Kerajaan Minangkabau Adalah Kerajaan Pertama NKRI

kerajaankandis

Minangkabau adalah masyarakat yang paling berbangga di dalam NKRI, karena kerajaan pertama yang bangkit di dalam NKRI merupakan kerajaan berdarah Minangkabau, yaitu Kerajaan Kandis, yang eksis dan bersemi pada abad pertama sebelum Masehi (SM), bertapak di derah yang sekarang bernama Kuantan. Berikut paparan yang berasal dari wikipedia.

Kerajaan Kandis

Kerajaan Kandis adalah kerajaan tertua yang berdiri di Sumatera, yang terletak di Koto Alang, masuk wilayah Lubuk Jambi, Kuantan, Riau.

Sejarah

Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada 1 tahun Sebelum Masehi, mendahului berdirinya Kerajaan Moloyou atau Dharmasraya di Sumatera Tengah. Dua tokoh yang sering disebut sebagai raja kerajaan ini adalah Patih dan Tumenggung.

Maharaja Diraja, pendiri kerajaan ini, sesampainya di Bukit Bakau membangun istana yang megah yang dinamakan Istana Dhamna. Putra nya Maharaja Diraja bernama Darmaswara bergelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal (lebih akrab dipanggil).

Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran yaitu keris berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih dipegang oleh Danial gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo. Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri yang bernama Bunda Pertiwi. Bunda Pertiwi bersaudara dengan Bunda Darah Putih. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu.

Setelah Maharaja Diraja wafat, Datuk Rajo Tunggal menjadi Raja di Kerajaan Kandis. Bunda Darah Putih dipersunting oleh Datuk Bandaro Hitam. Lambang kerajaan Kandis adalah sepasang bunga raya berwarna merah dan putih.

Ekonomi Kerajaan

Kehidupan ekonomi Kerajaan Kandis adalah hasil hutan seperti damar, rotan, dan sarang burung layang-layang, dan hasil bumi seperti emas dan perak. Daerah Kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Rajo Tunggal memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal dengan Tambang Titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan Titah Raja. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan Tambang Titah.

Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Melayu oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat.

Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Menteri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan cerita Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Semenanjung Melayu.

Dt. Rajo Tunggal memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain di antaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah Kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.

Berdirinya Kerajaan Kancil Putih dan Kerajaan Koto Alang

Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak / Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).

Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi Kerajaan Kancil Putih, setelah itu Kerajaan Kandis memerangi Kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi.

Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Marapi (Sumatera Barat) di mana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan.

Tidak lama kemudian, pembesar-pembesar Kerajaan Kandis mati terbunuh diserang oleh Raja Sintong dari Cina Belakang, dengan ekspedisinya dikenal dengan Ekspedisi Sintong. Tempat berlabuhnya kapal Raja Sintong, dinamakan dengan Sintonga. Setelah mengalahkan Kerajaan Kandis, Raja Sintong beserta prajuritnya melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah kalah perang pemuka Kerajaan Kandis berkumpul di Bukit Bakar. Karena cemas akan serangan musuh, mereka sepakat untuk menyembunyikan Istana Dhamna dengan melakukan sumpah. Sejak itulah Istana Dhamna hilang, dan mereka memindahkan pusat kerajaan Kandis ke Dusun Tuo (Teluk Kuantan sekarang).

-o0o-

Artikel wikipedia di atas mengisahkan Kerajaan Kandis yang berdiri di Sumatera Tengah, tepatnya di Kuantan, Riau sekarang, pada abad pertama sebelum Masehi. Dengan ditetapkannya abad pertama sebelum Masehi bagi berdirinya Kerajaan Kandis ini, maka praktis kerajaan ini menjadi kerajaan pertama yang bangkit di NKRI, karena sebelum Kerajaan Kandis, belum pernah tercatat ada kerajaan yang mendahului Kerajaan Kandis ini.

Sebagai perbandingan, Kerajaan Kutai berdiri pada abad IV, alias pada tahun 300an Masehi. Sementara itu, Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad VII, alias pada tahun 600an Masehi. Majapahit pada abad XIV alias pada tahun 1300an. Kerajaan Singasari berdiri pada abad XIII alias pada tahun 1200an. Kerajaan Salakanagara berdiri di Tanah Sunda pada tahun 130 Masehi.

Jadi, Kerajaan Kandis adalah 400 tahun lebih awal dari Kerajaan Kutai di Kalimantan.

Perlu dikemukakan di sini, bahwa sebenarnya kerajaan ini lebih tepat dikatakan sebagai Kerajaan Riau (bukan Kerajaan Minangkabau), karena bertapak di Provinsi Riau sekarang: Kuantan adalah nama derah di dalam Provinsi Riau. Namun mengapa Kerajaan Kandis diperkatakan sebagai Kerajaan Minangkabau? Ada beberapa alasan.

  1. Di dalam artikel wikipedia tersebut yang melaporkan Kerajaan Kandis ini, penyebutan nama-nama tokoh Kerajaan Kandis bergenre bahasa Minangkabau, seperti Datuak, Bagindo, Rajo, Mangkuto, dsb. Ini merupakan indikasi bahwa kerajaan tersebut merupakan kerajaan yang bersuku Minangkabau. Kalau memang benar bahwa Kerajaan Kandis merupakan Kerajaan non-Minangkabau (melainkan Melayu biasa) maka mestilah nama tokoh-tokohnya bergenre bahasa Melayu biasa.
  2. Biar bagaimana pun, secara peta, Kuantan sebagai tempat bertapaknya Kerajaan Kandis ini, sangat dekat dengan Minangkabau versi Sumatera Barat. Dapat dikatakan bahwa Kuantan praktis berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat.
  3. Dua tokoh fenomenal pada Kerajaan Kandis ini, ‘berpulang’ ke ranah Minangkabau (yaitu ke lereng Gunung Merapi), yaitu Datuak Perpatih Nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan. Ini menandakan bahwa Kerajaan Kandis sebenarnya Kerajaan Minangkabau, karena terbukti dari dua tokohnya yang berpulang ke Minangkabau. Logikanya, kalau kedua tokoh tersebut bukan orang Minangkabau, maka mengapa mereka pulang ke ranah Minangkabau?
  4. Pembedaan antara Minangkabau dengan Riau sekarang ini, sebenarnya adalah konsepsi yang diberlakukan Pemerintah NKRI ini, yang ‘mencukupkan’ Alam Minangkabau hanya pada Provinsi Sumatera Barat. Sebenarnya Minangkabau merupakan kebudayaan yang meliputi Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu bahkan Mandailing. Melalui pendekatan ini, maka jelaslah bahwa Riau, atau juga Kuantan, adalah Minangkabau juga. Maka dari itu, Kerajaan Kandis adalah Kerajaan Minangkabau.

Berdasarkan beberapa alasan / latar belakang tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Kandis merupakan kerajaan berdarah Minangkabau, dan kesimpulan ini sebenarnya ‘bernada sama’ dengan megahnya marwah Minangkabau di Tatar Nusantara, di mana sama diketahui bahwa masyarakat Minangkabau merupakan masyarakat yang menonjol di dalam satu dan beberapa bidang, seperti bidang politik, ekonomi, intelektual, agama dsb. Dengan kata lain, kalau kita mengajukan klaim bahwa Kerajaan Kandis merupakan kerajaan bersuku Minangkabau, maka sebenarnya hal tersebut adalah wajar, karena masyarakat Minangkabau mempunyai latar belakang yang positif (mendukung) untuk klaim itu.

Pada akhirnya, sungguh masyarakat Minangkabau patut berbangga karena leluhur mereka, pada abad pertama sebelum Masehi telah tampil ke muka untuk mendirikan kerajaan yang kelak menjadi kerajaan pertama di Nusantara, ketika bumi dan tempat lain di Nusantara ini masih tertidur di dalam buaian Alam Semesta.

Semoga paparan Minangel ini menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Minangkabau untuk berkarya lebih giat lagi demi memajukan Alam Nusantara yang permai ini. Amin.

Keberadaan Orang Minangkabau di Kota Kuala Lumpur

minangkabau-for-kualalumpurPenghijrahan Orang Minang Ke Kuala Lumpur

Kaum Minangkabau merupakan salah satu kelompok etnis yang banyak bermukim di Semenanjung Melayu. Mereka menyebar merata ke seluruh Semenanjung dan telah beranak-pinak dari generasi ke generasi. Salah satu penempatan mereka yang cukup penting ialah ibu kota negara: Kuala Lumpur.

Tak ada waktu yang pasti, kapan perantau Minang tiba dan menetap di kota ini. Namun menurut J.M. Gullick, sekurangnya pada tahun 1850-an sudah dijumpai para peneroka Minang yang membuka hutan dan mengusahakan pertambangan timah di Kuala Lumpur. Masa ini sejalan dengan waktu berakhirnya Perang Paderi (1803-1838) yang berkecamuk hebat di Sumatera Barat.

Begitu populernya Kuala Lumpur ketika itu, sehingga istilah: “poi ka Kolang” (pergi ke Klang) sering terdengar di tengah-tengah percakapan remaja Minang yang hendak pergi merantau.

Ada berbagai alasan yang melatar-belakangi hijrahnya mereka ke Kuala Lumpur. Beberapa di antaranya ialah faktor ekonomi, yakni adanya peluang usaha dagang yang menjadi okupansi utama masyarakat Minang di perantauan. Selain itu adalah terbukanya kesempatan untuk menambang timah. Di mana ketika itu pemerintah Inggris sedang giat-giatnya mengusahakan pertambangan timah yang sedang laku di pasaran.

Berdirinya pusat kolonial British di Kuala Lumpur pada tahun 1874, juga menjadi daya tarik tersendiri. Sebab pada masa itu pemerintah Inggris membutuhkan tenaga-tenaga terdidik untuk mengurus administrasi Kerajaan. Dan salah satu kelompok etnis yang paling siap mengambil peluang itu adalah kaum Minangkabau.

Selain alasan merantau, hal lainnya yang perlu dicermati dari hijrahnya orang Minang ke Kuala Lumpur ialah mengenai daerah asal mereka. Menurut laporan Selangor Journal, ada beberapa nagari di ranah Minang yang banyak mengirimkan para perantaunya ke Kuala Lumpur. Pada paruh kedua abad ke-19, kebanyakan mereka berasal dari nagari-nagari yang paling kuat terkena dampak Perang Paderi. Orang Pasaman dari Bonjol, Rao (Rawa), Talu, dan Air Bangis, berada di peringkat pertama. Diikuti oleh kelompok masyarakat Tanah Datar, terutama dari nagari-nagari di seputaran Batusangkar. Orang Luhak Limapuluh Kota dan Agam berada di peringkat selanjutnya.

Memasuki abad ke-20, Kuala Lumpur juga ikut diramaikan oleh para perantau dari Pariaman, Solok, Sawahlunto-Sijunjung, dan Pesisir Selatan. Selain dari Sumatera Barat, orang-orang Minang di perantauan, seperti dari Batu Bara, Kampar, Kuantan, Kerinci, Negeri Sembilan, Malaka, Perak, Johor, dan Pulau Pinang, juga ikut mengadu nasib di kota ini.

Para Peneroka dan Pemimpin Kaum

Seperti halnya di bagian lain Semenanjung Melayu, di Kuala Lumpur kaum Minang juga hidup mengelompok berdasarkan daerah asal mereka. Setidaknya ini berlangsung hingga kemerdekaan Malaysia di tahun 1957. Karena hidup mengelompok inilah, maka lahir beberapa tokoh yang menjadi ketua kelompok masyarakat yang dikenal dengan istilah Datuk Dagang. Ketua kelompok biasanya datang dari para peneroka atau pihak yang ditunjuk oleh Kerajaan.

Ada beberapa tokoh masyarakat Minang yang cukup terkenal di Kuala Lumpur. Salah satunya ialah Haji Mohammad Taib, salah seorang saudagar yang berasal dari Rao-rao dekat Batusangkar. Sebelum pergantian abad ke-20, ia merupakan salah seorang terkaya di Kuala Lumpur.

Menurut Gullick, ia mempunyai banyak properti, perkebunan, dan beberapa tambang timah di sekitar Kuala Lumpur. Di Semenyih, ia memiliki tanah seluas 25 hektar serta beberapa kedai di pusat kota. Berdasarkan catatan Nelmawarni Bungo dan Nordin Hussin, Haji Mohammad Taib memberikan sumbangan cukup besar bagi kemajuan Kuala Lumpur. Ia telah meneroka kawasan Kampung Baru dan Chow Kit, sebagai tempat bermukimnya orang-orang “Melayu”. Untuk mengenang jasa-jasanya, kini beberapa jalan di daerah Chow Kit telah dinamai dengan nama Lorong Haji Taib.

Haji Utsman bin Abdullah merupakan ulama Minangkabau yang menjadi kadi pertama Kuala Lumpur. Ia berasal dari Batusangkar dan merupakan saudara dari Muhammad Saleh al-Minangkabawi, mufti Kesultanan Perak. Utsman merupakan salah satu ulama yang bijak. Ia sering menyelesaikan berbagai persoalan silang sengketa di tengah-tengah masyarakat. Ia tak hanya menjadi pemimpin bagi masyarakat Minangkabau, namun juga bagi umat muslim di Kuala Lumpur.

Selain sebagai ulama, Utsman juga terlibat dalam perniagaan. Dia salah seorang pengusaha Minang yang memiliki tanah cukup luas. Di Kuala Lumpur, ia pernah memiliki tanah yang terletak di antara Mesjid Jamek hingga Putra World Trade Centre sekarang ini.

Haji Abdullah Hukum juga disebut-sebut sebagai peneroka awal Kuala Lumpur. Ia telah menginjakkan kakinya di kota ini pada tahun 1850, mengikut ayahandanya yang berasal dari Kerinci. Abdullah yang bernama asli Muhammad Rukun semula bekerja sebagai pengolah tanah dan pedagang kain. Kemudian ia mendapatkan izin dari Raja Muda Selangor untuk membuka kawasan Pudu, Bukit Nanas, dan Sungai Putih. Di Sungai Putih inilah ia bermukim hingga pulang ke Sumatera pada tahun 1929.

Untuk mengingat jasa-jasanya, kini salah satu pemukiman di dekat Jalan Bangsar telah dinamai dengan Kampung Haji Abdullah Hukum.

Haji Abdullah Hukum mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Haji Mahmood. Mahmood juga mengikuti jejak ayahnya berniaga kain. Sebelum Jepang menginvasi tanah Melayu, kabarnya ia merupakan salah seorang saudagar Melayu yang cukup sukses.

Di permulaan abad ke-20, tokoh Minang yang bersinar di Kuala Lumpur ialah Khatib Koyan. Dia adalah seorang saudagar yang melakukan penambangan timah di sepanjang Sungai Gombak hingga Kuala Lumpur. Di Kuala Lumpur tanahnya cukup luas, yakni dari Batu Dua (Chow Kit) hingga ke Batu Sembilan. Karena keprihatinannya terhadap perkembangan Islam di kota ini, ia mendirikan Mesjid Jaminul Ihsan di kawasan Setapak. Di samping itu beliau juga telah mendirikan sebuah Madrasah ar-Rahmaniah di Jalan Khatib Koyan, Kampung Baru.

Kawasan Penempatan Orang Minang

Jurnal Pertanika terbitan Universiti Putra Malaysia mencatat, bahwa menjelang abad ke-20 Kuala Lumpur secara umum terbagi menjadi dua wilayah etnis. Kawasan utara yang meliputi: Kampung Baru, Chow Kit, Bukit Nanas, dan Kampung Datuk Keramat, banyak dihuni oleh kaum Melayu yang sebagiannya datang dari ranah Minang. Sedangkan di bagian selatan Kuala Lumpur mayoritas dihuni oleh etnis Tionghoa.

Tak seperti daerah rantau lainnya, di Kuala Lumpur banyak nama kampung yang mengikuti daerah asal mereka di ranah Minang. Selain Kampung Kerinci di Bangsar Selatan, ada pula Kampung Palimbayan yang terletak di bagian barat Kuala Lumpur. Ya, kampung ini mayoritas dihuni oleh masyarakat asal Palembayan, salah satu nagari di Luhak Agam. Konon katanya, hingga tahun 1970-an bahasa pergaulan di kampung ini masih menggunakan Bahasa Minangkabau.

Satu lagi nama kampung yang mengikuti nama daerah asal penduduknya ialah Kampung Rawa. Namun setelah pemerintah Kuala Lumpur melakukan pembenahan kota, kampung yang kini berada di sekitar Jalan Melayu itu terpaksa dilenyapkan. Masyarakat Rao, Pasaman yang sebagian besar telah menghuni daerah tersebut lebih dari 50 tahun, harus berpindah ke kawasan lainnya.

Karena sebagian besar perantau Minang berprofesi sebagai penggalas, maka hingga hari ini-pun kita masih bisa menjumpai kedai-kedai milik orang Minang di pusat kota Kuala Lumpur. Para saudagar itu pada umumnya menjual aneka barang kelontong, sepatu, songkok, kain, tailor, dan membuka gerai rumah makan.

Jalan Tuanku Abdul Rahman (dulu Batu Road), Lorong Haji Taib, Jalan Melayu, Jalan Mesjid India, dan Jalan Pudu, merupakan tempat di mana banyak terdapat kios-kios milik pengusaha Minang. Begitu pula Jalan Raja Muda Musa dan Jalan Raja Alang di Kampung Baru, yang merupakan tempat berpusatnya para pedagang makanan asal Minangkabau. Di tempat inilah para perantau Minang mendirikan berbagai perkumpulan, seperti Persatuan Penduduk Melayu Minangkabau dan Persatuan Seni Silat Cekak Kampong Bharu.

Dari perkumpulan inilah — beserta organisasi masyarakat Jawa, Bugis, dan “Melayu” lainnya, terwujudlah partai politik UMNO yang kini menjadi wadah politik bagi puak Melayu di Malaysia.

Gombak dan Setapak juga menjadi basis utama para perantau Minang di Kuala Lumpur. Kampung Changkat di distrik Gombak, merupakan tempat bermukimnya banyak perantau asal Pariaman. Kampung ini pertama kali dibuka pada dasawarsa 1880-an oleh Maha Raja Ula Haji Mohammad Arshad atau yang dikenal dengan Datuk Kuning. Tak jauh dari situ, ada pula Kampung Simpang Tiga yang dibuka oleh Datuk Kah, serta Kampung Changkat Kiri dan Kampung Tengah yang merupakan tempat bermukimnya masyarakat Batang Kapas dan Bonjol.

Di Kampung Kuang, masih di kawasan Gombak, kita bisa menjumpai kelompok masyarakat Minangkabau yang datang dari berbagai daerah, di antaranya dari Lubuk Sikaping, Rao, Tambusai, Bonjol, Pariaman, Padang, Batang Kapas, Kerinci, Kampar, Indragiri, dan Kuantan. Namun menurut Farida binti Thalib, dari sekian banyak orang Minang yang bermukim disini, yang terbesar berasal dari Batang Kapas, Pesisir Selatan.

Selain di kota Kuala Lumpur, orang Minang juga meneroka beberapa kawasan di sekitarnya. Salah satunya ialah Serendah di distrik Hulu Selangor, utara Kuala Lumpur. Di sini banyak di antara mereka yang telah beranak-pinak hingga empat generasi. Beberapa kampung di Serendah yang banyak dihuni oleh kaum Minangkabau antara lain Kampung Tuk Pinang dan Kampung Gunung Runtuh. Di kedua kampung itu banyak bermukim masyarakat asal Air Bangis. Di distrik Hulu Selangor banyak pula para pengusaha Minang yang mengusahakan pertambangan timah. Salah satunya ialah Haji Abbas bin Haji Abdul Samad, yang memiliki tujuh hektar tanah di kawasan Pertak.

Ke arah utara Serendah, tepatnya di Kuala Kubu Bharu juga banyak ditemui pemukiman masyarakat Minang. Di antaranya ialah Kampung Kalumpang dan Pekan Kalumpang yang ramai dihuni oleh masyarakat asal Rao. Di Kuala Kubu Bharu terdapat pula Kampung Gumut dan Kampung Sejantung. Jika Kampung Sejantung diteroka oleh Haji Said asal Kampar, maka Kampung Gumut dibuka oleh Panglima Kanan dan Haji Shahabudin asal Rao, Pasaman. Menurut Dzulkifli Datuk Haji Buyong dalam Sejarah Kalumpang: Riwayat, Keturunan, dan Tokoh (1883-2003), dinyatakan bahwa Panglima Kanan bersama Khatib Yunus telah membantu Mat Kilau dalam mempertahankan Selangor dari serangan tentara Inggris. Panglima Kanan yang bernama asli Haji Salam Bin Datuk Berkanun, sebelumnya juga pernah membantu Sultan Selangor dalam mengamankan Sabak Bernam dari serangan bajak laut, serta membunuh panglima Pahang saat terjadi Perang Pahang-Selangor.

Di Hulu Langat, sebelah tenggara Kuala Lumpur, banyak pula perantau Minang yang membuka pemukiman. Sebagian besar mereka berada di kawasan Kajang, Ulu Langat, Ulu Semenyih, Semenyih, Beranang, dan Cheras. Menurut catatan David Radcliffe, di abad ke-19 tak kurang dari 80% masyarakat Hulu Langat berasal dari Sumatera yang sebagian besarnya adalah orang Minangkabau. Ada beberapa catatan Selangor Journal (28 Mei 1897) yang bisa kita ambil sebagai bahan rujukan mengenai pembukaan awal kawasan Hulu Langat.

Dari jurnal tersebut tertera bahwa kawasan Cheras telah dibuka pada tahun 1857 oleh Khatib Rawi asal Rembau, Negeri Sembilan. Namun menurut keterangan Yap Wei Kiong, kawasan Cheras baru diteroka pada dekade 1870-an oleh lima orang tokoh yang datang langsung dari ranah Minang. Mereka adalah Abdul Rashid bin Haji Abdul Wahab, Haji Talib bin Ngah, Said Yahya, Ahmad Kerling, dan Haji Dahlan.

Pada tahun 1864 di Beranang ada pula kampung yang dibuka oleh peneroka asal Rembau, Negeri Sembilan dan yang langsung datang dari Minangkabau. Untuk membedakannya maka kampung itu dinamai Kampung Sesapan Bukit Rembau dan Kampung Sesapan Bukit Minangkabau.

Adat Istiadat yang Tak Lekang

Melihat banyaknya “perkampungan Minang” di Kuala Lumpur dan sekitarnya, kita bisa berkesimpulan bahwa selain Negeri Sembilan dan utara Malaka, kawasan tersebut juga merupakan koloni utama orang Minang di Semenanjung. Namun berbeda dengan masyarakat Negeri Sembilan yang masih menjalankan Adat Perpatih dalam kesehariannya, di Kuala Lumpur hampir sebagian besar mereka tak lagi menjalankan adat tersebut. Padahal jika kita melihat pertautan mereka dengan ranah Minang, perantau di Kuala Lumpur masih menjalin keakraban dengan karib keluarga mereka di Sumatera. Ini berbanding terbalik dengan kondisi masyarakat Negeri Sembilan yang telah kehilangan kontak dengan sanak saudara mereka di Payakumbuh atau Batusangkar. Tetapi mengapa justru perantau yang datang terakhir inilah yang tak lagi mengekalkan resam Adat Perpatih. Adakah ini karena dorongan ajaran Islam pasca Perang Paderi, atau karena tak ada lagi pengaruh Pagaruyung terhadap perantauan mereka? Wallahualam bi shawab.

Meski dalam pembagian harta warisan tak dikenal lagi pusaka rendah dan pusaka tinggi, namun sebagian besar masyarakat Minang di kota ini masih menjalankan adat istiadat khas Minangkabau.

Dalam pesta perkawinan misalnya, masih banyak gadis-gadis Minang yang dengan senang hati mengenakan sunting dan baju kurung. Pelaminannya-pun ada yang menggunakan ornamen gonjong dengan warna merah atau kuning sebagai warna khas Minangkabau. Tak ketinggalan ketika menjalani prosesi lamaran, banyak di antara mereka yang masih setia memakai seremoni pasambahan dan manjapuik.

Satu lagi yang menjadi ciri khas orang Minang yang masih terus diamalkan di perantauan ini adalah acara berkumpul-kumpul. Salah satu wadah yang menaungi perkumpulan tersebut ialah Pertubuhan Ikatan Kebajikan Masyarakat Minangkabau Kuala Lumpur. Rencananya organisasi ini akan mendirikan Rumah Gadang di kawasan Gombak, yang nantinya akan berfungsi sebagai sekretariat organisasi.

http://m.kompasiana.com/post/read/733031/1/penghijrahan-orang-minang-ke-kuala-lumpur.html

-o0o-

copy-logominangel.jpg:: Teks di atas betul-betul membangkitkan kebanggaan sebagai orang Minangel, mengingat pernyataan di atas dibuat oleh orang non-minangel – yang berarti mempunyai nilai objektivitasnya. Syukur alhamdulillah.

Dan bagian yang paling membanggakan adalah pada paragraf ini,

Berdirinya pusat kolonial British di Kuala Lumpur pada tahun 1874, juga menjadi daya tarik tersendiri. Sebab pada masa itu pemerintah Inggris membutuhkan tenaga-tenaga terdidik untuk mengurus administrasi Kerajaan. Dan salah satu kelompok etnis yang paling siap mengambil peluang itu adalah kaum Minangkabau.

Paragraf ini menulis bahwa suku yang paling siap menjawab kebutuhan Inggris adalah rumpun-suku Minangkabau. Hal ini dapat diartikan, bahwa pada masa tersebut, kebanyakan orang dari rumpun-suku Minangkabau adalah terdidik alias intelek. Tentunya hal ini bersempadan dengan kenyataan di tempat lain yang telah banyak di-ekspos di berbagai media, khususnya media internet, bahwa orang dari rumpun-suku Minangkabau memang terdidik. Itulah sebabnya sudah sejak dari dahulu orang Minang telah mengambil posisi terdepan di dalam hal intelektualitas, seperti menjadi ulama, politikus, pengajar, filsuf, sastrawan, dsb.

Mudah-mudahan seluruh orang Minangel dapat mempertahankan reputasi unggul seperti yang dipaparkan di atas, dan juga yang terpenting dapat membuktikan reputasi tersebut dengan karya nyata untuk seluruh bangsa Indonesia yang permai ini. Amin.

Kontribusi Minangkabau Terhadap Malaysia

semenanjungTerlepas dari persoalan kontemporer multi-aspek antara Indonesia dan Malaysia, ikatan sejarah antara dua negara sebenarnya lebih kompleks dari sekedar beda penjajah. Dari segi etnis, bangsa bumiputera atau Melayu Malaysia sebenarnya tidaklah homogen, tapi dibentuk dari berbagai unsur. Salah satu unsur tersebut adalah suku-suku bangsa di Nusantara, di antaranya suku Minangkabau, Jawa, Bugis, Aceh, Banjar, Kerinci, Mandahiling dan Bawean.

Dalam sejarah, keberadaan orang Minangkabau di Malaysia berkaitan dengan kebiasaan merantau suku bangsa ini keluar daerah, baik dalam rangka dagang, mencari ilmu, petualangan atau karena konflik dalam satu atau lain bentuk, semisal Perang Paderi dan PRRI. Orang-orang Minangkabau diperkirakan hijrah ke semenanjung Malaya mulai pada abad ke-15 Masehi (tahun 1400an).

Setidaknya ada dua kontribusi orang Minangkabau di Malaysia, jika kita melihat pada sejarah masa lalu,

  • Yang pertama yakni menjadi salah satu unsur etnis pribumi,
  • Dan kedua dari segi sumbangan kebudayaan dan pemikiran.

Kontribusi yang pertama paling jelas di salah satu negara bagian Malaysia, yakni Negeri Sembilan. Bahasa yang digunakan di sana dapat dipandang sebagai salah satu dialek Minangkabau, dengan pengaruh Melayu Malaysia yang kental. Adat yang dijalankan di sana pun bersumber dari Minangkabau, disebut Adat Perpatih. Demikian juga arsitektur, aneka macam masakan, kesenian dan kesusastraan (pribahasa, pantun, dan sebagainya) jelas menunjukkan orang-orang Minangkabau di sana berusaha mempertahankan tradisinya walaupun sudah di rantau orang.

Nicholas N. Dodge (Population Studies Vol. 34 No. 3: 1980) yang menulis artikel tentang populasi semenanjung Malaya pada abad ke-19, mengatakan adanya hijrah besar-besaran orang Minangkabau pada masa lampau terutama ke wilayah yang sekarang disebut Kerajaan Negeri Sembilan, Kerajaan Selangor dan Kerajaan Johor. Dodge juga mengutip seorang sarjana Inggris, Crawfurd, yang pada 1856 mengatakan bahwa banyak orang Melayu yang civilized di semenanjung Malaya mengatakan asal-usul mereka dari Sumatera dan Minangkabau.

Ada beberapa daerah di Minangkabau yang secara khusus telah menyebar ke berbagai daerah di Malaysia, yang paling jelas yaitu daerah Rao (Rawa) di Pasaman. Diperkirakan sekarang ini ada sekitar 150.000 keturunan Rao di Malaysia. Orang-orang Rao hijrah ke Malaya dimulai pada abad 15, dan terutama pada Perang Paderi. Sejumlah tokoh keturunan Rao telah memainkan peran penting sepanjang sejarah Malaysia, baik sebagai tokoh politik, ulama, cendekiawan dan militer.

Di antara tokoh Rao yang terkenal di sana yaitu Mat Kilau (1865-1970), pendekar dan pahlawan terkenal Malaysia, Syekh Muhammad Murid Rawa dan Haji Yusuf Rawa (1922-2000) (pernah menjadi duta besar Malaysia untuk PBB, Turki, Afghanistan dan sebagainya). Sekarang ini bahkan sejumlah keturunan Rao di Malaysia bergiat mencari silsilah mereka. Aktivitas mereka di antaranya dapat dilihat dalam situs terombarawa.blogspot.com dan jaro.com.my.

Di samping ada daerah-daerah di Malaysia yang namanya mirip dengan daerah di Minangkabau (seperti Ampang, Sungai Cincin, Gombak), bekas tangan orang Minangkabau juga diakui, salah satunya dalam membentuk Kuala Lumpur dari awal-awal perkembangannya pada abad 19.

Pada masa awal perkembangan kota itu, banyak orang Minangkabau yang menjadi pedagang kaya. Banyaknya orang Minangkabau juga membuat mereka mendirikan mesjid yang disebut Masjid Minangkabau. Ketika itu hanya ada dua mesjid di Kuala Lumpur, yakni Masjid Minangkabau dan Masjid Malaka, sehingga tak heranlah jika yang dipandang sebagai imam, khatib dan kadi Kuala Lumpur yang pertama adalah seorang ulama tarekat Naqshbandiah asal Tanah Datar, bernama Haji Utsman bin Abdullah (1850-1919).

Dari segi sumbangan kebudayaan dan pemikiran, salah satu yang tampak adalah kesusastraan, terutama pantun. Ada pendapat yang mengatakan bahwa asal muasal pantun yang berkembang di semenanjung Malaya adalah dari Minangkabau (Xu You Nian Revue de literature compare 60 (2): 1986). Apabila kita ambil beberapa contoh dari pantun yang berkembang di Malaysia memang kita menangkap ada nuansa Minangkabau di sana. Misalnya pada pantun:

Ayam jantan si ayam jalak.

Jaguh Siantan nama diberi.

Rezeki tidak saya tolak.

Musuh tidak saya cari.

Juga dalam pantun:

permata jatoh di rumput

jatoh di rumput gilang

Kasih umpama embun di hujung rumput

datang matahari hilang

Bandingkan dengan:

parmato jatuah ka rumpuik

jatuah ka rumpuik sibilang-bilang

sungguah di mato alah lupuik

tapi di hati takkan hilang.

Meskipun asal muasal pantun dari Minangkabau masih belum dipastikan secara ilmiah, tapi bukti bahwa sebagian pantun di sana ada padanannya dengan yang dikenal di Minangkabau membuktikan adanya pengaruh. Pengaruh ini taklah mengherankan mengingat terdapatnya komunitas orang Minangkabau di Malaysia dan sebagian memainkan peran penting terutama di masa lalu.

Hal terpenting lainnya yang disumbangkan oleh orang-orang Minangkabau dalam sejarah Malaysia adalah bidang agama. Ulama-ulama asal Minangkabau merupakan ulama yang dihormati di semenanjung Malaya. Beberapa di antara mereka pernah menduduki kedudukan tinggi dalam sejumlah kerajaan di sana. Misalnya,

  • Jabatan Syaikh al-Islam (mufti) Kerajaan Perak pernah dipegang oleh Syekh Muhammad Saleh al-Minangkabawy (wafat 1925) dan Syekh Muhammad Zain Simabur (wafat 1957).
  • Syekh Thahir Djalaluddin al-Falaki (1869-1956), ulama kenamaan asal Ampek Angkek, berkiprah luas sebagai reformis Islam di Malaysia, terutama di Kerajaan Perak, Kerajaan Johor dan Singapura.
  • Pada masa lebih awal, Syekh Ismail al-Minangkabawy (pembawa tarekat Naqshbandiah Khalidiah ke Nusantara) juga memainkan peranan besar dalam menyebarkan tarekat tersebut ke Malaya, di antaranya Kerajaan Melaka, Kerajaan Kedah dan Kerajaan Perak.
  • Banyak juga ulama Minangkabau sebelum pulang ke daerah asal mereka dari kota Hijaz menjadi pengajar agama beberapa waktu di sana, misalnya Syekh Abdurrahman Kumango dan Syekh Muhammad Silungkang.

Satu hal lain yang menarik adalah pada waktu dulu di Malaysia juga terjadi apa yang disebut perselisihan antara kaum tua dan kaum muda. Pertikaian itu ibarat gema dari apa yang terjadi di Minangkabau pada waktu yang sama dan juga orang-orang Minangkabau sendiri yang banyak memainkan peran. Ulama kaum tua terutama adalah ulama tarekat yang sebagian disebarkan oleh ulama-ulama asal Minangkabau. Sementara, kaum muda diilhami oleh Syekh Thahir Djalaluddin al-Falaki dengan majalah al-Imam-nya yang terbit di Singapura. Perselisihan ini misalnya membuat kaum tua menghalangi pencalonan beliau yang disebut terakhir ini sebagai mufti Kerajaan Perak.

Segi yang lain yang tak ragu lagi sebagai pengaruh Minangkabau di Malaysia adalah silat Minangkabau. Di antara aliran-aliran yang dipengaruhi misalnya silat pengian, silat harimau, silat cekak, silat sendeng, dan sebagainya yang pernah penulis sebut dalam artikel pada Singgalang, 2 Oktober 2010.

Yang disampaikan di atas hanya sebagian saja dari pengaruh yang ditanamkan oleh orang-orang Minangkabau di Malaysia, terutama semenanjung Malaya. Hal tersebut juga diakui oleh orang-orang Malaysia sendiri, dan bahkan sebagian keturunan Minangkabau di sana masih merasa bangga dengan tanah asal mereka.

Akan tetapi, sayangnya jika mereka melihat sendiri keadaan di Minangkabau sekarang, bahwa kita sedang berusaha menciptakan masyarakat yang beradat dan beragama, sementara satu saja dari dua hal itu masih jauh panggang dari api, maka mereka tentu hanya akan mengalami nostalgia bersama kita.***

Catatan:

Dimuat dalam harian Singgalang pada Senin, 1 November 2010.

Sumber,

http://novelmusda.blogdetik.com/2011/05/11/kontribusi-minangkabau-terhadap-malaysia/

copy-logominangel.jpg:: Teks di atas betul-betul membangkitkan kebanggaan sebagai orang Minangel, mengingat pernyataan di atas dibuat oleh orang non-minangel – yang berarti mempunyai nilai objektivitasnya. Syukur alhamdulillah.

Mudah-mudahan seluruh orang Minangel dapat mempertahankan reputasi unggul seperti yang dipaparkan di atas, dan juga yang terpenting dapat membuktikan reputasi tersebut dengan karya nyata untuk seluruh bangsa Indonesia yang permai ini. Amin.