulis catatan bahwa Raja San Fo Tsi tahun 1003 M bernama Se-Li-Ma-La-Pi.

Sementara itu Nia Kurnia (1882:79) menyatakan bahwa berdasarkan catatan dan pemberitaan sumber-sumber sejarah dari India, Tibet dan Nepal diketahui bahwa pada permulaan abad ke 11 Kerajaan Sriwijaya masih berdiri dan masih merupakan kejayaan kekuasaan di Sumatera.

Sumber-sumber sejarah itu tercantum pada sebuah prasasti dari Bengala, India. Prasasti itu dikenal sebagai Piagam Leidan yang menyebutkan bahwa: “pada tahun 1006M, Raja Sriwijaya dan Kedah yang bernama Marawijayatunggawarman dari keluarga Sailendra menghadiahkan sebuah desa sebagai persembahan kepada Sang Buddha, dalam wihara yang dibangun ayahnya Cudawaniwarman di Nagipattanna”.

Keterangan ini didukung oleh sebuah mansukrip Nepal, abad ke 11 yang memuji negara Sriwijaya sebagai pusat kegiatan agama Buddha, dan memiliki area indah Lokananantha di Sriwayapura. Dan sebuah kronik Tibet yang ditulis pada abad ke 11 bernama Durbodhaloka menyebutkan pula nama Maharaja Sri Cudamanirwarman dari Sriwijayanagara di Suwardawipa. (Nia, 1982, ibid).

Dapat dipahami bahwa “se-li-chu-la-wu-ni-fu-a-tiau-hwa” adalah sebutan Cina untuk Maharaja Sri Cudamaniwarmandewa yang kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Marawijayatunggawarman tahun 1008 M.

Maharaja Sri Marawijayatunggawarman inilah yang namanya secara praktis ditransliterasikan Cina sebagai se-li-ma-la-pi. Tetapi orang Minangkabau akan lebih mudah meluruskan bacaannya menjadi “se-ri-ma-rap-pi” atau “sri marapi” yang artinya “cahaya gunung marapi” atau “Raja Gunung Marapi” atau julukan kebesaran nama Maharaja Sri Marawijayatunggawarman sebagai Sri Maharaja Gunung Marapi dari sebuah negeri cikal bakal negara (bijanegara) Srijayanagara di Suwarnadwipa.

Tidak salah bila Charles Otto Blagden (1920) lebih mempopulerkan nama Sriwijaya (dari Sriwijayanagara) melalui karangannya “The Empire Of The Maharaja, King Of The Mountains, And Lord Of The Isles“. Kemudian disusul pula oleh Gabriel Ferrand (1922) tentang Sriwijaya dengan judul buku “L Empire Sumatranains De Sriwijaya“.

Sampai sekarang para ahli sejarah masih mempertanyakan tentang kerajaan besar yang pernah ada di Nusantara ini. Banyak pertanyaan yang mengganjal tentang keberadaan Sriwijaya itu sendiri, antara lain:

Apakah Sriwijaya itu nama Raja, nama sebuah Negeri atau nama sebuah Kerajaan?  Seperti yang dipertanyakan oleh Hendrik Kern (1913) ketika mentranskripsikan Prasasti Kota Kapur, yang menganggap bahwa nama itu adalah nama seorang Raja Sriwijaya. Sementara itu pada tahun 1918 George Coedes dari Perancis menolak anggapan Kern tersebut, dan mengungkapkan bahwa Sriwijaya adalah nama sebuah Negeri atau Kerajaan.

Di manakah sebenarnya pusat Kerajaan Sriwijaya? Kalau memang diakui sebagai Maharaja Gunung (the king of mountains), dimanakah Gunungnya? Dan apa saja bentuk warisan budaya sebagai bukti kebesarannya? Bagaimana dan di mana?

Apabila memang orang Minagkabau sangat menghargai Tambo Minangkabau sebagai litere nenek moyangnya yang berisi sejarah (Edward Djamiris,1980;1) maka sejauh mana Tambo Minangkabau dapat memberi konstribusi yang dipahami baik oleh generasi muda pendukung kebudayaan sendiri maupun oleh dunia luar berkenaan dengan informasi sejarah Minangkabau itu.

SAILENDRA berasal dari kata Saila dan Indra.

  • Saila adalah nama suku yang mendiami wilayah sekitar Gunung Mahendragiri di India Selatan. Mahendragiri terdiri atas kata mahaindra dan giri. Mahaindra adalah nama dewa indra yang tertinggi dan bersemayam di puncak gunung. Diucapkan Mahendra, kemudian menjadi Mandra, Manduro nama salah satu puncak gunung Marapi yang disebut Puncak Manduro, penduduk sekitar lereng Gunung Marapi menyebutnya Bukit Manduro.
  • Saila menjadi Sila atau Selo yang artinya kemudian menjadi salah satu cara duduk atau kedudukan yang disebut bersila atau baselo sebuah kerajaan awal di lereng Gunung Marapi. Oleh Tambo Minangkabau disebut sebagai Kerajaan Galundi Nan Baselo.

Kerajaan Galundi telah mengukir namanya dengan gemilang dalam catatan sejarah tradisi sejak abad ke 11 SM sampai abad ke 10 SM. Menurut keterangan tambo rajo-rajo di Gunung Marapi, salah seorang rajanya menjadi duli yang dipertuan masa itu, kemudian memindahkan tempat kedudukannya dan mendirikan pusat kediamannya yang baru yang disebut  pasumayam, tempat persumayaman Raja dengan bangunan-bangunan yang terdiri dari batu-batu.

Karena itu komplek tersebut disebut Pasumayam Koto Baru. Terletak di sekitar ulu sungai una di sekitar lereng Gunung Marapi. Dalam perkem-bangannya kemudian berdiri pula perkampungan baru di sekitarnya untuk kedudukan raja-raja yaitu Sandi Laweh dan Padang Panjariangan. Pada awalnya hanya merupakan perkampungan raja dan tempat tinggal para pertapa yang melakukan ibadah ritual bagi pemuja para dewa dari tempat-tempat yang tinggi.

Lereng Gunung Marapi yang subur, serta sumber-sumber kehidupan yang menguntungkan membuat mereka betah untuk menetap, dan ramai dikunjungi oleh pendatang-pendatang baru sehingga membuat negeri di lereng Gunung Marapi menjadi terkenal. Sebuah syair dari India yang termasyur dari abad ke-3 SM menyebutkan bahwa di sebelah timur ada negeri yang disebut trikuta nilaya. Negeri ini terletak di kawasan tiga puncak gunung. Salah satu puncaknya disebut Manduro atau Mandara salah satu dari himpunan perbukitan di bagian selatan Gunung Marapi.

Kosakata Manduro atau Mandara berasal dari  kata Maha Indra, oleh karena itu Manduro menjadi terkenal di zamannya dan menjadi nama lain dari Galundi Nan Baselo, sesuai dengan nama bukit yang di dekatnya. Manduro juga digunakan untuk menyebut nama Gunung Marapi secara keseluruhan. Tetapi juga memiliki nama lain yang dipakai untuk menyebut Gunung Marapi dengan nama Mahameru. Bahkan masih dipakai sampai abad ke 13 seperti yang tertulis pada Prasasti Saruaso.

Itu sebabnya mereka memberi nama salah satu puncak bukit yang menjadi bagian tertinggi dari puncak Gunung Marapi dengan nama Mahendragiri, yang artinya Gunung Maha Indra, sesuai dengan nama gunung yang mereka tinggalkan dari negeri asal mereka. Dan sebuah sungai yang berhulu dari gunung ini mengalir ke pesisir timur bernama Indragiri. Sungai yang mengalir dari Gunung Indra ini diberi nama Batang Indragiri.

Mahendragiri sebagai nama puncak Gunung Marapi yang terletak di pusat pulau Sumatera bagian tengah tidaklah begitu populer, tetapi bukit Manduro yang merupakan nama salah satu puncak Gunung Marapi cukup dikenal oleh masyarakat yang tinggal di sekitar lereng Gunung Marapi. Di sekitar lereng Gunung Marapi terdapat perkampu-ngan-perkampungan seperti Batur, Sungai Jambu, Bulan Sariak, Jambak Ulu dan Lubuak Antan sampai sekarang.

Sementara puncak yang lain dari Gunung Marapi disebut Bukit Siguntang-guntang Marapi yang juga berada pada lokasi perkampungan Galundi Nan Baselo. Walaupun kemudian berabad-abad lamanya tenggelam dalam kabut sejarah. Perkampungan tertua seperti Sandi Laweh, Padang Panjariangan dan Galundi Nan Baselo, Pasumayam Koto Baru, Batur dan lain-lainnya itu hilang dari berita-berita sejarah. Sementara Prasasti Saruaso hanya menyebut adanya dua pemimpin pada zaman itu yang bernama Perpatih Tundang dan Tumenggung Kudawira.

Galundi Nan Baselo muncul kembali pada abad ke 14 ketika lahirnya tokoh pembaharuan Datuak Suri Dirajo yang menjadi Penghulu di lereng puncak Gunung Marapi bersama dua kemenakannya Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatih Nan Sabatang.

Kelak kemudian dikenal sebagai pimpinan dan pemikir sejati yang melahirkan konsep tatanan sosial hidup berdampingan secara damai dan demokratis dengan karakter khas dan spesifik, yang terkenal dengan Sistem Kelarasan Koto Piliang menurut konsep Datuak Katumanggungan, dan Bodi Caniago menurut konsep Datuak Perpatih Nan Sabatang. Hubungan yang dinamis antara kedua sistem ini melahirkan Tatanan Adat Alam Minangkabau.

Perkampungan baru dari Galundi Nan Baselo yang disebut juga Bukit Siguntang-guntang Gunung Marapi atau Bukit Siguntang-guntang Mahameru sekitar abad ke-14 telah berkembang sampai ke hilirnya dengan nama yang sampai sekarang disebut Batur.

Sandi Laweh dan Padang Panjariangan kemudian ditinggalkan penduduknya, demikian juga dengan perkampungan lama Galundi Nan Baselo yang disebut Bukit Siguntang-guntang tidak saja menjadi desa Batur, tetapi berkembang menjadi nagari Sungai Jambu yang terdiri dari koto-koto Sungai Jambu, Batur, Bulan Sariak, Jambak Ulu dan Lubuak Antan. Itulah yang sekarang bernama Nagari Sungai Jambu, dengan koto-kotonya yang berada di bahu Gunung Marapi.

Dari Batur terlihat Gunung Marapi dengan salah satu puncaknya yang terletak di selatan dengan nama Gunung (Bukit) Manduro. Di bawah lerengnya pada ketinggian lebih kurang 1000m terdapat perkampu-ngan Sandi Laweh dan sebuah bukit yang disebut Gunung Ranjani dengan perkampungan Padang Panjariangan.

Di sebelah kiri akan terlihat jelas Bukit Siguntang-guntang dan bawahnya terletak bekas perkampungan Galundi Nan Baselo yang juga dikenal sebagai perkampungan Bukit Siguntang-guntang secara keseluruhan.  Itulah Puncak Gunung Marapi Pusat Jala Alam Minangkabau yang penuh misteri

Sumber,

https://groups.google.com/forum/m/#!topic/rantaunet/qRmG9KmGTiw

logominangelMinangel,

Paparan di atas mengetengahkan beberapa point yang mengindikasikan bahwa Kerajaan Sriwijaya merupakan Kerajaan Minangkabau. Dan dengan sendirinya, paparan ini menjadi salah satu indikasi dari sekian indikasi yang dimiliki dunia literatur yang membuktikan bahwa Kerajaan Sriwijaya adalah Kerajaan yang didirikan oleh persukuan Minangkabau.

Minangel tidak mempunyai data spesifik mengenai tingkat keilmiahan atas paparan ini, namun sungguh pun demikian, paparan ini sedikit banyak memberi masukan yang sangat berarti untuk membuktikan jatidiri Kerajaan Sriwijaya. Memang sudah pada logika-nyalah bahwa Kerajaan Sriwijaya merupakan Kerajaan milik persukuan Minangkabau, bukan persukuan yang lain.

Dan pada akhirnya, semoga paparan ini dapat menjadi inspirasi bagi seluruh warga Minangel untuk berkarya lebih hebat lagi bagi kejayaan NKRI yang megah ini. Amin.

Wallahu a’lam bishawab.

Rao Pasaman Dan Kerajaan Padang Nunang

raopasaman

Oleh: Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo[1]

Rao dan Pasaman umumnya dalam subkultur Minang merupakan rantau Luhak Agam yang kental menganut adat kelarasan Koto Piliang yang didirikan Datuk Ketumanggungan. Justru dalam tata pemerintahan masa Belanda, Pasaman (Ophir dan Lubuk Sikaping) adalah bagian integral wilayah Afdeling Agam yang controleur-nya ketika itu berkedudukan di Onder Afdeling Ophir yakni di Talu. Sebab itu pula sampai sekarang, dalam pemerintahan adatnya terutama pada jejak kerajaan Sapiah Balahan Pagaruyung  yang ada di Pasaman (misalnya Kerjaan Padang Nunang Rao, Kerajaan Talu, Kerajaan Parik Batu Simpang Ampat, Kerajaan Kinali, Kerajaan Sontang [2] dsb) kental menganut aturan dan paham ketatanegaraan Koto Piliang. Kelarasan ini berpandangan bahwa lembaga raja, mulai dari Rajo Tigo Selo, amat dihormati dan status (kedudukan)-nya berada di atas segalanya.

Kepopuleran Rao, di antaranya tidak bisa dilepaskan dari sejarah kebesaran kerajaan lama Padang Nunang – Rao, di samping nama besar tokoh Tuanku Rao (1790 – 1833). Tuanku Rao ini, ayahnya berasal dari Tarungtarung Rao dan ibu-nya dari Padangmantinggi, kemudian dikenal sebagai  seorang tokoh Paderi (1821 – 1837) terkemuka dan panglima perang, disebut amat gigih memerangi Belanda di wilayah Pasaman, Kotanopan, Padanglawas, dan di Padangsidempuan.

Ia juga seorang ulama penyebar Islam di Tanah Batak, yang masa remajanya belajar ilmu agama Islam di surau Tuanku Nan Tuo, Koto Tuo (Agam), kemudian mendalaminya dengan Bonjol bidang fiqh al-Islam (jurisprudensi Islam) sampai dianugerahi gelar Fakih Muhammad. Diceritakan ia menikah dengan seorang wanita bangsawan, puteri Yang Dipertuan Rao. Ia bertentangan mazhab dengannya (ia berpaham Wahabi), juga mertuanya tidak menunjukkan perlawanan terhadap Belanda, karenanya mengambil alih pemerintahan di Rao dan bergelar Tuanku Rao.

Kerajaan Padang Nunang, Rao jelas-jelas kerajaan kerabat Pagaruyung [3]. Razak banyak menceritakan perihal kerajaan ini bersumber dari ninik Mukti bin Abdullah di Sumur Rao.

Yang Dipertuan Rao, bersemayam di Koto Rao, Rao Mapat Tunggul. Kawasan  tapak istana tersebut boleh dilihat dari jambatan Sungai Asik, yang merupakan sempadan antara Nagari Lubuak Layang, Mapat Cancang dan Lubuak Godang, Mapat Tunggul.

Kerajaan ini mulai mundur dari kejayaannya disebabkan terjadi konflik dalam tubuh kerajaan. Raja-raja Rao melakukan musyawarah mencari  solusi penyelesaian. Saat itu Yang Dipertuan Rao sudah wafat menjadi korban Perang Padri. Keputusan musyawarah mengamanatkan perlu menjemput dan mengangkat seorang Raja dari istana Kerajaan Pagaruyung dengan memberi gelar Yang Dipertuan sebagai safety valve (katup pengaman) konflik kerajaan. Lalu disepakati tiga orang raja sebagai wakil Raja-Raja Rao untuk menghadap Raja Alam di istana Kerajaan Pagaruyung. Tiga orang Raja itu ialah:

(1) Sutan Komalo dari Padang Bariang,

(2) Sutan Nadil dari Koto Panjang,

(3) Sutan Rajo Lelo dari  Tanjung  Boda.

Ada juga catatan termasuk Dato’ Rajo Malintang, Lubuok Layang sebagai wakil utusan.

Sesampai di istana, wakil Padang Nunang diperkenankan memilih salah seorang kerabat yang ketika itu raja perempuan, terpilih yang tercantik. Kemudian Raja pilihan dari Pagaruyung itu dikukuhkan dengan diberi gelar Yang Dipertuan di wilayah Koto Rajo, Mapattunggul. Pada upacara pengukuhan itu semua Raja Rao menyatakan kesetiaan kepada raja yang baru dikukuhkan itu.

Malang tidak dapat ditolak, raja yang baru dikukuhkan itu rebah di singgasana kerajaan. Diperiksa, ternyata ia sudah wafat. Dari suara-suara, disebabkan oleh €œketulahan€, sebuah mitos Minang, diperkirakan derajatnya rendah atau bukan keturunan raja, dan tidak bebannya yang dipikul.

Wakil Raja Rao yang bertiga mengantarkan raja yang mangkat itu ke istana Pagaruyung, mengabarkan perihal kewafatannya

Sekembalinya di Rao, Raja-Raja Rao kembali mengadakan musyawarah. Ketiga wakil Raja Rao tadi diminta untuk pergi sekali lagi ke istana Pagaruyung, untuk mencari ganti raja perempuan yang wafat. Wakil Raja Rao membuat strategi sebelum menghadap Raja Pagaruyung. Mereka mengambil langkah diam-diam betemu dengan ketua protokoler (pengawal) istana Pagaruyung. Di sana mereka mendapatkan informasi menarik.

Ada seorang perempuan derajatnya tinggi, ia keturunan raja langsung dari isterinya yang lain, tetapi dimarjinalkan, disisihkan dalam pergaulan istana, karena lahir dengan paras kurang cantik. Sering dimarahi dan tidak dihormati, tetapi siapa pun yang memarahinya langsung sakit. Sakitnya tidak akan pernah sembuh, kalau tidak diobati dengan air basuh kaki perempuan keturunan raja itu.

Pada saatnya wakil Rao itu meminta perempuan yang di dapur itu di Balai menghadap Raja Pagaruyung dan Raja memperkenankannya dibawa utusan dan diselenggarakan upacara naik nobat menjadi Yang Dipertuan Padang Nunang di Rao.

Yang Dipertuan dibangunkan istana baru. Istana lama di pindahkan. Rajo Malintang penguasa Lubuak Layang, berkenan memberikan sebidang tanah yang disebut Padang Nunang, Lubuk Layang; di situ dibangun istana baru. Kemudian gelar Yang Dipertuan ditukar dengan Yang Dipertuan Padang Nunang.

Razak dari sumber ayahnya, mengisahkan, Yang Dipertuan Padang Nunang ini (Rajo perempuan dari Pagaruyung tadi) bertemu jodoh dengan keturunan  bangsawan  Mandailing.***

Padang, 2012

Catatan Akhir:

[1]Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo, Ketua V Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar, Dosen Fakultas Ilmu Budaya €“ Adab IAIN Imam Bonjol, Peneliti banyak menulis tentang kebudayaan terutama Minangkabau serta Kerajaan Sapiah Balahan Pagaruyung (Kerabat Minangkabau). Sekarang sedang menulis buku tentang Talu, Pasaman.

Blogg: http://www.wawasanislam.wordpress.com, e-mail: yy_datuk@yaho.com dan facebook: datukyuyu@yahoo.com.

[2] Yulizal Yunus, Kerajaan Pagaruyung, Alam Minangkabau dan Kerajaan-Kerajaan Kerabat, Makalah Pertemuan Pemangku Adat, Balaiselasa: STAI, 2002). Baca juga Yulizal Yunus, Kesultanan Indrapura dan Mandeh Rubiyah di Lunang, Spirit Sejarah dari Kerajaan Bahari hingga Semangat Melayu Dunia. Padang: Pemkab Pessel  IAIN-IB Press, 2002.

[3]Kerajaan Padang Nunang Rao tidak banyak historika dokumenta yang berbicara dan akurat, namun fakta sosial cukup banyak bahkan sampai ke dunia maya cukup menyebar dan diperdebatkan cukup alot. Razak Rao (dalam http://razakrao.multiply.com/), menayangkan cerita lama itu, tetapi diakuinya tidak mu’tamad (akurat), karena informasi diperoleh dari arwah ninik (cerita sejarah dari arawah).

Riza Syahran Ganie gelar Sutan Khalifah juga member tanggapan dengan menambah informasi tentang Kerajaan Pasaman Kehasilan Kalam. Nurul Wahyu Sanjaya (wahyuraorao@yahoo.co.id) lebih serius memberi tanggapan, dengan mengemukakan fakta sosial baru dan menarik terutama tentang kisah raja-rajanya. Ia menyebut Rajo Rao, di antaranya Sutan Maha Lebihi beserta keempat anaknya, yang masing-masing bergelar Ja Pardanonan (Raja Lumbung), Ja Kinari (Raja Sinar), Ja Suaro (Raja Suara), dan Maha Raja Lelo (Manga Raja Lelo) memindahkan istananya dari Rao ke Batang Natal (Muara Soma). Dari sharing informasi itu terbetik cerita teller history raja yang sulit dibuktikan (mitos) berkaitan dengan Nabi Suleman dan Ratu Bulkis, orang Minang popular dengan sebutan Balukih (seperti lukisan cantiknya) sukunya Nur yang berarti cahaya dan Minang. Nabi Sulaiman mengambil emas, kemenyan dan lada di Gunung Ophir sebutan untuk Gunung Pasaman sekarang, di situ pula ia mempersunting Bulkis Ratu Kerajaan Saba.

http://guguak8koto.blogspot.co.id/2013/09/rao-pasaman-dan-kerajaan-padang-nunang.html?m=1

Hikayat Datuk Nyato Dirajo Diplomat Ulung Kampar Kiri

kamparkiri

Datuk Nyato Dirajo adalah pucuk rantau Negeri Domo Kekhalifaan Kuntu. Pada masa kurun abad ke 16 Masehi pucuk Rantau Negeri Domo bernama Datuk Andomo. Pada masa ini Datuk-datuk Serantau Kampar Kiri sudah bersepakat untuk berdiri sendiri dalam wadah suatu kerajaan. Setelah kesepakatan dibuat maka para datuk bersepakat untuk meminta seorang anak Raja Asli dari Raja Pagaruyung untuk dirajakan di rantau Kampar Kiri.

Maka Datuk Sanjayo, Penjaga Batas Rantau Kampar Kiri, menjadi delegasi dari Luak Subayang untuk menghadap ke Istana raja Pagaruyung. Setiba di istana raja maka disampaikanlah maksud dan tujuan kedatangan kedua bangsawan Kampar Kiri ini, yaitu untuk meminta seorang anak raja yang asli keturunan Daulat Raja Pagaruyung, di mana anak tersebut akan menjadi “Bijo” atau cikal Raja bagi kerajaan Gunung Sailan.

Setelah mendengar maksud kedatangan delegasi Pembesar Rantau Kampar Kiri yang dikepalai Maka Datuk Sanjayo, Penjaga Batas Rantau Kampar Kiri, Maka Raja Pagaruyung kemudian mengiyakan dan merestui keinginan Datuk-datuk dari Kampar Kiri tersebut.

Adapun mengenai permintaan untuk membawa seorang anak raja yang asli (laki-Laki) ke Rantau Kampar Kiri, Raja Pagaruyung waktu itu juga memberikan restunya, silakan ambil dan bawalah ke Kampar Kiri. Kemudian Raja Pagaruyung menunjuk kepada halaman istana Pagaruyung waktu itu dan berkata “di sana ada sekumpulan anak-anak raja Pagaruyuag, ambillah satu dan bawalah ke Negeri Tuan-tuan.

Menurut hikayat para tetua adat, pada waktu itu di halaman istana ada sekitar 40 orang anak laki-laki yang sedang bermain, maka Raja Pagaruyung mempersilakan untuk mencari dan memilih sendiri anak mana yang disukai oleh para Datuk untuk dijadikan Raja di Kampar Kiri. Melihat kesempatan ini maka Datuk Besar ketua delegasi Masyarakat Kampar Kiri memilih seorang anak Raja yang paling bagus dan elok raut mukanya.

Anak tersebut diambil lalu dibawa ke Rantau Kampar Kiri, lalu di dudukkan di atas tahta di Negeri Gunung Sailan. Sebelum dinobatkan menjadi Raja, maka anak raja yang dijemput tadi dilakukan upacara sembah raja, di mana seluruh Datuk pembesar rantau menyembah anak raja tersebut, sebagai wujud Baiat mereka atas kepemimpinan Raja baru.

Akan tetapi setelah dilakukan upacara sembah Raja, Sang Anak Bijo Raja tersebut tiba-tiba sakit, tidak beberapa lama kemudian sang anak meninggal dunia. Kejadian ini membuat gempar Rakyat serantau Kampar Kiri, di mana raja yang dijemput ke Pagaruyung tiba-tiba wafat tak tahan sembah.

Maka bermusyarahlah kembali para datuk Pembesar Rantau di mana dalam Musyawarah itu didapat kata sepakat bahwa jika anak Raja tersebut wafat tak tahan sembah, berarti anak tersebut bukan anak raja yang asli dari kerajaan Pagaruyung.

Diutuslah delegasi kedua yang dikepalai oleh Datuk Singo Rajo Babandiang kembali menghadap Raja Daulat Pagaruyung, dengan maksud yang sama yakni meminta anak raja yang asli untuk dijadikan raja di Gunung Sailan. Setiba di istana Raja Pagaruyung jawaban Raja tetap sama yakni silahkan dipilih dari sekumpulan anak raja Pagaruyung yang ada.

Kemudian Datuk Godang kembali memilih seorang anak yang menurut hemat dan pertimbangan beliau ini adalah anak raja yang asli. Setelah dapat maka dibawalah ke Rantau Kampar Kiri, sebelum sampai di Gunung Sailan di suatu tempat maka berhentilah Datuk Singo Rajo Babandiang dan pengiringnya dan kemudian menghampiri sang Raja Muda Pagaruyung tersebut, kemudian bertanya apakah tuan muda adalah anak raja Pagaruyung ….? Sang anak mengangguk. Lalu Datuk Singo Rajo Babandiang kembali memastikan agar kejadian pertama tidak terulang, apakah Tuan Muda, benar-benar anak Raja asli / kontan raja Pagaruyung.

Mendengar pertanyaan tersebut maka Tuan Muda dari Pagaruyung ini kemudian menggeleng. Mendengar jawaban sang Tuan Muda dari Pagaruyung maka bingunglah Datuk Singo Rajo Babandiang, maka tuan Muda ini diberi gelar “ Rajo Ongguak –Geleng”.

Untuk memastikan bahwa anak ini bisa dijadikan Raja di Kampar Kiri, maka diadakanlah kembali upacara “sembah Raja” jika benar dia anak Raja asli Pagaruyung pasti tahan sembah, kata sang Datuk. Setelah upacara sembah raja, tidak berapa lama sang tuan muda menderita sakit perut, tidak lama kemudian tuan Muda dari Pagaruyung ini juga meninggal dunia. Bertambah bingunglah para pembesar Rantau Kampar Kiri, dua kali menjemput Raja, kedua-duanya berakhir dengan kegagalan.

Dengan tekad bulan, sekali layar terkembang, pantang surut kebelakang, maka diadakan musyawarah kembali dan dibentuklah delegasi ketiga. Untuk memimpin delegasi ketiga ini kemudian diserahkan kepada Datuk Andomo, yakni pucuk Rantau Negeri Domo, Kekhalifaan Kuntu.

Berangkatlah sang Datuk pembesar rantau Kampar Kiri ini kembali ke Istana Raja Pagaruyung dengan tekad mendapatkan seorang anak Raja yang asli keturunan Raja Pagaruyung. Setelah sampai di Pagaruyung, sang Datuk Andomo tidak langsung ke istana Raja, tetapi sang datuk pergi ke pasar dan membeli setandan pisang. Lalu dipikullah pisang tersebut ke istana Raja Pagaruyung.

Setelah tiba di halaman istana, maka dipanggillah semua anak-anak yang bermain di halaman istana dan diberikan pisang (diumbuok dengan pisang). Anak-anak kemudian ramai berebut pisang sang datuk, sambil membagikan pisang sang datuk mengajukan pertanyaan kepada anak-anak tersebut, mana anak raja Pagaruyung yang sebenarnya. Anak-anak tersebut dengan polosnya menunjuk kepada seorang anak laki-laki yang sedang duduk di pinggir halaman istana. Anak tersebut tidak ikut berebut pisang sang datuk.

Datuk Andomo memperhatikan gaya anak-anak istana ini memakan pisang, ada yang langsung dibuka dan dibuang kulitnya. Kemudian buah pisang langsung dimakan oleh anak-anak tersebut, beragam cara memakan pisang anak-anak istana ini.

Kemudian sang datuk mendatangi anak yang duduk di pinggir halaman dan memperhatikan sang anak. Secara lahiriah sang anak terkesan biasa-biasa saja, bahkan dilihat dari kulit sang anak berwarna agak hitam dan rupa yang tidak terlalu tampan. Secara lahiriah tentu sang Datuk tidak begitu yakin jika sang anak ini Tuan Muda yang sebenarnya dari kerajaan Pagaruyung. Sang Datuk Andomo kemudian mempersembahkan buah pisang yang dibawanya kepada tuan muda Pagaruyung ini.

Pemberian sang datuk diterima oleh si anak. Kemudian sang tuan muda ini membuka kulit pisang selembar demi selembar dan menyisahkan bahagian bawahnya, karena bagian bawah itu adalah tempat untuk memakan pisang secara berlahan. Cara ini disebut dengan tatacara santap istana yakni disebut “Kubak Ajo”.

Melihat tatakrama sang tuan muda Pagaruyung ini maka yakinlah sang Datuk Kampar Kiri bahwa memang tuan bujang hitam inilah anak Raja yang asli dari Dinasti Raja Pagaruyung.

Kemudian sang Datuk Kampar Kiri ini, kembali menemui Raja Pagaruyung dengan tujuan yang sama dengan dua delegasi terdahulu yakni untuk meminta seorang anak raja yang asli keturunan langsung dari Raja Pagaruyung untuk dirajakan di Kampar Kiri. Sebagaimana jawaban terdahulu seperti itulah jawaban Raja Pagaruyung yakni mempersilahkan Datuk Andomo untuk memilih seorang anak dari halaman istana Pagaruyung.

Dengan diberikan izin tersebut, dengan cekatan Datuk Andomo bergerak menuju tuan Muda Hitam tersebut mengapit tangannya dan membawa si anak ke hadapan Raja Pagaruyung, sambil berkata bahwa dia akan membawa anak ini ke Gunung Sailan untuk dijadikan Raja di kampar Kiri.

Melihat kejadian ini maka terkejutlah sang Raja Pagaruyung, melihat anak laki-laki satu satunya sudah berada dalam gengaman tangan Datuk Andomo dari Kampar Kiri. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, kata izin telah keluar dari mulut Tuanku Raja, tentu pantang untuk menjilat ludah yang telah terlanjur dibuang. Maka Sang Raja mengiyakan permintaan Datuk Andomo dari Kampar Kiri.

Kemudian setelah semua perlengkapan sudah siap di depan Istana Pagaruyung maka Datuk Andomo akan turun dari istana Pagaruyung membawa sang Tuan Muda untuk dijadikan Raja di Rantau. Melihat kejadian tersebut terseraklah tangis di tengah istana, di mana ibu sang Raja Bujang menangis meraung menyaksikan putra tunggalnya di jemput terbawa oleh Datuk-datuk dari Kampar Kiri.

Melihat kejadian tersebut bertambah yakinlah Sang Datuk Andomo bahwa yang terbawa adalah Anak Raja Asli Pagaruyung. Dengan senyum kemenangan Sang Datuk Andomo meninggalkan Istana Pagaruyung kembali Ke Gunung Sailan.

Setiba di Gunung Sailan Kampar Kiri, segeralah diadakan acara Nobat Raja melalui acara sembah Raja dan pembacaan Sumpah setia di Muarabio tepatnya di pulau Angkako. Jadilah Tuan Bujang Pagaruyung sebagai Raja Pertama Kerajaan Gunung Sailan Kampar Kiri.

Kecerdikan Datuk Andomo dalam bersiasat untuk mendapatkan anak raja yang asli dari Pagaruyung ini menjadi legenda turun temurun di Rantau Kampar Kiri, sehingga Datuk Andomo pucuk Rantau Negeri Domo memperoleh kehormatan sebagai orang Besar Raja Gunung Sailan dengan gelar Datuk Nyato Dirajo.

http://rantaukamparkiriculturecenter.blogspot.co.id/2016/04/hikayat-datuk-nyato-dirajodiplomat.html?m=1

Kincir Air Di Minangkabau Dan Originalitasnya

kincir-air-di-minangel

Kamis, tanggal 23 Juli 1818, danau Singkarak tampak tenang dan damai. Airnya dimanfaatkan untuk kepentingan penduduk. Sekitar 50 yard (kurang lebih 45 meter) dari hulu sungai (Batang) Kuantan, kincir air yang kokoh digunakan untuk mengairi sawah didekatnya. Kincir-kincir air ini bahan utamanya dari bamboo, dan memang dibuat untuk mengairi sawah.

Kincir air ini umum digunakan di Menangkabu (Minangkabau), dan dapat dianggap sebagai kemajuan dalam bercocok-tanam yang bahkan belum dicapai oleh Jawa, meskipun Jawa memiliki hubungan dengan Cina sejak lama. Mengingat bangsa Eropa maupun Cina belum pernah menginjakkan kaki di tanah Minangkabu dan selama berabad-abad penduduk pribumi Minangkabau tidak pernah berintegrasi dengan orang-orang asing, kincir-kincir air ini dapat dianggap sebagai penemuan asli orang pribumi Minangkabau. Seingat saya (Raffles), tidak pernah melihat kincir air sejenis ini di Jawa.

Sumber,

https://lizenhs.wordpress.com/2013/09/11/sir-t-s-raffles-di-peralaman-minangkabau-kincir-air-bercocoktanam-dan-penggilingan-tebu/

logominangelMinangel,

Artikel di atas, yang menginformasikan keberadaan kincir-air di Ranah Minangkabau berdasarkan kesaksian Raffles, benar-benar menjadi satu dari sekian bukti akan kemajuan dan keterampilan persukuan Minangkabau khususnya dalam hal teknologi.

Dalam tulisannya, bahkan Raffles menegaskan bahwa kincir-air yang ia lihat di Ranah Minangkabau benar-benar merupakan karya original persukuan Minangkabau, jadi bukan hasil dari adaptasi atau meniru-niru dari bangsa lain. Hal ini jelas menunjukkan kemurnian persukuan Minangkabau dalam hal kincir-air. Intinya, dari sekian banyak persukuan di Nusantara bahkan di Asia Tenggara, ternyata hanya masyarakat persukuan Minangkabau sajalah yang menemui akalnya untuk membangun kincir-air yang memanfaatkan tenaga air yang tiada habis-habisnya.

Sebagai perbandingan, kincir-air merupakan kelumrahan di Negara-negara Eropa khususnya Belanda. Bukankah hal ini menunjukkan bahwa masyarakat persukuan Minangkabau, pada beberapa level, mempunyai alur pemikiran dan citarasa yang kurang lebih sama dengan masyarakat Eropa?

Pada akhirnya, marilah kita berharap semoga kincir-air yang merupakan karya asli masyarakat persukuan Minangkabau, dapat lebih diberdayagunakan untuk kemaslahatan umat. Amin.

Kerajaan Minangkabau Adalah Kerajaan Pertama NKRI

kerajaankandis

Minangkabau adalah masyarakat yang paling berbangga di dalam NKRI, karena kerajaan pertama yang bangkit di dalam NKRI merupakan kerajaan berdarah Minangkabau, yaitu Kerajaan Kandis, yang eksis dan bersemi pada abad pertama sebelum Masehi (SM), bertapak di derah yang sekarang bernama Kuantan. Berikut paparan yang berasal dari wikipedia.

Kerajaan Kandis

Kerajaan Kandis adalah kerajaan tertua yang berdiri di Sumatera, yang terletak di Koto Alang, masuk wilayah Lubuk Jambi, Kuantan, Riau.

Sejarah

Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada 1 tahun Sebelum Masehi, mendahului berdirinya Kerajaan Moloyou atau Dharmasraya di Sumatera Tengah. Dua tokoh yang sering disebut sebagai raja kerajaan ini adalah Patih dan Tumenggung.

Maharaja Diraja, pendiri kerajaan ini, sesampainya di Bukit Bakau membangun istana yang megah yang dinamakan Istana Dhamna. Putra nya Maharaja Diraja bernama Darmaswara bergelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal (lebih akrab dipanggil).

Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran yaitu keris berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih dipegang oleh Danial gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo. Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri yang bernama Bunda Pertiwi. Bunda Pertiwi bersaudara dengan Bunda Darah Putih. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu.

Setelah Maharaja Diraja wafat, Datuk Rajo Tunggal menjadi Raja di Kerajaan Kandis. Bunda Darah Putih dipersunting oleh Datuk Bandaro Hitam. Lambang kerajaan Kandis adalah sepasang bunga raya berwarna merah dan putih.

Ekonomi Kerajaan

Kehidupan ekonomi Kerajaan Kandis adalah hasil hutan seperti damar, rotan, dan sarang burung layang-layang, dan hasil bumi seperti emas dan perak. Daerah Kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Rajo Tunggal memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal dengan Tambang Titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan Titah Raja. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan Tambang Titah.

Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Melayu oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat.

Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Menteri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan cerita Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Semenanjung Melayu.

Dt. Rajo Tunggal memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain di antaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah Kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.

Berdirinya Kerajaan Kancil Putih dan Kerajaan Koto Alang

Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak / Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).

Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi Kerajaan Kancil Putih, setelah itu Kerajaan Kandis memerangi Kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi.

Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Marapi (Sumatera Barat) di mana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan.

Tidak lama kemudian, pembesar-pembesar Kerajaan Kandis mati terbunuh diserang oleh Raja Sintong dari Cina Belakang, dengan ekspedisinya dikenal dengan Ekspedisi Sintong. Tempat berlabuhnya kapal Raja Sintong, dinamakan dengan Sintonga. Setelah mengalahkan Kerajaan Kandis, Raja Sintong beserta prajuritnya melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah kalah perang pemuka Kerajaan Kandis berkumpul di Bukit Bakar. Karena cemas akan serangan musuh, mereka sepakat untuk menyembunyikan Istana Dhamna dengan melakukan sumpah. Sejak itulah Istana Dhamna hilang, dan mereka memindahkan pusat kerajaan Kandis ke Dusun Tuo (Teluk Kuantan sekarang).

-o0o-

Artikel wikipedia di atas mengisahkan Kerajaan Kandis yang berdiri di Sumatera Tengah, tepatnya di Kuantan, Riau sekarang, pada abad pertama sebelum Masehi. Dengan ditetapkannya abad pertama sebelum Masehi bagi berdirinya Kerajaan Kandis ini, maka praktis kerajaan ini menjadi kerajaan pertama yang bangkit di NKRI, karena sebelum Kerajaan Kandis, belum pernah tercatat ada kerajaan yang mendahului Kerajaan Kandis ini.

Sebagai perbandingan, Kerajaan Kutai berdiri pada abad IV, alias pada tahun 300an Masehi. Sementara itu, Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad VII, alias pada tahun 600an Masehi. Majapahit pada abad XIV alias pada tahun 1300an. Kerajaan Singasari berdiri pada abad XIII alias pada tahun 1200an. Kerajaan Salakanagara berdiri di Tanah Sunda pada tahun 130 Masehi.

Jadi, Kerajaan Kandis adalah 400 tahun lebih awal dari Kerajaan Kutai di Kalimantan.

Perlu dikemukakan di sini, bahwa sebenarnya kerajaan ini lebih tepat dikatakan sebagai Kerajaan Riau (bukan Kerajaan Minangkabau), karena bertapak di Provinsi Riau sekarang: Kuantan adalah nama derah di dalam Provinsi Riau. Namun mengapa Kerajaan Kandis diperkatakan sebagai Kerajaan Minangkabau? Ada beberapa alasan.

  1. Di dalam artikel wikipedia tersebut yang melaporkan Kerajaan Kandis ini, penyebutan nama-nama tokoh Kerajaan Kandis bergenre bahasa Minangkabau, seperti Datuak, Bagindo, Rajo, Mangkuto, dsb. Ini merupakan indikasi bahwa kerajaan tersebut merupakan kerajaan yang bersuku Minangkabau. Kalau memang benar bahwa Kerajaan Kandis merupakan Kerajaan non-Minangkabau (melainkan Melayu biasa) maka mestilah nama tokoh-tokohnya bergenre bahasa Melayu biasa.
  2. Biar bagaimana pun, secara peta, Kuantan sebagai tempat bertapaknya Kerajaan Kandis ini, sangat dekat dengan Minangkabau versi Sumatera Barat. Dapat dikatakan bahwa Kuantan praktis berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat.
  3. Dua tokoh fenomenal pada Kerajaan Kandis ini, ‘berpulang’ ke ranah Minangkabau (yaitu ke lereng Gunung Merapi), yaitu Datuak Perpatih Nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan. Ini menandakan bahwa Kerajaan Kandis sebenarnya Kerajaan Minangkabau, karena terbukti dari dua tokohnya yang berpulang ke Minangkabau. Logikanya, kalau kedua tokoh tersebut bukan orang Minangkabau, maka mengapa mereka pulang ke ranah Minangkabau?
  4. Pembedaan antara Minangkabau dengan Riau sekarang ini, sebenarnya adalah konsepsi yang diberlakukan Pemerintah NKRI ini, yang ‘mencukupkan’ Alam Minangkabau hanya pada Provinsi Sumatera Barat. Sebenarnya Minangkabau merupakan kebudayaan yang meliputi Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu bahkan Mandailing. Melalui pendekatan ini, maka jelaslah bahwa Riau, atau juga Kuantan, adalah Minangkabau juga. Maka dari itu, Kerajaan Kandis adalah Kerajaan Minangkabau.

Berdasarkan beberapa alasan / latar belakang tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Kandis merupakan kerajaan berdarah Minangkabau, dan kesimpulan ini sebenarnya ‘bernada sama’ dengan megahnya marwah Minangkabau di Tatar Nusantara, di mana sama diketahui bahwa masyarakat Minangkabau merupakan masyarakat yang menonjol di dalam satu dan beberapa bidang, seperti bidang politik, ekonomi, intelektual, agama dsb. Dengan kata lain, kalau kita mengajukan klaim bahwa Kerajaan Kandis merupakan kerajaan bersuku Minangkabau, maka sebenarnya hal tersebut adalah wajar, karena masyarakat Minangkabau mempunyai latar belakang yang positif (mendukung) untuk klaim itu.

Pada akhirnya, sungguh masyarakat Minangkabau patut berbangga karena leluhur mereka, pada abad pertama sebelum Masehi telah tampil ke muka untuk mendirikan kerajaan yang kelak menjadi kerajaan pertama di Nusantara, ketika bumi dan tempat lain di Nusantara ini masih tertidur di dalam buaian Alam Semesta.

Semoga paparan Minangel ini menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Minangkabau untuk berkarya lebih giat lagi demi memajukan Alam Nusantara yang permai ini. Amin.

Sejarah Asal-Mula Nama Pagaruyung Bagian 01 dari 02

sejarahAda Apa Di Balik Nama Pagaruyung

Sungguh berlimpah faedahnya, bagi siapa yang mau menuntut ilmu di USKST (Universitas Sepanjang Kampung Sebelit Tanjung). Seperti saya di Hulu Kampar ini misalnya. Setiap informan dan orang-orang di lapangan adalah profesor yang membekali kantong pengetahuan kita dengan berbagai ilmu yang tidak disangka-sangka.

Laporan JUNAIDI SYAM, Pekanbaru

SALAH satunya adalah soal geneologi diksi Pagaruyung yang disampaikan oleh Pak Hawari Imam Pangian. Sepulang dari menelusuri hulu Sungai Tampamali bersama Pak Marwan, Pak Peri, dan Pak Jalid, saya langsung ke Muaro Sungai Lolo. Singgah sebentar di kediaman Tongku Mudo Sati untuk meletakkan barang-barang, dan langsung berangkat ke Selayang.

Dua hari di Selayang saya manfaatkan untuk mencari informasi tentang Kenegerian Selayang yang posisinya berhadapan langsung dengan Pangian yang terletak di bagian hulu Sungai Lolo (anak Sungai Kampar). Sedangkan Selayang terletak di salah satu anak Sungai Sumpu (Sungai Rokan). Pangian adalah wilayah frontier yang unik.

Begitu sepeda motor Pak Peri berhenti di balai kampung Pangian, saya melihat Pak Imam Hawari tengah berbincang-bincang santai dengan tujuh lelaki. Seperti biasa, Pak Imam menyambut orang-orang yang singgah dengan wajah ceria, karena pembawaannya memang sudah begitu. Setelah berbual singkat, berbasa-basi dan bercanda, Pak Imam mengajak saya menginap di rumahnya. Saya katakan, “Langkah kanan rupanya saya ni.” Pak Imam tertawa, sebab dia mengerti bahwa yang saya maksud itu adalah keberuntungan.

Malam harinya, kami berbual-bual soal tasawuf, telaah sifat 20, dan ilmu kaji diri. Beberapa pemuda ikut bergabung mendengarkan penuturan beliau. Pak Imam juga bercerita soal sejarah berdirinya Selayang dan Pangian, sejarah Tuanku Imam Bonjol yang diklaim berasal dari Pangian, sejarah raja Melayu Palembang yang bernama Datuk Leba Tolingo (Demang Lebar Daun) dll. Perbualan berangsur dan berasak juga ke soal Pagaruyung. Inilah yang saya tunggu! Versi Pak Imam Pangian masuk dalam daftar perbendaharaan pengetahuan saya tentang Pagaruyung.

Dalam pembukaan manuskrip Taromba Tambusai dituliskan;

“Inilah surat keterangan taromba yang turun daripada Pagaruyung yang dibawa Sultan Mahjudin putra Sultan Pagaruyung anak cucu Sultan Isykandar Dzulkarnain yang turun-temurun menjadi raja di dalam Pulau Perca ini. Itulah pegangan Raja Tambusai, sah dengan nyatanya”.

Teks naskah ini jelas menyebutkan Pagaruyung sebagai pusat kekuasaan raja alam Minangkabau. Baiklah, teks manuskrip tersebut kita tinggalkan sejenak.

Saya pernah mendengar cerita tentang tempat mandi putri raja yang dipagar menggunakan “batang ruyung”. Ada pula kisah tentang “tongkat ruyung” yang dipancangkan sebagai simbol kekuasaan kerajaan kuno di masa lalu. Bahkan sering saya dengar datuk-datuk membuat pertanyaan bernuansa menguji, “Pagar ruyung itu apa? Dari kayu apa? Dan apa pula makna ruyung dalam adat? Di mana pohon ruyung itu tumbuh?”.

Baiklah, kita lanjutkan cerita Pak Imam tentang empat bersaudara yang keluar dari negerinya mencari tanah ulayat. Sampai di suatu tempat, mereka membuka hutan rimba. Bertemulah mereka dengan sebatang pohon kayu tepat di tengah-tengah rimba yang akan ditebang. Pohon tersebut dijadikan tempat berteduh dan istirahat. Demikianlah kebiasaan yang dilakukan orang berladang membuka rimba. Setelah semua pohon ditumbang, maka yang terakhir kali ditebang adalah pohon tempat mereka istirahat tersebut. Segala perkakas dan alat-alat dipindahkan ke bedeng di tepi ladang, sebab pohon tersebut akan segera dibeliung.

Mula-mula saudara yang paling tua pergi menebang pohon itu sendirian. Dikelilinginya batang pohon tersebut untuk memilih bagian dahan tua. Cara menebang pohon besar, biasanya dipilih sisi dahan tua untuk memulai pangkal kerja, bertujuan agar pohon kayu cepat tumbang. Tukih (kayu bertupang) disandarkan untuk tempat berpijak saat menghantamkan beliung ke permukaan kayu. Petang hari, saudara tertua itu pulang ke kampung. Sampai di rumah, berkatalah saudara tua tadi, “Sudah hampir selesai. Tinggal sedikit saja yang akan kalian diteruskan”.

Keesokan hari, saudara nomor dua pergi melanjutkan tebangan. Nampak olehnya pohon kayu itu masih utuh. Tidak ada sedikit pun bekas tebangan kakak sulungnya kemarin. Tukih untuk menebang juga tak nampak. Maka dibuatnya tukih baru yang lebih tegap untuk menopang tegak berdirinya saat mengayunkan beliung. Petang hari dia pulang. Berkatalah dia pada sudara-saudaranya di rumah, “Tak ada kakak menebang kemarin. Tak ada bekas tebangan di pohon itu. Kerja saya tadi hampir sudah, tapi hari hampir petang. Masih ada sisa kerja sedikit lagi”. Heranlah kakaknya yang tua, disangkanya si adik berbohong, sedangkan adik nomor dua menyangka kakak sulungnya itu yang berbohong.

Hari selanjutnya, berangkat pula saudaranya yang nomor tiga. Sesampai di bawah pohon tersebut, tiada juga ditemukan bekas tebangan sama sekali. Tukih untuk menebang juga tidak nampak. Mulai pula ia memasang tukih baru. Ditebangnya pula pohon itu hingga pekerjaannya hampir selesai, namun hari pun petang. Pulanglah dia ke rumah, lalu berkata pada ketiga saudaranya, “Haram saya temukan bekas tebangan kakak berdua. Tak nampak oleh saya sempolah (serpihan sampah tebangan) di dekat batang tu”. Adik yang ketiga itu menyangka kedua kakaknya berbohong.

Pagi yang keempat, pergi pula si bungsu. Tiada juga nampak olehnya bekas-bekas kerja menebang di pohon itu. Sadarlah dia bahwa kayu itu tidak bisa ditebang oleh saudara-saudaranya. Kemudian si bungsu memasang niat dan menyerukan kata-kata bertuah. Dengan sekali pakuk (hantaman beliung) pada bagian dahan tuanya, rebahlah pohon kayu.

Pulanglah si bungsu ke rumah. Saudara-saudaranya terkejut, “Mengapa cepat betul si bungsu ini pulang?”. Berkatalah si bungsu sambil bergurau, “Sama sekali tak ada kalian bekerja rupanya. Tadi, saya temukan pohon itu masih utuh tanpa cacat. Rupanya kalian tidur ya?”. Akibat gurauan itu, pohon yang telah tumbang tersebut tak pernah layu dan tetap menghijau daunnya.

Setelah bertahun-tahun, pohon itu tetap hijau. Orang semakin banyak berdatangan ke banjar ladang empat bersaudara tadi. Lama-kelamaan, banjar itu menjadi perkampungan yang ramai. Batang kayu yang telah tumbang tersebut dikabung-kabung, lalu dijadikan pagar. Karena kayu tersebut be-ruyung (berteras di luar), maka negeri tersebut dinamakan Pagaruyung.

Lantas saya tanyakan pada Pak Imam, “Kayu apa yang mereka tebang itu?” Jawab Pak Imam, “Entahlah, hanya kayu itu ada ruyungnya”. Sambil tersenyum Pak Imam balas bertanya pula pada saya, “Coba dikira-kira, kayu apa saja yang terasnya di luar?”. Saya jawab, “Pinang, ibul, kelapa …” Belum sempat saya selesai menyebutkan satu persatu macam jenis pohon yang beruyung, Pak Imam sudah melanjutkan pula, “… Bambu, batang ubi kayu, pisang, ya kan?”. Beliau menyindir saya dengan ucapan, “Kalau orang ini (maksudnya saya), pasti dia tahu. Mengapa dalam adat ada sebutan Pagaruyung?”. Ucapan Pak Imam soal jenis pohon yang memiliki ruyung tersebut menjadi kata kunci untuk menjelaskan penamaan Pagaruyung. ***

Pagaruyung bukanlah sekadar diksi tanpa arti dan makna. Bukanlah pula sekadar sebutan yang biasa kita temukan dalam mitos, ataupun hanya sekadar nama sebuah identitas pusat kekuasaan Raja Minangkabau. Pagaruyung memiliki makna khusus dalam adat. Setiap pohon yang berteras di luar memiliki kekuatan yang khas.

Jika soko dilambangkan dengan pohon kayu binuang (pohon kayu besar), maka pisoko dilambangkan dengan teras ruyung. Struktur soko berbasis “bilangan satu” yang muncul dalam ungkapan adat:

“ ……… berpucuk bulat, berurat tunggang, tumbuhnya dari bumi, tumbuh tak ditanam, besarnya tak dilambuk, orang yang diadatkan, dikurung-kandangkan oleh ninik mamak ……”.

Ungkapan bagian terakhir inilah yang dapat menjelaskan makna Pagaruyung, yakni dikurung-kandangkan oleh ninik-mamak.

Pagaruyung adalah istilah menyebutkan pisoko yang mengurung-kandangkan soko. Raja Melayu Kuno itulah yang soko, sedangkan pisoko adalah pegawai, pemelihara, pekerja, dan pembela. Menurut struktur konsep falsafah adat Pagaruyung, soko itu sangat lemah, sedangkan pisoko sangat kuat. Pisoko bertugas melindungi soko dengan kekuatannya. Soko adalah inti utama atau bagian tengah batang yang lembut dan mudah rusak, maka pisoko mengelilinginya agar tetap terlindungi.

Ketika si Besi, si Kelopak, dan si Bunga beradu argumen dengan ayahnya Sutan Mulia tentang mana yang lebih keras soko dibanding pisoko?”. Sang ayah menjawab “lebih keras soko”, tapi sang anak menyatakan “lebih keras pisoko”. Sang anak benar, sebab dia memakai konsep adat kayu beruyung atau adat pagaruyung. Maka, istilah “adat Pagaruyung” bukan berarti harus merujuk pada identitas suatu lokalitas.

Kembali pada keterangan Pak Imam yang menyebutkan bahwa pohon pisang mempunyai ruyung. Benarkah? Dan apakah pohon pisang itu kuat? Seperti apa kuatnya ruyung pohon pisang? Mari kita lihat.

Pohon pisang mempunyai kelopak-kelopak (pelepah, red) batang yang strukturnya sangat unik. Kelupak batang pisang tumbuh dari permukaan umbi yang disebut limbago (lembaga) atau azas. Visualitas kelupak itu berlingkar sehingga membentuk struktur batang. Umbut (empulur tengah batang) di tengah-tengah batang itulah empulur soko, dan kelupak-kelupak itulah pisoko. Fungsi kelopak pisang tersebut untuk melindungi umbut.

Jika pisang berbuah, maka akan muncul jantung, kemudian kelupak jantung pisang akan jatuh satu persatu hingga muncul tandan dan sisir buah pisang. Lahirlah ungkapan, “yang bersikat-sikat bagai pisang”, artinya; muncul pihak-pihak dan keluarga-keluarga yang banyak dalam satu pohon tersebut. Jika pisang sudah berbuah, maka sampai pula ajalnya. Untuk melanjutkan kehidupan pisang itu, maka diambil pula anaknya yang tumbuh di bawah pokok pisang tersebut. Anak pisang itu tumbuh dari lembaga yang dulu juga. Oleh sebab itu ada ungkapan menyebutkan “hanya sekali pisang berbuah”. Artinya anak pisanglah yang akan ditanam, diganjak, dipindahkan untuk dipetik pula buahnya.

Anak pisang itulah yang disebut kemenakan, sebab dia tumbuh di lembaga induknya. Buah pisang tidak bisa ditanam, hanya bisa dimakan saja. Artinya buah pisang hanya untuk diambil manfaatnya. Buah pisang adalah simbol anak dalam adat soko, dan buah pisang tidak bisa ditanam, artinya tidak bisa meneruskan kekuasaan menurut adat soko.

Muncul pepatah adat; “jika diganjak mati, dibubut layu” (jika dipindahkan maka mati, jika dicabut empulurnya maka layu). Artinya, jika pisang sudah berbuah, maka habislah kekuasaannya. Pohon pisang yang sudah berbuah, tak akan pernah lagi berbuah untuk selamanya, dan kondisi ini disebut juga “telah mati”. Jika empulur pisang itu dibubut (dicabut), maka batang pisang akan layu. Artinya, jika diberhentikan dengan paksa, maka jabatannya tidak lagi berguna, diibaratkan mati layu.

Ada satu mitos tentang betapa kuatnya ruyung pelepah pisang.

Pada suatu ketika, Datuk Singo Manden datang ke istana Datuk Malangik Hitam Lidah. Kunjungan itu untuk menyelesaikan soal siapakah yang lebih dulu mengklaim ulayat di Hulu Sungai Tampamali dan Tampakayu? Maka, datanglah Datuk Singo ke istana Datuk Malangik di Longuong Hulu Kampar.

Sebab karena sangat besar dan beratnya tubuh Datuk Singo maka lantai rumah Datuk Malangik rubuh. Tubuh Datuk Singo jatuh terduduk ke tanah beserta lantai rumah. Datuk Malangik memperbaiki lantai rumahnya. Namun setelah diduduki kembali oleh Datuk Singo, lantai itu kembali rubuh. Hingga kali yang ketiga, berkatalah Datuk Singo, “Tongkatlah lantai itu dengan telutuk pisang (pelepah pisang)”. Setelah lantai rumah ditongkat dengan pelepah pisang, barulah lantai istana Datuk Malangik bisa diduduki Datuk Singo Manden.

Itulah sebabnya muncul satu kepercayaan dalam masyarakat Melayu, jika ada helat kenduri di dalam rumah, sedangkan lantainya dikhawatirkan runtuh sebab banyaknya orang, maka dipasanglah tongkat penyangga lantai dari telutuk batang pisang. Begitu banyak soal kepercayaan ilmu kebatinan Melayu Kuno yang disandar pada keampuhan ruyung batang pisang.

Jika akan mendirikan gelanggang silat, maka di tengah-tengah gelanggang ditanam serumpun batang pisang. Jika ada orang yang kebal senjata tajam atau tahan terhadap pukulan, dipercaya jika dipukul dengan pelepah pisang akan menderita kesakitan luar biasa. Menanam batang pisang di tiap sudut pekarangan rumah dianggap mampu menyejukkan hati dan perasaan orang dalam rumah tersebut. Pohon pisang juga dipercaya menyejukkan tanah perkebunan, dan jika ditanami pisang maka tanah gersang bisa segera berubah menjadi subur.

Saya rasa cukup sampai di sini keterangan tentang ruyung pisang, sebab jika dibahas terus, maka halaman koran Riau Pos ini jadi penuh hanya untuk perkara pisang sebatang. Rahasia adat yang satu ini selalu diokokkan (disimpan sendiri dan dipakai sendiri) oleh beberapa datuk adat. Para datuk adat menganggap pengetahuan-khusus adalah ibarat senjata yang bisa dipakai untuk mengalahkan argumen-argumen orang yang mengaku-ngaku tahu adat, namun sebenarnya ilmu pengetahuan adat mereka kurang.

Jika ada orang yang benar-benar ingin belajar adat, dan dia punya pula aluran serta kecucuran darah soko adat, biasanya datuk itu akan menyuruhnya datang ke rumah untuk menerima ilmu adat tersebut. Kembali ke pokok persoalan tentang Pagaruyung. Muncul satu pertanyaan penting, ruyung apakah yang dipakai oleh orang Batusangkar untuk menyebut diri mereka beradat Pagaruyung?

Pertanyaan ini pasti ada jawabannya, dan harus ada pula alasannya menurut adat lama pusaka usang yang dipakai oleh orang Minangkabau. Sayangnya, dalam Tambo Alam Minangkabau tidak dijelaskan sama sekali soal ruyung apa yang dijadikan sebagai pagar adat mereka. Hal ini bisa saja terjadi karena okok-pelitnya datuk. Sekali lagi saya ulangi, pengetahuan khusus ilmu kebatinan adat seperti ini biasa dijadikan senjata ampuh untuk mempertahankan martabat dan harga diri datuk di mata anak kemenakan.

Terima kasih untuk sumber,

http://www.riaupos.co/55345-berita-ada-apa-di-balik-nama-pagaruyung.html#.VdLA27XA6Uk

Minangel,

Paparan ini sungguh menarik untuk diikuti, mengingat sedikit sekali sumber atau referensi yang dapat dijadikan pijakan di dalam memahami kata Pagaruyung.

Saya yakin sekali bahwa argumentasi yang dipaparkan di dalam artikel ini, mengenai asalmula kata pagaruyung, dapat dipertanggungjawabkan, alias berbobot, dan bernilai.

Namun satu hal yang tentunya kita harapkan, semoga dengan adanya paparan ini, semakin memperluas daya-rangsang dan daya-tarik semua pihak khususnya Urang Awak untuk dapat menggali lebih dalam lagi mengenai asalmula kata pagaruyung.

Wallahu a’lam bishawab.

Baca Selanjutnya, Sejarah Asal Mula Nama Pagaruyung Bagian 02 dari02