Kincir Air Di Minangkabau Dan Originalitasnya

kincir-air-di-minangel

Kamis, tanggal 23 Juli 1818, danau Singkarak tampak tenang dan damai. Airnya dimanfaatkan untuk kepentingan penduduk. Sekitar 50 yard (kurang lebih 45 meter) dari hulu sungai (Batang) Kuantan, kincir air yang kokoh digunakan untuk mengairi sawah didekatnya. Kincir-kincir air ini bahan utamanya dari bamboo, dan memang dibuat untuk mengairi sawah.

Kincir air ini umum digunakan di Menangkabu (Minangkabau), dan dapat dianggap sebagai kemajuan dalam bercocok-tanam yang bahkan belum dicapai oleh Jawa, meskipun Jawa memiliki hubungan dengan Cina sejak lama. Mengingat bangsa Eropa maupun Cina belum pernah menginjakkan kaki di tanah Minangkabu dan selama berabad-abad penduduk pribumi Minangkabau tidak pernah berintegrasi dengan orang-orang asing, kincir-kincir air ini dapat dianggap sebagai penemuan asli orang pribumi Minangkabau. Seingat saya (Raffles), tidak pernah melihat kincir air sejenis ini di Jawa.

Sumber,

https://lizenhs.wordpress.com/2013/09/11/sir-t-s-raffles-di-peralaman-minangkabau-kincir-air-bercocoktanam-dan-penggilingan-tebu/

logominangelMinangel,

Artikel di atas, yang menginformasikan keberadaan kincir-air di Ranah Minangkabau berdasarkan kesaksian Raffles, benar-benar menjadi satu dari sekian bukti akan kemajuan dan keterampilan persukuan Minangkabau khususnya dalam hal teknologi.

Dalam tulisannya, bahkan Raffles menegaskan bahwa kincir-air yang ia lihat di Ranah Minangkabau benar-benar merupakan karya original persukuan Minangkabau, jadi bukan hasil dari adaptasi atau meniru-niru dari bangsa lain. Hal ini jelas menunjukkan kemurnian persukuan Minangkabau dalam hal kincir-air. Intinya, dari sekian banyak persukuan di Nusantara bahkan di Asia Tenggara, ternyata hanya masyarakat persukuan Minangkabau sajalah yang menemui akalnya untuk membangun kincir-air yang memanfaatkan tenaga air yang tiada habis-habisnya.

Sebagai perbandingan, kincir-air merupakan kelumrahan di Negara-negara Eropa khususnya Belanda. Bukankah hal ini menunjukkan bahwa masyarakat persukuan Minangkabau, pada beberapa level, mempunyai alur pemikiran dan citarasa yang kurang lebih sama dengan masyarakat Eropa?

Pada akhirnya, marilah kita berharap semoga kincir-air yang merupakan karya asli masyarakat persukuan Minangkabau, dapat lebih diberdayagunakan untuk kemaslahatan umat. Amin.

Advertisements

Keris Indonesia Adalah Berasal Dari Minangkabau

kerisawalKeris adalah budaya khas Indonesia, dan merupakan kebudayaan Indonesia asli yang sangat membanggakan. Keris sangat diagungkan di Indonesia, khususnya Indonesia bagian barat dan bagian tengah, bahkan juga diagungkan di Filiphina, Brunei dan Thailand. Dan jelas sekali, semua keris yang tersebar di Asia Tenggara tersebut, pastilah berasal dari Indonesia. Majapahit dianggap sebagai kekuatan yang menyebarkan tradisi keris ini ke seluruh Asia Tenggara.

Lembaga PBB telah mentahbiskan keris Indonesia sebagai warisan budaya yang harus dijaga. Ini berarti keberadaan keris sudah diapresiasi oleh dunia, dan menilainya sebagai suatu mahakarya yang agung di dunia, yang berasal dari Indonesia.

Sungguh pun demikian, para ahli sampai sekarang belum sampai pada kesepakatan mengenai asal mula keris ini, karena ketiadaan sumber sejarah mengenai hal ini. Para ahli hanya dapat menduga-duga mengenai asal mula keris ini, dan itu pun tidak memuaskan. Dari berbagai pages di internet mengenai sejarah dan asal mula keris Indonesia ini, tidak ada satu pun yang dapat mengemukakan asal mula keris.

Blogsite Minangel mempunyai pandangan lain mengenai asal mula keris di Indonesia ini, karena menurut hemat Minangel, terdapat satu sumber ilmiah yang dapat dijadikan argumentasi mengenai asal mula keris.

Artikel wikipedia mengenai Kerajaan Kandis, pada salah satu paragrafnya tertulis kalimat,

“ ………… Maharaja Diraja, pendiri kerajaan ini, sesampainya di Bukit Bakau membangun istana yang megah yang dinamakan Istana Dhamna. Putra nya Maharaja Diraja bernama Darmaswara bergelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal (lebih akrab dipanggil).

Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran yaitu keris berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih dipegang oleh Danial gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo. Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri yang bernama Bunda Pertiwi. Bunda Pertiwi bersaudara dengan Bunda Darah Putih. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu ……”, demikian wikipedia.

Menurut paparan wikipedia ini, pada abad pertama Sebelum Masehi telah berdiri Kerajaan Kandis di seputar Kuantan, Riau. Dilihat dari nama tokoh-tokoh Kerajaan ini dan hal lainnya, dapat dipastikan bahwa Kerajaan ini merupakan Kerajaan berdarah Minangkabau (untuk lebih lanjut mengenai status keminangan dari Kerajaan ini, silahkan baca artikel “Kerajaan Minangkabau Adalah Kerajaan Pertama NKRI”).

Lebih lanjut, wikipedia menulis bahwa sang raja dari Kerajaan Kandis mempunyai senjata kebesaran berupa keris yang berhulu kepala burung garuda. Ini menunjukkan, bahwa pada abad pertama sebelum Masehi, orang Minangkabau sudah mengenal dan menciptakan keris, dan memperlakukan keris sebagai sesuatu yang sangat ber-estetika (agung dan megah).

Kisah / paparan ini mengandung makna bahwa keris yang merupakan pusaka Indonesia sebenarnya berasal dari Minangkabau, terlihat dari kepemilikan raja dari Kerajaan Kandis ini atas keris, dan lengkap dengan perlakuan agung sang raja atas keris tersebut sebagai senjata kebesaran. Dengan demikian berarti keris sebagai pusaka Indonesia sudah tercipta di Minangkabau pada abad pertama sebelum Masehi.

Kalau disepakati bahwa tidak ada kerajaan lain yang mendahului eksistensi Kerajaan Kandis ini, maka praktis ini berarti bahwa keris pertama kali dikenal dan diciptakan oleh masyarakat Minangkabau. Dan dari Minangkabau inilah kemudian tradisi keris ini diadopsi oleh masyarakat lain di Indonesia bahkan Asia Tenggara.

Pada tahun 640an telah berdiri Kerajaan Minanga di Sumatera Tengah, yang mana Kerajaan ini juga merupakan Kerajaan Minangkabau (karena minimal bertapak di Sumatera Tengah, Minangkabau juga bertapak di Sumatera Tengah). Maka sudah pasti Kerajaan ini meneruskan tradisi keris yang telah dimulai oleh Kerajaan Kandis. Kemudian tidak lama, yaitu pada tahun 680-an berdiri Kerajaan Sriwijaya yang juga merupakan Kerajaan bersuku Minangkabau (baca Borobudur Adalah Warisan Minangkabau). Maka pastilah tradisi keris ini juga dipelihara, diteruskan dan dikembangkan oleh Kerajaan Sriwijaya.

Sejarah mencatat bahwa bangsawan Kerajaan Sriwijaya mendirikan kerajaan lain di tanah Jawa, seperti Kerajaan Mataram Kuno (yang kelak membangun Candi Borobudur, untuk lebih lanjut mengenai hubungan Borobudur dengan Minangkabau, baca Rumahgadang Minangkabau Dalam Relief Borobudur). Dengan demikian sudah dapat dipastikan bahwa Kerajaan Mataram Kuno ini juga melanjutkan dan mengembangkan tradisi keris ini di tanah Jawa, yang langkah awalnya dilakukan oleh Raja Minangkabau di Kerajaan Kandis pada abad pertama sebelum Masehi. Maka jadilah keris menyebar ke seluruh Nusantara dengan seluruh kemegahan dan keagungannya, seperti yang kita jiwai sekarang ini.

runutkeris

Keris Minangkabau dan Relief Candi Borobudur.

Candi Borobudur adalah Candi terbesar di dunia, yang merupakan Candi Buddha dan terletak di Jawa. Melalui beberapa penelaahan yang dapat dipertanggungjawabkan, dapat disimpulkan bahwa Candi Borobudur ini merupakan mahakarya masyarakat Minangkabau. Dengan kata lain, masyarakat Minangkabau adalah pemilik sah atas Candi Borobudur. Untuk lebih jauh mengenai hal ini, silahkan dibaca:

Kedua artikel tersebut dapat memberi pemahaman bahwa Candi Borobudur merupakan Candi peninggalan masyarakat Minangkabau, karena hal tersebut disokong oleh bukti dan argumentasi yang kuat dan ilmiah.

Berikutnya, patut juga untuk dipaparkan di sini bahwa pada relief Candi Buddha terbesar ini terdapat lukisan yang menggambarkan senjata keris. Tentunya hal tersebut bukanlah suatu kebetulan. Hal ini memberi satu bukti tambahan, bahwa keris memang berasal dan hasil olah-fikir masyarakat Minangkabau. Kalau Candi Borobudur merupakan hasil karya masyarakat Minangkabau, maka mau-tidak-mau panel relief yang menggambarkan keris juga berarti milik dan hasil kreativitas masyarakat Minangkabau.

Logikanya saja, kalau keris bukan hasil intelektual masyarakat Minangkabau –melainkan milik bangsa lain, maka mengapa masyarakat Minangkabau (yang membangun Candi Borobudur tersebut) melukiskan keris pada salah satu relief Candi Borobudur-nya?

Borobudur_Keris

Citra keris awal di Lembah Besemah

Terdapat suatu paragraf pada suatu situs yang menyatakan bahwa bentuk awal keris sebenarnya sudah ditemukan di Lembah Besemah, Sumatera Selatan. Demikian tulis paragraf tersebut,

** Sejarah mengenai pemakaian keris telah ada sejak zaman dahulu kala. Itu bisa diperkirakan dari prasasti-prasasti ataupun kitab serta pahatan arca di candi peninggalan Kerajaaan Hindu-Buddha Indonesia zaman dahulu. Yang paling menyerupai keris adalah peninggalan megalitikum dari lembah Basemah Lahat, Sumatera Selatan dari abad 10-5 SM yang menggambarkan kesatria sedang menunggang gajah dengan membawa senjata tikam (belati) sejenis dengan keris, hanya saja kecondongan bilah bukan terhadap ganja melainkan mempunyai kecondongan (derajat kemiringan) terhadap hulunya.

Selain itu satu panel relief Candi Borobudur (abad ke-9)  memperlihatkan seseorang memegang benda serupa keris tetapi belum memiliki derajat kecondongan -dan hulu / dedernya masih menyatu dengan bilah. **

Sumber, http://berbagaisejarahdidunia.blogspot.co.id/2013/03/sejarah-keris-indonesia.html?m=1

Paragraf ini mengetengahkan adanya suatu penemuan yang terdapat di Lembah Besemah yang berasal dari abad 10 – 5 SM yang melukiskan citra sesuatu yang ‘menyerupai’ keris. Apakah penemuan ini dapat dijadikan klaim atau bukti, bahwa keris berasal dari Lembah Besemah?

Kalau sejak awal diutarakan bahwa klaim permulaan keris terdapat pada Kerajaan Kandis (Kerajaan Minangkabau) yang berangka abad pertama sebelum Masehi, maka tentunya penemuan di Lembah Besemah mengenai keris ini adalah jauh lebih awal, yaitu abad 10 – 5 SM, yang mana ini berarti klaim permulaan keris justru terdapat di Lembah Besemah.

Minangel mempunyai pandangan lain. Apa yang ditemukan di Lembah Besemah, yang berasal dari abad 10 – 5 SM, sebenarnya tidak dapat dijadikan dasar awal perkerisan Indonesia, karena apa yang diperlihatkan pada Lembah Besemah tersebut adalah sesuatu hal ‘yang menyerupai keris’. Menyerupai keris, bukanlah keris itu sendiri. Dan pada dasarnya, senjata genggam apa pun yang ada di tengah masyarakat dapat saja diklaim sebagai awal keris, atau menyerupai keris, namun tetap pada akhirnya hal tersebut tidak dapat diperkatakan sebagai keris itu sendiri.

Di lain pihak, paparan yang disajikan wikipedia mengenai Kerajaan Kandis, jelas-jelas menuliskan kata keris (bukan ‘menyerupai’ keris), yang merupakan senjata kebesaran penguasa Kerajaan Kandis. Maka dari itu klaim asal mula keris hanya dapat diberikan kepada Kerajaan Kandis yang merupakan kerajaan Minangkabau.

Penutup.

Bukti-bukti sudah cukup memuaskan, bahwa senjata genggam yang berupa keris, yang merupakan mahakarya agung bangsa Indonesia, sebenarnya berasal dan mempunyai rahim pada masyarakat Minangkabau, tepatnya pada abad pertama sebelum Masehi, yaitu pada masa berdirinya Kerajaan Kandis di Kuantan. Sama halnya dengan kerambit yang merupakan senjata mendunia yang berasal dari masyarakat Minangkabau, maka keris (atau karih, di dalam bahasa Minangkabau) juga berasal dari masyarakat Minangkabau.

Wallahu a’lam bishawab.

Kerajaan Minangkabau Adalah Kerajaan Pertama NKRI

kerajaankandis

Minangkabau adalah masyarakat yang paling berbangga di dalam NKRI, karena kerajaan pertama yang bangkit di dalam NKRI merupakan kerajaan berdarah Minangkabau, yaitu Kerajaan Kandis, yang eksis dan bersemi pada abad pertama sebelum Masehi (SM), bertapak di derah yang sekarang bernama Kuantan. Berikut paparan yang berasal dari wikipedia.

Kerajaan Kandis

Kerajaan Kandis adalah kerajaan tertua yang berdiri di Sumatera, yang terletak di Koto Alang, masuk wilayah Lubuk Jambi, Kuantan, Riau.

Sejarah

Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada 1 tahun Sebelum Masehi, mendahului berdirinya Kerajaan Moloyou atau Dharmasraya di Sumatera Tengah. Dua tokoh yang sering disebut sebagai raja kerajaan ini adalah Patih dan Tumenggung.

Maharaja Diraja, pendiri kerajaan ini, sesampainya di Bukit Bakau membangun istana yang megah yang dinamakan Istana Dhamna. Putra nya Maharaja Diraja bernama Darmaswara bergelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal (lebih akrab dipanggil).

Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran yaitu keris berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih dipegang oleh Danial gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo. Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri yang bernama Bunda Pertiwi. Bunda Pertiwi bersaudara dengan Bunda Darah Putih. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu.

Setelah Maharaja Diraja wafat, Datuk Rajo Tunggal menjadi Raja di Kerajaan Kandis. Bunda Darah Putih dipersunting oleh Datuk Bandaro Hitam. Lambang kerajaan Kandis adalah sepasang bunga raya berwarna merah dan putih.

Ekonomi Kerajaan

Kehidupan ekonomi Kerajaan Kandis adalah hasil hutan seperti damar, rotan, dan sarang burung layang-layang, dan hasil bumi seperti emas dan perak. Daerah Kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Rajo Tunggal memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal dengan Tambang Titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan Titah Raja. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan Tambang Titah.

Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Melayu oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat.

Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Menteri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan cerita Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Semenanjung Melayu.

Dt. Rajo Tunggal memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain di antaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah Kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.

Berdirinya Kerajaan Kancil Putih dan Kerajaan Koto Alang

Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak / Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).

Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi Kerajaan Kancil Putih, setelah itu Kerajaan Kandis memerangi Kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi.

Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Marapi (Sumatera Barat) di mana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan.

Tidak lama kemudian, pembesar-pembesar Kerajaan Kandis mati terbunuh diserang oleh Raja Sintong dari Cina Belakang, dengan ekspedisinya dikenal dengan Ekspedisi Sintong. Tempat berlabuhnya kapal Raja Sintong, dinamakan dengan Sintonga. Setelah mengalahkan Kerajaan Kandis, Raja Sintong beserta prajuritnya melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah kalah perang pemuka Kerajaan Kandis berkumpul di Bukit Bakar. Karena cemas akan serangan musuh, mereka sepakat untuk menyembunyikan Istana Dhamna dengan melakukan sumpah. Sejak itulah Istana Dhamna hilang, dan mereka memindahkan pusat kerajaan Kandis ke Dusun Tuo (Teluk Kuantan sekarang).

-o0o-

Artikel wikipedia di atas mengisahkan Kerajaan Kandis yang berdiri di Sumatera Tengah, tepatnya di Kuantan, Riau sekarang, pada abad pertama sebelum Masehi. Dengan ditetapkannya abad pertama sebelum Masehi bagi berdirinya Kerajaan Kandis ini, maka praktis kerajaan ini menjadi kerajaan pertama yang bangkit di NKRI, karena sebelum Kerajaan Kandis, belum pernah tercatat ada kerajaan yang mendahului Kerajaan Kandis ini.

Sebagai perbandingan, Kerajaan Kutai berdiri pada abad IV, alias pada tahun 300an Masehi. Sementara itu, Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad VII, alias pada tahun 600an Masehi. Majapahit pada abad XIV alias pada tahun 1300an. Kerajaan Singasari berdiri pada abad XIII alias pada tahun 1200an. Kerajaan Salakanagara berdiri di Tanah Sunda pada tahun 130 Masehi.

Jadi, Kerajaan Kandis adalah 400 tahun lebih awal dari Kerajaan Kutai di Kalimantan.

Perlu dikemukakan di sini, bahwa sebenarnya kerajaan ini lebih tepat dikatakan sebagai Kerajaan Riau (bukan Kerajaan Minangkabau), karena bertapak di Provinsi Riau sekarang: Kuantan adalah nama derah di dalam Provinsi Riau. Namun mengapa Kerajaan Kandis diperkatakan sebagai Kerajaan Minangkabau? Ada beberapa alasan.

  1. Di dalam artikel wikipedia tersebut yang melaporkan Kerajaan Kandis ini, penyebutan nama-nama tokoh Kerajaan Kandis bergenre bahasa Minangkabau, seperti Datuak, Bagindo, Rajo, Mangkuto, dsb. Ini merupakan indikasi bahwa kerajaan tersebut merupakan kerajaan yang bersuku Minangkabau. Kalau memang benar bahwa Kerajaan Kandis merupakan Kerajaan non-Minangkabau (melainkan Melayu biasa) maka mestilah nama tokoh-tokohnya bergenre bahasa Melayu biasa.
  2. Biar bagaimana pun, secara peta, Kuantan sebagai tempat bertapaknya Kerajaan Kandis ini, sangat dekat dengan Minangkabau versi Sumatera Barat. Dapat dikatakan bahwa Kuantan praktis berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat.
  3. Dua tokoh fenomenal pada Kerajaan Kandis ini, ‘berpulang’ ke ranah Minangkabau (yaitu ke lereng Gunung Merapi), yaitu Datuak Perpatih Nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan. Ini menandakan bahwa Kerajaan Kandis sebenarnya Kerajaan Minangkabau, karena terbukti dari dua tokohnya yang berpulang ke Minangkabau. Logikanya, kalau kedua tokoh tersebut bukan orang Minangkabau, maka mengapa mereka pulang ke ranah Minangkabau?
  4. Pembedaan antara Minangkabau dengan Riau sekarang ini, sebenarnya adalah konsepsi yang diberlakukan Pemerintah NKRI ini, yang ‘mencukupkan’ Alam Minangkabau hanya pada Provinsi Sumatera Barat. Sebenarnya Minangkabau merupakan kebudayaan yang meliputi Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu bahkan Mandailing. Melalui pendekatan ini, maka jelaslah bahwa Riau, atau juga Kuantan, adalah Minangkabau juga. Maka dari itu, Kerajaan Kandis adalah Kerajaan Minangkabau.

Berdasarkan beberapa alasan / latar belakang tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Kandis merupakan kerajaan berdarah Minangkabau, dan kesimpulan ini sebenarnya ‘bernada sama’ dengan megahnya marwah Minangkabau di Tatar Nusantara, di mana sama diketahui bahwa masyarakat Minangkabau merupakan masyarakat yang menonjol di dalam satu dan beberapa bidang, seperti bidang politik, ekonomi, intelektual, agama dsb. Dengan kata lain, kalau kita mengajukan klaim bahwa Kerajaan Kandis merupakan kerajaan bersuku Minangkabau, maka sebenarnya hal tersebut adalah wajar, karena masyarakat Minangkabau mempunyai latar belakang yang positif (mendukung) untuk klaim itu.

Pada akhirnya, sungguh masyarakat Minangkabau patut berbangga karena leluhur mereka, pada abad pertama sebelum Masehi telah tampil ke muka untuk mendirikan kerajaan yang kelak menjadi kerajaan pertama di Nusantara, ketika bumi dan tempat lain di Nusantara ini masih tertidur di dalam buaian Alam Semesta.

Semoga paparan Minangel ini menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Minangkabau untuk berkarya lebih giat lagi demi memajukan Alam Nusantara yang permai ini. Amin.

Minangkabau Adalah Kiblat Nusantara Benarkah?

W

pedas cabe

Minangkabau adalah suatu daerah yang terdapat di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang tepatnya terletak di tengah Sumatera, merupakan salah satu suku bangsa yang dimiliki bangsa Indonesia, dan juga salah satu lingkungan budaya yang mekar bersama lingkungan budaya lainnya.

Namun sungguh pun begitu, rasanya tidak berlebihan jika dikatakan, bahwa untuk satu dan beberapa hal, budaya Minangkabau tampaknya telah menjadi kiblat bagi Nusantara. Hal apa sajakah itu? Berikut ulasannya secara singkat.

Pertama. Kuliner.

Aspek yang satu ini sudah jelas, dan sudah mendapat kesepakatan dari berbagai pihak, baik di Nusantara sendiri mau pun di mancanegara. Hidangan yang standar untuk ukuran bangsa Indonesia adalah hidangan Minangkabau, baik untuk menu rendang, telur balado, daun singkong kuah-kuning, dsb, merupakan menu yang berasal dari Minangkabau.

Jelas sekali terlihat, bahwa pada setiap event sosial yang berkelas, maka pastilah hidangan yang disajikan merupakan hidangan Minangkabau, dan terkadang dikombinasikan dengan hidangan dari daerah lain sebagai pelengkap, seperti gado-gado betawi, tempe orek Jawa, dsb. Namun tetaplah yang menjadi ‘pemain utama’ di atas meja hidangan adalah hidangan Minangkabau.

Hidangan nasi-kotak yang biasa dibagi-bagikan kepada publik, umumnya mengusung hidangan Minangkabau ini, seperti rendang, ayam goreng balado, sambal-ijo, dsb. Jadi kalau terdapat nasi-kotak yang tidak mengusung hidangan Minangkabau, pasti hidangan nasi-kotak tersebut dipandang sebelah mata. Tidak nendang rasanya, itu kata mereka, kalau nasi-kotak yang mereka peroleh tidak mengusung hidangan Minangkabau.

Hal ini membuktikan, bahwa kuliner Minangkabau secara alamiah sudah ditabalkan sebagai kiblat kuliner nusantara.

Kedua. Hidangan bebek.

Sekarang ini, sekitaran tahun 2016an, tampaknya hidangan daging bebek telah menggejala / menjadi trend di mana-mana. Di setiap restoran yang berkelas, sampai pejaja makanan di pinggir jalan, turut menyajikan hidangan daging bebek ini, dan terkhusus lagi daging bebek tersebut disajikan dengan baluran sambal ijo yang menggugah selera siapa saja.

Mari kita perhatikan. Apakah trend hidangan bebek ini sudah menggejala sejak lama? Rasanya tidak. Saya sebagai manusia yang terlahir pada tahun 1971, melihat bahwa pada tahun 70-an, 80-an, 90-an sampai menjelang 2000an, hidangan nasi bebek ini tidak / belum menggejala di tengah masyarakat Indonesia khususnya Jakarta yang beragam suku ini. Masyarakat luas kala itu hanya mengenal daging ayam yang dari kalangan unggas, lain tidak.

Saya punya kisah. Saya ingat sekali, tahun 1990-an awal, uni ipar saya, yang berasal dari Kampung Ngarai Sianok, diminta ayah saya (mertua dari uni ipar) untuk menyajikan hidangan bebek sambal ijo (bahasa Minangkabau-nya: itiak lado ijau), karena hidangan khas kampung Ngarai Sianok adalah bebek sambel ijo tersebut.

Atas permintaan ayah saya tersebut, maka sejurus kemudian uni ipar saya langsung ke dapur dan menyiapkan hidangan itiak lado ijau tersebut untuk hidangan Lebaran yang lezat. Maksud ayah saya adalah, selain ingin mencicipi lezatnya hidangan itiak lado ijau, pun juga supaya nanti para tamu melihat bahwa orang-tua kami mempunyai menantu yang berasal dari Ngarai Sianok.

Yang ingin saya katakan adalah, bahwa pada tahun 1990-an tersebut, hidangan bebek sambel ijo sama sekali tidak menjadi trend di tengah masyarakat kala itu seperti sekarang ini. Oleh karena itu, orang-orang kala itu masih merasa asing dengan hidangan yang satu ini.

Namun sekarang lain lagi kenyataannya, di mana hidangan bebek lado ijau telah menjadi hidangan publik yang paling dicari di mana-mana. Berasal dari manakah trend tersebut, kalau bukan dari ranah Minangkabau?

Tampaknya, ‘bocornya’ tradisi itiak lado ijau milik Kampung Ngarai Sianok ini ke seluruh Indonesia –khususnya Jakarta, mungkin lewat dua jalur. Pertama, dari tayangan kuliner di tivi-tivi Nasional yang, sering meliput hidangan khas dari Minangkabau daerah Ngarai Sianok ini. Kedua, tentunya, juga di berbagai restoran nasipadang yang turut menyajikan itiak lado ijau ini.

Dari kedua jalur itu, publik luas mulai melihat bahwa daging bebek juga nikmat dan pantas untuk dijadikan salah satu menu di meja makan, dan cara penyajiannya tentu saja jadi mengikuti tradisi khas Minangkabau, yaitu disajikan dengan baluran sambal lado ijo.

Kesimpulannya, publik luas secara alamiah telah berkiblat kepada Minangkabau di dalam hal hidangan itiak lado ijau ini. Dengan lain kata, kalau di mana-mana dijumpai hidangan bebek sambel ijo, maka dapat dipastikan bahwa hidangan tersebut berasal dari kearifan suku Minangkabau.

Ketiga. Citarasa pedas dan superpedas.

Siapa orang Indonesia yang tidak suka pedas? Makan mie bakso, makan mie pangsit, makan gado-gado, makan ketoprak, makan pempek, makan mie-rebus, soto mie, dsb, pasti mereka menginginkan hidangan mereka dibubuhi rasa pedas yang menggigit. Mereka makan di warteg pun juga minta untuk diberikan pedas melalui aneka sambel, dan mereka sama sekali tidak protes, kalau hidangan warteg yang mereka santap berasa pedas luar biasa. Itu menandakan bahwa orang Indonesia dengan citarasa pedas sudah menyatu …..

Ada satu hal yang harus diketahui mengenai kecintaan publik Indonesia kepada citarasa pedas ini. Saya adalah manusia yang terlahir tahun 1971, berasal dari suku Minangkabau, asli. Pada tahun 80an, juga 90an, jelas sekali bahwa publik luas (yang berarti siapa saja di luar suku Minangkabau) sangat membenci (atau tepatnya, menjauhi) citarasa pedas ini. Publik luas, yang khususnya berasal dari suku Jawa, betawi dan sunda, begitu menunjukkan ketidaksukaan mereka kepada citarasa yang pedas-pedas. Kerap mereka berkata kepada saya yang kala itu masih bocah, ‘wah kalau orang Padang sukanya yang pedes yaaa?”. Kalimat mereka itu jelas menunjukkan bahwa terdapat dikotomi adalah ‘kita’ dengan ‘mereka’. ‘Kita’ adalah publik yang tidak suka pedas, biasanya orang Jawa, sunda atau betawi, yang makannya selalu berasa manis (baik berasal dari gula pasir mau pun kecap yang dimasukkan ke dalam masakan), dan ‘mereka’, yang merupakan orang Padang yang masakannya terkenal pedas dan suka pedas. Dan kita bukanlah mereka, mereka bukanlah kita. Itu kesan kuat yang saya peroleh kala itu, yang dibedakan dari kesukaannya pada citarasa pedas ini.

Jadi kesimpulannya adalah, sebenarnya publik luas kala itu merasa bahwa citarasa pedas adalah khas milik orang Minangkabau saja, dan seolah citarasa pedas yang khas Minangkabau itu, merupakan adat orang Minangkabau, jadi orang di luar Minangkabau tidak boleh dan tidak usah ikut-ikutan makan pedas. Kalau di dalam agama, sepertinya begini: lakum dinukum waliyadin: pedas adalah milik Minangkabau saja, dan manis milik Jawa sunda betawi saja, jangan ditukar-tukar.

Tapi itu dulu. Sekarang ceritanya sudah lain, tentunya.

Sekarang di mana-mana publik terlihat keranjingan citarasa pedas, seperti yang sudah diungkapkan di atas: pangsit harus pedas, bubur ayam harus pedas, dsb. Makan gorengan pun juga harus pedas, alias si pedagang harus menyediakan cabe rawit.

Saya masih teringat apa yang terjadi ketika sudah terjadi ‘transisi pedas’ publik luas ini, dari yang antipati terhadap selera pedas menuju publik yang keranjingan selera pedas ini. Salah satu dari mereka, yang jelas dari suku Jawa, berkata kepada saya yang asli Minangkabau ini, begini katanya: emang sih orang bilang masakan Padang itu pedes, tapi kamu belum tauk, bahwa masakan kami di Jawa jauh lebih pedes. Masakan Padang pedes-nya belum seberapa kalau dibandingkan dengan pedesnya masakan kami di Jawa.

Saya tercenung dan terdiam seribu-basa demi mendengar kawan Jawa itu berkata kepada saya mengenai yang pedas-pedas. Kata-katanya tidaklah pedas, tentu saja. Namun yang jadi prihatin, lha bukankah pada tahun 80an, 90an dan agak kesini, semua orang di luar Minangkabau antipati terhadap selera pedas? Tidak jarang, kala itu, mereka berkata menghujat, bahwa citarasa pedas itu tidak sehat, bisa merusak kesehatan, mendatangkan sakit perut, buang-buang air besar, dsb. Itu adalah fakta sejarah. Tidak bisa dipungkiri.

Bukankah masakan Jawa, sunda dan betawi terkenal akan rasa manisnya, entah itu berasal dari gulapasir mau pun kecap? Namun sekarang mengapa tiba-tiba publik luar Minangkabau berkata yang seperti demikian? Bahkan, mengapa sekarang terkesan bahwa pedasnya hidangan Minangkabau itu ‘belum seberapa’ dibanding pedasnya hidangan Jawa (sunda atau betawi dsb)? Saya dan siapa pun tidak boleh lupa, bahwa pada masa lalu bukankah justru orang Jawa, sunda, betawi dsb itulah yang antipedas, dan hidangan mereka selalu terasa manis? Mengapa sekarang terbalik?

Sejarah tidak boleh dipelintir, toh? Faktanya, pada masa lalu, hanya orang Minangkabau yang menikmati kuliner superpedas. Dan fakta berikutnya: orang di luar Minangkabau, seperti Jawa, sunda, betawi dsb, antipati terhadap citarasa pedas. Fakta ketiga: orang Jawa, sunda, betawi dsb, setia kepada kuliner mereka yang serba manis, semuanya harus manis.

Terlepas dari adu-klaim pedas ini, ada satu hal yang patut untuk diketengahkan. Secara alamiah, proses ini sebenarnya menunjukkan bahwa Minangkabau adalah kiblatnya nusantara, khususnya di dalam hal citarasa superpedas. Sekarang publik luas berlomba-lomba menikmati yang pedas-pedas, seolah mereka adalah orang Minangkabau sendiri. Walau pun juga harus dikatakan, bahwa bolehlah mereka berkiblat kepada citarasa pedas khas Minangkabau, namun mengapa caranya seperti itu, dengan adu-klaim bahwa justru pedasnya Minangkabau jauh kalah dibanding pedasnya masakan mereka? Sportif-lah sedikit. Hahahaha ….

Keempat. Sambel ijo.

Apa yang terbayang saat mendengar kata sambel ijo? Ya, restoran nasipadang.

Sambel ijo, atau di dalam lidah Minangkabau adalah lado hijau, adalah sambel khas Minangkabau, yang di dalam kasus tertentu, merupakan bumbu untuk hidangan daging bebek khas Kampung Ngarai Sianok.

Orang Minangkabau di dalam hal pedas memang keterlaluan. Bukan cabe merah saja yang mereka jadikan sambel, namun cabe hijau pun juga mereka jadikan bahan sambel, maka jadilah sambel hijau, yang pedasnya luar biasa sehingga membuat batok kepala penikmatnya keringatan tidak karukaruan.

Menarik sekali, bahwa ternyata sambel ijo ini pun juga sudah di-adopsi oleh kuliner di luar lingkungan Minangkabau. Jadi dengan kata lain, hidangan di luar Minangkabau juga menyediakan dan menikmati sambel ijo ini. Tidak jarang terdapat restoran bebek, yang jelas bukan restoran nasipadang, menyajikan bebek dengan sambel ijo ini, jadi seolah bebek dengan sambel ijo sebenarnya bukanlah khas Minangkabau, karena daerah lain juga punya. Wah luar biasa!

Ini menunjukkan, untuk urusan sambel ijo pun, Minangkabau adalah kiblatnya. Logikanya saja, apakah benar sudah sejak dahulu orang Jawa atau sunda atau betawi sudah menyukai sambel ijo? Mana mungkin? Bukankah justru pada masa bahela, mereka-mereka ini adalah masyarakat yang anti-pedas? Jangankan sambel ijo, sambel ‘normal’ saja mereka ketakutan, kala itu? Namun sekarang mengapa berbeda? Sekarang semua orang tanpa pandang suku mau pun daerah berlomba-lomba menikmati dan membuat sambel ijo ini. Ya, ini berarti Minangkabau adalah kiblat nusantara di dalam hal sambel ijo.

Kelima. Hajatan pernikahan.

Setiap hajatan / resepsi pernikahan, pastilah resepsi tersebut dikemas di dalam tradisi dan adat sang hajatan, misalnya orang Jawa maka resepsinya menurut adat lembaga Jawa, dsb. Jadi, ada hubungan yang kuat antara hajatan pernikahan dengan penggelaran adat dan tradisi leluhur.

Saya masih ingat, bahwa di tahun 80an (apalagi hitung mundurnya), publik Indonesia sama sekali tidak pernah menghubungkan antara hajatan nikah dengan adat dan tradisi leluhur. Kala itu, setiap ada resepsi nikah, selalu digelar di dalam acara kumpul-kumpul biasa, di mana pengantin didudukkan berduaan, didandani seadanya. Praktis tidak ada kesan kedaerahan sama sekali, apakah daerah Jawa, atau betawi, sunda, dsb. Pun juga tidak ada musik-musik kedaerahan. Jadi dengan kata lain, mereka kala itu tidak pernah menghubungkan antara resepsi nikah dengan gelar adat leluhur.

Namun berbeda dengan suku Minangkabau. Keluarga saya, di tahun 1979 menggelar resepsi nikah abang sulung kami, di rumah, dengan menggelar adat dan tradisi Minangkabau tentunya. Satu set pelaminan khas Minangkabau dipasang di ruang tamu, suatu set pelaminan yang megah nan anggun, dominasi merah beludru nan menyala-nyala, diapit banta-gadang di kiri-kanan kursi peraduan pengantin, begitu permai-nya. Tidak lama pengantin pun datang, di mana pengantin perempuan mengenakan suntiang-gadang yang megah, dan pengantin laki-laki bertongkat begitu gagahnya.

Itu adalah sekedar contoh, bahwa masyarakat Minangkabau sejak dulu sudah menggabungkan antara resepsi nikah dengan penggelaran adat dan tradisi leluhur, sementara di luar Minangkabau, hal tersebut tidak ada. Para undangan kami, yang non-Minangkabau, terheran-heran melihat bagaimana kami menggelar resepsi nikah tersebut yang digabungkan dengan penggelaran adat ini.

Saya masih menyimpan foto-foto pernikahan kenalan saya pada tahun-tahun masa lalu yang berasal non-Minangkabau. Tampak sekali bahwa resepsi nikah mereka sama sekali tidak diwujudkan di dalam adat dan tradisi leluhur. Jadinya pelaminan mereka hanya sebatas dinding yang diselubung kelambu –entah apa itu namanya, kemudian diterakan tulisan “Mohon doa restu”. Itu saja. Sementara pengantinnya cukup hanya mengenaian baju kemeja untuk pria, dan perempuan mengenakan kebaya sehari-hari dengan rambut yang disanggul dan sedikit makeup. Tidak lebih.

Namun itu dulu, dan sekarang sudah lain.

Sekarang, setiap resepsi nikah, yang berbasis daerah mana saja, pasti diwujudkan di dalam bentuk adat dan tradisi leluhur. Orang Jawa akan menggelar resepsi nikah sesuai dengan tradisi Jawa, orang sunda akan menggelarnya dengan tradisi sunda, dst.

Sampai pada level ini, saya mempunyai keberanian untuk menyatakan, bahwa kecenderungan publik luas untuk menggelar resepsi nikah berbalut nuansa kedaerahan, sebenarnya berasal dari dan meniru kebiasaan orang Minangkabau. Jadi dengan kata lain, kebiasaan orang Minangkabau yang menggelar resepsi nikah yang berbalut tradisi kedaerahan, telah membuka mata dan fikiran saudara-saudara dari suku lain, untuk memahami, bahwa tidak salah kalau menggelar resepsi nikah dengan berbalut nuansa daerah.

Penekanannya adalah pada pelaminan, seperti ornamen, dominasi warna, atap-atap, kursi pengantin, dsb. Pada masa dahulu, hanya keluarga suku Minangkabau saja yang men-set pelaminan untuk pernikahan anak-anak mereka menurut nuansa Minangkabau. Sementara di luar suku Minangkabau, pelaminan ditata secara datar-datar saja, jauh dari kesan kedaerahan atau kesukuan mana pun. Dan ternyata, kebiasaan keluarga Minangkabau inilah yang di-adopsi oleh keluarga dari suku lain.

Saya sebagai orang Minangkabau asli, terheran-heran ketika menghadiri resepsi nikah kenalan yang berasal dari luar Sumatera. Pelaminan mereka, seratus-persen mirip pelaminan Minangkabau, lengkap dengan ornamen-ornamen uniknya. Belum lagi dengan dominasi warna yang betul-betul mirip pelaminan Minangkabau.

Pada setting pelaminan Minangkabau, biasanya terdapat ornamen gantungan yang sekilas tampak seperti sehelai dasi, biasanya berbahan beludru, berwarna merah, hijau, hitam, hijau dsb. Dan dasi-dasi tersebut biasanya diberi hiasan tepi seperti jurai-jurai yang senantiasa bergoyang-goyang. Nah ornamen yang berbentuk seperti dasi ini, digantung di dalam jumlah banyak pada atap-atap pelaminan, sehingga pelaminan terkesan begitu ramai dan semarak.

Unik sekali, bahwa pelaminan kawan saya ini mempunyai keseluruhan hal tersebut, padahal jelas kawan saya ini bukan orang Minangkabau, pun pelaminannya juga bukan pelaminan Minangkabau. Begitu juga dengan kelambu sebagai latar belakang pelaminan, juga berciri khas Minangkabau. Kelambu yang dimaksud di sini adalah, seperti sprei, kain lebar dan luas, yang mana kain ini terbuat dari beludru, kemudian di atasnya disulamkan motif2 bunga atau lainnya dengan menggunakan benang emas. Sungguh itu adalah ciri-khas Minangkabau.

Yang membedakan pelaminan tersebut dari pelaminan Minangkabau hanya terletak pada ketiadaan gonjong dan banta-gadang, karena kedua hal tersebut murni berkesan Minangkabau. Di luar itu, semua mengkopi-paste habis khasanah pelaminan Minangkabau.

Maka dari point ini, saya mempunyai keberanian untuk menyatakan, bahwa setting pelaminan menurut nuansa kedaerahan dari sang pengantin, adalah berkiblat kepada suku Minangkabau, karena pada masa awal, keluarga di luar Minangkabau tidak pernah berbuat demikian. Bahkan bisa dikatakan, bahwa saudara-saudara dari daerah lain pun ikut mengkopi-paste nuansa pelaminan Minangkabau secara totalitas, mulai dari motif sulaman benang emas, ornamen gantungan di atap-atap pelaminan, dominasi warna, dsb, adalah murni berkiblat kepada Minangkabau.

Jadi, yang di-kopas dari suku Minangkabau ada dua hal. Pertama, menghubungkan antara resepsi nikah dengan penggelaran adat kedaerahan. Kedua, mengkopas habis-habisan seluruh ornamen pelaminan bergaya Minangkabau kepada pelaminan suku lainnya.

Mudah-mudahan saya tidak salah.

Keenam. Balado vs asampadeh.

Siapa yang tidak kenal istilah balado, dan juga asampadeh? Semua ibu-ibu khususnya di Jakarta pasti sudah mengenal kedua istilah ini, yang sejatinya berasal dari Minangkabau.

Balado adalah teknik memasak, yang pada intinya adalah, membuat masakan yang digoreng (seperti telur yang digoreng, tempe / tahu yang digoreng, ikan yang digoreng, dsb) dibaluri cabe giling, caranya dengan dimasak lagi dengan menggunakan minyak goreng, sehingga antara masakan yang digoreng itu dengan cabe giling, menjadi satu kesatuan dengan sempurna.

Sementara itu, asampadeh adalah paket bumbu yang biasanya digunakan untuk mengolah dan menyajikan hidangan ikan, dan kemudian diberikan rasa asam, mungkin dari asam Jawa mau pun dari asam kandis.

Tidak pelak lagi, kedua istilah (teknik mau pun bumbu) tersebut berasal dari Minangkabau, dan penggunaan balado mau pun asampadeh ini sudah benar-benar meluas di tengah masyarakat Indonesia. Lihat saja, di seluruh warteg sudah tersedia hidangan dengan embel-embel kata balado ini, seperti telur balado, ikan goreng balado, cumi balado, tahu balado, dsb.

Di-adopsinya teknik balado ini oleh orang luar Minangkabau, sebenarnya seiring dengan di-adopsi-nya juga selera citarasa pedas, karena balado sudah pasti berasa pedas. Kalau publik luas di luar Minangkabau sudah keranjingan citarasa pedas yang berasal dari suku Minangkabau, maka mau-tidak-mau teknik balado menjadi kelumrahan juga. Semakin pedas balado-nya, semakin enak, itu kata mereka.

Hal ini benar-benar menunjukkan, bahwa Minangkabau adalah kiblat kuliner Indonesia.

Ketujuh. Kecap pemanis vs citarasa pedas.

Di tahun 70-an, 80-an, dan 90-an, saya / kita masih ingat bahwa publik luas di luar Minangkabau (seperti orang Jawa, sunda, betawi dsb) tidak bisa jauh dari kecap pemanis untuk kuliner mereka, yang mana ini berarti kebutuhan kecap begitu tinggi di tengah masyarakat. Pun setiap rumah dan keluarga kala itu, pasti selalu tersedia kecap manis, karena citarasa manis merupakan satu-satunya kelumrahan. Ini artinya, penjual dan pedagang kecap pasti kayaraya, karena dagangan mereka selalu diburu habis oleh publik luas tersebut.

Namun apakah sekarang keadaannya masih seperti demikian? Saya rasa tidak. Coba perhatikan di warteg. Bukankah kebanyakan hidangan yang mereka sajikan sudah didominasi citarasa pedas? Dan bukankah citarasa pedas sejatinya berasal dari suku Minangkabau?

Sekarang kepopuleran kecap pemanis tampaknya sudah tergeser secara signifikan oleh dominasi citarasa pedas, sehingga bisa dikatakan bahwa ‘peran’ kecap hanya sebatas pelengkap kecil saja. Dengan demikian nasib kecap sudah benar-benar jungkir-balik, tidak seperti puluhan tahun yang lalu: kecap dijungkir-balikkan oleh citarasa pedas-nya Minangkabau ini. Sebagai perbandingan saja, coba perhatikan warung mie-rebus. Di meja makannya, disediakan baik botol kecap dan juga botol saus pedas. Manakah yang paling banyak diambil oleh pelanggan?

Ya, benar sekali. Kebanyakan bahkan seluruh pelanggan justru hanya melirik ke botol saus pedas ini, dan kemudian membubuhi mie-rebus mereka dengan saus pedas ini banyak-banyak. Sementara kecap? Tidak dilirik sama sekali. Kecap benar-benar sudah tidak dilirik lagi.

Apalagi dengan populernya konsep balado dari Minangkabau, semakin menjungkalkan kesaktian kecap. Jadi dengan di-adopsinya citarasa pedas dan balado-nya, maka dominasi kecap sebagai pemanis mulai bergeser secara signifikan.

Hal ini menunjukkan, bahwa tampaknya, publik telah ‘insaf’, bahwa kuliner yang nikmat dan ‘waras’ itu adalah kuliner yang pedas, bahkan superpedas, bukannya yang serba manis. Buktinya, kecap sekarang sudah mulai ditinggalkan. Dan ini berarti, tampaknya publik sudah merasa bahwa kalau pada masa lalu mereka keranjingan kecap, maka itu adalah suatu ‘kesalahan’. Dan satu-satunya hal yang membuat mereka menyadari kesalahan itu adalah, kehadiran perantau Minangkabau yang memperkenalkan citarasa pedas ini.

Intinya, jaman sekarang ini, kalau orang Minangkabau pergi ke mana pun, dia tidak usah khawatir lagi, karena kemana pun ia pergi, makanan dengan citarasa pedas selalu tersedia di warung makan mana pun …..

Minangkabau memang benar-benar kiblat nusantara, khususnya di dalam hal kuliner. Sekarang sudah bisa dikatakan, bahwa tidak ada lagi bedanya antara orang Minangkabau dengan non-Minangkabau, karena hidangan dan kegemaran makan mereka sama, yaitu sama-sama doyan pedas, bukan manis, seperti tempo hari itu.

Wallahu a’lam bishawab.

Sejarah Asal-Mula Nama Pagaruyung Bagian 01 dari 02

sejarahAda Apa Di Balik Nama Pagaruyung

Sungguh berlimpah faedahnya, bagi siapa yang mau menuntut ilmu di USKST (Universitas Sepanjang Kampung Sebelit Tanjung). Seperti saya di Hulu Kampar ini misalnya. Setiap informan dan orang-orang di lapangan adalah profesor yang membekali kantong pengetahuan kita dengan berbagai ilmu yang tidak disangka-sangka.

Laporan JUNAIDI SYAM, Pekanbaru

SALAH satunya adalah soal geneologi diksi Pagaruyung yang disampaikan oleh Pak Hawari Imam Pangian. Sepulang dari menelusuri hulu Sungai Tampamali bersama Pak Marwan, Pak Peri, dan Pak Jalid, saya langsung ke Muaro Sungai Lolo. Singgah sebentar di kediaman Tongku Mudo Sati untuk meletakkan barang-barang, dan langsung berangkat ke Selayang.

Dua hari di Selayang saya manfaatkan untuk mencari informasi tentang Kenegerian Selayang yang posisinya berhadapan langsung dengan Pangian yang terletak di bagian hulu Sungai Lolo (anak Sungai Kampar). Sedangkan Selayang terletak di salah satu anak Sungai Sumpu (Sungai Rokan). Pangian adalah wilayah frontier yang unik.

Begitu sepeda motor Pak Peri berhenti di balai kampung Pangian, saya melihat Pak Imam Hawari tengah berbincang-bincang santai dengan tujuh lelaki. Seperti biasa, Pak Imam menyambut orang-orang yang singgah dengan wajah ceria, karena pembawaannya memang sudah begitu. Setelah berbual singkat, berbasa-basi dan bercanda, Pak Imam mengajak saya menginap di rumahnya. Saya katakan, “Langkah kanan rupanya saya ni.” Pak Imam tertawa, sebab dia mengerti bahwa yang saya maksud itu adalah keberuntungan.

Malam harinya, kami berbual-bual soal tasawuf, telaah sifat 20, dan ilmu kaji diri. Beberapa pemuda ikut bergabung mendengarkan penuturan beliau. Pak Imam juga bercerita soal sejarah berdirinya Selayang dan Pangian, sejarah Tuanku Imam Bonjol yang diklaim berasal dari Pangian, sejarah raja Melayu Palembang yang bernama Datuk Leba Tolingo (Demang Lebar Daun) dll. Perbualan berangsur dan berasak juga ke soal Pagaruyung. Inilah yang saya tunggu! Versi Pak Imam Pangian masuk dalam daftar perbendaharaan pengetahuan saya tentang Pagaruyung.

Dalam pembukaan manuskrip Taromba Tambusai dituliskan;

“Inilah surat keterangan taromba yang turun daripada Pagaruyung yang dibawa Sultan Mahjudin putra Sultan Pagaruyung anak cucu Sultan Isykandar Dzulkarnain yang turun-temurun menjadi raja di dalam Pulau Perca ini. Itulah pegangan Raja Tambusai, sah dengan nyatanya”.

Teks naskah ini jelas menyebutkan Pagaruyung sebagai pusat kekuasaan raja alam Minangkabau. Baiklah, teks manuskrip tersebut kita tinggalkan sejenak.

Saya pernah mendengar cerita tentang tempat mandi putri raja yang dipagar menggunakan “batang ruyung”. Ada pula kisah tentang “tongkat ruyung” yang dipancangkan sebagai simbol kekuasaan kerajaan kuno di masa lalu. Bahkan sering saya dengar datuk-datuk membuat pertanyaan bernuansa menguji, “Pagar ruyung itu apa? Dari kayu apa? Dan apa pula makna ruyung dalam adat? Di mana pohon ruyung itu tumbuh?”.

Baiklah, kita lanjutkan cerita Pak Imam tentang empat bersaudara yang keluar dari negerinya mencari tanah ulayat. Sampai di suatu tempat, mereka membuka hutan rimba. Bertemulah mereka dengan sebatang pohon kayu tepat di tengah-tengah rimba yang akan ditebang. Pohon tersebut dijadikan tempat berteduh dan istirahat. Demikianlah kebiasaan yang dilakukan orang berladang membuka rimba. Setelah semua pohon ditumbang, maka yang terakhir kali ditebang adalah pohon tempat mereka istirahat tersebut. Segala perkakas dan alat-alat dipindahkan ke bedeng di tepi ladang, sebab pohon tersebut akan segera dibeliung.

Mula-mula saudara yang paling tua pergi menebang pohon itu sendirian. Dikelilinginya batang pohon tersebut untuk memilih bagian dahan tua. Cara menebang pohon besar, biasanya dipilih sisi dahan tua untuk memulai pangkal kerja, bertujuan agar pohon kayu cepat tumbang. Tukih (kayu bertupang) disandarkan untuk tempat berpijak saat menghantamkan beliung ke permukaan kayu. Petang hari, saudara tertua itu pulang ke kampung. Sampai di rumah, berkatalah saudara tua tadi, “Sudah hampir selesai. Tinggal sedikit saja yang akan kalian diteruskan”.

Keesokan hari, saudara nomor dua pergi melanjutkan tebangan. Nampak olehnya pohon kayu itu masih utuh. Tidak ada sedikit pun bekas tebangan kakak sulungnya kemarin. Tukih untuk menebang juga tak nampak. Maka dibuatnya tukih baru yang lebih tegap untuk menopang tegak berdirinya saat mengayunkan beliung. Petang hari dia pulang. Berkatalah dia pada sudara-saudaranya di rumah, “Tak ada kakak menebang kemarin. Tak ada bekas tebangan di pohon itu. Kerja saya tadi hampir sudah, tapi hari hampir petang. Masih ada sisa kerja sedikit lagi”. Heranlah kakaknya yang tua, disangkanya si adik berbohong, sedangkan adik nomor dua menyangka kakak sulungnya itu yang berbohong.

Hari selanjutnya, berangkat pula saudaranya yang nomor tiga. Sesampai di bawah pohon tersebut, tiada juga ditemukan bekas tebangan sama sekali. Tukih untuk menebang juga tidak nampak. Mulai pula ia memasang tukih baru. Ditebangnya pula pohon itu hingga pekerjaannya hampir selesai, namun hari pun petang. Pulanglah dia ke rumah, lalu berkata pada ketiga saudaranya, “Haram saya temukan bekas tebangan kakak berdua. Tak nampak oleh saya sempolah (serpihan sampah tebangan) di dekat batang tu”. Adik yang ketiga itu menyangka kedua kakaknya berbohong.

Pagi yang keempat, pergi pula si bungsu. Tiada juga nampak olehnya bekas-bekas kerja menebang di pohon itu. Sadarlah dia bahwa kayu itu tidak bisa ditebang oleh saudara-saudaranya. Kemudian si bungsu memasang niat dan menyerukan kata-kata bertuah. Dengan sekali pakuk (hantaman beliung) pada bagian dahan tuanya, rebahlah pohon kayu.

Pulanglah si bungsu ke rumah. Saudara-saudaranya terkejut, “Mengapa cepat betul si bungsu ini pulang?”. Berkatalah si bungsu sambil bergurau, “Sama sekali tak ada kalian bekerja rupanya. Tadi, saya temukan pohon itu masih utuh tanpa cacat. Rupanya kalian tidur ya?”. Akibat gurauan itu, pohon yang telah tumbang tersebut tak pernah layu dan tetap menghijau daunnya.

Setelah bertahun-tahun, pohon itu tetap hijau. Orang semakin banyak berdatangan ke banjar ladang empat bersaudara tadi. Lama-kelamaan, banjar itu menjadi perkampungan yang ramai. Batang kayu yang telah tumbang tersebut dikabung-kabung, lalu dijadikan pagar. Karena kayu tersebut be-ruyung (berteras di luar), maka negeri tersebut dinamakan Pagaruyung.

Lantas saya tanyakan pada Pak Imam, “Kayu apa yang mereka tebang itu?” Jawab Pak Imam, “Entahlah, hanya kayu itu ada ruyungnya”. Sambil tersenyum Pak Imam balas bertanya pula pada saya, “Coba dikira-kira, kayu apa saja yang terasnya di luar?”. Saya jawab, “Pinang, ibul, kelapa …” Belum sempat saya selesai menyebutkan satu persatu macam jenis pohon yang beruyung, Pak Imam sudah melanjutkan pula, “… Bambu, batang ubi kayu, pisang, ya kan?”. Beliau menyindir saya dengan ucapan, “Kalau orang ini (maksudnya saya), pasti dia tahu. Mengapa dalam adat ada sebutan Pagaruyung?”. Ucapan Pak Imam soal jenis pohon yang memiliki ruyung tersebut menjadi kata kunci untuk menjelaskan penamaan Pagaruyung. ***

Pagaruyung bukanlah sekadar diksi tanpa arti dan makna. Bukanlah pula sekadar sebutan yang biasa kita temukan dalam mitos, ataupun hanya sekadar nama sebuah identitas pusat kekuasaan Raja Minangkabau. Pagaruyung memiliki makna khusus dalam adat. Setiap pohon yang berteras di luar memiliki kekuatan yang khas.

Jika soko dilambangkan dengan pohon kayu binuang (pohon kayu besar), maka pisoko dilambangkan dengan teras ruyung. Struktur soko berbasis “bilangan satu” yang muncul dalam ungkapan adat:

“ ……… berpucuk bulat, berurat tunggang, tumbuhnya dari bumi, tumbuh tak ditanam, besarnya tak dilambuk, orang yang diadatkan, dikurung-kandangkan oleh ninik mamak ……”.

Ungkapan bagian terakhir inilah yang dapat menjelaskan makna Pagaruyung, yakni dikurung-kandangkan oleh ninik-mamak.

Pagaruyung adalah istilah menyebutkan pisoko yang mengurung-kandangkan soko. Raja Melayu Kuno itulah yang soko, sedangkan pisoko adalah pegawai, pemelihara, pekerja, dan pembela. Menurut struktur konsep falsafah adat Pagaruyung, soko itu sangat lemah, sedangkan pisoko sangat kuat. Pisoko bertugas melindungi soko dengan kekuatannya. Soko adalah inti utama atau bagian tengah batang yang lembut dan mudah rusak, maka pisoko mengelilinginya agar tetap terlindungi.

Ketika si Besi, si Kelopak, dan si Bunga beradu argumen dengan ayahnya Sutan Mulia tentang mana yang lebih keras soko dibanding pisoko?”. Sang ayah menjawab “lebih keras soko”, tapi sang anak menyatakan “lebih keras pisoko”. Sang anak benar, sebab dia memakai konsep adat kayu beruyung atau adat pagaruyung. Maka, istilah “adat Pagaruyung” bukan berarti harus merujuk pada identitas suatu lokalitas.

Kembali pada keterangan Pak Imam yang menyebutkan bahwa pohon pisang mempunyai ruyung. Benarkah? Dan apakah pohon pisang itu kuat? Seperti apa kuatnya ruyung pohon pisang? Mari kita lihat.

Pohon pisang mempunyai kelopak-kelopak (pelepah, red) batang yang strukturnya sangat unik. Kelupak batang pisang tumbuh dari permukaan umbi yang disebut limbago (lembaga) atau azas. Visualitas kelupak itu berlingkar sehingga membentuk struktur batang. Umbut (empulur tengah batang) di tengah-tengah batang itulah empulur soko, dan kelupak-kelupak itulah pisoko. Fungsi kelopak pisang tersebut untuk melindungi umbut.

Jika pisang berbuah, maka akan muncul jantung, kemudian kelupak jantung pisang akan jatuh satu persatu hingga muncul tandan dan sisir buah pisang. Lahirlah ungkapan, “yang bersikat-sikat bagai pisang”, artinya; muncul pihak-pihak dan keluarga-keluarga yang banyak dalam satu pohon tersebut. Jika pisang sudah berbuah, maka sampai pula ajalnya. Untuk melanjutkan kehidupan pisang itu, maka diambil pula anaknya yang tumbuh di bawah pokok pisang tersebut. Anak pisang itu tumbuh dari lembaga yang dulu juga. Oleh sebab itu ada ungkapan menyebutkan “hanya sekali pisang berbuah”. Artinya anak pisanglah yang akan ditanam, diganjak, dipindahkan untuk dipetik pula buahnya.

Anak pisang itulah yang disebut kemenakan, sebab dia tumbuh di lembaga induknya. Buah pisang tidak bisa ditanam, hanya bisa dimakan saja. Artinya buah pisang hanya untuk diambil manfaatnya. Buah pisang adalah simbol anak dalam adat soko, dan buah pisang tidak bisa ditanam, artinya tidak bisa meneruskan kekuasaan menurut adat soko.

Muncul pepatah adat; “jika diganjak mati, dibubut layu” (jika dipindahkan maka mati, jika dicabut empulurnya maka layu). Artinya, jika pisang sudah berbuah, maka habislah kekuasaannya. Pohon pisang yang sudah berbuah, tak akan pernah lagi berbuah untuk selamanya, dan kondisi ini disebut juga “telah mati”. Jika empulur pisang itu dibubut (dicabut), maka batang pisang akan layu. Artinya, jika diberhentikan dengan paksa, maka jabatannya tidak lagi berguna, diibaratkan mati layu.

Ada satu mitos tentang betapa kuatnya ruyung pelepah pisang.

Pada suatu ketika, Datuk Singo Manden datang ke istana Datuk Malangik Hitam Lidah. Kunjungan itu untuk menyelesaikan soal siapakah yang lebih dulu mengklaim ulayat di Hulu Sungai Tampamali dan Tampakayu? Maka, datanglah Datuk Singo ke istana Datuk Malangik di Longuong Hulu Kampar.

Sebab karena sangat besar dan beratnya tubuh Datuk Singo maka lantai rumah Datuk Malangik rubuh. Tubuh Datuk Singo jatuh terduduk ke tanah beserta lantai rumah. Datuk Malangik memperbaiki lantai rumahnya. Namun setelah diduduki kembali oleh Datuk Singo, lantai itu kembali rubuh. Hingga kali yang ketiga, berkatalah Datuk Singo, “Tongkatlah lantai itu dengan telutuk pisang (pelepah pisang)”. Setelah lantai rumah ditongkat dengan pelepah pisang, barulah lantai istana Datuk Malangik bisa diduduki Datuk Singo Manden.

Itulah sebabnya muncul satu kepercayaan dalam masyarakat Melayu, jika ada helat kenduri di dalam rumah, sedangkan lantainya dikhawatirkan runtuh sebab banyaknya orang, maka dipasanglah tongkat penyangga lantai dari telutuk batang pisang. Begitu banyak soal kepercayaan ilmu kebatinan Melayu Kuno yang disandar pada keampuhan ruyung batang pisang.

Jika akan mendirikan gelanggang silat, maka di tengah-tengah gelanggang ditanam serumpun batang pisang. Jika ada orang yang kebal senjata tajam atau tahan terhadap pukulan, dipercaya jika dipukul dengan pelepah pisang akan menderita kesakitan luar biasa. Menanam batang pisang di tiap sudut pekarangan rumah dianggap mampu menyejukkan hati dan perasaan orang dalam rumah tersebut. Pohon pisang juga dipercaya menyejukkan tanah perkebunan, dan jika ditanami pisang maka tanah gersang bisa segera berubah menjadi subur.

Saya rasa cukup sampai di sini keterangan tentang ruyung pisang, sebab jika dibahas terus, maka halaman koran Riau Pos ini jadi penuh hanya untuk perkara pisang sebatang. Rahasia adat yang satu ini selalu diokokkan (disimpan sendiri dan dipakai sendiri) oleh beberapa datuk adat. Para datuk adat menganggap pengetahuan-khusus adalah ibarat senjata yang bisa dipakai untuk mengalahkan argumen-argumen orang yang mengaku-ngaku tahu adat, namun sebenarnya ilmu pengetahuan adat mereka kurang.

Jika ada orang yang benar-benar ingin belajar adat, dan dia punya pula aluran serta kecucuran darah soko adat, biasanya datuk itu akan menyuruhnya datang ke rumah untuk menerima ilmu adat tersebut. Kembali ke pokok persoalan tentang Pagaruyung. Muncul satu pertanyaan penting, ruyung apakah yang dipakai oleh orang Batusangkar untuk menyebut diri mereka beradat Pagaruyung?

Pertanyaan ini pasti ada jawabannya, dan harus ada pula alasannya menurut adat lama pusaka usang yang dipakai oleh orang Minangkabau. Sayangnya, dalam Tambo Alam Minangkabau tidak dijelaskan sama sekali soal ruyung apa yang dijadikan sebagai pagar adat mereka. Hal ini bisa saja terjadi karena okok-pelitnya datuk. Sekali lagi saya ulangi, pengetahuan khusus ilmu kebatinan adat seperti ini biasa dijadikan senjata ampuh untuk mempertahankan martabat dan harga diri datuk di mata anak kemenakan.

Terima kasih untuk sumber,

http://www.riaupos.co/55345-berita-ada-apa-di-balik-nama-pagaruyung.html#.VdLA27XA6Uk

Minangel,

Paparan ini sungguh menarik untuk diikuti, mengingat sedikit sekali sumber atau referensi yang dapat dijadikan pijakan di dalam memahami kata Pagaruyung.

Saya yakin sekali bahwa argumentasi yang dipaparkan di dalam artikel ini, mengenai asalmula kata pagaruyung, dapat dipertanggungjawabkan, alias berbobot, dan bernilai.

Namun satu hal yang tentunya kita harapkan, semoga dengan adanya paparan ini, semakin memperluas daya-rangsang dan daya-tarik semua pihak khususnya Urang Awak untuk dapat menggali lebih dalam lagi mengenai asalmula kata pagaruyung.

Wallahu a’lam bishawab.

Baca Selanjutnya, Sejarah Asal Mula Nama Pagaruyung Bagian 02 dari02

Sejarah Asal-Mula Nama Pagaruyung Bagian 02 dari 02

scrollVersi pertama, demikian seseorang yang berdarah Plbg (anggap saja bernama Mr. A) menuturkan,

Orang Padang tidak bisa membuat senjata / bukan ahli pembuat senjata. (Tapi) Orang-orang Suxxxa Selxxxn ahli membuat senjata besi / tukang pandai besi. Orang “Mer-xxxx-jat O-xxxxx-an I-xxx-ir” itu ahli pembuat senjata sebagai pemasok senjata Seriwijaya. Adityawarman menamakan Sumatera Barat itu Pagaruyung karena orang Sumatera Barat menggunakan senjata dari ruyung (kayu nibung), bukan dari senjata besi. Maka dengan mudah Adityawarman menaklukkan Sumatera Barat, dan menamakan wilayah itu Pagaruyung. ***

Versi kedua, demikian seseorang yang berdarah Plbg (anggap saja bernama Mr. B) menuturkan,

Alkisah tersebutlah dalam satu masa di Bukit Siguntang duduk memerintah seorang Raja bernama RAJA SULAN yang mempunyai dua putra, masing-masing bernama ALIM dan MUFTI. Alim menjadi sultan setelah ayahandanya wafat, sedangkan Mufti menjadi sultan di Gunung Meru / Gunung Dempo. Setelah Sultan Alim wafat ia digantikan oleh putra-nya tanpa melalui musyawarah dengan pamannya Sultan Mufti.

Karena itu Sultan Mufti bermaksud untuk menurunkan putera nya Sultan Alim dari kedudukannya sebagai Sultan di Bukit Siguntang. Mendengar cerita tersebut maka putra nya Sultan Alim beserta seluruh rakyat dan pasukannya meninggalkan Bukit Siguntang menuju INDRAGIRI. Mereka menetap di suatu daerah yang mereka pagari dengan ujung sebagai tempat pertahanan. Kemudian tempat tersebut bernama Pagaruyung (Padang, Sumatera Barat).

Setelah Sultan Mutfi wafat, ia digantikan oleh puteranya dengan pusat pemerintah di Lebar Daun bergelar DEMANG LEBAR DAUN hingga tujuh turun lebih. Demang Lebar Daun ini mempunyai seorang saudara kandung bergelar RAJA BUNGSU.

Kemudian Raja Bungsu tersebut hijrah ke tanah Jawa, di negeri Majapahit, bergelar Prabu Anom Wijaya atau Prabu Wijaya / BRAWIJAYA I / CAKRA DARA / SUAMI TRIBUWANA TUNGGA DEWI / MENANTU RADEN WIJAYA sampai tujuh turun pula.

Brawijaya IV / DAMAR WULAN memiliki putera bernama ARIA DAMAR atau ARIA DILAH dikirim ke tanah asal nenek moyangnya yaitu Plbg , ia dinikahkan dengan anak Demang Lebar Daun juga dan diangkat menjadi raja (1445-1486). Ia juga mendapat kiriman seorang putri Cina yang sedang hamil, yakni isteri BRAWIJAYA V / SAUDARA SEAYAH ARYA DAMAR yang diamanatkan kepadanya untuk mengasuh dan merawatnya, Sang puteri ini melahirkan seorang putra yang diberi nama RADEN FATAH atau bergelar Panembahan Plbg , yang kemudian menjadi raja pertama di Demak.

ARYA DAMAR DENGAN MANTAN ISTRI SAUDARANYA INI JUGA PUNYA ANAK BERNAMA RADEN HUSEN. ARTINYA RADEN HUSEN ADALAH ADIK RADEN FATAH DAN ARYA DAMAR ADALAH PAMAN RADEN FATA.

Adapun parameswara pangeran Plbg penguasa malaka itu adalah sebagai berikut: prameswara bin raden sotor bin rana menggala bin cakra dara bin sultan mufti bin raja sulan bukit seguntang Plbg .

Jadi benar kalau prameswara menyebut dirinya pangeran Plbg, karena leluhurnya memang orang Plbg. ***

Versi ketiga.

Paragraf berikut didapat dari sebuah blogsite yang membahas asal-mula nama Pagaruyung, demikian:

Pada tahun 1343 Adityawarman meninggalkan Majapahit pergi ke Sumatera, kembali ke daerah asal ibu dan kakeknya. Dia bermaksud mendirikan kerajaan baru di Minangkabau. Pada masa itu di Ranah Minang telah ada nagari-nagari serta dua tokoh terkemuka: Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang.

Rencana Adityawarman mendirikan negara disetujui kedua Datuk yang memang berniat mempersatukan nagari-nagari. Hanya saja Datuk yang berdua itu berbeda pendapat mengenai bentuk negara. Datuk Ketumanggungan menyetujui Adityawarman yang ingin negara Kerajaan (dikepalai seorang Raja), sedangkan Datuk Perpatih Nan Sabatang menginginkan negara federasi yang dikelola badan perwakilan penghulu-penghulu nagari. Polarisasi pendapat ini diabadikan dalam ungkapan yang populer di kalangan masyarakat Minangkabau sampai sekarang:

anggang datang dari lauik

ditembak datuak nan baduo

badia sadatuih duo dantamnyo

Maka Adityawarman dan Datuk Ketumanggungan saja yang mendirikan Kerajaan pada tahun 1350. Kerajaan tersebut diberi nama Pagaruyung (paga = pagar; ruyung = kekuasaan, kekuatan). ***

http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/Adityawarman -dan-Pagaruyung.html?m=1

Minangel –

Mari kita bahas satu persatu versi yang kita peroleh dari belantara internet.

Versi pertama, yang dikemukakan oleh orang Plbg, menyebutkan bahwa kata Pagaruyung berasal dari kata ruyung alias kayu nibung, yang digunakan orang Minang kala itu untuk membuat senjata, dikarenakan orang Minang tidak dapat membuat senjata dari besi, itu karena yang bisa membuat senjata dari besi hanya orang Plbg saja (itu kata si orang Plbg ini, Mr. A).

Tampaknya ungkapan Mr. A ini hanya bernada ‘mengecilkan dan menghina’ orang Minang, dan sekaligus ingin menunjukkan keunggulan suku Plbg. Terlihat dari kata-katanya, bahwa orang Plbg, atau orang Mer-xxx-jat, dapat membuat senjata dari besi, sementara orang Minang hanya bisa membuat senjata dari kayu nibung.

Pun pada frase berikutnya, Mr. A menulis, bahwa karena orang Minang hanya bisa bersenjata ruyung, maka Adityawarman dengan mudah dapat ‘menaklukkan’ Sumatera Barat. Di dalam asumsi Mr. A yang Plbg ini, Adityawarman adalah orang asli Plbg. Dengan kata lain, Adityawarman menaklukkan Sumatera Barat sebagai bentuk superioritas Plbg atas suku Minang.

Apakah kisah Mr. A ini dapat diandalkan untuk mengetahui asal-mula penamaan Pagaruyung? Sebenarnya tidaklah demikian.

Justru yang mengemuka dari paparan Mr. A ini adalah adanya kebencian dan penghinaan suku Plbg atas suku Minang. Tampaknya kebencian dan penghinaan itu berawal dari sebuah sentimen ke-Plbg-an, yaitu sengketa pendiri Kerajaan Sriwijaya. Dikarenakan Prasasti Kedukan Bukit menulis bahwa pendiri Kerajaan Sriwijaya yaitu Dapuntahyang berasal dari Minanga, maka dapat dikatakan bahwa Dapuntahyang adalah putra Minang, bukan putra Plbg. Ini berarti Kerajaan Sriwijaya adalah Kerajaan milik bangsa Minang, bukan milik suku Plbg (atau suku Be-xxxx-ah, suku kebanggaan Plbg). Sementara itu, orang Plbg terlanjur berbesar hati, bahwa Dapuntahyang adalah orang Plbg, karena Kerajaannya yaitu Sriwijaya bertapak di Plbg.

Nah ketika banyak orang Minang mengklaim bahwa Sriwijaya merupakan Kerajaan milik bangsa Minang, karena pendirinya berasal dari Minanga, seperti yang tertulis pada Prasasti Kedukan Bukit, maka bangkitlah sentimen orang Plbg terhadap suku Minang. Salah satu bentuknya adalah, paragraf ini.

Untuk lebih jelas mengenai bangsa yang mendirikan Kerajaan Sriwijaya, silahkan baca artikel ini, https://Minangel.wordpress.com/2013/05/28/borobudur-adalah-warisan-Minangkabau/

Mr. A ini menulis, bahwa Adityawarman yang orang Plbg ini, pergi bertempur untuk menaklukkan Minangkabau, dan akhirnya Minangkabau ini berhasil ditaklukkan dengan mudah oleh Adityawarman, sehingga dijadikan taklukan bangsa Plbg ….

Penting untuk diketahui, bahwa tidak ada satu pun jurnal sejarah yang menyatakan bahwa Adityawarman merupakan orang Plbg, dan menaklukkan Minangkabau, sebagai bentuk keunggulan suku Plbg atas Minangkabau, dan sebagai bukti bahwa suku Minangkabau merupakan suku pecundang ….

Justru banyak jurnal sejarah yang menyatakan, bahwa Adityawarman, yang merupakan tokoh penting di dalam Kerajaan Majapahit, ditugaskan oleh Maharaja Majapahit untuk sebuah misi yaitu menaklukkan Bali dan Plbg. Banyak jurnal yang menulis bahwa misi tersebut berhasil dengan baik.

Jadi, bukannya Minangkabau yang ditaklukkan oleh Adityawarman yang ‘berdarah’ Plbg ini, melainkan kebalikannya, yaitu justru Plbg lah yang ditaklukkan oleh Adityawarman yang ‘berdarah’ Minangkabau Jawa.

Kesimpulannya, versi ini tidak dapat dijadikan acuan untuk memastikan asal nama Pagaruyung, dikarenakan versi ini dipenuhi kejanggalan.

Demikian ulasan untuk versi pertama.

Versi kedua, Mr. B menyebutkan bahwa asal nama Pagaruyung didapat dari perbuatan putra-nya Sultan Alim (son of Sultan Alim’s) yang bermukim di negeri Indragiri (di Sumatera Barat), dan memagari tempat tersebut dengan ujung sebagai bentuk pertahanan. Maka dari itu tempat tersebut dinamakan Pagaruyung.

Benarkah demikian?

Lagi-lagi, kisah pada versi kedua ini seutuhnya adalah Plbg-sentris. Menurut perspektif kisah ini, negeri Pagaruyung merupakan perluasan dari para penguasa Plbg, untuk menunjukkan marwah suku Plbg atas suku Minang.

Yang harus diperhatikan di sini adalah, disebutkannya tokoh bernama Sultan Mufti dan Sultan Alim, penguasa Bukit Siguntang. Penting untuk diketahui bahwa sejatinya pada masa tersebut Islam belumlah masuk ke pedalaman Sumatera. Namun tiba-tiba versi Plbg-sentris ini menyebutkan adanya penguasa Bukit Seguntang yang namanya bernuansa Islami, yaitu Sultan Alim dan Sultan Mufti.

Harus jujur diakui, bahwa versi ini dengan sendirinya tidak dapat diterima akal sehat, mengingat terdapatnya kejanggalan, yaitu adanya tokoh yang bernama Islami, sementara faktanya Islam itu sendiri belum masuk ke pedalaman Sumatera.

Kalau pada versi ini ada bagian yang ‘rusak’, maka rusaklah keseluruhan bagian dari versi tersebut. Artinya, bagian yang menyebutkan bahwa nama Pagaruyung berasal dari perluasan wilayah pembesar suku Plbg, tidak dapat diterima.

Pun kemudian ada lanjutannya. Pada bagian terakhir, Mr. B menyebutkan silsilah Parameswara sampai kepada Sultan Mufti. Ini sebenarnya luar biasa.

Bagaimana mungkin ada seorang manusia pada jaman sekarang ini yang dapat dengan lengkap menyebut silsilah suatu tokoh fenomenal? Lembaga keilmuan saja seperti Wikipedia, mau pun LIPI, tidak pernah merilis silsilah Parameswara, dan kini tiba-tiba Mr. B yang Plbg ini dapat menyajikan silsilah Parameswara dengan lengkap.

Kalau pada suatu sajian terdapat bagian yang rusak, maka rusaklah keseluruhan sajian tersebut. Hukum ini juga berlaku untuk versi kedua ini. Karena ada bagian yang rusak, yaitu janggal, karena disebutkan silsilah Parameswara secara lengkap, maka rusak jugalah keseluruhan bagian versi ini, yang menyatakan bahwa nama Pagaruyung berasal dari perluasan penguasa Plbg (Bukit Siguntang).

Maka kesimpulannya, penamaan Pagaruyung berdasarkan Plbg-sentris ini tidak dapat diterima.

Versi ketiga.

Pada versi ketiga ini, penulis mengajukan kisah bahwa penamaan Pagaruyung justru berasal dari Adityawarman sendiri sebagai pendiri Kerajaan Pagaruyung, di mana paga berarti pagar, dan ruyung berarti kekuasaan atau kekuatan.

Benarkah demikian?

Sama diketahui bahwa sekarang ini belum dijumpai sisa (peninggalan) sejarah yang merupakan bukti bahwa Adityawarman sendirilah yang memberi nama Pagaruyung kepada Kerajaannya. Justru kebalikannya, kebanyakan jurnal sejarah menyatakan bahwa kisah penamaan Pagaruyung sampai sekarang masih belum diketahui. Dan kalau tiba-tiba sekarang terdapat situs internet yang menyatakan bahwa Adityawarman sendirilah yang menamakan Kerajaannya dengan Pagaruyung, maka itu sebenarnya sangat tidak meyakinkan …..

Logikanya, kalau memang benar Adityawarman yang menamakan Kerajaannya dengan nama Pagaruyung, maka mengapa Raja ini tidak mencatatkan peristiwa penamaan tersebut di dalam prasasti-prasastinya? Sejarah melihat bahwa Adityawarman banyak sekali meninggalkan prasasti.

Hal lain yang patut untuk diperhatikan adalah, mengenai tokoh Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang ini, yang dilibatkan di dalam versi ketiga ini. Di dalam satu situs sejarah Minang, disebutkan bahwa kedua tokoh kharismatik ini hidup pada masa Kerajaan Kandis di seputaran Riau. Ditulis bahwa Kerajaan Kandis ini berdiri pada abad pertama Sebelum Masehi (SM). Sementara versi ketiga ini menulis bahwa Adityawarman medapat persetujuan dari kedua Datuk ini untuk mendirikan negara Minang, yang berarti kedua Datuk ini hidup pada tahun 1300-an.

Alhasil, terdapat selisih 1400 tahun antara kedua Datuk pada jaman Kerajaan Kandis dengan kedua Datuk pada jaman Majapahit. Mana yang benar?

Menyatakan bahwa di dalam sejarah Minangkabau terdapat dua Datuk yang sama (Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih nan Sabatang) pada abad pertama SM dan pada tahun 1300an, jelas merupakan suatu hal yang tidak masuk akal.

Singkat kata, versi ketiga ini mempunyai dua kejanggalan.

Pertama, disebutkan bahwa Adityawarman sendirilah yang menamakan Kerajaannya dengan nama Pagaruyung. Letak kejanggalannya adalah, kalau memang benar Adityawarman yang menamakan demikian, maka mengapa Raja ini tidak mencatatkannya pada prasastinya? Penting untuk diingat, bahwa kata Pagaruyung tidak pernah muncul pada masa Adityawarman ini.

Kedua, disebutkan bahwa Adityawarman mendapat persetujuan dari dua Datuk kharismatik di tanah Minang, yaitu Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih nan Sabatang, yang mana ini berarti dua Datuk kharismatik tersebut hidup pada tahun 1300an. Jurnal sejarah lain telah menulis, bahwa dua Datuk kharismatik ini hidup pada masa Kerajaan Kandis, yaitu pada masa abad pertama sebelum masehi. Di sinilah letak kejanggalannya.

Kata akhir untuk versi ketiga ini adalah, bahwa tentunya penamaan Kerajaan Pagaruyung ini tidak dapat diterima, karena tidak bersesuaian dengan logika dan alur sejarah.

Penutup.

  1. Dari ketiga versi yang dipaparan di atas, tidak ada satu pun yang bonafid untuk dijadikan pegangan bagi warga sejarah khususnya, dan orang Indonesia pada umumnya, untuk mengetahui sejarah penamaan Kerajaan Pagaruyung ini.
  2. Yang menyedihkan adalah versi pertama dan versi kedua sangat berbau sentimen dan kebencian dari saudara sesama bangsa Indonesia yaitu suku Plbg, yang mana kedua versi tersebut penuh tendensi balas-dendam dan pengecilan suku Plbg atas suku Minang. Itu pun juga tidak sesuai dengan alur sejarah, dan juga fakta sejarah.
  3. Minangel, sebagai blogsite berbasis Minang ini, berharap dengan diturunkannya artikel ini, semakin memicu dan memacu banyak pihak untuk menggali lebih dalam lagi sejarah penamaan Pagaruyung ini. Pihak Minangel membuka seluruh thread-nya untuk berdialog dengan pihak mana pun supaya dapat ditemukan klarifikasi demi klarifikasi segala hal yang berkaitan dengan penamaan Pagaruyung ini.

Wallahu a’lam bishawab.

Baca Selanjutnya Sejarah Asal Mula Nama Pagaruyung Bagian 01 Dari 02

Keberadaan Orang Minangkabau di Kota Kuala Lumpur

minangkabau-for-kualalumpurPenghijrahan Orang Minang Ke Kuala Lumpur

Kaum Minangkabau merupakan salah satu kelompok etnis yang banyak bermukim di Semenanjung Melayu. Mereka menyebar merata ke seluruh Semenanjung dan telah beranak-pinak dari generasi ke generasi. Salah satu penempatan mereka yang cukup penting ialah ibu kota negara: Kuala Lumpur.

Tak ada waktu yang pasti, kapan perantau Minang tiba dan menetap di kota ini. Namun menurut J.M. Gullick, sekurangnya pada tahun 1850-an sudah dijumpai para peneroka Minang yang membuka hutan dan mengusahakan pertambangan timah di Kuala Lumpur. Masa ini sejalan dengan waktu berakhirnya Perang Paderi (1803-1838) yang berkecamuk hebat di Sumatera Barat.

Begitu populernya Kuala Lumpur ketika itu, sehingga istilah: “poi ka Kolang” (pergi ke Klang) sering terdengar di tengah-tengah percakapan remaja Minang yang hendak pergi merantau.

Ada berbagai alasan yang melatar-belakangi hijrahnya mereka ke Kuala Lumpur. Beberapa di antaranya ialah faktor ekonomi, yakni adanya peluang usaha dagang yang menjadi okupansi utama masyarakat Minang di perantauan. Selain itu adalah terbukanya kesempatan untuk menambang timah. Di mana ketika itu pemerintah Inggris sedang giat-giatnya mengusahakan pertambangan timah yang sedang laku di pasaran.

Berdirinya pusat kolonial British di Kuala Lumpur pada tahun 1874, juga menjadi daya tarik tersendiri. Sebab pada masa itu pemerintah Inggris membutuhkan tenaga-tenaga terdidik untuk mengurus administrasi Kerajaan. Dan salah satu kelompok etnis yang paling siap mengambil peluang itu adalah kaum Minangkabau.

Selain alasan merantau, hal lainnya yang perlu dicermati dari hijrahnya orang Minang ke Kuala Lumpur ialah mengenai daerah asal mereka. Menurut laporan Selangor Journal, ada beberapa nagari di ranah Minang yang banyak mengirimkan para perantaunya ke Kuala Lumpur. Pada paruh kedua abad ke-19, kebanyakan mereka berasal dari nagari-nagari yang paling kuat terkena dampak Perang Paderi. Orang Pasaman dari Bonjol, Rao (Rawa), Talu, dan Air Bangis, berada di peringkat pertama. Diikuti oleh kelompok masyarakat Tanah Datar, terutama dari nagari-nagari di seputaran Batusangkar. Orang Luhak Limapuluh Kota dan Agam berada di peringkat selanjutnya.

Memasuki abad ke-20, Kuala Lumpur juga ikut diramaikan oleh para perantau dari Pariaman, Solok, Sawahlunto-Sijunjung, dan Pesisir Selatan. Selain dari Sumatera Barat, orang-orang Minang di perantauan, seperti dari Batu Bara, Kampar, Kuantan, Kerinci, Negeri Sembilan, Malaka, Perak, Johor, dan Pulau Pinang, juga ikut mengadu nasib di kota ini.

Para Peneroka dan Pemimpin Kaum

Seperti halnya di bagian lain Semenanjung Melayu, di Kuala Lumpur kaum Minang juga hidup mengelompok berdasarkan daerah asal mereka. Setidaknya ini berlangsung hingga kemerdekaan Malaysia di tahun 1957. Karena hidup mengelompok inilah, maka lahir beberapa tokoh yang menjadi ketua kelompok masyarakat yang dikenal dengan istilah Datuk Dagang. Ketua kelompok biasanya datang dari para peneroka atau pihak yang ditunjuk oleh Kerajaan.

Ada beberapa tokoh masyarakat Minang yang cukup terkenal di Kuala Lumpur. Salah satunya ialah Haji Mohammad Taib, salah seorang saudagar yang berasal dari Rao-rao dekat Batusangkar. Sebelum pergantian abad ke-20, ia merupakan salah seorang terkaya di Kuala Lumpur.

Menurut Gullick, ia mempunyai banyak properti, perkebunan, dan beberapa tambang timah di sekitar Kuala Lumpur. Di Semenyih, ia memiliki tanah seluas 25 hektar serta beberapa kedai di pusat kota. Berdasarkan catatan Nelmawarni Bungo dan Nordin Hussin, Haji Mohammad Taib memberikan sumbangan cukup besar bagi kemajuan Kuala Lumpur. Ia telah meneroka kawasan Kampung Baru dan Chow Kit, sebagai tempat bermukimnya orang-orang “Melayu”. Untuk mengenang jasa-jasanya, kini beberapa jalan di daerah Chow Kit telah dinamai dengan nama Lorong Haji Taib.

Haji Utsman bin Abdullah merupakan ulama Minangkabau yang menjadi kadi pertama Kuala Lumpur. Ia berasal dari Batusangkar dan merupakan saudara dari Muhammad Saleh al-Minangkabawi, mufti Kesultanan Perak. Utsman merupakan salah satu ulama yang bijak. Ia sering menyelesaikan berbagai persoalan silang sengketa di tengah-tengah masyarakat. Ia tak hanya menjadi pemimpin bagi masyarakat Minangkabau, namun juga bagi umat muslim di Kuala Lumpur.

Selain sebagai ulama, Utsman juga terlibat dalam perniagaan. Dia salah seorang pengusaha Minang yang memiliki tanah cukup luas. Di Kuala Lumpur, ia pernah memiliki tanah yang terletak di antara Mesjid Jamek hingga Putra World Trade Centre sekarang ini.

Haji Abdullah Hukum juga disebut-sebut sebagai peneroka awal Kuala Lumpur. Ia telah menginjakkan kakinya di kota ini pada tahun 1850, mengikut ayahandanya yang berasal dari Kerinci. Abdullah yang bernama asli Muhammad Rukun semula bekerja sebagai pengolah tanah dan pedagang kain. Kemudian ia mendapatkan izin dari Raja Muda Selangor untuk membuka kawasan Pudu, Bukit Nanas, dan Sungai Putih. Di Sungai Putih inilah ia bermukim hingga pulang ke Sumatera pada tahun 1929.

Untuk mengingat jasa-jasanya, kini salah satu pemukiman di dekat Jalan Bangsar telah dinamai dengan Kampung Haji Abdullah Hukum.

Haji Abdullah Hukum mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Haji Mahmood. Mahmood juga mengikuti jejak ayahnya berniaga kain. Sebelum Jepang menginvasi tanah Melayu, kabarnya ia merupakan salah seorang saudagar Melayu yang cukup sukses.

Di permulaan abad ke-20, tokoh Minang yang bersinar di Kuala Lumpur ialah Khatib Koyan. Dia adalah seorang saudagar yang melakukan penambangan timah di sepanjang Sungai Gombak hingga Kuala Lumpur. Di Kuala Lumpur tanahnya cukup luas, yakni dari Batu Dua (Chow Kit) hingga ke Batu Sembilan. Karena keprihatinannya terhadap perkembangan Islam di kota ini, ia mendirikan Mesjid Jaminul Ihsan di kawasan Setapak. Di samping itu beliau juga telah mendirikan sebuah Madrasah ar-Rahmaniah di Jalan Khatib Koyan, Kampung Baru.

Kawasan Penempatan Orang Minang

Jurnal Pertanika terbitan Universiti Putra Malaysia mencatat, bahwa menjelang abad ke-20 Kuala Lumpur secara umum terbagi menjadi dua wilayah etnis. Kawasan utara yang meliputi: Kampung Baru, Chow Kit, Bukit Nanas, dan Kampung Datuk Keramat, banyak dihuni oleh kaum Melayu yang sebagiannya datang dari ranah Minang. Sedangkan di bagian selatan Kuala Lumpur mayoritas dihuni oleh etnis Tionghoa.

Tak seperti daerah rantau lainnya, di Kuala Lumpur banyak nama kampung yang mengikuti daerah asal mereka di ranah Minang. Selain Kampung Kerinci di Bangsar Selatan, ada pula Kampung Palimbayan yang terletak di bagian barat Kuala Lumpur. Ya, kampung ini mayoritas dihuni oleh masyarakat asal Palembayan, salah satu nagari di Luhak Agam. Konon katanya, hingga tahun 1970-an bahasa pergaulan di kampung ini masih menggunakan Bahasa Minangkabau.

Satu lagi nama kampung yang mengikuti nama daerah asal penduduknya ialah Kampung Rawa. Namun setelah pemerintah Kuala Lumpur melakukan pembenahan kota, kampung yang kini berada di sekitar Jalan Melayu itu terpaksa dilenyapkan. Masyarakat Rao, Pasaman yang sebagian besar telah menghuni daerah tersebut lebih dari 50 tahun, harus berpindah ke kawasan lainnya.

Karena sebagian besar perantau Minang berprofesi sebagai penggalas, maka hingga hari ini-pun kita masih bisa menjumpai kedai-kedai milik orang Minang di pusat kota Kuala Lumpur. Para saudagar itu pada umumnya menjual aneka barang kelontong, sepatu, songkok, kain, tailor, dan membuka gerai rumah makan.

Jalan Tuanku Abdul Rahman (dulu Batu Road), Lorong Haji Taib, Jalan Melayu, Jalan Mesjid India, dan Jalan Pudu, merupakan tempat di mana banyak terdapat kios-kios milik pengusaha Minang. Begitu pula Jalan Raja Muda Musa dan Jalan Raja Alang di Kampung Baru, yang merupakan tempat berpusatnya para pedagang makanan asal Minangkabau. Di tempat inilah para perantau Minang mendirikan berbagai perkumpulan, seperti Persatuan Penduduk Melayu Minangkabau dan Persatuan Seni Silat Cekak Kampong Bharu.

Dari perkumpulan inilah — beserta organisasi masyarakat Jawa, Bugis, dan “Melayu” lainnya, terwujudlah partai politik UMNO yang kini menjadi wadah politik bagi puak Melayu di Malaysia.

Gombak dan Setapak juga menjadi basis utama para perantau Minang di Kuala Lumpur. Kampung Changkat di distrik Gombak, merupakan tempat bermukimnya banyak perantau asal Pariaman. Kampung ini pertama kali dibuka pada dasawarsa 1880-an oleh Maha Raja Ula Haji Mohammad Arshad atau yang dikenal dengan Datuk Kuning. Tak jauh dari situ, ada pula Kampung Simpang Tiga yang dibuka oleh Datuk Kah, serta Kampung Changkat Kiri dan Kampung Tengah yang merupakan tempat bermukimnya masyarakat Batang Kapas dan Bonjol.

Di Kampung Kuang, masih di kawasan Gombak, kita bisa menjumpai kelompok masyarakat Minangkabau yang datang dari berbagai daerah, di antaranya dari Lubuk Sikaping, Rao, Tambusai, Bonjol, Pariaman, Padang, Batang Kapas, Kerinci, Kampar, Indragiri, dan Kuantan. Namun menurut Farida binti Thalib, dari sekian banyak orang Minang yang bermukim disini, yang terbesar berasal dari Batang Kapas, Pesisir Selatan.

Selain di kota Kuala Lumpur, orang Minang juga meneroka beberapa kawasan di sekitarnya. Salah satunya ialah Serendah di distrik Hulu Selangor, utara Kuala Lumpur. Di sini banyak di antara mereka yang telah beranak-pinak hingga empat generasi. Beberapa kampung di Serendah yang banyak dihuni oleh kaum Minangkabau antara lain Kampung Tuk Pinang dan Kampung Gunung Runtuh. Di kedua kampung itu banyak bermukim masyarakat asal Air Bangis. Di distrik Hulu Selangor banyak pula para pengusaha Minang yang mengusahakan pertambangan timah. Salah satunya ialah Haji Abbas bin Haji Abdul Samad, yang memiliki tujuh hektar tanah di kawasan Pertak.

Ke arah utara Serendah, tepatnya di Kuala Kubu Bharu juga banyak ditemui pemukiman masyarakat Minang. Di antaranya ialah Kampung Kalumpang dan Pekan Kalumpang yang ramai dihuni oleh masyarakat asal Rao. Di Kuala Kubu Bharu terdapat pula Kampung Gumut dan Kampung Sejantung. Jika Kampung Sejantung diteroka oleh Haji Said asal Kampar, maka Kampung Gumut dibuka oleh Panglima Kanan dan Haji Shahabudin asal Rao, Pasaman. Menurut Dzulkifli Datuk Haji Buyong dalam Sejarah Kalumpang: Riwayat, Keturunan, dan Tokoh (1883-2003), dinyatakan bahwa Panglima Kanan bersama Khatib Yunus telah membantu Mat Kilau dalam mempertahankan Selangor dari serangan tentara Inggris. Panglima Kanan yang bernama asli Haji Salam Bin Datuk Berkanun, sebelumnya juga pernah membantu Sultan Selangor dalam mengamankan Sabak Bernam dari serangan bajak laut, serta membunuh panglima Pahang saat terjadi Perang Pahang-Selangor.

Di Hulu Langat, sebelah tenggara Kuala Lumpur, banyak pula perantau Minang yang membuka pemukiman. Sebagian besar mereka berada di kawasan Kajang, Ulu Langat, Ulu Semenyih, Semenyih, Beranang, dan Cheras. Menurut catatan David Radcliffe, di abad ke-19 tak kurang dari 80% masyarakat Hulu Langat berasal dari Sumatera yang sebagian besarnya adalah orang Minangkabau. Ada beberapa catatan Selangor Journal (28 Mei 1897) yang bisa kita ambil sebagai bahan rujukan mengenai pembukaan awal kawasan Hulu Langat.

Dari jurnal tersebut tertera bahwa kawasan Cheras telah dibuka pada tahun 1857 oleh Khatib Rawi asal Rembau, Negeri Sembilan. Namun menurut keterangan Yap Wei Kiong, kawasan Cheras baru diteroka pada dekade 1870-an oleh lima orang tokoh yang datang langsung dari ranah Minang. Mereka adalah Abdul Rashid bin Haji Abdul Wahab, Haji Talib bin Ngah, Said Yahya, Ahmad Kerling, dan Haji Dahlan.

Pada tahun 1864 di Beranang ada pula kampung yang dibuka oleh peneroka asal Rembau, Negeri Sembilan dan yang langsung datang dari Minangkabau. Untuk membedakannya maka kampung itu dinamai Kampung Sesapan Bukit Rembau dan Kampung Sesapan Bukit Minangkabau.

Adat Istiadat yang Tak Lekang

Melihat banyaknya “perkampungan Minang” di Kuala Lumpur dan sekitarnya, kita bisa berkesimpulan bahwa selain Negeri Sembilan dan utara Malaka, kawasan tersebut juga merupakan koloni utama orang Minang di Semenanjung. Namun berbeda dengan masyarakat Negeri Sembilan yang masih menjalankan Adat Perpatih dalam kesehariannya, di Kuala Lumpur hampir sebagian besar mereka tak lagi menjalankan adat tersebut. Padahal jika kita melihat pertautan mereka dengan ranah Minang, perantau di Kuala Lumpur masih menjalin keakraban dengan karib keluarga mereka di Sumatera. Ini berbanding terbalik dengan kondisi masyarakat Negeri Sembilan yang telah kehilangan kontak dengan sanak saudara mereka di Payakumbuh atau Batusangkar. Tetapi mengapa justru perantau yang datang terakhir inilah yang tak lagi mengekalkan resam Adat Perpatih. Adakah ini karena dorongan ajaran Islam pasca Perang Paderi, atau karena tak ada lagi pengaruh Pagaruyung terhadap perantauan mereka? Wallahualam bi shawab.

Meski dalam pembagian harta warisan tak dikenal lagi pusaka rendah dan pusaka tinggi, namun sebagian besar masyarakat Minang di kota ini masih menjalankan adat istiadat khas Minangkabau.

Dalam pesta perkawinan misalnya, masih banyak gadis-gadis Minang yang dengan senang hati mengenakan sunting dan baju kurung. Pelaminannya-pun ada yang menggunakan ornamen gonjong dengan warna merah atau kuning sebagai warna khas Minangkabau. Tak ketinggalan ketika menjalani prosesi lamaran, banyak di antara mereka yang masih setia memakai seremoni pasambahan dan manjapuik.

Satu lagi yang menjadi ciri khas orang Minang yang masih terus diamalkan di perantauan ini adalah acara berkumpul-kumpul. Salah satu wadah yang menaungi perkumpulan tersebut ialah Pertubuhan Ikatan Kebajikan Masyarakat Minangkabau Kuala Lumpur. Rencananya organisasi ini akan mendirikan Rumah Gadang di kawasan Gombak, yang nantinya akan berfungsi sebagai sekretariat organisasi.

http://m.kompasiana.com/post/read/733031/1/penghijrahan-orang-minang-ke-kuala-lumpur.html

-o0o-

copy-logominangel.jpg:: Teks di atas betul-betul membangkitkan kebanggaan sebagai orang Minangel, mengingat pernyataan di atas dibuat oleh orang non-minangel – yang berarti mempunyai nilai objektivitasnya. Syukur alhamdulillah.

Dan bagian yang paling membanggakan adalah pada paragraf ini,

Berdirinya pusat kolonial British di Kuala Lumpur pada tahun 1874, juga menjadi daya tarik tersendiri. Sebab pada masa itu pemerintah Inggris membutuhkan tenaga-tenaga terdidik untuk mengurus administrasi Kerajaan. Dan salah satu kelompok etnis yang paling siap mengambil peluang itu adalah kaum Minangkabau.

Paragraf ini menulis bahwa suku yang paling siap menjawab kebutuhan Inggris adalah rumpun-suku Minangkabau. Hal ini dapat diartikan, bahwa pada masa tersebut, kebanyakan orang dari rumpun-suku Minangkabau adalah terdidik alias intelek. Tentunya hal ini bersempadan dengan kenyataan di tempat lain yang telah banyak di-ekspos di berbagai media, khususnya media internet, bahwa orang dari rumpun-suku Minangkabau memang terdidik. Itulah sebabnya sudah sejak dari dahulu orang Minang telah mengambil posisi terdepan di dalam hal intelektualitas, seperti menjadi ulama, politikus, pengajar, filsuf, sastrawan, dsb.

Mudah-mudahan seluruh orang Minangel dapat mempertahankan reputasi unggul seperti yang dipaparkan di atas, dan juga yang terpenting dapat membuktikan reputasi tersebut dengan karya nyata untuk seluruh bangsa Indonesia yang permai ini. Amin.