Mengungkap Rencana Keistimewaan Sumatera Barat

sumbaristimewa

TERKUAKNYA rencana Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) akan menjadikan Sumbar daerah istimewa, saat pertemuan para ninik mamak yang mempertanyakan tanah ulayat di kantor Bupati Dharmasraya beberapa waktu lalu. Dimana dalam dialog ninik mamak Gunung Medan dengan Bupati Dharmasraya, Sekretaris LKAM Dharmasraya Abdul Rahman Bagindo Latif meminta doa restu kepada Bupati Dharmasraya dalam waktu dekat LKAM se Provinsi Sumatera Barat akan bertemu Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi untuk membicarakan terkait Sumatera Barat layak menjadi daerah istimewa sama seperti daerah istimewa yang ada di Indonesia. “Kita akan berjuang bersama LKAM yang ada di Provinsi Sumatera Barat untuk menjadikan Sumatera Barat daerah istimewa, sebab Sumbar memiliki sejarah kerajaan yang patut dijadikan daerah istimewa”, jelasnya pada dialog bersama Bupati Dharmasraya.

Lantas yang menjadi pertanyaan mungkinkah Sumatera Barat bisa menjadi daerah istimewa? Sebatas mana pembicaraan mengenai rencana daerah istimewa Sumatera Barat ini atau hanya sebatas pembicaraan dan angan-angan saja, sebab hingga saat ini perjuangan dalam menjadikan Sumatera Barat sebagai daerah istimewa belum nampak. Beberapa opini muncul dalam rencana keinginan Sumatera Barat akan menjadikan daerah istimewa Minangkabau, seperti opini yang dituliskan Indra Dewata Kepala Bappeda Kota Padang dan sekaligus dosen UNP pada harian pagi Padang Ekspres halaman 4 kolom 2 opini dengan judul “DAERAH ISTIMEWA MINANGKABAU”. Namun opini ini belum memberikan solusi untuk Sumatera Barat bisa menjadikan daerah istimewa. Lantas seperti apa sebenarnya solusi agar Sumatera Barat, benar-benar bisa menjadikan daerah istimewa?

Melihat Sejarah Sumatera Barat

Kalau kita berbicara terkait masalah sejarah berdirinya Sumatera Barat sesuai dengan data yang ada di Kementiran Dalam Negeri Republik Indonesia, mungkin Sumatera Barat bisa menjadi solusi dalam pembuatan daerah istimewa sebab keistimewaan Sumatera Barat ini nampak dari nilai budaya dari Sumatera Barat itu sendiri. Sehingga Sumatera Barat bisa dijadikan daerah khusus yang memiliki bermacam budaya. Dalam data Kemendagri dimana dari jaman prasejarah sampai kedatangan orang Barat, sejarah Suma­tera Barat dapat dikatakan identik dengan sejarah Minangkabau. Walau­pun masyarakat Mentawai diduga te­lah ada pada masa itu, tetapi bukti-bukti tentang keberadaan mereka masih sa­ngat sedikit.

Pada periode kolonialisme Belanda, nama Suma­tera Barat muncul sebagai suatu u­nit administrasi, sosial-budaya, dan po­litik. Nama ini a­dalah terjemahan dari bahasa Belanda de Westkust van Sumatra atau Sumatra’s Westkust, yaitu suatu daerah bagian pe­sisir barat pulau Sumatera.

Memasuki abad ke-20 persoalan yang dihadapi Sumatera Barat menja­di semakin kompleks. Sumatera Barat tidak lagi identik dengan daerah budaya Minangkabau dan telah berubah menjadi sebuah mini Indonesia. Di daerah ini bermukim sejumlah besar suku bangsa Minangkabau penganut sistem matrilineal, suku bangsa Ta­panuli dengan sistem patrilinealnya dan suku bangsa Jawa dengan sistem parentalnya. Di samping itu   juga  ada masyarakat Mentawai, Nias, Cina, A­rab, India serta berbagai kelompok masyarakat lainnya dengan berbagai latar belakang budaya yang beraneka ragam.

Di Sumatera Barat banyak ditemukan peninggalan jaman prasejarah di Kabupaten 50 Koto, di daerah Solok Selatan dan daerah Taram. Sisa-sisa peninggalan tradisi barn besar ini berwujud dalam berbagai bentuk; bentuk barn dakon, barn besar berukir, barn besar berlubang, barn rundell, kubur barn, dan barn altar, namun ben­tuk yang paling dominan adalah bentuk menhir. Peninggalan jaman prasejarah lainnya yang juga ditemukan adalah gua-gua alam yang dijadikan sebagai tempat hunian.

Bukti-bukti arkeologis yang ditemukan di atas bisa memberi indikasi bahwa daerah-daerah sekitar Kabupaten 50 Koto merupakan daerah atau kawasan Minangkabau yang pertama dihuni oleh nenek moyang orang Sumatera Barat. Penafsiran ini rasanya beralasan, karena dari daerah 50 Koto ini mengalir beberapa sungai besar yang akhirnya bermuara di pantai timur pulau Sumatera. Sungai-sungai ini dapat dilayari dan memang menjadi sarana transportasi yang penting dari jaman dahulu hingga akhir abad yang lalu. Nenek moyang orang Minangkabau diduga datang melalui rute ini. Mereka berlayar dari daratan Asia (IndoCina) mengarungi laut Cina Selatan, menyeberangi Selat Malaka dan kemudian memudiki sungai Kampar, Siak, dan Indragiri (atau; Kuantan). Sebagian di antaranya tinggal dan mengembangkan kebudayaan serta peradaban mereka di sekitar Kabupaten 50 Koto sekarang.

Percampuran dengan para pendatang pada masa-masa berikutnya menyebabkan tingkat kebudayaan mereka jadi berubah dan jumlah mereka jadi bertambah. Lokasi pemukiman mereka menjadi semakin sempit dan akhirnya mereka menyebar ke berbagai bagian Sumatera Barat yang lainnya. Sebagian pergi ke daerah kabupaten Agam dan sebagian lagi sampai ke Kabupaten Tanah Datar sekarang. Dari sini penyebaran dilanjutkan lagi, ada yang sampai ke utara daerah Agam, terutama ke daerah Lubuk Sikaping, Rao, dan Ophir. Banyak di antara mereka menyebar ke bagian barat terutama ke daerah pesisir dan tidak sedikit pula yang menyebar ke daerah selatan, ke daerah Solok, Selayo, sekitar Muara, dan sekitar daerah Sijunjung.

Sejarah daerah Propinsi Sumatera Barat menjadi lebih terbuka sejak masa pemerintahan Raja Adityawarman. Raja ini cukup banyak meninggalkan prasasti mengenai dirinya, walaupun dia tidak pernah mengatakan dirinya sebagai Raja Minangkabau. Adityawarman memang pernah memerintah di Pagaruyung, suatu negeri yang dipercayai warga Minangkabau sebagai pusat kerajaannya. Adityawarman adalah tokoh penting dalam sejarah Minangkabau. Di samping memperkenalkan sistem pemerintahan dalam bentuk kerajaan, dia juga membawa sumbangan yang besar bagi alam Minangkabau. Kontribusinya yang cukup penting itu adalah penyebaran agama Budha. Agama ini pernah punya pengaruh yang cukup kuat di Minangkabau. Terbukti dari nama beberapa nagari di Sumatera Barat dewasa ini yang berbau Budaya atau Jawa seperti Saruaso, Pariangan, Padang Barhalo, Candi, Biaro, Sumpur, dan Selo.

Sejarah Sumatera Barat sepeninggal Adityawarman hingga pertengahan abad ke-17 terlihat semakin kompleks. Pada masa ini hubungan Sumatera Barat dengan dunia luar, terutama Aceh semakin intensif. Sumatera Barat waktu itu berada dalam dominasi politik Aceh yang juga memonopoli kegiatan perekonomian di daerah ini. Seiring dengan semakin intensifnya hubungan tersebut, suatu nilai baru mulai dimasukkan ke Sumatera Barat. Nilai baru itu akhimya menjadi suatu fundamen yang begitu kukuh melandasi kehidupan sosial-budaya masyarakat Sumatera Barat. Nilai baru tersebut adalah Islam. Syekh Burhanuddin dianggap sebagai penyebar pertama Islam di Sumatera Barat. Sebelum mengembangkan agama Islam di Sumatera Barat, ulama ini pernah menuntut ilmu di Aceh.

Pengaruh politik dan ekonomi A­ceh yang demikian dominan membuat warga Sumatera Barat tidak senang kepada Aceh. Rasa ketidak­puasan ini akhirnya diungkapkan de­ngan menerima kedatangan orang Be­landa. Namun kehadiran Belanda ini juga membuka lembaran baru sejarah Sumatera Barat. Kedatangan Belanda ke daerah ini menjadikan Sumatera Ba­rat memasuki era kolonialisme dalam arti yang sesungguhnya.

Orang Barat pertama yang datang ke Sumatera Barat adalah seorang pelan­cong berkebangsaan Prancis yang ber­nama Jean Parmentier yang datang sekitar tahun 1523. Namun bangsa Ba­rat yang pertama datang dengan tu­juan ekonomis dan politis adalah bang­sa Belanda. Armada-armada dagang Belanda telah mulai kelihatan di pan­tai barat Sumatera Barat sejak tahun 1595-1598, di samping bangsa Belan­da, bangsa Eropa lainnya yang datang ke Sumatera Barat pada waktu itu ju­ga terdiri dari bangsa Portugis dan Ing­gris.

Memiliki Banyak Nilai Budaya

Kebudayaan yang hidup dalam Propinsi Sumatera Barat disebut kebu­dayaan Minangkabau. Berdasarkan pengamatan dan penelitian, kebuda­yaan ini cukup kaya, bersumber dari ni­lai-nilai luhur yang ditinggalkan atau diwariskan para nenek moyang. Kebu­dayaan ini pernah mengalami puncak keemasannya pada jaman kejayaan Kerajaan Pagaruyung, khususnya se­masa kepemimpinan Raja Adityawar­man. Dewasa ini masyarakat Minang­kabau yang terkenal teguh dalam me­megang adat berusaha untuk memeli­hara khasanah budaya peninggalan para lelu­hur.

Propinsi Sumatera Barat memiliki satu lembaga adat yang amat berwibawa, yang terkenal dengan nama Lembaga Kera­patan Adat Alam Minangkabau atau LKAAM. Lembaga ini memiliki wewe­nang besar dalam menentukan masa­lah-masalah adat dan kebudayaan dalam masyarakat Minangkabau. Karena itu sungguh tidak menghe­rankan kalau seseorang yang diper­cayakan untuk memimpin lembaga ini dianggap memiliki satu kelebihan ter­sendiri sebagai seorang tokoh yang di­terima kaum adat.

Pada umumnya hal-hal yang ber­kenaan dengan kebudayaan itu dapat dikategorikan dalam empat bidang. Pertama adalah bidang kesejarahan serta permuseuman, kedua adat-istia­dat, bahasa dan sastra, ketiga keseni­an, dan keempat perbukuan atau per­pustakaan. Bangunan bersejarah di Sumatera Barat antara lain meliputi: Istana Paga­ruyung, museum Taman Bundo Kan­duang di Bu­kittinggi, museum perjuangan rakyat, rumah gadang di Koto Nan Ampek, rumah gadang di Padang Lawas, balairung sari di Tabek serta mesjid di Ampang Gadang dan situs kepurbakalaan di Tanah Datar.

Terbuka Menjadi Istimewa

Untuk menjadikan sebuah daerah menjadi istimewa itu tidaklah gampang, namun putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara uji materi Undang-Undang Otonomi Khusus Papua terkait dengan mekanisme pemilihan gubernur membuka kemungkinan bisa ditetapkannya gubernur-wakil gubernur di daerah yang diakui sebagai daerah istimewa, seperti Yogyakarta. Kesimpulan ini terlihat di dalam pertimbangan hukum MK halaman 38 putusan bernomor 81/PUU-VIII/2010.

Dalam putusan MK tersebut, bisa menjadikan sebuah daerah yang menginginkan daerahnya menjadi istimewa, seperti dalam pasal 18 B Ayat (1) UUD 1945 menyatakan, ”Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat Khusus atau bersifat Istimewa yang diatur dengan Undang-Undang”. Dalam pasal tersebut menurut Mahkamah Konstitusi (MK), pengakuan adanya keragaman itu mencakup sistem pemerintahan serta hak dan kewenangan yang melekat di dalamnya, adat istiadat, serta budaya daerah yang dijamin dan dihormati melalui penetapan UU.

Menurut MK, pengakuan itu termasuk pengakuan atas hak asal usul yang melekat pada daerah yang bersangkutan berdasarkan kenyataan sejarah dan latar belakang daerah tersebut. ”Artinya, menurut Mahkamah, jika dapat dibuktikan dari asal usul dan kenyataan sejarah, daerah tersebut memiliki sistem pemerintahan sendiri yang tetap hidup dan ajek, tetap diakui dan dihormati yang dikukuhkan dan ditetapkan dengan undang-undang (UU),” demikian terungkap dalam putusan MK tersebut. Dari keputusan MKtersebut, sesuai dengan sejarah Sumatera Barat yang telah diungkap penulis diatas dan adanya keberagaman budaya daerah bisa membuka Sumatera Barat menjadi daerah istimewa, tinggal meyakinkan perjuangan dari tokoh-tokoh Sumatera Barat yang memiliki kompetensi untuk memperjuangkan Sumatera Barat layak atau tidak untuk menjadi daerah istimewa. Kita tunggu saja perjuanganrencana dari LKAAM se Sumatera Barat, untuk bertatap muka dengan Mendagri Gamawan Fauzi terkait membicarakan keistimewaan Sumatera Barat.

Di satu sisi, kalau kita kembali mentalaah pernyataan Ketua LKAAM Sayuti di Harian Pagi Dharmasraya Ekspres 28 April 2011 lalu terkait permasalahan perjuangkan nagari bersifat istimewa dimanaKetua LKAAM menanggapi pendapat yang dikemukakan Hermanto, yang menyatakan Revisi UU No 32/2004, berpotensi rugikan sumbar. Apa yang dikatakan anggota Komisi II DPR-RI itu ada benarnya bila pembangunan nagari selalu diukur dengan uang. Jika pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp1 miliar untuk satu desa atau nama lainnya nagari, maka Sumbar akan dapat bantuan lebih kurang Rp600 miliar.

Tetapi jika jorong ditetapkan sebagai desa, maka Sumbar mendapat alokasi bantuan kurang lebih Rp3,6 triliun. Ini dihitung dari nagari yang jumlahnya 628 nagari sementara jorong / korong / kampuang berjumlah 3.625. Namun permasalahan ini tidak akan selesai selagi pemerintah dan masyarakat Sumbar tidak memperjuangkan nagari bersifat istimewa. Dalam penjelasan Pasal 18 dinyatakan pada angka dua Romawi ”Dalam teritori negara Indonesia terdapat lebih kurang 250 Zelfbesturende landschappen dan Volksgemeenchappen, seperti desa di Jawa dan Bali, nageri di Minangkabau, dusun dan marga di Palembang dan sebagainya.

Daerah-daerah itu mempunyai susunan asli, dan oleh karenanya dapat dianggap sebagai daerah yang bersifat istimewa. UUD 45 ini harus menjadi landasan hukum dasar bagi pengurus negara. Tidak boleh undang-undang atau peraturan yang lebih rendah bertentangan dengan peraturan dan perundang-undangan yang lebih tinggi. Dalam prinsip stratum hukum di dunia disebutkan Lex Superior Derogat Legi Inferiori (undang-undang yang lebih tinggi mengalahkan undang-undang yang lebih rendah).

Jadi, kalau ada orang bertanya apa dasar pembentukan pemerintahan nagari di kabupaten dan kota, maka orang itu sudah bisa ditebak belum memahami prinsip strata hukum dan UUD 1945. Dasar pembentukan pemerintahan nagari itu adalah UUD 1945. Sedangkan dasar hukum tidak tertulis adalah hukum adat itu sendiri. Hukum adat yang tidak tertulis itu termasuk hukum positif di Indonesia. Dengan kata lain belum ada negara kesatuan RI ini negeri di Minangkabau sudah mempunyai sistem yang efektif dan mandiri. Kembali ke sistem pemerintahan nagari itu adalah totalitas dan jangan mendua hati.  Stibbe (1850) menyebutkan bahwa, ”nagari merupakan masyarakat di sesuatu daerah yang berdiri sendiri dengan alat-alat perwakilan, hak milik, kekayaan, dan tanah-tanah sendiri. Berlainan dengan desa dan lurah di Jawa, telah berdiri sendiri sebelum kedatangan kita (orang-orang Belanda) di Sumatera”.

Lurah dan Desa  milik Jawa. Nagari milik Minangkabau. Asal mula nagari ini dengan jelas dan historis dapat kita selidiki secara seksama. Menurut ahli adat dari Belanda yang bernama Rooy (1890) dalam buku De positie van de volkshoofden in een Gedeelte der Padangsche Bovenlanden, orang-orang yang pertama mendirikan beberapa nagari, dapat diusut sampai ke Nagari Pariangan dan Nagari Padangpanjang di kaki sebelah selatan Gunung Merapi; di sana mereka berhenti sebelum sampai ke tujuan terakhir yang dengan jelas sekali dapat kita lihat.

Prof Mr Muhammad Yamin pernah berpidato di Parlemen pada 1957 dalam rapat dengar pendapat dengan Pemerintah Kabinet Sastroamijoyo ke-II yang berjudul ”Dewan Banteng Contra Neo Ningrat”, yang mengatakan bahwa kepemimpinan nagari akan kontra dengan kepemimpinan neo ningrat di desa dan lurah. Nagari dikatakan bersifat istimewa dengan beberapa alasan.

  • Pertama, sebelum ada negara, nagari sudah tersusun menurut asal asul dan susunan aslinya, tetapi tentram dan makmur.
  • Kedua, anak nagari menganut sistem kekerabatan matriliniel.
  • Ketiga, landasan kemasyarakatannya adalah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
  • Keempat, hukum adatnya dapat menjawab pertanyaan sepanjang masih ada.
  • Kelima, pemimpinnya yang disebut ninik mamak pemangku adat dapat menjawab pertanyaan sepanjang masih ada, artinya masih ada.
  • Keenam, wilayah adatnya yang disebut tanah ulayat dapat menjawab pertanyaan sepanjang masih ada, artinya masih ada;
  • Ketujuh, rakyatnya yang setia dengan Pancasila,UUD 1945, dan NKRI tetap dapat menjawab pertanyaan sepanjang masih ada, artinya masih ada.

Dari tujuh alasan itu tidak ada alasan pemerintah pusat tidak mau memberikan nagari bersifat istimewa. Kalau dilihat dari pernyataan ketua LKAAM Sumatera Barat berdasarkan historis dan sejarah yang ada maka Sumatera Barat Layak untuk dijadikan Daerah Istimewa.(***)

Selengkapnya :

http://www.kompasiana.com/muhammadsamin/menggugat-rencana-keistimewaan-sumatera-barat_551260e6a33311f056ba8468

Advertisements

Minangkabau Adalah Kiblat Nusantara Benarkah?

W

pedas cabe

Minangkabau adalah suatu daerah yang terdapat di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang tepatnya terletak di tengah Sumatera, merupakan salah satu suku bangsa yang dimiliki bangsa Indonesia, dan juga salah satu lingkungan budaya yang mekar bersama lingkungan budaya lainnya.

Namun sungguh pun begitu, rasanya tidak berlebihan jika dikatakan, bahwa untuk satu dan beberapa hal, budaya Minangkabau tampaknya telah menjadi kiblat bagi Nusantara. Hal apa sajakah itu? Berikut ulasannya secara singkat.

Pertama. Kuliner.

Aspek yang satu ini sudah jelas, dan sudah mendapat kesepakatan dari berbagai pihak, baik di Nusantara sendiri mau pun di mancanegara. Hidangan yang standar untuk ukuran bangsa Indonesia adalah hidangan Minangkabau, baik untuk menu rendang, telur balado, daun singkong kuah-kuning, dsb, merupakan menu yang berasal dari Minangkabau.

Jelas sekali terlihat, bahwa pada setiap event sosial yang berkelas, maka pastilah hidangan yang disajikan merupakan hidangan Minangkabau, dan terkadang dikombinasikan dengan hidangan dari daerah lain sebagai pelengkap, seperti gado-gado betawi, tempe orek Jawa, dsb. Namun tetaplah yang menjadi ‘pemain utama’ di atas meja hidangan adalah hidangan Minangkabau.

Hidangan nasi-kotak yang biasa dibagi-bagikan kepada publik, umumnya mengusung hidangan Minangkabau ini, seperti rendang, ayam goreng balado, sambal-ijo, dsb. Jadi kalau terdapat nasi-kotak yang tidak mengusung hidangan Minangkabau, pasti hidangan nasi-kotak tersebut dipandang sebelah mata. Tidak nendang rasanya, itu kata mereka, kalau nasi-kotak yang mereka peroleh tidak mengusung hidangan Minangkabau.

Hal ini membuktikan, bahwa kuliner Minangkabau secara alamiah sudah ditabalkan sebagai kiblat kuliner nusantara.

Kedua. Hidangan bebek.

Sekarang ini, sekitaran tahun 2016an, tampaknya hidangan daging bebek telah menggejala / menjadi trend di mana-mana. Di setiap restoran yang berkelas, sampai pejaja makanan di pinggir jalan, turut menyajikan hidangan daging bebek ini, dan terkhusus lagi daging bebek tersebut disajikan dengan baluran sambal ijo yang menggugah selera siapa saja.

Mari kita perhatikan. Apakah trend hidangan bebek ini sudah menggejala sejak lama? Rasanya tidak. Saya sebagai manusia yang terlahir pada tahun 1971, melihat bahwa pada tahun 70-an, 80-an, 90-an sampai menjelang 2000an, hidangan nasi bebek ini tidak / belum menggejala di tengah masyarakat Indonesia khususnya Jakarta yang beragam suku ini. Masyarakat luas kala itu hanya mengenal daging ayam yang dari kalangan unggas, lain tidak.

Saya punya kisah. Saya ingat sekali, tahun 1990-an awal, uni ipar saya, yang berasal dari Kampung Ngarai Sianok, diminta ayah saya (mertua dari uni ipar) untuk menyajikan hidangan bebek sambal ijo (bahasa Minangkabau-nya: itiak lado ijau), karena hidangan khas kampung Ngarai Sianok adalah bebek sambel ijo tersebut.

Atas permintaan ayah saya tersebut, maka sejurus kemudian uni ipar saya langsung ke dapur dan menyiapkan hidangan itiak lado ijau tersebut untuk hidangan Lebaran yang lezat. Maksud ayah saya adalah, selain ingin mencicipi lezatnya hidangan itiak lado ijau, pun juga supaya nanti para tamu melihat bahwa orang-tua kami mempunyai menantu yang berasal dari Ngarai Sianok.

Yang ingin saya katakan adalah, bahwa pada tahun 1990-an tersebut, hidangan bebek sambel ijo sama sekali tidak menjadi trend di tengah masyarakat kala itu seperti sekarang ini. Oleh karena itu, orang-orang kala itu masih merasa asing dengan hidangan yang satu ini.

Namun sekarang lain lagi kenyataannya, di mana hidangan bebek lado ijau telah menjadi hidangan publik yang paling dicari di mana-mana. Berasal dari manakah trend tersebut, kalau bukan dari ranah Minangkabau?

Tampaknya, ‘bocornya’ tradisi itiak lado ijau milik Kampung Ngarai Sianok ini ke seluruh Indonesia –khususnya Jakarta, mungkin lewat dua jalur. Pertama, dari tayangan kuliner di tivi-tivi Nasional yang, sering meliput hidangan khas dari Minangkabau daerah Ngarai Sianok ini. Kedua, tentunya, juga di berbagai restoran nasipadang yang turut menyajikan itiak lado ijau ini.

Dari kedua jalur itu, publik luas mulai melihat bahwa daging bebek juga nikmat dan pantas untuk dijadikan salah satu menu di meja makan, dan cara penyajiannya tentu saja jadi mengikuti tradisi khas Minangkabau, yaitu disajikan dengan baluran sambal lado ijo.

Kesimpulannya, publik luas secara alamiah telah berkiblat kepada Minangkabau di dalam hal hidangan itiak lado ijau ini. Dengan lain kata, kalau di mana-mana dijumpai hidangan bebek sambel ijo, maka dapat dipastikan bahwa hidangan tersebut berasal dari kearifan suku Minangkabau.

Ketiga. Citarasa pedas dan superpedas.

Siapa orang Indonesia yang tidak suka pedas? Makan mie bakso, makan mie pangsit, makan gado-gado, makan ketoprak, makan pempek, makan mie-rebus, soto mie, dsb, pasti mereka menginginkan hidangan mereka dibubuhi rasa pedas yang menggigit. Mereka makan di warteg pun juga minta untuk diberikan pedas melalui aneka sambel, dan mereka sama sekali tidak protes, kalau hidangan warteg yang mereka santap berasa pedas luar biasa. Itu menandakan bahwa orang Indonesia dengan citarasa pedas sudah menyatu …..

Ada satu hal yang harus diketahui mengenai kecintaan publik Indonesia kepada citarasa pedas ini. Saya adalah manusia yang terlahir tahun 1971, berasal dari suku Minangkabau, asli. Pada tahun 80an, juga 90an, jelas sekali bahwa publik luas (yang berarti siapa saja di luar suku Minangkabau) sangat membenci (atau tepatnya, menjauhi) citarasa pedas ini. Publik luas, yang khususnya berasal dari suku Jawa, betawi dan sunda, begitu menunjukkan ketidaksukaan mereka kepada citarasa yang pedas-pedas. Kerap mereka berkata kepada saya yang kala itu masih bocah, ‘wah kalau orang Padang sukanya yang pedes yaaa?”. Kalimat mereka itu jelas menunjukkan bahwa terdapat dikotomi adalah ‘kita’ dengan ‘mereka’. ‘Kita’ adalah publik yang tidak suka pedas, biasanya orang Jawa, sunda atau betawi, yang makannya selalu berasa manis (baik berasal dari gula pasir mau pun kecap yang dimasukkan ke dalam masakan), dan ‘mereka’, yang merupakan orang Padang yang masakannya terkenal pedas dan suka pedas. Dan kita bukanlah mereka, mereka bukanlah kita. Itu kesan kuat yang saya peroleh kala itu, yang dibedakan dari kesukaannya pada citarasa pedas ini.

Jadi kesimpulannya adalah, sebenarnya publik luas kala itu merasa bahwa citarasa pedas adalah khas milik orang Minangkabau saja, dan seolah citarasa pedas yang khas Minangkabau itu, merupakan adat orang Minangkabau, jadi orang di luar Minangkabau tidak boleh dan tidak usah ikut-ikutan makan pedas. Kalau di dalam agama, sepertinya begini: lakum dinukum waliyadin: pedas adalah milik Minangkabau saja, dan manis milik Jawa sunda betawi saja, jangan ditukar-tukar.

Tapi itu dulu. Sekarang ceritanya sudah lain, tentunya.

Sekarang di mana-mana publik terlihat keranjingan citarasa pedas, seperti yang sudah diungkapkan di atas: pangsit harus pedas, bubur ayam harus pedas, dsb. Makan gorengan pun juga harus pedas, alias si pedagang harus menyediakan cabe rawit.

Saya masih teringat apa yang terjadi ketika sudah terjadi ‘transisi pedas’ publik luas ini, dari yang antipati terhadap selera pedas menuju publik yang keranjingan selera pedas ini. Salah satu dari mereka, yang jelas dari suku Jawa, berkata kepada saya yang asli Minangkabau ini, begini katanya: emang sih orang bilang masakan Padang itu pedes, tapi kamu belum tauk, bahwa masakan kami di Jawa jauh lebih pedes. Masakan Padang pedes-nya belum seberapa kalau dibandingkan dengan pedesnya masakan kami di Jawa.

Saya tercenung dan terdiam seribu-basa demi mendengar kawan Jawa itu berkata kepada saya mengenai yang pedas-pedas. Kata-katanya tidaklah pedas, tentu saja. Namun yang jadi prihatin, lha bukankah pada tahun 80an, 90an dan agak kesini, semua orang di luar Minangkabau antipati terhadap selera pedas? Tidak jarang, kala itu, mereka berkata menghujat, bahwa citarasa pedas itu tidak sehat, bisa merusak kesehatan, mendatangkan sakit perut, buang-buang air besar, dsb. Itu adalah fakta sejarah. Tidak bisa dipungkiri.

Bukankah masakan Jawa, sunda dan betawi terkenal akan rasa manisnya, entah itu berasal dari gulapasir mau pun kecap? Namun sekarang mengapa tiba-tiba publik luar Minangkabau berkata yang seperti demikian? Bahkan, mengapa sekarang terkesan bahwa pedasnya hidangan Minangkabau itu ‘belum seberapa’ dibanding pedasnya hidangan Jawa (sunda atau betawi dsb)? Saya dan siapa pun tidak boleh lupa, bahwa pada masa lalu bukankah justru orang Jawa, sunda, betawi dsb itulah yang antipedas, dan hidangan mereka selalu terasa manis? Mengapa sekarang terbalik?

Sejarah tidak boleh dipelintir, toh? Faktanya, pada masa lalu, hanya orang Minangkabau yang menikmati kuliner superpedas. Dan fakta berikutnya: orang di luar Minangkabau, seperti Jawa, sunda, betawi dsb, antipati terhadap citarasa pedas. Fakta ketiga: orang Jawa, sunda, betawi dsb, setia kepada kuliner mereka yang serba manis, semuanya harus manis.

Terlepas dari adu-klaim pedas ini, ada satu hal yang patut untuk diketengahkan. Secara alamiah, proses ini sebenarnya menunjukkan bahwa Minangkabau adalah kiblatnya nusantara, khususnya di dalam hal citarasa superpedas. Sekarang publik luas berlomba-lomba menikmati yang pedas-pedas, seolah mereka adalah orang Minangkabau sendiri. Walau pun juga harus dikatakan, bahwa bolehlah mereka berkiblat kepada citarasa pedas khas Minangkabau, namun mengapa caranya seperti itu, dengan adu-klaim bahwa justru pedasnya Minangkabau jauh kalah dibanding pedasnya masakan mereka? Sportif-lah sedikit. Hahahaha ….

Keempat. Sambel ijo.

Apa yang terbayang saat mendengar kata sambel ijo? Ya, restoran nasipadang.

Sambel ijo, atau di dalam lidah Minangkabau adalah lado hijau, adalah sambel khas Minangkabau, yang di dalam kasus tertentu, merupakan bumbu untuk hidangan daging bebek khas Kampung Ngarai Sianok.

Orang Minangkabau di dalam hal pedas memang keterlaluan. Bukan cabe merah saja yang mereka jadikan sambel, namun cabe hijau pun juga mereka jadikan bahan sambel, maka jadilah sambel hijau, yang pedasnya luar biasa sehingga membuat batok kepala penikmatnya keringatan tidak karukaruan.

Menarik sekali, bahwa ternyata sambel ijo ini pun juga sudah di-adopsi oleh kuliner di luar lingkungan Minangkabau. Jadi dengan kata lain, hidangan di luar Minangkabau juga menyediakan dan menikmati sambel ijo ini. Tidak jarang terdapat restoran bebek, yang jelas bukan restoran nasipadang, menyajikan bebek dengan sambel ijo ini, jadi seolah bebek dengan sambel ijo sebenarnya bukanlah khas Minangkabau, karena daerah lain juga punya. Wah luar biasa!

Ini menunjukkan, untuk urusan sambel ijo pun, Minangkabau adalah kiblatnya. Logikanya saja, apakah benar sudah sejak dahulu orang Jawa atau sunda atau betawi sudah menyukai sambel ijo? Mana mungkin? Bukankah justru pada masa bahela, mereka-mereka ini adalah masyarakat yang anti-pedas? Jangankan sambel ijo, sambel ‘normal’ saja mereka ketakutan, kala itu? Namun sekarang mengapa berbeda? Sekarang semua orang tanpa pandang suku mau pun daerah berlomba-lomba menikmati dan membuat sambel ijo ini. Ya, ini berarti Minangkabau adalah kiblat nusantara di dalam hal sambel ijo.

Kelima. Hajatan pernikahan.

Setiap hajatan / resepsi pernikahan, pastilah resepsi tersebut dikemas di dalam tradisi dan adat sang hajatan, misalnya orang Jawa maka resepsinya menurut adat lembaga Jawa, dsb. Jadi, ada hubungan yang kuat antara hajatan pernikahan dengan penggelaran adat dan tradisi leluhur.

Saya masih ingat, bahwa di tahun 80an (apalagi hitung mundurnya), publik Indonesia sama sekali tidak pernah menghubungkan antara hajatan nikah dengan adat dan tradisi leluhur. Kala itu, setiap ada resepsi nikah, selalu digelar di dalam acara kumpul-kumpul biasa, di mana pengantin didudukkan berduaan, didandani seadanya. Praktis tidak ada kesan kedaerahan sama sekali, apakah daerah Jawa, atau betawi, sunda, dsb. Pun juga tidak ada musik-musik kedaerahan. Jadi dengan kata lain, mereka kala itu tidak pernah menghubungkan antara resepsi nikah dengan gelar adat leluhur.

Namun berbeda dengan suku Minangkabau. Keluarga saya, di tahun 1979 menggelar resepsi nikah abang sulung kami, di rumah, dengan menggelar adat dan tradisi Minangkabau tentunya. Satu set pelaminan khas Minangkabau dipasang di ruang tamu, suatu set pelaminan yang megah nan anggun, dominasi merah beludru nan menyala-nyala, diapit banta-gadang di kiri-kanan kursi peraduan pengantin, begitu permai-nya. Tidak lama pengantin pun datang, di mana pengantin perempuan mengenakan suntiang-gadang yang megah, dan pengantin laki-laki bertongkat begitu gagahnya.

Itu adalah sekedar contoh, bahwa masyarakat Minangkabau sejak dulu sudah menggabungkan antara resepsi nikah dengan penggelaran adat dan tradisi leluhur, sementara di luar Minangkabau, hal tersebut tidak ada. Para undangan kami, yang non-Minangkabau, terheran-heran melihat bagaimana kami menggelar resepsi nikah tersebut yang digabungkan dengan penggelaran adat ini.

Saya masih menyimpan foto-foto pernikahan kenalan saya pada tahun-tahun masa lalu yang berasal non-Minangkabau. Tampak sekali bahwa resepsi nikah mereka sama sekali tidak diwujudkan di dalam adat dan tradisi leluhur. Jadinya pelaminan mereka hanya sebatas dinding yang diselubung kelambu –entah apa itu namanya, kemudian diterakan tulisan “Mohon doa restu”. Itu saja. Sementara pengantinnya cukup hanya mengenaian baju kemeja untuk pria, dan perempuan mengenakan kebaya sehari-hari dengan rambut yang disanggul dan sedikit makeup. Tidak lebih.

Namun itu dulu, dan sekarang sudah lain.

Sekarang, setiap resepsi nikah, yang berbasis daerah mana saja, pasti diwujudkan di dalam bentuk adat dan tradisi leluhur. Orang Jawa akan menggelar resepsi nikah sesuai dengan tradisi Jawa, orang sunda akan menggelarnya dengan tradisi sunda, dst.

Sampai pada level ini, saya mempunyai keberanian untuk menyatakan, bahwa kecenderungan publik luas untuk menggelar resepsi nikah berbalut nuansa kedaerahan, sebenarnya berasal dari dan meniru kebiasaan orang Minangkabau. Jadi dengan kata lain, kebiasaan orang Minangkabau yang menggelar resepsi nikah yang berbalut tradisi kedaerahan, telah membuka mata dan fikiran saudara-saudara dari suku lain, untuk memahami, bahwa tidak salah kalau menggelar resepsi nikah dengan berbalut nuansa daerah.

Penekanannya adalah pada pelaminan, seperti ornamen, dominasi warna, atap-atap, kursi pengantin, dsb. Pada masa dahulu, hanya keluarga suku Minangkabau saja yang men-set pelaminan untuk pernikahan anak-anak mereka menurut nuansa Minangkabau. Sementara di luar suku Minangkabau, pelaminan ditata secara datar-datar saja, jauh dari kesan kedaerahan atau kesukuan mana pun. Dan ternyata, kebiasaan keluarga Minangkabau inilah yang di-adopsi oleh keluarga dari suku lain.

Saya sebagai orang Minangkabau asli, terheran-heran ketika menghadiri resepsi nikah kenalan yang berasal dari luar Sumatera. Pelaminan mereka, seratus-persen mirip pelaminan Minangkabau, lengkap dengan ornamen-ornamen uniknya. Belum lagi dengan dominasi warna yang betul-betul mirip pelaminan Minangkabau.

Pada setting pelaminan Minangkabau, biasanya terdapat ornamen gantungan yang sekilas tampak seperti sehelai dasi, biasanya berbahan beludru, berwarna merah, hijau, hitam, hijau dsb. Dan dasi-dasi tersebut biasanya diberi hiasan tepi seperti jurai-jurai yang senantiasa bergoyang-goyang. Nah ornamen yang berbentuk seperti dasi ini, digantung di dalam jumlah banyak pada atap-atap pelaminan, sehingga pelaminan terkesan begitu ramai dan semarak.

Unik sekali, bahwa pelaminan kawan saya ini mempunyai keseluruhan hal tersebut, padahal jelas kawan saya ini bukan orang Minangkabau, pun pelaminannya juga bukan pelaminan Minangkabau. Begitu juga dengan kelambu sebagai latar belakang pelaminan, juga berciri khas Minangkabau. Kelambu yang dimaksud di sini adalah, seperti sprei, kain lebar dan luas, yang mana kain ini terbuat dari beludru, kemudian di atasnya disulamkan motif2 bunga atau lainnya dengan menggunakan benang emas. Sungguh itu adalah ciri-khas Minangkabau.

Yang membedakan pelaminan tersebut dari pelaminan Minangkabau hanya terletak pada ketiadaan gonjong dan banta-gadang, karena kedua hal tersebut murni berkesan Minangkabau. Di luar itu, semua mengkopi-paste habis khasanah pelaminan Minangkabau.

Maka dari point ini, saya mempunyai keberanian untuk menyatakan, bahwa setting pelaminan menurut nuansa kedaerahan dari sang pengantin, adalah berkiblat kepada suku Minangkabau, karena pada masa awal, keluarga di luar Minangkabau tidak pernah berbuat demikian. Bahkan bisa dikatakan, bahwa saudara-saudara dari daerah lain pun ikut mengkopi-paste nuansa pelaminan Minangkabau secara totalitas, mulai dari motif sulaman benang emas, ornamen gantungan di atap-atap pelaminan, dominasi warna, dsb, adalah murni berkiblat kepada Minangkabau.

Jadi, yang di-kopas dari suku Minangkabau ada dua hal. Pertama, menghubungkan antara resepsi nikah dengan penggelaran adat kedaerahan. Kedua, mengkopas habis-habisan seluruh ornamen pelaminan bergaya Minangkabau kepada pelaminan suku lainnya.

Mudah-mudahan saya tidak salah.

Keenam. Balado vs asampadeh.

Siapa yang tidak kenal istilah balado, dan juga asampadeh? Semua ibu-ibu khususnya di Jakarta pasti sudah mengenal kedua istilah ini, yang sejatinya berasal dari Minangkabau.

Balado adalah teknik memasak, yang pada intinya adalah, membuat masakan yang digoreng (seperti telur yang digoreng, tempe / tahu yang digoreng, ikan yang digoreng, dsb) dibaluri cabe giling, caranya dengan dimasak lagi dengan menggunakan minyak goreng, sehingga antara masakan yang digoreng itu dengan cabe giling, menjadi satu kesatuan dengan sempurna.

Sementara itu, asampadeh adalah paket bumbu yang biasanya digunakan untuk mengolah dan menyajikan hidangan ikan, dan kemudian diberikan rasa asam, mungkin dari asam Jawa mau pun dari asam kandis.

Tidak pelak lagi, kedua istilah (teknik mau pun bumbu) tersebut berasal dari Minangkabau, dan penggunaan balado mau pun asampadeh ini sudah benar-benar meluas di tengah masyarakat Indonesia. Lihat saja, di seluruh warteg sudah tersedia hidangan dengan embel-embel kata balado ini, seperti telur balado, ikan goreng balado, cumi balado, tahu balado, dsb.

Di-adopsinya teknik balado ini oleh orang luar Minangkabau, sebenarnya seiring dengan di-adopsi-nya juga selera citarasa pedas, karena balado sudah pasti berasa pedas. Kalau publik luas di luar Minangkabau sudah keranjingan citarasa pedas yang berasal dari suku Minangkabau, maka mau-tidak-mau teknik balado menjadi kelumrahan juga. Semakin pedas balado-nya, semakin enak, itu kata mereka.

Hal ini benar-benar menunjukkan, bahwa Minangkabau adalah kiblat kuliner Indonesia.

Ketujuh. Kecap pemanis vs citarasa pedas.

Di tahun 70-an, 80-an, dan 90-an, saya / kita masih ingat bahwa publik luas di luar Minangkabau (seperti orang Jawa, sunda, betawi dsb) tidak bisa jauh dari kecap pemanis untuk kuliner mereka, yang mana ini berarti kebutuhan kecap begitu tinggi di tengah masyarakat. Pun setiap rumah dan keluarga kala itu, pasti selalu tersedia kecap manis, karena citarasa manis merupakan satu-satunya kelumrahan. Ini artinya, penjual dan pedagang kecap pasti kayaraya, karena dagangan mereka selalu diburu habis oleh publik luas tersebut.

Namun apakah sekarang keadaannya masih seperti demikian? Saya rasa tidak. Coba perhatikan di warteg. Bukankah kebanyakan hidangan yang mereka sajikan sudah didominasi citarasa pedas? Dan bukankah citarasa pedas sejatinya berasal dari suku Minangkabau?

Sekarang kepopuleran kecap pemanis tampaknya sudah tergeser secara signifikan oleh dominasi citarasa pedas, sehingga bisa dikatakan bahwa ‘peran’ kecap hanya sebatas pelengkap kecil saja. Dengan demikian nasib kecap sudah benar-benar jungkir-balik, tidak seperti puluhan tahun yang lalu: kecap dijungkir-balikkan oleh citarasa pedas-nya Minangkabau ini. Sebagai perbandingan saja, coba perhatikan warung mie-rebus. Di meja makannya, disediakan baik botol kecap dan juga botol saus pedas. Manakah yang paling banyak diambil oleh pelanggan?

Ya, benar sekali. Kebanyakan bahkan seluruh pelanggan justru hanya melirik ke botol saus pedas ini, dan kemudian membubuhi mie-rebus mereka dengan saus pedas ini banyak-banyak. Sementara kecap? Tidak dilirik sama sekali. Kecap benar-benar sudah tidak dilirik lagi.

Apalagi dengan populernya konsep balado dari Minangkabau, semakin menjungkalkan kesaktian kecap. Jadi dengan di-adopsinya citarasa pedas dan balado-nya, maka dominasi kecap sebagai pemanis mulai bergeser secara signifikan.

Hal ini menunjukkan, bahwa tampaknya, publik telah ‘insaf’, bahwa kuliner yang nikmat dan ‘waras’ itu adalah kuliner yang pedas, bahkan superpedas, bukannya yang serba manis. Buktinya, kecap sekarang sudah mulai ditinggalkan. Dan ini berarti, tampaknya publik sudah merasa bahwa kalau pada masa lalu mereka keranjingan kecap, maka itu adalah suatu ‘kesalahan’. Dan satu-satunya hal yang membuat mereka menyadari kesalahan itu adalah, kehadiran perantau Minangkabau yang memperkenalkan citarasa pedas ini.

Intinya, jaman sekarang ini, kalau orang Minangkabau pergi ke mana pun, dia tidak usah khawatir lagi, karena kemana pun ia pergi, makanan dengan citarasa pedas selalu tersedia di warung makan mana pun …..

Minangkabau memang benar-benar kiblat nusantara, khususnya di dalam hal kuliner. Sekarang sudah bisa dikatakan, bahwa tidak ada lagi bedanya antara orang Minangkabau dengan non-Minangkabau, karena hidangan dan kegemaran makan mereka sama, yaitu sama-sama doyan pedas, bukan manis, seperti tempo hari itu.

Wallahu a’lam bishawab.

Hubungan Sakral Antara Minangkabau Dengan Jambi

Minangkabaudanjambi

Pedang Bernama Siasat

Sejarah orang Minangkabau di daerah Merangin tak terlepas dari peran tokoh Cindua Mato. Daerah Merangin dari dulu merupakan perebutan tiga kekuatan besar, ini disebabkan aset kekayaan alam yang melimpah berupa bahan tambang terutama Emas. Dalam sejarahnya daerah Merangin pernah diklaim Sriwijaya sebagai wilayahnya. Daerah ini juga merupakan daerah perantauan orang Minangkabau dan Kerinci, setelah Jambi ditata kembali oleh Putri Pinang Masak maka daerah ini menjadi wilayah kesultanan Jambi. Kini kita lihat bagaimana peran orang Minang dalam mempertahankan wilayahnya.

  1. Minangkabau mengaku saudara dengan Kerinci. Sebagian orang Kerinci berasal dari Serampas-Sungai Tenang, otomatis Merangin Barat adalah sekutu Minangkabau.
  2. Orang Minangkabau memasuki wilayah Tabir Hulu, menempatkan adat Penghulu dan ninik-mamak dengan menegakkan suku Jambak, Sikumbang, Caniago dan Malayu. Otomatis Huluan Tabir Barat menjadi daerah sekutu Minangkabau.
  3. Menurunkan Putri Salero Pinang Masak ke hilir Sungai Batanghari dan memecah wilayah Sriwijaya menjadi kesultanan lain yakni Melayu Jambi yang merupakan anak keturunan Pagaruyung. Wilayah Jambi dijadikan daerah berdaulat sendiri yang berpihak kepada Minangkabau.
  4. Membuat perantauan Kerinci hingga ke hilir Merangin dan Tabir sebagai benteng terhadap serangan Sriwijaya.

Ini adalah strategi klasik yang canggih sehingga dalam perjalanan sejarah Minangkabau memang tak pernah terancam oleh Sriwijaya. Saat Melayu dicoba untuk ditaklukan Majapahit, siasat yang paling jitu adalah mengirim Dara Petak dan Dara Jingga ke Majapahit untuk mencegah perang. Dua wanita ini menurunkan Raden Kalagemet (Raja Majapahit kedua) dan Adji Mantrolot (Adityawarman alias Arya Damar) yang keduanya menjadi penguasa di Jawa dan Melayu. Kemenangan ini sama sekali tanpa perang… atau pedang.

Sumber, http://masuraisakti-masuraisakti.blogspot.com/2010/02/pedang-bernama-siasat.html

-o0o-

copy-logominangel.jpgMinangel – dari uraian artikel di atas, kita dapat mengambil satu hal yang penting untuk kita sadari mengenai keberadaan Jambi dan atau Merangin ini.

Pertama, di wilayah Merangin terdapat TIGA kekuasaan yang saling berebut pengaruh yaitu kekuasaan Kerajaan Pagaruyung, kemudian kekuasaan Kerajaan Melayu Jambi, dan kemudian kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

Mengenai Kerajaan Melayu Jambi, di artikel ini sendiri disebut sebagai “anak keturunan” Pagaruyung. Dari kenyataan ini kita dapat berkata bahwa Kerajaan Melayu, khususnya di dalam hal ini Kerajaan Melayu Jambi merupakan Kerajaan ‘ber-plat’ Minangkabau karena berleluhur ke Pagaruyung.

Kemudian, mengenai Kerajaan Sriwijaya. Menurut apa yang tertulis pada prasasti Kedukan Bukit, Dapunta Hyang yang merupakan Raja Kerajaan Sriwijaya datang dan berasal dari Minangkabau, hal ini ditegaskan pada baris keempat pada prasasti Kedukan Bukit. Dari kenyataan ini pula akhirnya kita dapat berkata bahwa Kerajaan Sriwijaya juga merupakan Kerajaan ‘ber-plat’ Minangkabau.

Kesimpulannya, praktis kala itu di Jambi terdapat TIGA KERAJAAN yang saling bersaing berebut pengaruh di Jambi, namun TIGA KERAJAAN tersebut sama-sama berurat-berakar pada KE-MINANGKABAU-AN, yaitu Kerajaan Pagaruyung sendiri, kemudian Kerajaan Melayu Jambi dan terakhir Kerajaan Sriwijaya.

Hal lain yang juga penting untuk ditelaah adalah, bahwa Kerajaan atau orang-orang Minangkabau mempunyai kesaktiannya sendiri untuk membendung kekuasaan Sriwijaya, sehingga Sriwijaya yang kuat kala itu tidak dapat menguasai darek Minangkabau, dan juga telah berhasil membebaskan Jambi dari aneksasi Sriwijaya.

Selamanyalah, bahwa darek Minangkabau atau yang biasa disebut Kerajaan Pagaruyung tidak pernah takluk kepada Sriwijaya, walau pun Sriwijaya tersebut merupakan Kerajaan ber-plat Minangkabau jua.

Borobudur Adalah Warisan Minangkabau

minangel-borobudur-peninggalan-minangelkabau

logominangelSeluruh orang menyatakan bahwa Borobudur adalah sebuah Candi milik suku Jawa, karena semua teori menyatakan bahwa bodobudur dibangun oleh orang Jawa, pun dibangunnya di pulau Jawa. Tidak ada kemungkinan lain. Sebenarnya pernyataan tersebut kuranglah tepat, karena yang benar dan sesuai dengan fakta sejarah adalah, bahwa Borobudur dibangun oleh suku Minangkabau.

Babak pertama. Sriwijaya.

Adalah bermula dari berdiri dan memerintahnya Kerajaan Sriwijaya di Sumatera, tepatnya di Palembang. Dinasti atau wangsa yang menjadi operator dari Kerajaan ini adalah Dinasti Syailendra.

Salah satu keluarga yang ada di dalam dinasti syailendra ini, hijrah dan mencari peruntungan di tanah Jawa. Setibanya mereka di tanah Jawa, mereka mendirikan Kerajaan Medang, atau lebih populer disebut dengan Kerajaan Mataram Kuno.

Raja pertama dari Kerajaan Mataram kuno bernama Banu, sementara Raja terakhir bernama Balaputradewa. Balaputradewa menjadi Raja terakhir dari Kerajaan Mataram Kuno karena di dalam internal istana terjadi konflik sehingga memaksanya untuk pulang ke kampung ibundanya di Palembang. Ini membuktikan dan menunjukkan bahwa Raja-Raja Kerajaan Mataram Kuno memang berasal dari Palembang, atau Sriwijaya.

Antara Raja pertama yaitu Banu, dan Raja terakhir yaitu Balaputradewa, terdapat seorang Raja yang bernama Sumarattungga. Raja inilah yang memerintahkan pendirian Candi Borobudur, sebagai Candi Buddha terbesar di Dunia.

Maka dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa Candi Borobudur merupakan Candi yang dibangun oleh orang Sumatera, karena pembangunannya sendiri diperintahkan oleh Raja-Raja yang berasal dan berakar di Sumatera, yaitu Kerajaan Sriwijaya.

Analisa.

Amat masuk akal untuk menyatakan bahwa Borobudur dibangun oleh Raja-Raja Sriwijaya, mengingat, Sriwijaya pada masa itu merupakan Pusat pengajaran agama Buddha terbesar di Asia Tenggara. Sementara di lain pihak, pulau dan masyarakat manusia Jawa tentulah masih amat rendah pemahamannya tentang agama Buddha. Apakah mungkin dari suatu masyarakat yang masih sangat rendah pemahamannya tentang agama Buddha, tiba-tiba dapat dan memperoleh ide untuk membangun Candi Buddha terbesar di Dunia? Dengan demikian dapat disimpullkan bahwa Raja-Raja Sriwijaya lah yang membangun Candi Borobudur.

Alasan kedua adalah, bahwa Kerajaan pertama dan Kerajaan yang megah kala itu tidak lain adalah Kerajaan Sriwijaya, sementara Kerajaan Mataram Kuno tidak dapat dibandingkan kemegahannya dengan Kerajaan Sriwijaya. Itu pun Kerajaan Mataram Kuno, atau Kerajaan Jawa, merupakan kepanjangan dari Kerajaan Sriwijaya itu sendiri. Maka apakah mungkin untuk mempercayai bahwa suatu Kerajaan yang tidak terpandang dapat membangun Candi dengan ukuran yang menakjubkan? Sementara di lain pihak, kalau dikatakan bahwa Candi Borobudur dibangun oleh Sriwijaya, maka hal itu adalah masuk akal karena Sriwijaya memang merupakan Kerajaan yang megah dan stabil di dalam hal pembiayaan.

Maka sudah terbukti bahwa Borobudur dibangun oleh orang Sumatera, di dalam hal ini Raja-Raja dari Sriwijaya.

Babak 2. Raja-Raja Sriwijaya adalah berdarah Minangel.

Setelah kita mengetahui dan memahami bahwa Borobudur merupakan Candi Buddha yang dibangun oleh orang Sumatera, kemudian kita beralih untuk menyelidiki siapa sebenarnya Raja-Raja Sriwijaya tersebut. Berasal dari manakah mereka?

Kerajaan Sriwijaya didirikan oleh seorang yang bernama Dapunta Hyang, dan Raja terakhirnya bernama Sang Sapurba. Siapakah mereka?

Dapunta Hyang.

Para sejarawan sepakat bahwa sedikit sekali galian sejarah yang dapat menjelaskan panjang lebar mengenai Dapunta Hyang Sang pendiri Kerajaan Sriwijaya ini. Namun sungguh pun begitu, prasasti kedukan bukit membuka informasi mengenai siapa daputa Hyang ini. Pada baris keempat dari prasasti ini disebutkan bahwa Dapunta Hyang berangkat dari daerah yang bernama Minanga Tamvan.

Slamet Muljana mengaitkan Dapunta Hyang di dalam Prasasti Kedukan Bukit sebagai “Sri Jayanasa”, karena menurut Prasasti Talang Tuwo yang berangka tahun 684 masehi, Maharaja Sriwijaya ketika itu adalah Sri Jayanasa. Karena jarak tahun antara kedua prasati ini hanya setahun, maka kemungkinan besar “Dapunta Hyang” di dalam Prasasti Kedukan Bukit dan “Sri Jayanasa” dalam Prasasti Talang Tuwo adalah orang yang sama.

Asal-usul Raja Jayanasa dan letak sebenarnya dari Minanga Tamwan masih diperdebatkan ahli sejarah. Karena kesamaan bunyinya, ada yang berpendapat Minanga Tamwan adalah sama dengan Minangkabau, yakni wilayah pegunungan di hulu sungai Batanghari. Sementara Soekmono berpendapat Minanga Tamwan bermakna pertemuan dua sungai (Tamwan berarti temuan), yakni sungai Kampar kanan dan sungai Kampar kiri di Riau, yakni wilayah sekitar Candi Muara Takus. Pendapat lain menduga armada yang dipimpin Jayanasa ini berasal dari luar Sumatera, yakni dari Semenanjung Malaya.

Dari http://id.wikipedia.org/wiki/Dapunta_Hyang – – 28 Mei 2013.

Dari paparan di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa Dapunta Hyang adalah seorang anak manusia yang berasal dari lingkung budaya Minangkabau. Artinya, Dapunta Hyang adalah orang Minangel. Orang Minangel inilah yang kemudian kelak mendirikan Kerajaan terbesar saat itu yaitu Kerajaan Sriwijaya yang termasyhur.

Sang Sapurba.

Sang Sapurba dikenal di dalam sejarah sebagai Raja terakhir dari Kerajaan Sriwijaya. Pada masa kekuasaannya, Kerajaan Sriwijaya telah melemah dan kehilangan seluruh kekuatannya karena terus mendapat gempuran dahsyat dari Kerajaan Chola Mandala dari Koromandel, tanah india.

Dengan melemahnya Kerajaan Sriwijaya ini, Sang Sapurba melihat bahwa tidak ada gunanya lagi ia memerintah di Kerajaan tersebut, dan maka dari itu ia memutukan untuk pensiun alias turun takhta.

Seturunnya ia dari takhta Kerajaan Sriwijaya, Sang Sapurba dikabarkan berdiam di sebuah Negeri yang bernama Pariangan, di Sumatera Barat. Dari sinilah, Sang Sapurba memulai hidup mulianya. Wikipedia menyebutkan bahwa Sang Sapurba mempunyai 4 anak, dan keempat anaknya ini kelak menjadi Raja-Raja di seluruh nusantara.

Fakta bahwa Sang Sapurba berdiam di Pariangan Sumatera Barat menunjukkan bahwa Sang Sapurba adalah orang Minangel, apalagi kalau dikaitkan dengan Raja pertama Sriwijaya yaitu Dapunta Hyang yang memang berasal dari tanah Minangkabau alias Minanga Tamvan.

-o0o-

Dari sini sudah dapat dibuktikan bahwa Sriwijaya merupakan Kerajaan ber-plat Minangel, karena dinasti yang menjadi operator dari Kerajaan tersebut berasal dari tanah Minangel (yaitu Dapunta Hyang), dan kembali lagi ke tanah Minangel (yaitu Sang Sapurba).

Jika disepakati bahwa operator dari Kerajaan Sriwijaya adalah orang Minangel, maka kemudian dapat difahami bahwa Candi Borobudur merupakan Candi yang dibangun oleh orang Minangkabau.

Bukti secara logika.

Pertama.

Untuk yakin bahwa Borobudur dibangun oleh masyarakat Minangel, bahwa Sriwijaya merupakan Kerajaan ber-plat Minangel, maka kita bisa melihat bahwa masyarakat Minangel memang merupakan masyarakat yang unggul dari jaman ke jaman. Sebut saja pada masa perjuangan dan masa kemerdekaan, banyak sekali tokoh-tokoh pergerakan Nasional yang berasal dari masyarakat Minangel ini. Muhammad Hatta, Muhammad Yamin, Muhammad Natsir, Tan Malaka, Rasuna Said, dan lain lain merupakan tokoh perjuangan yang berdarah Minangel. Begitu juga dengan tokoh lain di berbagai bidang, kebanyakan memang berasal dari suku Minangel.

Maka adalah masuk akal untuk menyatakan bahwa Candi Borobudur dan kemegahan Kerajaan Sriwijaya tidak lain disebabkan karena ada orang Minangel di belakang kedua hal besar tersebut.

Kedua.

Di samping bukti kehidupan yang memaparkan bahwa orang Minangel merupakan individu-individu yang jaya, kita pun juga melihat bahwa individu dari suku lain tidak lah terlalu menonjol apalagi secemerlang orang Minangel.

Maka dari itu adalah dapat disangsikan kalau kita menyatakan bahwa Candi Borobudur dibangun oleh orang dari suku lain (semisal suku Jawa, atau suku Palembang, dan lain lain). Begitu juga dengan Kerajaan Sriwijaya, adalah dapat disangsikan kejayaannya kalau Kerajaan ini digerakkan oleh orang dari suku lain yang bukan suku Minangel.

Secara objektif memang demikian. Jaman sekarang pun tidak dapat dipungkiri bahwa kejayaan orang dari suku lain hanya dapat dikatakan ‘rata-rata’ saja, pun ‘di bawah rata-rata’.  Hal ini semakin menunjukkan bahwa karena (hanya) orang Minangel lah yang jaya dan tangguh, maka silogisme nya adalah bahwa kemegahan Sriwijaya dan Candi Borobudur hanya dimungkinkan jika pembangunan dan pengazasannya didirikan oleh individu-individu suku Minangel.

Ketiga.

Kehebatan orang Minangel, biasanya semakin teruji kalau individu-individu Minangel itu ‘keluar kandang’. Benar saja, ketika Dapunta Hyang yang orang Minangel itu keluar kandang menuju Palembang, ia langsung menuai sukses besar. Begitu juga dengan Sang Sapurba. Tokoh pergerakan dan kemerdekaan pun juga demikian, menjadi sukses setelah mereka semua keluar kandang.

Maka masuk akal untuk menyatakan bahwa Candi Borobudur dan kemegahan Kerajaan Sriwijaya digerakkan oleh orang Minangel karena toh orang Minangel itu pasti sukses kalau sudah keluar dari kandang mereka: Kerajaan Sriwijaya di Palembang, dan Candi Borobudur di tanah Jawa.

Asal usul Orang Rimba Adalah Minangel

minangel-suku-rimba

By Achmanto Mendatu.

Sejak ratusan tahun lalu, paling tidak sejak tahun 1500-an sesuai catatan para penjelajah Eropa, Orang Rimba telah melakukan hubungan dagang dan menjalin hubungan kekuasaan dengan kerajaan Jambi. Orang Rimba membayar upeti (jajah) kepada kerajaan berupa barang yang bisa didagangkan dan hasil kerajinan agar keberadaan Orang Rimba diakui dan tidak diusik. Pada akhir abad 19 ketika masa pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia sedang kokohnya, banyak pejabat pemerintahan yang membuat catatan mengenai Jambi, khususnya mengenai keberadaan Orang Rimba yang saat itu disebut dengan Orang Kubu. Menurut sebagian catatan itu diceritakan bahwa Orang Kubu (termasuk Orang Rimba) adalah orang-orang yang mengalami tekanan kehidupan yang sangat keras dari Orang Melayu. Banyak Orang Kubu ditangkap orang Melayu untuk dijadikan budak. Oleh karena itulah Orang Rimba berupaya menjalin hubungan baik dengan pihak kerajaan agar aman.

Mitos riwayat asal muasal Orang Rimba memiliki beberapa versi yang berbeda. Namun demikian hampir seluruh versi itu sama-sama mengklaim bahwa pada awalnya Orang Rimba dan orang Melayu merupakan satu kelompok yang sama.

Versi pertama.

Salah satu versi menyebutkan bahwa pada abad ke 11, di Jambi telah berdiri kerajaan maritim Sriwijaya yang menguasai sebagian selat Malaka dan memiliki hubungan internasional. Pada tahun 1025, kerajaan Chola dari India Selatan menaklukan Sriwijaya dan menguasainya. Pada saat itu, sebagian penduduk Sriwijaya yang tidak mau dikuasai orang asing berpindah ke hutan dan seterusnya hidup di hutan. Mereka ini disebut Orang Kubu, yang salah satu variasinya adalah Orang Rimba. Istilah kubu dimungkinkan bermakna benteng, yang bisa diartikan sebagai membangun benteng dengan mendirikan komunitas baru di daerah terpencil dan jauh di pedalaman hutan.

Versi kedua.

Riwayat lain mengkisahkan bahwa konon pada waktu lampau, raja Pagaruyung, yakni Daulat Yang Dipertuan, setelah sholat duduk di atas kura-kura besar yang disangkanya batu di pinggir sungai. Dia bersirih dan membuang sirihnya ke dalam sungai. Sirih tersebut dimakan oleh kura-kura. Setelah memakan sirih yang dibuang sang raja, si kura-kura hamil dan melahirkan anak manusia laki-laki. Kabar bahwa ada kura-kura memiliki anak manusia sampai ke telinga raja. Lalu dipanggillah anak tersebut ke istana. Akhirnya diakuilah anak tersebut sebagai anaknya oleh sang raja. Setelah dewasa, anak tersebut akan dijadikan raja di kota Tujuh, Sembilan Kota, Pitajin Muara Sebo, Sembilan Luruh sampai daerah terpencil Jambi. Namun sebagian penduduk tidak setuju karena anak tersebut adalah anak kura-kura. Sebagai bentuk penolakan, mereka menyingkir ke hutan dan hidup disana. Jadilah mereka Orang Rimba.

Versi ketiga.

Menurut cerita lisan dari beberapa Orang Rimba di TNBD, mereka mengatakan bahwa nenek moyang mereka adalah orang Padang (Minangkabau) di Sumatera Barat. Pada awalnya mereka semua berkampung sampai kedatangan orang Belanda. Karena enggan dikuasai oleh orang asing, mereka melakukan perlawanan. Namun karena tidak kuat melawan maka mereka lari. Sebagian dari mereka lari ke hilir (ke arah laut) dan sebagian ke arah hulu (ke gunung). Mereka yang menyingkir ke hilir menjadi Orang Minangkabau, sedangkan mereka yang menyingkir ke gunung dan hutan menjadi Orang Rimba. Lama kelamaan, karena ingin menghindari orang asing mereka sampai di Jambi.

Versi keempat.

Versi lain asal usul Orang Rimba berkaitan dengan sebuah cerita mengenai Putri Pinang Masak. Konon kabarnya, pada zaman dahulu kala Jambi dipimpin oleh Ratu Putri Selaras Pinang Masak yang berasal dari kerajaan Pagaruyung dari wilayah Sumatera Barat kini. Pada suatu masa, terjadilah pertentangan dengan raja Kayo Hitam yang berkuasa di lautan sampai dengan Muara Sabak (daerah Kuala Tungkal saat ini). Sang ratu merasa kewalahan sehingga ia meminta bantuan ke Pagaruyung. Maka dikirimkanlah serombongan pasukan oleh raja Pagaruyung. Namun belum sampai di Jambi, rombongan pasukan tersebut kehabisan bekal di sekitar wilayah TNBD sekarang. Akhirnya mereka memutuskan untuk menetap di dalam Rimba karena apabila kembali ke Pagaruyung akan dihukum, sedangkan bila meneruskan perjalanan sudah tidak memiliki bekal lagi. Mereka juga bersepakat untuk tidak tunduk kepada siapapun, baik kepada raja Pagaruyung maupun ratu Jambi. Merekalah yang kemudian menurunkan Orang Rimba.

Versi kelima.

Dari salah seorang Orang Rimba, Makekal, didapat cerita mengenai Bujang Perantau sebagai nenek moyang Orang Rimba. Diceritakan bahwa Bujang Perantau berasal dari Pagaruyung. Ia tinggal sendiri di dalam sebuah rumah di dalam hutan. Pada suatu hari ia memperoleh buah gelumpang. Pada malam hari ia bermimpi agar membungkus buah gelumpang dengan kain putih. Oleh bujang perantau mimpi tersebut dilaksanakan. Lalu muncullah putri cantik dari buah gelumpang yang dibungkus. Mereka berdua lalu kawin. Namun karena tidak ada yang mengawinkan maka mereka meniti batang kayu yang melintang diatas sungai. Pada saat kening mereka beradu, maka berarti perkawinan mereka sah. Dari hasil perkawinan mereka lahirlah empat orang anak, yakni Bujang Malapangi, Dewo Tunggal, Putri Gading, dan Putri Pinang masak.

Anak pertama dan terakhir, yakni Bujang Malapangi dan Putri Pinang Masak keluar dari hutan dan kemudian menjadi Orang Terang. Bujang Malapangi berkampung di desa Tana Garo. Putri Pinang Masak berkampung di Tembesi. Sedangkan Dewo Tunggal dan Putri Gading tetap tinggal di dalam hutan, yakni di wilayah hutan bukit Duabelas. Kedua anak dari Bujang Perantau yang tinggal di dalam hutan yang kemudian menurunkan Orang Rimba.

-o0o-

Sebagian besar cerita mengarahkan asal-usul mereka kepada orang Minangkabau, yang merupakan salah satu varian dari orang Melayu sebagai nenek Moyang Orang Rimba. Pengkaitan itu sulit dikatakan sebagai sebuah kebetulan. Tentu ada sebuah kesengajaan adanya mitos tersebut. Sebenarnya lebih masuk akal apabila Orang Rimba mengkaitkan nenek moyang mereka dengan Orang Melayu Jambi, yakni kelompok yang tinggal di dekat mereka dan merupakan kelompok yang paling sering berhubungan dengan mereka. Bahkan mereka pernah secara struktural mengakui keberadaan raja Jambi.

Terlepas benar tidaknya Orang Rimba berasal dari ranah minang dan memiliki nenek moyang orang Minangkabau, tampaknya ada alasan psikologis di balik penciptaan mitos asal-usul Orang Rimba yang hampir selalu menyebutkan orang Minangkabau sebagai nenek moyang mereka. Mitos itu mungkin diciptakan sebagai perlawanan terhadap tekanan yang dilakukan kelompok Melayu Jambi terhadap Orang Rimba. Pada masa lalu di Jambi terdapat perbudakan. Orang Melayu Jambi mencari budak dengan cara menangkapi Orang Kubu (termasuk Orang Rimba). Setelah ditangkap, Orang Rimba dijadikan budak dan dipaksa melakukan berbagai pekerjaan. Pengalaman tidak menyenangkan yang dialami Orang Rimba tidak hanya itu, mereka juga diharuskan membayar upeti kepada pihak penguasa. Oleh sebab itulah mereka merasa tidak nyaman jika mengkaitkan nenek moyang mereka dengan Orang Melayu Jambi. Maka langkah paling logis adalah mengkaitkan nenek moyang mereka dengan orang Minangkabau, yakni kelompok yang tinggal tidak jauh dari mereka, cukup sering berinteraksi, mirip secara fisik, dan terpenting tidak melakukan tindakan yang tidak menyenangkan.

Sumber, http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/08/asal-usul-orang-Rimba.html – 28 Mei 2013 – dengan penyuntingan teks bilamana perlu.

Pendapat saya.

Artikel ini memaparkan klaim suku Rimba bahwa mereka bersilsilah langsung dengan suku Minangel. Di dalam analisanya, sang author (Achmanto Mendatu) menyatakan bahwa klaim suku Rimba ini yang menyatakan bahwa mereka keturunan langsung dari suku Minangel – merupakan klaim yang murni politis. Disebutkan bahwa sebenarnya suku Rimba lebih tepat ke suku Jambi karena lebih dekat, namun kenyataannya suku Rimba lebih memilih Minangel sebagai asal usul eksistensi mereka. Lebih jauh, author menyebutkan alasannya, yaitu bahwa karena orang Jambi diidentifikasi sebagai penjahat sosial, alias suka menangkapi orang suku Rimba untuk diperbudak. Sementara itu, lanjut sang author, suku Minangel tidak lah demikian. Maka alasan suku Rimba untuk ‘menobatkan’ Minangel sebagai asal-usul mereka, lebih karena faktor keamanan dan kepercayaan (faktor subjektif), bukan karena faktor hubungan darah (objektif).

Pendapat saya adalah, bahwa analisa Sdr. Achmanto tidak berdasar sama sekali.

Pertama.

Secara tanpa sengaja, author telah meletakkan tuduhan bahwa orang Jambi merupakan kelompok masyarakat yang keji (dan di lain pihak, orang Minangel tidak keji?). Apakah analisa demikian dapat dibuktikan secara historis? Setahu saya (mohon dikoreksi), perbudakan tidak dikenal di Indonesia. Belanda lah yang memperkenalkan konsep budak itu ke Indonesia. Borobudur saja tidak dibangun dengan menggunakan tenaga para budak, karena budak tidak ada di dalam masyarakat Indonesia. Terlebih, Hindu dan Buddha sebagai agama pertama yang masuk ke Indonesia pun juga tidak memperkenalkan konsep budak ini ke Indonesia, karena memang kedua agama ini tidak mengadopsi budak.

Kedua.

Kalau lah memang benar bahwa orang Jambi merupakan kelompok sosial yang gemar memperbudak suku lain, maka mengapa suku Rimba saja yang menjadi sasaran perbudakan?

Ketiga.

Sebenarnya saya kekurangan informasi, apakah memang benar bahwa sejarah menulis bahwa orang Jambi gemar memperbudak suku lain dengan cara yang keji?

Keempat.

Sang author menulis bahwa ‘kebetulan’ penampilan fisik orang Rimba dengan orang Minangel adalah mirip. Apakah memang benar demikian? Apakah kemudian dapat dikatakan bahwa fisik orang Rimba berbeda jauh dari fisik orang Jambi? Menurut saya tidak lah demikian. Orang Rimba pastilah sama penampilan fisiknya dengan kita semua orang Indonesia. Orang Rimba pasti juga mirip dengan orang Aceh, Batak, Jawa, Sunda dan lain lain.

Kesimpulan.

Dari beberapa alasan tersebut, maka saya dapat memastikan bahwa suku Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas memang keturunan langsung dari suku Minangel. Dengan kata lain, klaim individu-individu suku Rimba (bahwa mereka adalah keturunan pagaruyung) merupakan klaim yang murni genealogis, bukan politis.

Jayalah Minang di Nusantara

Sultan Hassanal Bolkiah, salah seorang raja keturunan Minang

Sultan Hassanal Bolkiah, salah seorang raja keturunan Minang

Banyak pihak menilai, abad ke-20 merupakan masa kejayaan peradaban Minangkabau. Hal ini ditandai dengan besarnya peran mereka dalam lima lini pokok kehidupan bermasyarakat di Indonesia (dan Nusantara pada umumnya). Dari lima bidang tersebut, yakni: politik, ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan, serta sosial keagamaan, Minangkabau telah melahirkan ratusan bahkan ribuan ahli yang kompeten di bidangnya. Para ahli itu, yang telah go internasional dan bahkan melegenda antara lain:

  • Tan Malaka,
  • Hatta, Sjahrir,
  • Tuanku Abdul Rahman,
  • Yusof Ishak (politik);
  • Hasyim Ning,
  • Abdul Latief,
  • Tunku Tan Sri Abdullah (ekonomi / bisnis);
  • Chairil Anwar,
  • Muhammad Yamin,
  • Sutan Takdir Alisjahbana,
  • Usmar Ismail,
  • Soekarno M. Noer (budaya);
  • Emil Salim,
  • Sheikh Muszaphar Shukor,
  • Taufik Abdullah,
  • Azyumardi Azra (ilmu pengetahuan); serta
  • Agus Salim,
  • Hamka,
  • Natsir,
  • Tahir Jalaluddin,
  • Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, dan
  • Syafii Maarif (sosial-keagamaan).

Namun dari itu, sedikit sekali orang yang mengetahui kejayaan Minangkabau di masa lampau. Menurut hasil penelitian Mochtar Naim yang dituangkan dalam disertasinya “Merantau”, sejak dahulu kala orang-orang Minang telah banyak berkontribusi dalam pembentukan peradaban Nusantara. Dan di antara mereka banyak pula yang menjadi raja ataupun pendiri sebuah kerajaan. Dalam tulisan kali ini, kita akan melihat sepak terjang raja-raja asal Minangkabau, yang memerintah di banyak negeri seantero Nusantara.

Dapunta Hyang Sri Jayanasa, dipercaya sebagai pendiri imperium besar Sriwijaya. Menurut tambo alam Minangkabau, Dapunta Hyang berasal dari lereng Gunung Merapi, yang kemudian melakukan migrasi bersama sejumlah penduduk setempat. Dengan mengaliri Sungai Kampar dari pedalaman Minangkabau, Dapunta Hyang beserta rombongannya tiba di bibir pantai Selat Malaka. Mereka terus melanjutkan perjalanan ke selatan hingga bertemu muara Sungai Musi. Dari sini mereka mencoba memudiki Sungai Musi dan berjumpa lereng Gunung Dempo. Dari lereng gunung inilah kemudian Dapunta Hyang beserta rombongannya membangun sebuah kedatuan yang berpusat di tepian Sungai Musi.

Prasasti Kedukan Bukit

Kisah perjalanan Dapunta Hyang dari tanah Minang, terukir jelas dalam Prasasti Kedukan Bukit. Prasati itu bercerita tentang rombongan Dapunta Hyang yang selamat melakukan perjalanan dan penyerangan dari Minanga, bersama serombongan pasukan yang melewati darat maupun laut. Hingga saat ini, penafsiran isi prasasti tersebut masih simpang siur. Poerbatjaraka berpendapat bahwa Minanga (atau Minanga Tamwar) merupakan hulu pertemuan dua sungai Kampar, yang berada di luhak Lima Puluh Koto. Dan Minanga Tamwar diprediksi sebagai asal usul nama Minangkabau. Sedangkan para ahli lainnya seperti George Coedes dan Slamet Muljana, justru berteori bahwa Minanga merupakan kerajaan taklukan Dapunta Hyang yang terletak di hulu Batanghari. E.S Ito dalam novelnya “Negara Kelima”, juga menyinggung mengenai migrasi Dapunta Hyang dari Minangkabau ke Palembang. Dikatakannya bahwa Dapunta Hyang telah menghiliri Sungai Batanghari sampai ke muara Jambi, dan kemudian melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki hingga ke tepian Sungai Musi. Menurutnya Dapunta Hyang adalah salah seorang pembesar Minangkabau, yang ingin mengembalikan kejayaan imperium Atlantis.

Putra Minangkabau lainnya yang duduk di tampuk kekuasaan adalah Kalagamet. Dia merupakan raja Majapahit kedua yang memerintah pada tahun 1309-1328. Kalagamet yang bergelar Sri Jayanagara, beribukan Dara Petak seorang permaisuri yang berasal dari Kerajaan Dharmasraya. Pada masa berkuasa, dia mengangkat saudara sepupunya yang juga keturunan Minangkabau, Adityawarman, sebagai duta untuk negeri Tiongkok. Adityawarman adalah putra Dara Jingga, permaisuri Dharmasraya lainnya yang bersuamikan Adwayawarman. Di masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi, Adityawarman naik jabatan sebagai wreddhamantri atau perdana menteri kerajaan. Dalam posisi strategis itu, dia membangkang kepada Tribhuwana dan melecehkan Majapahit. Pada tahun 1347, dia pulang kampung ke Sumatra dan mendirikan Kerajaan Pagaruyung. Kerajaan ini merupakan penerus wangsa Mauli yang telah berkuasa di Sumatra selama hampir satu setengah abad. Pada abad ke-14, Kerajaan Pagaruyung memiliki daerah taklukan ke hampir seluruh wilayah Sumatra dan Semenanjung Malaysia. Kekuasaannya atas Nusantara barat, merupakan balance of power bagi Majapahit yang berkuasa di bagian tengah kepulauan.

Selain Jayanagara dan Adityawarman, tokoh Majapahit lainnya yang dipercaya berasal dari Minangkabau adalah Gajah Mada. Namanya mengikuti genre jago silat Minang lainnya seperti Harimau Campa, Gajah Tongga, atau Anjing Mualim. Sebagian orang memperkirakan, Gajah Mada merupakan putra seorang pendekar Minangkabau yang ikut mengantarkan Dara Petak dan Dara Jingga ke Majapahit. Namun Ridjaluddin Shar dalam novelnya “Maharaja Diraja Aditya­warman: Matahari di Khatulis­tiwa”, malah berpendapat sebaliknya. Menurutnya Gajah Mada adalah anak dari salah seorang pasukan Pamalayu yang menikahi gadis Minangkabau. Asal usul Gajah Mada memang penuh misteri dan tanda tanya. Hingga saat ini belum ada sejarawan yang berhasil mengungkap kelahiran dan kematian tokoh besar tersebut, kecuali hanya dugaan-dugaan awal saja. Yang jelas, Gajah Mada merupakan simbol kebesaran Majapahit dan persatuan Indonesia. Ketika ia ditunjuk sebagai perdana menteri pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, dalam Sumpah Palapa ia bernazar akan menaklukkan seluruh Nusantara di bawah panji Majapahit. Namun janjinya tersebut tak sempat terwujud, sampai akhirnya kerajaan itu runtuh pada awal abad ke-16.

Muhammad Yamin, seorang pakar hukum, ahli sejarah, budayawan, dan salah satu founding fathers Indonesia, merupakan pengagum berat sosok Gajah Mada. Kekagumannya mungkin juga dikarenakan pertalian darah yang sama sebagai putra Minangkabau. Usahanya dalam merekonstruksi peran Gajah Mada dalam buku setebal 112 halaman, merupakan salah satu bentuk kegandrungannya. Impian Gajah Mada mempersatukan Nusantara, telah mengilhaminya untuk menggabungkan seluruh jajahan Hindia-Belanda dalam satu kesatuan wilayah politik. Pada bulan Oktober 1928, cita-citanya itu benar-benar terwujud. Dalam sebuah ikrar bersama yang kelak dikenal dengan Sumpah Pemuda, Yamin berhasil menyatukan seluruh komponen rakyat Hindia-Belanda, dalam satu bangsa, bahasa, dan tanah air.

Sultan Hassanal Bolkiah, salah seorang raja keturunan Minang

Pada tahun 1390, seorang pengelana Minangkabau yang kemudian berjuluk Raja Bagindo, mendirikan Kesultanan Sulu. Tak banyak riwayat mengenai raja yang satu ini, kecuali para keturunannya yang menjadi pelaut ulung. Kabarnya mereka sangat ditakuti oleh pedagang-pedagang Eropa yang acap melintasi perairan utara Nusantara.

Mohd. Jamil al-Sufri dalam bukunya “Tarsilah Brunei: The Early History of Brunei up to 1432 AD” menyebutkan, bahwa dari silsilah raja-raja Brunei Darussalam, diketahui bahwa pendiri kerajaan ini: Awang Alak Betatar atau yang bergelar Sultan Muhammad Shah, berasal dari Minangkabau. Selain itu raja-raja Serawak di Kalimantan Utara, juga banyak yang berasal dari Minangkabau. Hal ini berdasarkan informasi para bangsawan Serawak, yang ditemui Hamka pada tahun 1960. Kamardi Rais Dt. Panjang Simulie dalam bukunya “Mesin Ketik Tua” juga memerikan berita bahwa ketika James Brook dirajakan di Serawak, yang melantiknya adalah datuk-datuk asal Minangkabau.

Sultan Buyong, anak dari raja Indrapura yang bertahta di Pesisir Selatan, pernah berkuasa di Kesultanan Aceh pada tahun 1586-1596. Buyong (Buyung?) naik menjadi raja, berkat pengaruh dan kekuatan para pedagang Minang yang berniaga di Kutaraja. Sebelum itu kakak ipar Buyong, Sultan Sri Alam, juga sempat bertahta di Kesultanan Aceh (1575-1576). Sri Alam berkuasa melalui kudeta berdarah hulubalang Minangkabau, yang disebut-sebut telah berkomplot dalam pembunuhan Sultan Muda. Untuk menyingkirkan pengaruh Minangkabau dari Kerajaan Aceh, sekaligus membalaskan dendam kematian Sultan Muda, pada tahun 1596 ulama-ulama Aceh melakukan pembunuhan berencana terhadap Buyong. Dengan terbunuhnya Buyong maka berakhirlah pengaruh Indrapura di tanah rencong. Kesultanan Indrapura yang beribu kota di Indrapura (selatan Painan), merupakan pecahan dari Kerajaan Pagaruyung. Pada paruh kedua abad ke-16, kesultanan ini memiliki pengaruh yang cukup luas di pesisir barat Sumatra. Wilayahnya menjangkau daratan Aceh di utara hingga Bengkulu di selatan.

Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah I atau yang dikenal dengan Raja Kecil adalah salah seorang putra Pagaruyung pendiri Kesultanan Siak Sri Indrapura. Sebelum mendirikan Kesultanan Siak pada tahun 1723, Raja Kecil sempat bertahta di Kesultanan Johor (1717-1722). Namun kekuasaannya tak bertahan lama, karena aksi kudeta yang dilancarkan Bendahara Abdul Jalil dan pasukan Bugis. Di masa pemerintahannya, Kesultanan Siak melakukan perluasan teritori hingga ke wilayah Rokan, dan berhasil membangun pertahanan armada laut di Bintan. Pada tahun 1740-1745, Siak menaklukkan beberapa kawasan di Semenanjung Malaysia. Dan 40 tahun kemudian, wilayah kekuasaannya telah meliputi Sumatra Timur, Kedah, hingga Sambas di pantai barat Kalimantan.

Istana Siak Sri Indrapura

Di Semenanjung Malaysia, Raja Melewar yang merupakan utusan Pagaruyung, menjadi raja bagi masyarakat setempat. Pada tahun 1773, konfederasi sembilan nagari di Semenanjung Melayu, membentuk sebuah kerajaan yang diberi nama Negeri Sembilan. Kerajaan ini terbentuk pasca derasnya arus migrasi Minangkabau ke wilayah tersebut. Seperti halnya masyarakat di Sumatra Barat, rakyat Negeri Sembilan juga menggunakan hukum waris matrilineal serta model adat Datuk Perpatih. Pada tahun 1957, Tuanku Abdul Rahman yang merupakan keturunan Raja Melewar, menjadi Yang Dipertuan Agung Malaysia pertama.

Di Tapanuli, Sisingamangaraja yang dipercaya sebagai Raja Batak, juga berasal dari Minangkabau. Hal ini berdasarkan keterangan Thomas Stamford Raffles yang menemui para pemimpin Batak di pedalaman Tapanuli. Mereka menjelaskan bahwa Sisingamangaraja adalah seorang keturunan Minangkabau yang ditempatkan oleh Kerajaan Pagaruyung sebagai raja bawahan (vassal) mereka. Hingga awal abad ke-20, keturunan Sisingamangaraja masih mengirimkan upeti secara teratur kepada pemimpin Minangkabau melalui perantaraan Tuanku Barus.

Sumber,

http://afandriadya.com/2011/06/21/raja-minang-di-nusantara/ – 31 Januari 2013.

Rendang International!

Rendang

From Wikipedia, the free encyclopedia

Rendang is a dish which originated from the Minangkabau ethnic group of Indonesia, and is now commonly served across the country. One of the characteristic foods of Minangkabau culture, it is served at ceremonial occasions and to honour guests. Also popular in Malaysia, Singapore, Brunei, the southern Philippines and southern Thailand, rendang is traditionally prepared by the Malay community during festive occasions. Though rendang is sometimes described as being like a curry, and the name is sometimes applied to curried meat dishes in Malaysia, authentic rendang is nothing like a curry. In Malay classical literature, rendang is mentioned in Hikayat Amir Hamzah[4] as early as the 1550s.

In 2011 an online poll by 35,000 people held by CNN International chose Rendang as the number one dish of their ‘World’s 50 Most Delicious Foods’ list.

Composition

Rendang is made from beef (or occasionally beef liver, chicken, mutton, water buffalo, duck, or vegetables like jackfruit or cassava) slowly cooked in coconut milk, spices and sometimes kerisik (toasted coconut paste) for several hours until almost all the liquid is gone, allowing the meat to absorb the spicy condiments. The cooking process changes from boiling to frying as the liquid evaporates. The slow cooking process allows the meat to absorb all the spices and to become tender. The spices may include ginger, galangal, turmeric leaf, lemon grass and chillies. Chicken or duck rendang also contains tamarind and is usually not cooked for as long as beef rendang.

Types

There are two kinds of rendang: dried and wet. Dried rendang can be kept for three to four months, and it is for ceremonial occasions or to honour guests. Wet rendang, also known as kalio, can be found in Minangkabau restaurants, and without refrigeration, it should be consumed within a month.

Rendang is often served with rice, ketupat (Indonesian compressed rice cake) and lemang (glutinous rice barbecued in bamboo tubes) in Indonesia.

________

http://en.wikipedia.org/wiki/Rendang  (12:53 04/10/2011)